Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Metode Pendidikan Islam Yang Terkandung Dalam Surat Surat An-Nahlu Ayat 125


BAB III
METODE PENDIDIKAN  ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM SURAT SURAT AN-NAHLU AYAT 125

Metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Metaberarti "melalui" dan thodos berarti "jalan" atau "cara".[1] Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai satu tujuan. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut.[2]Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan.[3]Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran. Dengan pengertian yang terakhir ini, metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan suatu teori temuan. Dengan metode serupa itu, ilmu pengetahuan apapun dapat berkembang.
Dari pendekatan kebahasaan tersebut nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam arti jalan yang bersifat non fisik. Yakni jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu kepada cara yang mengantarkan seseorang untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Namun demikian, secara terminologis atau istilah kata metode bisa membawa kepada pengertian yang bermacam-macam sesuai dengan konteksnya. Hasan Langgulung mengatakan, karena pelajaran agama sebagaimana diungkapkan di dalam Al-Qur�an itu bukan hanya satu segi saja, melainkan bermacam-macam, yaitu ada kognitifnya seperti tentang fakta-fakta sejarah, syarat-syarat syah sembahyang, ada aspek afektifnya, seperti penghayatan pada nilai-nilai keimanan dan akhlak, dan ada aspek psikomotorik seperti praktek-praktek shalat, haji, dan sebagainya, maka metode untuk mengajarkannya pun bermacam-macam, sehingga metode tarbiyah Islamiah itu dapat diartikan sebagai metode pengajaran yang disesuaikan dengan materi atau pelajaran yang terdapat dalam Islam itu sendiri.[4]Karena muatan ajaran Islam itu luas, maka metode tarbiyah Islamiah pun luas cakupannya. Adapun metode-metode yang dalam Al-Qur�an yang penulis bahas dalam skripsi ini adalah metode yang terkandung dalam surat An-Nahlu ayat 125 yaitu:
???  ???  ?????  ????  ?????????  ?????????  ???????  ?????????  ???????  ??  ????  ??  ????  ??  ????  ???  ??  ??  ??????  ???  ????  ????????????  (????? : ???)

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahlu: 125).

Berdasarkan ayat di atas, maka dapat diambil beberapa metode yang terkandung di dalamnya, yaitu:

A.    Metode Pendidikan al-Hikmah
Ayat di atas mengajarkan kepada manusia melalui Rasulullah tentang cara melaksanakan dakwah dan pendidikan, atau seruan terhadap manusia agar mereka berjalan di atas jalan Allah (Sabilillah). Sabilillah, atau Shiratal Mustaqim, atau ad-Dinul Haqqu, agama yang benar. Nabi SAW memegang tampuk pimpinan dalam melakukan pendidikan dan dakwah tersebut. Kepadanya dituntunkan oleh Tuhan bahwa di dalam kegiatan pendidikan hendaklah memakai tiga cara atau tiga tingkat cara hikmah (kebijaksanaan) yaitu dengan secara bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada agama, atau kepada kepercayaan terhadap Tuhan.[5]
Kata �Hikmat� itu kadang-kadang diartikan orang dengan filsafat. Pada hal dia adalah inti yang lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dapat difahamkan oleh orang-orang yang telah terlatih fikirannya dan tinggi pendapat logikanya. Tetapi hikmat dapat menarik orang yang belum maju kecerdasannya dan tidak dapat dibantah oleh orang yang lebih pintar. Kebijaksanaan itu bukan saja dengan ucapan mulut, melainkan termasuk juga dengan tindakan dan sikap hidup. Kadang-kadang lebih berhikmat �diam� dari pada �berkata�.[6]
Di sisi lain, dinyatakan dengan tegas dalam ayat tersebut tentang titik tolak krida pendidikan bahwa krida pendidikan dilakukan harus �bil hikmati�, dengan kebijaksanaan. Jelasnya: Al-hikmah adalah syarat mutlak untuk suksesnya krida. Sukses tidaknya suatu pendidikan diukur dan ditentukan, sama sekali tidak dengan soal besar-kecilnya auditoria peserta didik. Melainkan ialah mutlak dengan soal kwantitas tambahnya manusia yang kembali ke jalan Allah, sebagai hasil karya pendidikan  itu. Dari itu maka tiap pendidik, mutlak �qabla kullisyai� harus memahami benar, apa dan bagaimana al-hikmah itu dan menerapkannya  dalam pendidikan.[7]
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dipahami bahwa metode pendidikan Islam dalam bentuk hikmah merupakan metode pendidikan yang menggunakan pendekatan kebijaksanaan, sehingga dengan menggunakan metode tersebut peserta didik tidak merasa bosan dan jengkel dengan materi dan pendidik yang dihadapinya dalam pengajaran. Oleh karena itu, seyogyanyalah seorang guru lebih mengedepankan metode hikmah dalam memberikan pelajaran kepada siswanya.
B.             Metode Pendidikan Al-Mau�idzah Hasanah
Mau�idzatul Hasanah, yang diartikan pengajaran yang baik, atau pesan-pesan yang baik, yang disampaikan sebagai nasehat. Sebagai pendidikan dan tuntunan sejak kecil. Sebab itu termasuklah dalam bidang �Al-Mau�idzatul Hasanah�, pendidikan ayah bunda dalam rumah tangga kepada anak-anaknya, yang ditunjukkan contoh beragama dihadapan anak-anaknya, sehingga kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam perguruan-perguruan.[8]Pengajaran-pengajaran yang baik lebih besar kepada kanak-kanak yang belum ditumbuhi atau belum diisi lebih dahulu oleh ajaran-ajaran yang lain.
...  ??  ?????  ??  ????  ???  ??  ??  ??????  ???  ????  ???????????? (????? : ???)
Al-Maraghi menafsirkan:
Sesungguhnya Tuhanmu, hai Rasul, lebih mengetahui tentang orang yang menyimpang dari jalan lurus di antara orang-orang yang berselisih tentang hari Sabtu dan lainnya, serta lebih mengetahui tentang siapa di antara mereka yang menempuh jalan lurus dan benar. Dia akan memberi balasan kepada mereka semua ketika mereka kembali kepada-Nya, sesuai dengan hak mereka masing-masing.[9]

Allah memerintahkan kepada Rasulullah, untuk menyerukan orang-orang kepada syariat yang telah digariskan Allah kepada makhluk-Nya melalui wahyu yang diberikan melalui Rasul, dan memberikan mereka pelajaran dan peringatan yang diletakkan di dalam kitab-kitab-Nya sehingga hujjah atas mereka, serta selalu diingatkan kepada mereka, seperti diulang-ulang di dalam surat ini. Dan bantahlah mereka dengan bantahan yang lebih baik dari pada bantahan lainnya, seperti memberi maaf kepada mereka jika mereka mengotori kehormatanmu, serta bersikaplah lemah lembut terhadap mereka dengan menyampaikan kata-kata yang baik, sebagaimana firman Allah di dalam ayat lain :
? ?? ?????????  ???  ??????  ???  ???????  ??  ????  ???  ??????  ?????  ???? ... (????????? : ??)
Artinya: "Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka..." (Q. S. Al-�Ankabut: 46)

Dan firman-Nya kepada Musa dan Harun ketika diutus kepada Fir'aun :
???????  ??  ?????  ??????  ????  ?????  ??  ???? (??? : ??)

Artinya: "Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." (Q.S. Thaha : 44)

Dalam mengajak manusia kepada agama Allah, Islam menganjurkan supaya dipakai cara kebijaksanaan, dengan ilmu dan hikmat serta pengajaran yang baik. Jika terjadi perbedaan pendapat dengan mereka, kebijaksanaan itu harus lebih ditingkatkan lagi dengan mengemukakan dalil-dalil yang meyakinkan dengan penuh toleransi. Tidaklah benar tuduhan yang mengatakan bahwa Muhammad menyiarkan Islam dengan pedang di tangan kanannya dan Al-Qur�an di tangan kirinya.[10]
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dipahami bahwa untuk mengajarkan seseorang kepada jalan kebaikan harus dilakukan pula dengan pendekatan kebaikan, sebab siapapun orangnya apabila diajak dengan menggunakan pendekatan kekerasan sudah barang pasti menolak kebaikan tersebut. Hal itu disebabkan karena orang yang diajak itu merasa dirinya tidak dihargai. Begitu pula dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, seorang guru harus menuntun muridnya dengan menggunakan pendekatan lemah lembut, sehingga apa yang diajarkan gurunya dapat dimengerti oleh siswanya.



C.              Metode Pendidikan Al-Mujadalah
Metode yang ketiga yang terdapat dalam surat an-Nahlu ayat 125 adalah jadilhum billati hiya ahsan�, artinya bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau telah terpaksa timbul perbantahan atau pertukaran pikiran, yang di zaman sekarang disebut polemik, ayat tersebut menyuruh seorang pendidik agar hal demikian, kalau sudah tidak dapat dielakkan lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. Di antaranya ialah memperbedakan pokok soal yang tengah dibicarakan dengan perasaan benci atau sayang kepada pribadi orang yang tengah diajak berbantah. Misalnya seseorang yang masih kufur, belum mengerti ajaran Islam, lalu dengan sesuka hatinya saja mengeluarkan celaan kepada Islam, karena bodohnya. Orang ini wajib dibantah dengan jalan yang sebaik-baiknya, disadarkan dan diajak kepada jalan pikiran yang benar, sehingga dia menerima. Tetapi kalau terlebih dahulu hatinya disakiti, karena cara kita membantah yang salah, mungkin dia enggan menerima kebenaran, meskipun hati kecilnya mengakui, karena hatinya telah disakiti.[11]
Menggunakan metode terbaik di dalam mendidik dan berdebat, yaitu mendidik dengan cara yang terbaik. Itulah kewajiban seorang manusia. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan atas keduanya, diserahkan kepada-Nya semata bukan kepada selain-Nya. Sebab Dia lebih mengetahui tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan karena ikhtiarnya yang buruk, dan tentang keadaan orang yang mengikuti petunjuk karena mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang digariskan oleh Allah untukmu di dalam berdakwah dan mengajar, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan uzur orang-orang yang sesat.
Dalam ayat tersebut Allah SWT juga memberikan pedoman-pedoman kepada Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia ke jalan Allah. Yang dimaksud jalan Allah di sini ialah agama Allah yakni syariat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam ayat tersebut Allah SWT meletakkan dasar-dasar pendidikan dan dakwah untuk dijadikan pegangan bagi umat Muhammad SAW di kemudian hari.[12]
Dalam kitab tafsirnya Al-Maraghi menjelaskan: "Allah SWT menjelaskan kepada manusia melalui Rasul-Nya bahwa sesungguhnya pendidikan ini adalah pendidikan untuk agama Allah sebagai jalan menuju ridha Ilahi. Rasul SAW diperintahkan untuk membawa manusia ke jalan Allah dan untuk agama Allah semata-mata".[13]
Imam Bernadib mengemukakan :  
Allah SWT menjelaskan kepada manusia melalui Rasul SAW agar pendidikan itu dengan hikmah. Hikmah itu mengandung beberapa arti :
a.         Berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu sesuatu dapat diyakini keadaannya.
b.         Berarti perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil atau syubhat (meragukan).
c.         Arti yang lain ialah kenabian mengetahui hukum-hukum Al-Qur'an, paham agama, takut kepada Allah, benar perkataan dan perbuatan.[14]

Artinya yang paling tepat dan dekat kepada kebenaran ialah arti yang pertama yaitu pengetahuan tentang rahasia dan faedah sesuatu, yang mana pengetahuan itu memberi manfaat.
Metode pendidikan dengan hikmah adalah metode pendidkan dengan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan rahasia, faedah dan maksud dari wahyu Ilahi, suatu pengetahuan yang cukup dari guru, tentang suasana dan keadaan yang meliputi mereka, pandai memilih bahan-bahan pelajaran agama yang sesuai dengan kemampuan daya tangkap jiwa mereka sehingga mereka tidak merasa berat dalam menerima ajaran agama, dan pandai pula memilih cara dan gaya menyajikan bahan-bahan pengajaran itu, sehingga anak mudah menerimanya.
Dalam hal ini Ramli A.M. mengemukakan "Allah SWT menjelaskan bahwa pendidikan itu dilakukan dengan pengajaran yang baik, yang diterima dengan lembut oleh hati manusia tapi berkenan di dalam hati mereka."[15]
Tidaklah patut jika pengajaran dan pendidikan itu selalu menimbulkan pada jiwa manusia rasa gelisah cemas dan ketakutan. Orang yang jatuh karena dosa, disebabkan jahilnya atau tanpa kesadaran, tidaklah wajar kesalahan-kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka sehingga menyakitkan hatinya.
Pendidikan atau pengajaran yang disampaikan dengan bahasa yang lemah lembut, sangat baik untuk menjinakkan hati yang liar dan lebih banyak memberikan ketenteraman dari pada pendidikan dan pengajaran yang isinya ancaman dan kutukan-kutukan yang mengerikan. Jika pada tempat dan waktunya, tidaklah ada jeleknya memberikan pendidikan yang berisikan peringatan yang keras atau tentang hukuman-hukuman dan azab-azab yang diancamkan Tuhan kepada mereka yang sengaja berbuat dosa (tarhib).
Rasul SAW, untuk menghindari kebosanan dalam pendidikannya, menyisipkan dan mengolah bahan pendidikan yang menyenangkan, dengan bahan yang menimbulkan rasa takut. Dengan demikian tidak terjadi kebosanan yang disebabkan urutan-urutan pengajian yang berisi perintah dan larangan tanpa memberikan bahan pendidikan yang melapangkan dada atau yang merangsang hati untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Hilmi Muhammadiyah berpendapat:
Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi perbantahan atau perdebatan dengan kaum musyrikin ataupun ahli kitab, maka hendaklah kita membantahnya dengan perbantahan yang baik. Suatu contoh yang baik ialah perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang membawa mereka berfikir untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri, sehingga mereka menemukan kebenaran.[16]
Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat dengan kata yang tajam, karena hal demikian menimbulkan suasana yang panas. Sebaliknya hendaklah diciptakan suasana nyaman dan santai sehingga tujuan dalam perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas.
Dalam hal berdebat, Al-Abrasyi  menjelaskan :
Suatu perdebatan yang baik ialah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya sifat-sifat jiwa manusia yang negatif seperti sombong, tinggi hati, dan tahan harga diri  karena sifat-sifat tersebut sangat peka. Lawan berdebat supaya dihadapi sedemikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga dirinya dihormati, dan guru menunjukkan bahwa tujuan yang utama adalah menemukan kebenaran kepada agama Allah SWT". [17]

Dalam Al-Qur'an dan Tafsirnya yang dikeluarkan Departemen Agama R.I. dijelaskan :
Allah SWT menjelaskan kepada Rasul SAW bahwa ketentuan akhir  dari segala usaha dan perjuangan itu, pada Allah SWT. Hanya Allah SWt sendiri yang menganugerahkan iman kepada jiwa manusia, bukanlah orang lain ataupun da�i itu sendiri. Dialah Tuhan yang Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang tidak dapat mempertahankan fitrah insaniahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan, sehingga dia menjadi sesat, dan siapa pula di antara hamba yang fitrah insaniahnya tetap terpelihara sehingga dia terbuka menerima petunjuk (hidayah) Allah SWT.[18]

Mengenai ayat 125 surat an-Nahlu, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memaparkan:
Allah berfirman menyuruh Rasul-Nya untuk berseru kepada manusia ke jalan Allah dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat serta anjuran yang baik. Dan jika orang-orang itu mengajak berdebat, maka Nabi dianjurkan untuk membantah mereka dengan cara yang baik. Allah lebih mengetahui siapa yang durhaka, tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang bahagia berada di dalam jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Allah. Dan di ujung ayat Allah memberi semangat kepada nabi agar tidak berkecil hati bila ada orang-orang yang tidak mau mengikuti nabi dan tetap berada dalam jalan yang sesat. Karena tugas Nabi  hanyalah menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepadanya dan memberi peringatan kepada mereka, sedang Allah-lah yang akan menentukan dan memberi petunjuk serta Dia-lah yang akan meminta pertanggungjawaban hamba-hamba-Nya kelak di hari kiamat.[19]

Diskusi (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik mengarah pada suatu tujuan. Demikianlah kedua pihak saling bertukar pendapat tentang suatu perkara tertentu. Kadang kala keduanya sampai kepada suatu kesimpulan, atau mungkin pula salah satu pihak tidak merasa puas dengan pembicaraan yang lain. Namun demikian ia masih dapat mengambil pelajaran dan menentukan sikap baginya. Diskusi mempunyai pengaruh yang sangat dalam terhadap jiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topik percakapan secara seksama dan penuh perhatian. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal :
Pertama, permasalahannya disajikan secara dinamis, karena kedua pihak langsung terlibat dalam pembicaraannya secara timbal balik, sehingga tidak membosankan. Malahan dialog seperti itu mendorong kedua pihak untuk saling memperhatikan dan terus mengikuti pola pikirannya, sehingga dapat menyingkap sesuatu yang baru, mungkin pula salah satu pihak berhasil meyakinkan rekan-rekannya dengan pandangan yang dikemukakannya itu. Kedua, metode ini mendorong pendengar tertarik untuk terus mengikuti jalannya percakapan itu dengan maksud dapat mengetahui kesimpulannya. Hal ini juga dapat menghindarkan kebosanan dan memperbaharui semangat. Ketiga, metode ini dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa, yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya. Keempat, bila diskusi dilakukan dengan baik, memenuhi akhlak tuntunan Islam, maka cara berdiskusi, sikap orang yang terlibat itu akan mempengaruhi peserta sehingga menimbulkan pengaruh berupa pendidikan akhlak, sikap dalam berbicara, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya.[20]

Berdasarkan keterangan yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dipahami bahwa menggunakan metode mujadalah dalam pengajaran sangat diutamakan, karena dalam metode tersebut guru menyampaikan materi pelajaran dengan tepat sasaran, sehingga siswa atau anak didik tidak merasa jenuh dalam menerima pelajaran yang disajikan tersebut dan anak didik merasa tertarik dengan metode mengajar yang digunakan guru tersebut.




[1]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan  Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdesipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 82

[2]Ibid., hal. 83

[3]Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV, Pasal 9, hal. 5
[4]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995). hal. 65
[5]HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jil. XII, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990), hal. 69

[6]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 122.

[7]Syeikh Abdul Karim, Dakwah bil Hikmah, Terj. Salem Bahreisj, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1990), hal. 85
[8]Syeikh Abdul Karim, Dakwah�, hal. 45

[9]Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. K. Anshari Umar Sitanggal, dkk, Cet. Kedua, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1994), hal. 289-291.
[10]Bachtiar Surin, Tafsir Adz-Dzikra, Cet. IV, Juz. 7, (Bandung: Angkasa Bandung, 1991), hal. 1139
[11]Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Terj. Salim Bahreisy, Juz. IV, Cet. I, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988), hal. 127.
[12]Romli, AM, Dakwah  dan Siyasah, (Jakarta: Bina Rena Parawira, 2003), hal. 7.

[13]Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. K. Anshari Umar Sitanggal, dkk, Cet. Kedua, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1994), hal.  44.
[14]Imam  Bernadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, 1990), hal.  85.

[15]Romli, AM, Dakwah  dan Siyasah, (Jakarta: Bina Rena Parawira, 2003), hal. 7.

[16]Hilmi Muhammadiyah, Dakwah dan Globalisasi, (Jakarta: ELSA, 2000), hal. 3.
[17]Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Fjohar Bahri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hal. 26.

[18]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur�an dan Tafsirnya, Juz. IV, (Yogyakarta: UUI Press, 1991), hal. 500-503.

[19]Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Terj. Salim Bahreisy, Juz. IV, Cet. I, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988), hal. 610.

[20]Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet. Ketiga, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal. 117-118.