Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa


A.    Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa
                 
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa

Guru adalah seorang aktor utama dalam pendidikan sekaligus orang yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Pendidikan sangatlah penting dan mutlak bagi setiap manusia untuk menyempurnakan diri manusia secara terus menerus. Pendidikan tidak hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada peserta didiknya namun juga membentuk kepribadian yang baik kepada peserta didiknya. Pendidikan berupaya untuk membentuk peserta didik yang unggul dalam hal pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) maupun ketrampilan (skill). Pendidikan di Indonesia yang ada sekarang dalam keadaan belum berhasil sepenuhnya terutama dalam hal penanaman karakter pada peserta didik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), sikap dan perasaan (afektif), dan tindakan (aksi). Tanpa ketiga aspek ini maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan maka seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan hidup termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Marzuki dalam bukunya Pendidikan Karakter Islami menjelaskan bahwa: Pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan Islam, sebab roh atau inti pendidikan Islam adalah pendidikan karakter yang semula dikenal dengan pendidikan akhlak. Pendidikan Islam sudah ada sejak Islam mulai didakwahkan oleh Nabi Muhammad Saw kepada para sahabatnya. Seiring dengan penyebaran Islam, pendidikan karakter tidak pernah terabaikan karena Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah Islam dalam arti yang utuh, yang keutuhan dalam iman, amal shaleh dan akhlak mulia.[1]

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Pendidikan karakter merupakan upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warga negara. Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi moral dan spiritualnya.
Masnur Muchlis dalam bukunya Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional menjelaskan bahwa:
Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah dalam keluarga, kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter dengan baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik pada tahap selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.[2]

Karakter merupakan sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya. Apa yang seorang pikirkan dan perbuat sebenarnya merupakan dorongan dari karakter yang ada padanya. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
Dengan adanya karakter (watak, sifat, tabiat, ataupun perangai) seseorang dapat memperkirakan reaksi-reaksi dirinya terhadap fenomena  yang muncul dalam diri ataupun hubungan dengan orang lain, dalam berbagai keadaan serta bagaimana mengendalikannya. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Dengan demikian, pendidikan karakter dipahami sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang baik kepada semua yang terlibat dan sebagai warga sekolah sehingga mempunyai pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam melaksanakan nilai-nilai tersebut. Semua warga sekolah yang terlibat dalam pengembangan karakter yang baik ini sesungguhnya dalam rangka membangun karakter anak didik. Hal ini penting agar anak didik menemukan contoh dan lingkungan yang kondusif dengan karakter baik yang sedang dibangun dalam kepribadiannya.
Pendidikan karakter dari sisi substansi dan tujuannya sama dengan pendidikan budi pekerti, sebagai sarana untuk mengadakan perubahan secara mendasar atas individu. Pengertian budi pekerti mengacu pada pengertian dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai moralitas. Moralitas mengandung beberapa pengertian antara lain: adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Secara hakiki, budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, norma hukum, tata kerama, sopan santun dan norma budaya dan adat istiadat masyarakat. Budi pekerti ini akan mengidentifikasi perilaku positif yang diharapkan dapat terwujud dalam perbuatan, perkataan, pikiran,  sikap, perasan, dan kepribadian manusia.
Diskursus (wacana) pendidikan karakter ini memberikan pesan bahwa spiritualitas dan nilai-nilai agama tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan karakter. Moral dan nilai spiritual sangat fundamental (mendasar) dalam membangun kesejahteraan organisasi sosial manapun. Tanpa keduanya maka elemen vital yang mengikat kehidupan masyarakat dapat lenyap.
Pupuh Fathurrohman, dkk dalam bukunya “Pengembangan Pendidikan Karakter” menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah:
Segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan bebarapa hal terkait lainnya. para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya.[3]

Dalam Islam terdapat nilai utama, yaitu akhlak, adab dan keteladanan. Akhlak merujuk kepada tugas dan tanggung jawab selain syari’ah dan ajaran agama secara umum. Sedangkan adab merujuk kepada sikap yang dihubungkan dengan tingkah laku yang baik. Dan keteladanan merujuk kepada kualitas karakter yang ditampilkan oleh seorang yang baik yang mengikuti keteladanan Nabi Muhammad Saw. ketiga nilai ini yang menjadi  pilar pendidikan karakter dalam Islam. Dicky Wirianto menjelaskan bahwa “kriteria keberhasilan pendidikan karakter merupakan standar, ukuran, patokan dan penilaian yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai moral telah dipahami, dihayati dan diaplikasikan subjek didik dalam kehidupan sehari-hari”.[4]
Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral.
Guru perlu mengembangkan nilai-nilai karakter, seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain, serta ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan, sehingga guru memiliki karakter yang baik. Oleh karena itu, ketika guru harus membentuk siswa agar berkarakter kuat, guru itu sendiri sudah memilikinya, sehingga siswa dapat meneladani perilaku, sikap, dan etika guru yang dapat diamati dan dilihat siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang berkarakter adalah guru yang memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Oleh karena itu, guru yang berkarakter kuat memiliki kemampuan mengajar, dan juga dapat menjadi teladan bagi siswanya. Jadi dalam membentuk siswa yang  berkarakter kuat dan positif, guru haruslah memiliki karakter yang kuat pula.
Guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dasar siswa sejak dini. Pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi, tidak menjadikan siswa cakap dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan keterampilan dan sikap yang baik, menjadi indikator keberhasilan sebuah pembelajaran sekaligus kesuksesan tujuan pendidikan.Guru yang berkarakter baik, memiliki peluang melahirkan siswa yang berkarakter lebih baik. Penguasaan metode, dan penguasaan substansi materi saja tidak cukup bagi guru. Menjadi gurunya manusia dan memiliki kasih sayang kepada siswanya serta menjadi mentor yang beretika, merupkan langkah penting yang harus dimiliki guru untuk melahirkan siswa yang berkarakter baik.




                [1] Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Amzah, 2015), hal. 5-6.

                [2]Masnur Muchlis, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hal. 30.
                [3] Pupuh Fathurrohman, dkk, Pengembangan Pendidikan Karakter, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hal. 16.
                [4]Dicky Wirianto, Meretas Pendidikan Karakter Perspektif Ibnu Miskawaih dan John Dewey, (Banda Aceh: Yayasan PeNA, 2013), hal. 48.