Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memfasilitasi Peserta Didik Untuk Berfikir Kritis


BAB II

MOTIVASI GURU DALAM KEGIATAN ELABORASI

A.    Memfasilitasi Peserta Didik Untuk Berfikir Kritis      

Kemampuan berpikir kritis tak lepas dari teori konstruk pemikiran, dalam artian kurikulum menginginkan peserta didik mampu memiliki sebuah daya dalam hal mebangun kerangka berpikir kritis, sehingga output yang akan dihasilkan akan benar-benar bergaransi baik dalam pengembangan soft skilnya, kemampuan ini seringkali tidak diberdayagunakan oleh guru-guru dalam mengeksplor kemampuan kognitif siswa, banyak proses pembelajaran yang digunakan oleh guru yang  hanya mengandalkan sebuah istilah  yang penting pembelajaran ada, tapi mereka tidak memahami bahwa bukan hanya dari segi itu kemampuan kognif siswa akan tercapai.
Berpikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah pada suatu tujuan. Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadiankejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan�.[1] Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis dan terorganisasi yang memungkinkan siswa dapat merumuskan dan mengevaluasi pendapat mereka sendiri atau berdasarkan bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari pendapat orang lain sehingga mereka mampu mengungkapkan pendapat mereka sendiri dengan penuh percaya diri.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Mursyidah, guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb menurut beliau �untuk membangkitkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, guru melibatkan berbagai aspek kegiatan: siswa dapat mulai diajarkan keterampilan observasi dasar seperti mengamati kelompok untuk mencari tahu apa yang membuat kelompok terbentuk. Lewat pengamatan anak juga dapat diajak untuk memahami bersuci�.[2]
Siswa dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan-kesalahan dari keseharian dengan menggunakan gambar. Contoh: kepada anak ditunjukkan benda tertentu yang kurang lengkap, lalu minta mereka menemukan lima kesalahan dari gambar itu. Atau kepada anak ditunjukkan gambar cara berwudhuk. Lebih lanjut Bapak T. Syahrial, menjelaskan bahwa �dalam membangkitkan kemampuan berpikir kritis peserta didik siswa juga dapat belajar berpikir kritis dari pengandaian-pengandaian. Anak diminta mengandaikan kejadian yang mungkin terjadi meskipun belum pernah terjadi dalam keseharian mereka. Misalnya mereka diminta untuk membayangkan apa yang terjadi jika tidak ada air�.[3]
Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat  Suyatno sebagaimana yang dikutip oleh Istarani dalam buku 58 model pembelajaran inovatif disebutkan bahwa �dalam aktifitas guru kegiatan elaborasi yaitu memfasilitasi peserta didik memberi kesempatan untuk berfikir, menganalisa, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut�.[4]
Kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu hasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.[5]

Kemampuan berpikir kritis dan kreatif sangat diperlukan mengingat bahwa dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat dan memungkinkan siapa saja bisa memperolah informasi secara cepat dan mudah dengan melimpah dari berbagai sumber dan tempat manapun di dunia. Hal ini mengakibatkan cepatnya perubahan tatanan hidup serta perubahan global dalam kehidupan. Jika tidak dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif maka tidak akan mampu mengolah menilai dan megambil informasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Oleh karena itu kemampuan berpikir kritis dan kreatif adalah merupakan kemampuan yang penting dalam proses belajar-mengajar.
Dari uraian di atas,  dapat penulis simpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa untuk mendayagunakan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi, serta mampu menganalisis dan mengevaluasi informasi secara cermat, tepat, teliti tanpa menimbulkan pemahaman yang berbeda dalam usaha menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan kehidupan nyata serta dapat mengatasi kesalahan dan kekurangan yang sedang dihadapi.
B.    Memfasilitasi Peserta Didik Melalui Pemberian Tugas

Pemberian tugas diberikan dari guru kepada siswa untuk diselesaikan dan dipertanggung jawabkan. Siswa dapat menyelesaikan di sekolah, atau dirumah atau di tempat lain yang kiranya dapat menunjang penyelesaian tugas tersebut, baik secara individu atau kelompok. Tujuannya untuk melatih atau menunjang terhadap materi yang diberikan dalam kegiatan intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan.
Pemberian tugas �biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas; sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi�.[6] Pemberian tugas sebagai suatu metode mengajar merupakan suatu pemberian pekerjaan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan pemberian tugas tersebut siswa belajar, mengerjakan tugas. Dalam melaksanakan kegiatan belajar, siswa diharapkan memperoleh suatu hasil ialah perubahan tingkah laku tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Mursyidah, Guru Fiqih MTsN Jeunieb bahwa:
Dalam kegiatan memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. Kemudian guru memberikan isu melalui teori tentang beberapa contoh praktik thaharah. Selanjutnya guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang ketepatan praktek thaharah kepada seluruh siswa dalam kelas. Setelah siswa mencatat semua pertanyaan, siswa dalam kelompoknya masing-masing secara berpasangan bermain peran sebagai pewawancara dan orang yang diwawancarai. Setelah wawancara pertama dilakukan, maka pasangan bertukar peran. Selanjutnya setiap kelompok mendiskusikan hasil wawancara dan mempresentasikannya kepada seluruh kelas secara bergiliran.[7]

Kegiatan tersebut sesuai dengan pendapat Istarani bahwa �memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi dan lainnya untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis�.[8] Sebelum memberikan tugas kepada siswa, guru memperdalam pengertian siswa terhadap materi thaharah yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar mandiri, dapat membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas dan memperkaya pengalaman di sekolah melalui kegiatan di luar kelas. Lebih lanjut Bapak T. Syahrial, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb menuturkan bahwa:
Setiap akhir pengajaran guru guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb memberikan tugas Lembaran Kerja Siswa (LKS) kepada siswa untuk diselesaikan diluar jam  pengajaran atau dirumah untuk lebih memahami materi thaharah yang baru dipelajari di sekolah. Pemberian tugas pada setiap akhir pelajaran sangatlah penting bagi keberlangsungan proses belajar mengajar untuk mencapai hasil yang diharapkan�.[9]

Belajar fiqih dengan strategi elaborasi, siswa tidak hanya bersifat menerima sejumlah informasi yang disampaikann oleh gurunya, tidak hanya menulis apa saja yang ada di papan tulis, namun siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan  berbagai idenya melalui jawaban yang ditulisnya. Di samping itu, dengan tugas yang diberikan siswa akan merasa ditantang untuk menyelesaikan suatu masalah tanpa harus selalu dibimbing oleh guru atau tanpa harus selalu mendapat petunjuk guru.
Di sela-sela penulis mewawancarai guru MTsN Jeunieb, penulis sempat mewawancai Ikhsan murid kelas VII MTsN Jeunieb, menurut pengakuannya, �dalam pembelajaran Fiqih, setelah guru mengajarkan materi tentang thaharah, guru memberikan tugas kepad siswa untuk di selesaikan dirumah dan tugas tersebut dipresentasikan di depan kelas bersama teman secara berkelompok, sehingga siswa saling memberikan komentar dalam kegiatan presentasi tersebut�.[10]
Pemberian tugas secara terstruktur setiap selesai proses belajar mengajar juga akan memberikan rangsangan yang berarti bagi obyek didik di dalam usaha lebih mendalami dan menekuni suatu topik/materi pelajaran. Dengan adanya tugas terstruktur obyek didik dirangsang untuk selalu memanfaatkan waktu dengan baik sehingga mengurangi kegiatan di luar kelas (sekolah) yang tidak bermanfaat, yang akhirnya akan menambah pengetahuan bagi obyek didik tersebut. Dengan demikian pemberian tugas secara terstruktur sangat positif dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dan juga memberikan penekanan tentang posisi esensial dari pelaksanaan tugas secara terstruktur, sebagai salah satu komponen yang terkait dalam proses belajar mengajar yang perlu mendapat perhatian secara wajar.
Menurut pengakuan Bapak Azhari, Kepala MTsN Jeunieb bahwa �dalam pemberian tugas siswa-siswi dalam suatu kelas dibagi dalam ke dalam beberapa kelompok, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Pengelompokkan itu biasanya didasarkan atas prinsip mencapai tujuan bersama. Dan oleh karena itu kerja kelompok berarti bekerja bersama-sama secara bergotong royong untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama pula�.[11]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar fiqih dengan metode  pemberian tugas adalah belajar dengan menitikberatkan pada sejumlah tugas yang diberikan kepada siswa, sehingga siswa diberi kesempatan, baik secara individual maupun secara kelompok agar mengaplikasikan atau menerapkan pengetahuan yang telah diperolehnya di kelas. Melalui metode ini, siswa diharapkan dapat mengukur kemampuan pemahamannya terhadap materi yang telah diterima melalui pemecahan soal atau tugas yang diembankannya.
C.    Memfasilitasi Peserta Didik untuk Menyajikan Hasil Kerja  

Hasil kerja siswa yang dimaksud di sini adalah tugas yang dibuat siswa, berdasarkan tugas yang telah diberikan oleh guru untuk di kerjakan dirumah. Siswa diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok.
Menurut Masnur Muclis �penilaian hasil kerja atau produk merupakan penilaian kepada siswa dalam mengontrol proses dan memanfaatkan/ menggunakan bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktik atau kualitas estitik dari sesuatu yang mereka produksi�.[12]
Dalam memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja menurut Bapak T. Syahrial, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb bahwa guru �membentuk kelompok siswa, tiap kelompok terdiri dari 4 siswa kemudia secara berkelompok, peserta didik mendiskusikan pengertian tentang thaharah, kemudian membuat kesimpulan sementara dan anggota masing-masing kelompok mengkomunikasikannya selanjutnya guru menanggapi jawaban peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya�.[13]Menurut Made Wena �untuk menumbuhkan keyakinan diri pada siswa di lakukan dengan menyajikan umpan balik dan kesempatan untuk mengendalikan atau mengatur kemampuan atribusi internal akan kesuksesannya�.[14] 
Berdasarkan pendapat di atas, guru harus memperhatikan langkah-langkah dalam memberikan tugas pada siswa agar tugas yang telah diberikan dapat diselesaikan dan dipertanggungjawabkan oleh siswa dengan baik. Guru harus mengoreksi setiap tugas yang telah diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat  pemahaman siswa dalam menguasai materi yang telah diberikan.
Menurut pengakuan Ibu Mursyidah, guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb bahwa �dalam melaksanakan kegiatan belajar siswa diharapkan memperoleh suatu hasil berupa perubahan tingkahlaku tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tahap terakhir dari pemberian tugas ini adalah resitasi yang berarti melaporkan atau menyajikan kembali tugas yang telah dikerjakan atau dipelajari�.[15]
Berdasarkan pendapat diatas, dalam kegiatan menyajikan hasil kerja, materi yang belum dipahami oleh suatu kelompok dapat ditanyakan kepada guru dan guru menjelaskan materi pada kelompok tersebut. Pada saat guru mengajar siswa dapat sambil memahami materi baik secara individual maupun kelompok dengan kebebasan tapi bertanggung jawab. Keaktifan siswa sangat diperlukan dalam pembelajaran.



               [1] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakary, 2010), hal. 43.
               [2] Mursyidah, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb, 02 November 2015.

               [3] T. Syahrial, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb, 02 November 2015.

               [4] Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif (Referensi Guru Dalam Menentukan Model Pembelajaran), (Medan: Media Persada, 2011), hal. 155.
               [5] Dombio, Ranah Penilaian Kognitif-Afektif,Artikel diakses Tanggal 17 November 2015 dari http://degk-dmbio.blogspot.co.id.
               [6] Istarani, Kumpulan 39 Metode Pembelajaran, (Medan: Iscom Medan, 2012), hal. 28.

               [7] Mursyidah, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  02 November 2015.

               [8] Istarani, 58 Model Pembelajaran..., hal. 155.

               [9] T. Syahrial, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  03 November 2015.

               [10] Ikhsan, Murid Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  03 November 2015.

               [11] Azhari, Kepala MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  04 November 2015.

               [12] Masnur Muslich, KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 115.

               [13] T. Syahrial, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  04 November 2015.

               [14] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Malang. PT Bumi Aksara, 2008), hal. 43.
               [15] Mursyidah, Guru Fiqih Kelas VII MTsN Jeunieb, Wawancara di Jeunieb,  05 November 2015.