Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Guru Profesional Menurut Al-Ghazali


A.    Latar Belakang Masalah
Guru Profesional Menurut Al-Ghazali

Dalam lingkup sejarah, pendidikan telah dilakukan oleh manusia pertama di muka bumi ini, yaitu sejak Nabi Adam. Bahkan dalam al-Quran dinyatakan bahwa proses pendidikan terjadi pada saat Adam berdialog dengan Tuhan. Pendidikan ini muncul karena adanya motivasi pada diri Adam serta kehendak Tuhan sebagai pendidik langsung Adam untuk mengajarkan beberapa nama[1]. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 31.

Artinya: �Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"(Qs. Al-Baqarah:31).

Jelas sekali bahwa manusia hidup di dunia ini membutuhkan pendidikan. Karena tanpa pendidikan hidup manusia akan tidak teratur bahkan bisa merusak sistem kehidupan di dunia. Hal ini terbukti dengan pendidikan Nabi Adam yang diterima langsung dari Tuhan. Dalam Bahasa Indonesia kata pendidikan berangkat dari kata dasar didik yang mempunyai arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran[2]. Karena kata tersebut mendapat imbuhan pe-an, maka pendidikan bermakna sebuah proses.
Pendidikan merupakan sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan ajar, pendidik, peserta didik, sarana prasarana, dan lingkungan.[3]Di antara kedelapan aspek tersebut satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Karena  aspek tersebut saling berkaitan sehingga membentuk satu sistem. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan adalah aspek pendidik atau guru.
Begitu besar peran pendidik dalam sebuah keberhasilan pendidikan, oleh karena itu seorang pendidik dituntut harus bisa mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Pendidik sebagai tonggak utama penentu keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan, haruslah menyadari profesinya.  Sebagaimana dikeseharian, tugas formal seorang guru tidak sebatas berdiri di hadapan peserta didik selama berjam-jam hanya untuk mentransfer pengetahuan pada peserta didik. Lebih dari itu, guru juga menyandang predikat sebagai sosok yang layak digugu dan ditiru oleh peserta didik dalam segala aspek kehidupan, hal inilah yang menuntut agar guru bersikap sabar, jujur, dan penuh pengabdian. Sebab dalam konteks pendidikan, sosok pendidik mengandung makna model atau sentral identifikasi diri, yakni pusat anutan dan teladan bahkan konsultan bagi peserta didiknya.
Semua orang yakin bahwa pendidik memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan peserta didik. Guru sangat berperan dan mempunyai peran yang cukup besar terhadap kematangan intelektual, spiritual, dan emosional peserta didik.[4]Dalam dunia pendidikan, komponen Guru sangatlah penting, yakni orang yang bertanggungjawab mencerdaskan kehidupan anak didik, dan bertanggungjawab atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina anak didik agar menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi nusa dan bangsa.
Peran guru sebagai pelaksana dari sebuah kegiatan pendidikan tentu harus didukung dengan beberapa separangkat keahlian. Dalam istilah lainnya, guru juga mempunyai batasan-batasan tertentu sehingga ia dikatakan sebagai pendidik atau guru yang profesional. Hal ini perlu ditekankan, mengingat banyak orang yang berprofesi sebagai guru tapi tidak bertindak dan berakhlak layaknya seorang guru profesional. Penulis tidak hendak mengecilkan image sosok guru pada saat ini, tapi fakta banyak diberitakan di media massa ada sebagian guru yang tidak punya susila serta tidak pantas disebut sebagai guru.
Seperti termuat dalam koran nasional Sindo seorang guru memperkosa lima muridnya dengan menjanjikan nilai bagus kepada korbannya.[5]Diberitakan juga oleh Berita Liputan 6, di Polewali Mandar banyak murid yang tidak masuk ke dalam kelas dan menghabiskan waktunya dengan duduk dan bermain saja di sekolahan karena sejumlah guru yang tidak masuk kelas untuk mengajar dan mendidik siswa.[6]Selain itu, masih banyak tindak ketidak profesionalan seorang guru yang belum sempat termuat oleh media.
Dari potret pendidikan yang terjadi di Indonesia tentu peran guru tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Dalam hal peningkatan profesinalisme seorang guru, pemerintah juga telah banyak melakukan terobosan seperti disyaratkannya ijazah strata 1 untuk menjadi seorang guru di lembaga pendidikan formal dari jenjang SMA sederajat sampai dengan ke bawah. Stara 2 bagi dosen di perguruan tinggi Negeri atau swasta. Selain itu juga ada program sertifikasi yang dilakukan pemerintah baik untuk guru maupun dosen.
Meski Pemerintah telah membuat batasan-batasan guru profesional yang tertuang dalam Undang-undang Guru dan Dosen, tentu permasalahan pendidikan dalam ruang lingkup guru tidak bisa selesai begitu saja. Hal ini dikarenakan sedikitnya rujukan profil guru yang profesional. Selain itu juga banyak permasalahan lain yang harus diselesaikan.
Pembahasan tentang profesional guru banyak sekali ditemukan di toko buku, perpustakaan, dan taman baca. Namun dari banyaknya tempat itu, tidak banyak  menyediakan buku atau rujukan menjadi guru profesional yang berasal dari Ulama Islam. Padahal, kalau kita melihat karya-karya ulama muslim yang berbicara pendidikan tidaklah sedikit.
Tidak hanya sebatas pendidikan, bahkan sub dari pendidikan yaitu kajian tentang guru juga banyak diulas dalam karya-karya tersebut. Dari sinilah peneliti ingin mengetahui Ulama Islam menjelaskan bagaimana menjadi guru yang profesional. Kalau kita melihat sejarah Islam, pendidikan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad mengalami kejayaan. Hal ini di dukung dengan adanya beberapa faktor yang sangat mendukung. Diantaranya adalah Madrasah Nidzamiyah, guru yang cakap, serta kurikulum pendidikan yang baik.[7]
Salah satu tokoh pendidikan pada waktu itu adalah al-Ghazali, yang lahir pada tahun 1058 M dan meninggal pada tahun 1111 M. Ulama sekaligus pendidik ini banyak menulis ide dan konsep. Diantara sebagian banyak karangannya, ada beberapa buku yang berbicara tentang pendidikan. Termasuk di dalamnya membahas bagaimana menjadi guru profesional. Lebih dari itu, corak pendidikan al-Ghazali sangat kental dengan nuansa akhlak yang baik[8]. Tentu hal ini sangat pantas diketahui, karena krisis pendidikan pada dewasa ini kebanyakan berada pada kawasan akhlak.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti dengan judul Guru Profesional Menurut Al-Ghazali.�
B.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana  konsep guru profesional menurut al-Ghazali?
2.     Bagaimana kiat-kiat meningkatkan profesionalitas guru menurut al-Ghazali?
3.     Bagaimana Profesi pendidik (pengajar, guru) menurut Al-Ghazali?
C.    Penjelasan Istilah
Istilah yang terdapat dalam judul proposal skripsi ini sebagai berikut:
1.     Guru
Guru dalam kamus besar bahasa indonesia adalah �orang yang kerjanya mengajar�.[9]Guru dalam konteks ilmu pendidikan islam disebut dengan istilah murabbi, muallim dan muaddib. Pengetian murabbi menurut Ahmad Tafsir lafad tarbiyah terdiri dari empat unsur, yaitu: �menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa, mengembangkan seluruh potensi, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan dan melaksanakan secara bertahap�.[10]
Adapun untuk makna guru dalam penelitian ini semakna dengan pengertian kamus tersebut, yaitu orang yang mengajar kepada murid baik sisi intelektual, emosional, dan spiritual. Sedangkan guru profesional adalah guru yang mampu bertindak secara profesional.
2.     Profesional
Profesional adalah jabatan atau pekerjaan yang dilandasi kompetensi dibidangnya, berupa pengetahuan, ketrampilan dan keahlian khusus, sebagai kualitas tindak tanduk yang mencermnkan tenaga profesional.[11]Menurut Ahmad Tafsir profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang yang profesional adalah orang memiliki profesi.[12]Profesional menunjuk pada dua hal, pertama orang yang menyandang suatu profesi, kedua penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.[13]
Menurut pnulius, profesional adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan. Sehingga ia mampu melakukan tugas dan tujuan sebagai guru dengan maksimal.
3.     Al-Ghazali
Al-Ghazali, salah satu tokoh pemikir di dalam dunia Islam yang dikenal sebagai seorang teolog, filsuf, ahli hukum, dan sufi. Hidup pada periode pemerintahan Bani Saljuk.[14]Adapun nama lengkapnya adalah Abu Hamid Ibn Muhammad bin Ahmad  al-Ghazali, yang mendapat gelar Hujjah al Islam. Ia lahir di Thus bagian dari kota Khurasan Iran, pada tahun 1058 M.[15]
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.     Untuk mengetahui konsep guru profesional menurut al-Ghazali.
2.     Untuk mengetahui kiat-kiat meningkatkan profesionalitas guru menurut al-Ghazali.
3.     Untuk mengetahui Profesi pendidik (pengajar, guru) menurut Al-Ghazali.
E.    Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian penulisan proposal skripsi ini adalah sebagi berikut:
              Secara teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai Guru Profesional Menurut Al-Ghazali. Selain itu  hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang study pendidikan.
Hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam memperbaiki dan mengaplikasikan Guru Profesional Menurut Al-Ghazali ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.
F.     Landasan Teori
Pandangan tentang citra guru sebagai orang yang wajib digugu (dipatuhi) dan ditiru (diteladani) tidak perlu diragukan kebenarannya, konsep keguruan  klasik tersebut mengandaikan pribadi guru serta perbuatan kependidikan atau keguruan adalah tanpa cela, sehinga pantas  hadir sebagai manusia model yang ideal. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi, guru wajib digugu dan ditiru tersebut perlu disikapi secara kritis dan realistis. Benarlah bahwa guru dituntut menjadi tauladan bagi siswa dan orang-orang sekelilingnya, tetapi guru adalah orang yang tidak pernah bebas dari cela dan kelemahan, justru salah satu  keutamaan guru hendaknya diukur dari kegigihan usaha guru yang bersangkutan untuk menyempurnakan diri dan karyanya. Guru yang sempurna, ideal, selamanya tetap merupakan suatu cita-cita.
Atas pemikiran di atas, maka upaya menyiapkan tenaga guru merupakan langkah utama dan pertama yang harus dilakukan. Dalam arti formal tugas keguruan bersikap profesional, yaitu tugas yang tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang.[16]Dalam artian, guru tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengerahkan dan membina anak didiknya sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang luhur dan bermanfaat menurut pandangan agama.
Pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua (ayah dan ibu), karena adanya pertalian darah yang secara langsung bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses anaknya merupakan sukses orang tua juga. Orang tua disebut pendidik kodrati. Apabila orang tua tidak punya kemampuan dan waktu untuk mendidik, maka mereka menyerahkan sebagian tanggungjawabnya kepada orang lain atau lembaga pendidikan yang berkompetensi untuk melaksanakan tugas mendidik.
Seorang guru dituntut mampu memainkan peranan dan funginya dalam menjalankan tugas keguruannya. Dalam Ilmu Pendidikan Islam, membagi tugas guru ada dua; Pertama, membimbing anak didik mencari pengenalan terhadap kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya. Kedua, menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu suatu keadaan dimana tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil memuaskan.
Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, karena ia harus memiliki berbagai kompetensi keguruan. Kompetensi dasar bagi pendidik ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dasar dan kecenderungan yang dimilikinya. Pontensi dasar itu adalah milik individu sebagai hasil proses yang tumbuh karena adanya inayah Allah SWT, personifikasi ibu waktu mengandung dan situasi yang mempengaruhinya baik langsung maupun melalui ibu waktu mengandung atau faktor keturunan. Hal inilah yang digunakan sebagai pijakan bagi individu dalam menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa dalam ajaran Islam, guru mendapatkan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi. Penghormatan dan kedudukan yang  tinggi ini amat logis diberikan kepadanya, karena dilihat dari jasanya yang demikian besar dalam membimbing, mengarahkan, memberikan pengetahuan, membentuk akhlak dan menyiapkan anak didik agar siap menghadapi hari depan dengan penuh keyakinan dan percaya diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi dengan baik. 
Sifat yang dimiliki guru adalah harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak sesuai dengan pendapat Mohammad Athiyah Al-Abrosyi, salah satu dari mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya, melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah semata-mata. Ini tidak berarti bahwa seorang guru harus hidup miskin, melarat, dan sengsara, melainkan boleh ia memiliki kekayaan sebagaimana lazimnya orang lain dan ini tidak berarti pula bahwa guru tidak boleh menerima pemberian atau upah dari muridnya, melainkan ia boleh saja menerimanya pemberian upah tersebut karena jasanya dalam mengajar, tetapi semua ini jangan diniatkan dari awal tugasnya. Pada awal tugasnya hendaklah ia niatkan semata-mata karena Allah. Dengan demikian, maka tugas guru akan dilaksanakan dengan baik, apakah dalam keadaan punya uang atau tidak ada uang.
Selanjutnya dijumpai pula pendapat Al-Ghazali bahwa hendaknya seorang guru tidak mengharapkan imbalan, balas jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi dengan mengajar itu bermaksud mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.[17]Mengenai masalah gaji guru, menurutnya, sosok guru ideal adalah yang memiliki motivasi mengajar yang tulus ikhlas. Dalam mengamalkan ilmunya semata-mata untuk  bekal di akhirat bukan untuk dunianya, sehingga tidak mengharapkan imbalan, dan menjadi panutan serta mengajak pada jalan Allah dan mengajar itu harganya lebih tinggi dari pada harta benda.
Selanjutnya menurut pendapat Zakiah Daradjat, untuk menjadi guru yang baik yaitu yang dapat memenuhi tanggung jawab yang dibebankan padanya, salain bertakwa kepada Allah, sehat jasmaninya, baik akhlaknya dan berjiwa sosial, seorang guru juga dituntut berilmu pengetahuan, yaitu dengan memiliki ijazah sebagai tanda bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukan untuk suatu jabatan, yang selanjutnya harus berusaha mencintai pekerjaannya. Dan kecintaan terhadap pekerjaan guru akan bertambah besar apabila dihayati benar-benar keindahan dan kemuliaan tugas ini, karena boleh jadi itu sebenarnya tidak sengaja mengajar, akan tetapi ia menjadi guru hanyalah untuk mencari nafkah, maka pekerjaannya sebagai guru dinilai dari segi material. Apabila yang dipandang material atau hasil langsung yang diterimanya tidak seimbang dengan beban kerja yang dipikulnya, maka ia akan mengalami kegoncangan. Sehingga tindakan dan sikapnya terhadap anak didik akan terpengaruh pula. Hal itupun dapat merusak nilai pendidikan yang diterima oleh anak didik.[18]
Dengan melihat sekilas pemaparan atau uraian tentang sosok guru, bahwa sosok guru selalu mengalami perkembangan, begitu juga sosok guru Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat ternyata ada perbedaan dan persamaan.


G.   Kajian Terdahulu
Nama: Faiza Nim: A. 294481/3431 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Almuslim Matangglumpangdua Bireuen Pada tahun 2014 dengan judul skripsi Interaksi Guru Dan Murid di MTsN Bireuen metode yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode fiel reserch dengan kesimpulan sebagai berikut:
1.     Interaksi guru dan murid di MTsN Bireuen adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, guru sebagai sejawat belajar.
2.     Usaha-usaha yang dilakukan pihak sekolah dalam membangun hubungan yang efektif antara guru dan murid adalah guru berperilaku secara profesional, guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu.
3.     Keberhasilan yang di capai di MTsN Bireuen dalam membangun hubungan yang efektif antara guru dan murid adalah guru membangun kedekatan secara lahir dengan murid serta guru juga mampu membangun kedekatan secara batin dengan murid.
H.    Metodelogi Penelitian
1.     Jenis penelitian
Penelitian ini adalah jenis studi yang termasuk kedalam library research atau kepustakaan yaitu data/bahan yang diambil dari data/bahan yang tertulis atau pernah diteliti sebelumnya.[19] Adapun pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan kualitatif.

2.     Metode Penelitian
Adapun metode yang penulis digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu metode pemecahan masalah yang ada masa sekarang meliputi pencatatan, penguraian, penafsiran dan analisa terhadap data yang ada, sehingga menjadi suatu karya tulis yang rapi dan utuh. Penelitian ini akan menjelaskan Guru Profesional Menurut Al-Ghazali.
3.     Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian adalah pembahasan mengenai kerangka penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto bahwa: �Ruang Lingkup Penelitian adalah bagian teori dari penelitian yang menjelaskan tentang alasan atau argumentasi bagi rumusan masalah�[20] Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
NO
Ruang Lingkup Penelitian
Hasil Yang diharapkan

1
Konsep guru profesional menurut al-Ghazali.
a)     Mempunyai akal cerdas,
b)     Mempunyai akhlak yang sempurna,
c)     Mempunyai fisik yang kuat.
2
Kiat-kiat meningkatkan profesionalitas guru menurut al-Ghazali.

a)      Mengikuti jejak Rasulullah dalam tugas dan kewajibannya.
b)     Memberikan kasih sayang terhadap anak didik.
c)     Menjadi teladan terhadap anak didik.
d)     Menghormati kode etik guru
3

Profesi pendidik (pengajar, guru) menurut Al-Ghazali.

a)     Alasan yang berhubungan dengan sifat naluriah.
b)     Alasan yang berhubungan dengan kemanfaatan umum.
c)      Alasan yang berhubungan dengan unsur yang dikerjakan.

4.     Sumber Data
1)     Data primer adalah sumber data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data dan penyelidik untuk tujuan penelitian.[21]. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah:
a)     Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. 6, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
b)     Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Guru, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000.
c)     Abuddin Nata, Pemikiran para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
d)     Abuddin Nata,  Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
e)     Al-Ghazali, Terj., Ismail Yakub, Ihya� Ulumuddin,Cet VI,  Semarang: C.V. Faizan, 1979.
2)     Data skunder yaitu sumber data yang mendukung dan melengkapi sumber data primer tersebut yaitu buku:
a)     Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009
b)     Buchari Alma, et al., Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampail Mengajar, Bandung: Alfabeta, 2009.
c)     Basuki & Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: STAIN PoPress, 2007.
d)     Sardiman. AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,Jakarta, Raja Grafindo, Persada, 2007
e)     Ngalim Purwanto, Psikologi Pindidikan , Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999.
f)      Hamzah B, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
g)     Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. 6, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
5.     Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah teknik library research yaitu menelaah buku-buku, teks dan literature-literature yang berkaitan dengan permasalahan di atas.[22]Suatu metode pengumpulan data atau bahan melalui perpustakaan yaitu dengan membaca dan menganalisa buku-buku, majalah-majalah yang ada kaitannya dengan masalah yang penulis teliti. Selain itu juga akan memanfaatkan fasilitas internet untuk memperoleh literatur-literatur yang berhubungan dengan skripsi ini.
6.     Tehnik Analisa Data

Teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Menurut Lexy J. Moleong, analisis data adalah yakni suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi dengan mengidentifikasi karakter khusus secara obyektif dan sistematik yang menghasilkan deskripsi yang obyektif, sistematik mengenai isi yang terungkap dalam komunikasi.[23]
Tehnik penulisan dalam skripsi ini penulis berpedoman pada Buku Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim Peusangan Bireuen Aceh tahun 2014. Mengenai terjemahan ayat Al-Qur�an, penulis mengambil Buku Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur�an Kementrian agama RI, Al-Qur�an dan Terjemahannya Perkata, penerbit CV. Kalim, Jakarta Tahun 2010.
I.      Garis Besar Isi Proposal Skripsi
Garis besar dalam penulisan  proposal skripsi  ini adalah sebagai berikut :
            Bab satu terdapat pendahuluan meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, penjelasan istilah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, Landasan Teori, Kajian terdahulu, metode penelitian dan garis besar isi proposal skripsi.





DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur�anul Karim

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.

                        , Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

                        , Pemikiran para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

                        ,Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

Anton Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, t.th.

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. 6, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Al-Ghazali, Terj., Ismail Yakub, Ihya� Ulumuddin, Cet VI,  Semarang: C.V. Faizan, 1979.

HasyimsyahNasution, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama,1999.

http://www.sindonews.com/read/2012/03/20/447/597012/janjikan-nilai-bagus-guru-perkosa-5-murid-smp. Diakses pada hari rabu 11.30. WIB.

http://berita.liputan6.com/read/379516/guru-bolos-mengajar-siswa-telantar. diakses pada hari rabu 11. 50. WIB

Kartini, Pengantar Metodologi Research Sosial, Bandung: Alumni, 1980.

Lexy J., Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

Muhammad, Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam,Terjemahan oleh Mahmud Arif, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Guru, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000.

Mungin Eddy Wibowo, Paradigma Bimbingan dan Konseling, Semarang; DEPDIKNAS, 2001.

Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Intregatif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, Yogyakarta: LKiS, 2009.

Rama Yulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam  Telaah Sistem Pendidikan  dan Pemikiran para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.

Sutrisno Hadi, Metode Research, Jilid I, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1987.

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2000.

Winarmo Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah,             Bandung: Angkasa, 1987.

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.





               [1]Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Intregatif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta: LKiS, 2009), hal. 16.
               [2] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), hal. 263.
               [3]Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 90.
               [4]Rama Yulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam  Telaah Sistem Pendidikan  dan Pemikiran para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal.138.
               [5] http://www.sindonews.com/read/2012/03/20/447/597012/janjikan-nilai-bagus-guru-perkosa-5-murid-smp. Diakses pada hari rabu 11.30. WIB.
               [6]http://berita.liputan6.com/read/379516/guru-bolos-mengajar-siswa-telantar. diakses pada hari rabu 11. 50. WIB
               [7]Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal.  66-70.
               [8]Muhammad, Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam,Terjemahan oleh Mahmud Arif, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hal. 119.
               [9] D. Anton Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, t.th.), hal. 30.
               [10]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. 6, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 29.
               [11]Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Guru, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000), hal. 229.
               [12]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan..., hal. 107.
               [13]Mungin Eddy Wibowo, Paradigma Bimbingan dan Konseling, (Semarang; DEPDIKNAS, 2001), hal. 2.
               [14]Abuddin Nata, Pemikiran para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 85.
               [15]HasyimsyahNasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,1999), hal. 77.
               [16]Abuddin Nata,  Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 1.
               [17] Al-Ghazali, Terj., Ismail Yakub, Ihya� Ulumuddin, Cet VI,  (Semarang: C.V. Faizan, 1979), hal. 214.
               [18]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal. 41-42.
               [19]Sutrisno Hadi, Metode Research, Jilid I, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1987), hal. 136.
[20] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 76.
[21]Winarmo Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah,             (Bandung: Angkasa, 1987), hal. 163.
[22]Kartini, Pengantar Metodologi Research Sosial, (Bandung: Alumni, 1980), hal. 28.

[23]Lexy J., Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 44.