Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kedudukan dan Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Ilmu Lain


A.    Kedudukan dan Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Ilmu Lain

1.      Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan
Psikologi dan ilmu pendidikan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak berdasarkan kepada psikologi perkembangan. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Karena begitu eratnya tugas antara psikologi dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin ilmu pendidikan (educational psychology). Reber menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal berikut: Penerapan prinsip belajar dalam kelas, Pengembangan dan pembaruan kurikulum, Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, Sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif, Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Jadi, meskipun psikologi pendidikan cenderung dianggap oleh banyak kalangan atau para ahli psikologi (termasuk psikologi pendidikan itu sendiri) sebagai subdisiplin psikologi yang bersifat terapan atau praktis, bukan teoritis, cabang psikologi ini dipandang telah memiliki konsep, teori dan metode sendiri, sehingga mestinya tidak lagi dianggap sebagai subdisiplin, tetapi disiplin (cabang ilmu) yang berdiri sendiri.[1]
2.      Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
“psikologi sosiologis”. Artinya, suatu psikologi yang memperoleh perspektif-perspektif dasarnya dari suatu pemahaman sosiologis tentang kondisi manusia. ilmu lain yang berpengaruh pada psikologi sosial adalah sosiologi yaitu yang terkait dengan perilaku hubungan antarindividu, atau antaraindividu dan kelompok, atau antarkelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosial dan antropologi yaitu ini berpengaruh karena perilaku sosial itu selamanya terjadi dalam suprastruktur budaya tertentu.
Perbedaan psikologi sosial dengan sosiologi dalam hal fokus studinya adalah jika psikologi sosial memusatkan penelitiannya pada perilaku individu, sedangkan sosiologi tidak memperhatikan individu yang menjadi perhatiannya adalah sistem dan struktur sosial yang dapat berubah atau konstan tanpa bergantung pada individu-individu. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa unit analisis psikologi sosial adalah individu dan unit analisis sosiologi adalah kelompok.[2]  Sosiologi memusatkan  perhatiannya kepada unsur-unssur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisa  kelompok-kelompok masyarakat manusia (social groupings), hubungan antara kelompok-kelompok atau individu-individu (social relation) atau proses-proses yang terdapat  dalam kehidupan suatu masyarakat (social processes).[3]
3.      Hubungan Psikologi dengan Antropologi
Bantuan antropologi terhadap psikologi, khususnya terhadap psikiatri, sangatlah besar, sehingga dalam perkembangannya yang terakhir, lahir suatu cabang baru dari antropologi, yaitu “anthropology in mental health”. Di antara penyakit-pnyakit jiwa  yang diobati oleh para ahli penyakit jiwa (psychiater), ternyata ada yang tidak disebabkan oleh  kelainan-kelainan biologis atau kerusakan dalam organisme, melainkan karena jiwa dan emosi-emosi yang tertekan atau frustrasi. Keadaan tertekan jiwa ini disebabkan dan dilatar-belakangi oleh aspek-aspek sosial budaya. Aspek-aspek budaya yang melatar-belakangi atau menyebabkan penyakit jiwa ini merupakan bidang penelitian dan pembahasan antropologi.[4]
4.      Hubungan psikologi dengan ilmu politik
Ilmu politik erat hubungannya dengan psikologi, khususnya psikologi sosial dalam analisis politik jelas dapat kita ketahui apabila kita sadar bahwa analisis sosial politik secara makro diisi dan diperkuat analisis yang bersifat mikro. Psikologi merupakan ilmu yang mempumyai peran penting dalam bidang politik. Justru karena prinsip-prinsip politik lebih luas daripada prinsip-prinsip hukum dan meliputi banyak hal yang berada di luar hukum dan masuk dalam kebijaksanaan, bagi para politisi sangat penting apabila mereka dapat menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umunya, dan dari golongan tertentu pada khususnya, bahkan juga dari oknum tertentu. [5]
5.      Hubungan psikologi dengan agama
Menurut terminologi, psikologi agama dapat didefinisikan sebagai: “Cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi, jadi merupakan kajian empiris”.
  Psikologi agama mempunyai lapangan yang menjadi bidang penelitiannya. Dan meskipun secara harfiyah psikologi agama mencakup dua bidang kajian, yaitu jiwa dan kajian mengenai agama, namun penelitiannya memiliki batas-batas tertentu. Psikologi agama membatasi lapangan penelitiannya hanya pada proses kejiwaan manusia yang dihayati secara sadar dalam kondisi yang normal. Manusia yang memiliki norma-norma kehidupan yang luhur dan berperadaban.
Psikologi agama tidak menyinggung persoalan yang menyangkut masalah aqidah atau pokok-pokok keyakinan suatu agama. Demikian juga masalah yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap yang gaib, seperti tuhan dan sifat-sifatnya. Surga dan neraka dengan latarbelakang kehidupan didalamnya.
Dalam hubungan dengan masalah tersebut, psikologi agama hanya mampu meneliti mengenai bagaimana sikap batin seseorang terhadap keyakinannya kepada tuhan, hari kemudian, dan masalah ghaib lainnya. Juga bagaimana keyakinan tersebut mempengaruhi penghayatan batinnya, sehingga menimbulkan berbagai perasaan seperti tentram, tenang, pasrah dan sebagainya. Jadi psikologi agama adalah suatu cabang dari ilmu psikologi yang membahas pengaruh keagamaan terhadap jiwa individu.[6]
6.      Hubungan Psikologi dengan Biologi
Biologi mempelajari kehidupan jasmaniah manusia atau hewan, yang bila dilihat dari objek materialnya, terdapat bidang yang sama dengan psikologi; hanya saja objek formalnya berbeda. Objek formal biologis adalah kehidupan jasmaniah (fisik), sedangkan objek formal psikologi adalah kegiatan atau tingkah laku manusia.[7]
7.      Hubungan Psikologi dengan Ilmu Alam
Pada permulaan abad ke-19, psikologi dalam penelitiannya banyak terpengaruh oleh ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen, sehingga lahirlah, antara lain, Gustav Fechner, Johannes Muller, Watson, dan lain-lain.[8]Namun kemudian, psikologi menyadari bahwa objek penelitiannya adalah manusia dan tingkah lakunya yang hidup dan selalu berkembang; sedangkan objek ilmu alam adalah benda mati.[9]
Ilmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya sebagian ahli berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam. Psikologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat, walaupun pada akhirnya, metode ilmu pengetahuan alam tidak seluruhnya digunakan dalam lapangan psikologi.
8.      Hubungan Psikologi dengan Filsafat
Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dalam berbagai literature disebutkan, sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri, psikologi memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih tampak pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis atau jasmaniah. Adapun dalam filsafat- yang sebenarnya “ibu kandung” psikologi itu – psikologi berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan.[10]
Dalam hal ini, ilmu yang bernama psikologi akan menolong filsafat sebaik-baiknya dengan hasil penyelidikannya. Kesimpulan filsafat tentang kemanusiaan akan sangat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan hasil psikologi.[11]
9.      Hubungan Psikologi dengan Ilmu Komunikasi
Menurut Fisher bahwa komunikasi memang mencakup semuanya, dan bersifat sangat eklektif (menggabungkan berbagai bidang), sifat ini dikatakan oleh Schramm sebagai “jalan simpang paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya”. Ia mengumpamakan ilmu komunikasi sebagai suatu oasis, yang merupakan persimpangan jalan, tempat bertemu berbagai ilmu (musafir) yang tengah dalam perjalanan menuju tujuan ilmunya masing-masing. Eklektisme komunikasi sebagai suatu bidang studi, tampak pada konsep-konsep komunikasi yang berkembang selama ini, yang berhasil dirangkum oleh Fisher dalam empat kelompok yang disebutnya perspektif (semacam paradigma, teori, atau model) ialah: (1) perspektif mekanistis, (2) perspektif psikologis, (3) perspektif interaksional dan (4) perspektif pragmatis.
Ilmu komunikasi yang telah tumbuh sebagai ilmu yang berdiri sendiri kemudian melakukan “perkawinan” dengan ilmu-ilmu lainnya yang pada gilirannya melahirkan berbagai subdisiplin seperti: komunikasi politik (dengan ilmu politik), sosiologi komunikasi massa (dengan sosiologis) dan psikologi komunikasi (dengan psikologi). Dengan demikian, ilmu komunikasi pun didefiinisikan sebagai “ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi”.
10.  Hubungan Psikologi dengan Ekologi (Lingkungan)

Ekologi merupakan suatu ilmu yang membahas tentang mahluk hidup dengan lingkungannya,[12] sedangkan psikologi ilmu yang membahas tentang perilaku dan jiwa manusia. Ekologi juga membahas tentang manusia dan permasalahan lingkungannya, pencemaran, kepadatan penduduk serta kerusakan alam.[13] Dalam ilmu psikologi perilaku-perilaku manusia yang mengakibatkan kerusakan alam serta kepadatan penduduk lah yang akan dibahas.
Cabang ilmu yang sangat terkait dengan Ekologi adalah Psikologi Lingkungan yang merupakan cabang Psikologi yang masih muda. Nah, apa yang dimaksud dengan Psikologi Lingkungan?
Psikologi lingkungan adalah ilmu kejiwaan yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan binaan ataupun lingkungan alam. Dalam psikologi lingkungan juga dipelajari mengenai kebudayaan dan kearifan lokal suatu tempat dalam memandang alam semesta yang memengaruhi sikap dan mental manusia.
Perkembangan teori-teori ekologi menunjukan adanya perhatian terhadap adanya ketergantungan biologi dan sosiologi dalam kaitan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dimana hal itu secara significant mempengaruhi pemikiran-pemikiran psikologi lingkungan. Dengan perkembangan ilmu ekologi, seseorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya, melainkan merupakan bagian yg integral dari lingkungan.  Sudah sangat jelas kedua ilmu tersebut saling berhubungan.[14]



                [1] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010) h. 60-71.
                [2] Nevi darmayanti, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Kencana, 2000), hal. 66.
                [3] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru1980), hal. 41.
                [4] Nader, Anthropology In Mental Health(1972), hal. 9. 
                [5] Nevi darmayanti,pengantar .., hal. 67.
                [6] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulya, 2002), hal. 5.
                [7] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 69.
                [8]Efendi. Usman dan Praja. S. Juhaya, Pengantar Psikologi, (Bandung: Angkasa,1993), ha. 8-9.
                [9] Alex Sobur, Psikologi..., hal. 69.
                [10] Ibid., hal. 70-71.
                [11] Irwanto,  Psikologi Umum, (Jakarta: PT Prenhallindo, 2002), hal. 29.
                [12] Ati Harmoni, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: Gunadarma, 1992), hal. 44.
                [13] Ibid., hal. 44.
                [14] Heru Basuki, Psikologi Umum, (Jakarta: Gunadarma, 2008), hal. 39.