Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Memahami Materi Operasi Hitung Kelas VI


BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah

Orientasi pendidikan mengarah pada kemampuan setiap anak didik dalam mengaitkan kualitas manusia. Hal ini tidak terlepas dari tiga aspek dalam pendidikan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Tiga hal ini yang menunjang terlaksananya tiga pilar pendidikan. Tiga pilar tersebut adalah belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, dan belajar untuk hidup bersama. Keberhasilan siswa selama ini diukur dari seberapa tinggi prestasi atau keberhasilan belajar yang dicapai oleh siswa. Hal ini tidak terlepas dari beberapa factor, diantaranya adalah minat siswa untuk belajar. Misalnya pada pelajaran matematika yang tidak sedikit siswa kurang berminat mengikutinya.
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang diprioritaskan. Hal ini terbukti dengan pelajaran matematika selalu diikutkan dalam ujian nasional. Sehingga banyak lembaga-lembaga bimbingan membantu siswa yang merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran ini[1]. Dalam pelajaran matematika materi operasi hitung. Akan tetapi pada kenyataannya dalam pengerjaan kelihatannya memang evaluasi ternyata hasil yang dicapai masih kurang memuaskan. Dari 30 Siswa kelas VI di MIN Coreh Baroh, masih ada 12 siswa yang nilainya dibawah standart. Dari analisis penyebab masalah yang terjadi telah teridetifikasi beberapa penyebabnya. Pada kenyataannya tidak semua siswa senang dengan pelajaran matematika. Banyak factor yang menyebabkan hal ini terjadi, diantaranya adalah kemampuan siswa yang memang rendah, pola atau metode yang dipakai oleh guru kurang tepat dan sebagainya.
 Namun dalam penelitian ini penyebab yang diprioritaskan adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Dalam satu kelas terdapat berbagai karakter siswa, ada siswa yang aktif dan ada juga yang pasif sehingga keberhasilan belajar siswa yang diterima tidak sama. Di MIN Cureh Baroh banyak metode-metode yang diterapkan oleh para guru. Pada kelas VI pada mata pelajaran matematika lebih sering digunakan metode pemberian kelompok individu, yaitu pengerjaan LKS. Hal ini dirasa sudah cukup relevan, akan tetapi metode ini akan menimbulkan kesenjangan, yang pandai akan merasa lebih menguasai dari yang lain, sedangkan yang kurang atau pasif akan tertinggal. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti mencoba untuk menerapkan metode Kerja Kelompok. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang siswa untuk ikut serta aktif dalam menyelesaikan soal matematika secara benar dalam kelompok secara bersama-sama.
Untuk meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran matematika di kelas VI MIN Cureh Baroh diperlukan suatu upaya yang lebih serius dari guru diantaranya dengan menerapkan metode pembelajaran yang lebih berpihak kepada siswa. Berpihak kepada siswa sebagaimana yang dimaksud adalah pembelajaran yang mampu meningkatkan dan menumbuh kembangkan cara belajar siswa sehingga keaktifan siswa dapat ditingkatkan. Salah satu metode yang dapat digunakan peneliti adalah metode kerja kelompok. Sebagaimana diketahui bahwa metode kerja kelompok melatih siswa dalam berdiskusi untuk menemukan jawaban atas masalah yang di hadapi.
Metode kerja kelompok merupakan suatu metode mengajar di mana siswa melakukan kerja kelompok tentang suatu hal yaitu dengan merancang suatu pembahasan, melakukan kerja kelompok serta menuliskan hasilnya, kemudian hasil kerja kelopok itu disusun dalam bentuk laporan dan dievaluasi dalam presentasi. Metode kerja kelompok dapat melatih siswa dalam mengatasi masalah bersama-sama dalam kelompoknya. Karena dalam pelaksanaan kerja kelompok itu banyak ketrampilan proses yang digunakan salah satunya adalah ketrampilan dalam kerja kelompok, maka metode ini merupakan salah satu metode menuntut keaktipan kelompok.
Metode kerja kelompok merupakan metode mengajar yang dalam penyajian atau pembahasan materinya melalui kerja kelompok. Metode kerja kelompok adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja kelompok yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Penggunaan metode tersebut, mengajak peserta didik agar terlibat langsung dalam proses pembelajaran sesuai taraf perkembangan intelektualnya juga diharapkan dapat secara aktif memperoleh pengetahuannya sendiri, sehingga pada gilirannya peserta didik akan mengalami peningkatan hasil belajar. Peserta didik akan mencoba mengerjakan sesuatu serta mengalami proses dan hasil pekerjaan.
Salah satu masalah yang dihadapi didunia pendidikan kita dewasa ini adalah kurang meratanya hasil tiap-tiap satuan pendidikan, masalah rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghapal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatkannya itu untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Akibatnya ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin aplikasi. Dalam proses mengajar-belajar peranan guru tentu sangat penting. Segala tindakannya akan diwarnai oleh kepribadiannya. Apakah ia bersifat kritis terhadap dirinnya untuk meningkatkan mutunya sebagai pendidik, apakah ia terbuka bagi ide-ide baru dan bersedia mengadakan percobaan, apakah ia suka akan anak-anak dan berusaha mendekatkan diri kepada mereka untuk memahaminya, apakah ia menerima pribadi anak menurut keadaan masing-masing dan senantiasa memberi semangat belajar atau memupuk rasa percaya diri.
Banyak bagi hal lain yang turut membantu menentukan mutu dan suasana belajar yang dipengaruhi oleh pribadi guru. Karena berhasil atau tidaknya suatu pendidikan salah satunya adalah karena guru. Maka guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal disekolah. Oleh karena itu, guru harus pandai memilih strategi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak didik agar supaya anak didik merasa senang dalam berhitung, khususnya guru mata pelajaran matematika.
Pelajaran berhitung matematika dalam pelaksanaannya sangat membutuhkan adanya strategi baik yang menyangkut didalamnya prinsip, azas, pendekatan, metode maupun teknik. Semua itu membutuhkan perkembangan agar sesuai dengan konteks kehidupan manusia yang selalu berubah, seiring dengan perubahan paradigma pendidikan pada umumnya.[2]
Pengembangan metodologi ilmu berhitung atau matematika, bisa saja berangkat dari realitas tuntutan dunia pendidikan atau bisa juga tuntunan kehidupan masyarakat pada umumnya. Jika ilmu berhitung hanya berkutat pada strategi-strategi lama yang sudah dianggap tradisional, maka kegiatan ilmu berhitung atau matematika akan berjalan ditempat. Oleh karena itu, memperbaharui dan mengembangkan aspek metodologi dalam proses ilmu berhitung atau matematika sangatlah mutlak diperlukan.
Pendidikan seharusnya menghasilkan siswa yang berkemauan dan berkemampuan untuk senantiasa meningkatkan kualitasnya secara terus menerus dan berkesinambungan. Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlah mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Salah satu upaya unuk meningkatkan mutu pendidikan disekolah adalah melalui proses pembelajaran. Guru sebagai profesi yang berperan penting dalam peningkatan mutu, diharapkan mampu mengembangkan dan memilih strategi yang tepat demi tercapainya tujuan. Suasana belajar siswa sangat tergantung pada kondisi pembelajaran dan kesanggupan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulis tertarik meneliti dengan judul penelitian �Memahami Materi Operasi Hitung Kelas VI MIN Cureh Baroh Dengan Metode Pemberian Kelompok�.

B.    Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

Bagaimana tingkat kemampuan siswa memahami materi operasi hitung Kelas VI MIN Cureh Baroh dengan metode pemberian kelompok?

C.    Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitiannya adalah sebagai berikut:

Untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa memahami materi operasi hitung kelas VI MIN Cureh Baroh dengan metode pemberian kelompok.

D.    Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat penelitiannya adalah sebagai berikut:

1.     Manfaat secara teoritis
Manfaat penelitian secara teoritis: diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para guru dalam rangka pentingnya komptensi profesional guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran Matematika kepada subjek didik dalam setiap proses belajar-mengajar sehingga siswa dapat menerima pembelajaran Matematika dengan baik.
2.     Manfaat secara praktis
Manfaat secara praktis: untuk memberikan inspirasi bagi guru/mahasiswa untuk menambah wawasan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mampu memahami tentang penting kompetensi profesinal seorang guru untuk tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Sebagai pengembangan ilmu yang telah dipelajari selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Tarbiyah hingga dapat diterapkan dilapangan sehingga  sesuai dengan disiplin ilmu sebagai guru di sekolah.

E.    Definisi Operasional

Agar terhindar dari kesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam pemakaian istilah merupakan salah satu hal yang sering terjadi, sehingga mengakibatkan penafsiran yang berbeda. Maka untuk menghindari hal tersebut di atas, penulis merasa perlu mengadakan pembatasan dari istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini.
Adapun istilah yang penulis anggap perlu dijelaskan adalah:
1.     Materi Operasi Hitung
Materi operasi hitung merupakan salah satu materi dalam pembelajaran matematika kelas VI di SD/MI.
2.     Metode Pemberian Kelompok
Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun pengertian lain metode adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu perubahan � perubahan kepada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya[3]. Metode yang digunakan dalam pembelajaran berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tujuan harus dirumuskan secara jelas, karena tujuan merupakan syarat terpenting bagi seorang guru untuk memilih metode yang akan digunakan dalam mengajar. Sedangkan manfaat penggunaan metode dalam pembelajaran adalah untuk menciptakan kondsi yang sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi edukatif selama belajar mengajar.
Istilah kerja kelompok dapat diartikan sebagai bekerjanya sejumlah siswa, baik sebagai anggota kelas secara keseluruhan atau sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersama-sama. Selain itu kerja kelompok juga ditandai oleh :
1.       Adanya tugas bersama.
2.       Pembagian tugas dalam kelompok.
3.       Adanya kerjasama antara anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas kelompok[4].
Berpijak pada pengertian kerja kelompok seperti dijelaskan pada alinea sebelumnya, maka metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama.
Pengertian metode kerja kelompok yang demikian membawa konsekuensi kepada setiap guru yang akan menggunakannya. Konsekuensi tersebut adalah guru harus benar-benar yakin bahwa topic yang dibicarakan layak untuk digunakan dalam kerja kelompok. Tugas yang diberikan kepada kelompok hendaknya dirumuskan secara jelas. Dalam pemakaian tugas kelompok, tugas yang diberikan dapat sama untuk setiap kelompok atau berbeda-beda tapi saling mengisi untuk setiap kelompok.






               [1]Hasibun, j. dan Moejiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung : CV Bina Cipta,1989), hal. 45.
               [2] Nyemas Aisyah, Pengembangan Pembelajaran Matematika SD Bahan Ajar Cetak, (Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas, 2008), hal. 41.
               [3]Imansjah Lipande, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), hal. 29.
               [4]Daryanto, Teknik, Metode dan Satuan Pelajaran dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Tarsito, 1983), hal. 43.