Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama


BAB II
FAKTOR PENDIDIKAN AGAMA

Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama


A.   Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama

Lapangan pendidikan Islam identik dengan ruang lingkup pendidikan Islam, yaitu bukan sekedar proses pengajaran (face to face), tetapi mencakup  segala usaha penanaman (internalisasi) nilai-nilai Islam ke dalam diri subjek didik. Usaha tersebut dapat dilaksanakan dengan mempengaruhi, membimbing, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan kepribadian subjek didik. “Tujuannya adalah agar terwujudnya manusia  muslim yang berilmu, beriman dan beramal salih. Usaha-usaha  tersebut  dapat dilaksanakan  secara langsung ataupun  secara tidak langsung”.[1]     
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan mempunyai tujuan dasar sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan sebagai usaha untuk membentuk manusia, harus mempunyai dasar kegiatan dari pendidikan itu sendiri.
Dasar pendidikan Islam terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah yang dikembangkan dalam bentuk ijtihad. Oleh karena itu,  penulis menguraikan dasar pendidikan Islam menurut masing-masing katagori, antara lain:
1.   Al-Qur’an
Al-Qur'an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an itu terdiri dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut dengan aqidah, yang berhubungan dengan ibadah disebut syari’ah.
Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan wahyu tidak banyak dibicarakan dalam Al-Qur'an, tidak sebanyak ajaran yang berkenaan dengan amal perbuatan. Ini menunjukkan bahwa amal itulah yang paling banyak dilaksanakan, sebab semua amal perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan manusia sesamanya (masyarakat), dengan alam dan lingkungannya, dengan makhluk lainnya, termasuk dalam ruang lingkup amal shaleh (syari’ah). Istilah-istilah yang biasa digunakan dalam membicarakan ilmu tentang syari’at ini ialah:
a.     Ibadah untuk perbuatan langsung berhubungan dengan Allah.
b.    Mu’amalah untuk perbuatan yang berhubungan dengan selain Allah.
c.     Akhlak untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti manusia, baik pribadi maupun masyarakat.[2]
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup mua’amalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat.
Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu. Sebagai contoh dapat dibaca dalam kisah Luqman mengajari anaknya dalam surat Luqman ayat 12 sampai 19 sebagai berikut:
َولَقَدْ أَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ ِللهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَبْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ (١٢) وَاِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِإَبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ (١٣) وَوَصَيْنَا اْلِإنْسِانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلْتَهُ أُمُّهُ وَهْنً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْلِى وَلِوَالِدَيْكَ اِلَي الْمَصِيْرُ (١٤) وَاِنْ جِاهَدَكَ عَلَى اَنْ تُشْركَ بِى مَالًيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطَعْمُهَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا وَاتَّبِعْ سَبِيْلَا مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعْكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (١٥) يَابُنَيَّ اِنَّهَا ِانْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلِ فَتَكُنْ فِى صَخْرَةٍ اَوْفِى السَّمَاوَاتِ اَوْ فِى الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَااللهُ اِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ الْخَبِيْرٌ (١٦) يَابُنَيَّ اَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَاَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْعَلَى مَااَصَابَكَ اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عُزْمِ الْاُمُوْرِ (١٧) وَلاَ تُصَعَّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحَا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلُّ مُخْتَالٍ فُخُوْرٍ (١٨) وَاقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وِاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ. (١٩) (لقمان: ١٢-١۹)

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Q. S. Luqman: 12-19)

Cerita ini menggariskan prinsip materi pendidikan yang terdiri dari masalah iman, akhlak ibadah, sosial dan ilmu pengetahuan. Ayat lain menceritakan tujuan hidup dan nilai tentang sesuatu kegiatan dan amal saleh. Itu berarti bahwa kegiatan pendidikan harus mendukung tujuan hidup tersebut. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengunakan Al-Qur'an sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai materi tentang pendidikan Islam.[3] Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman.
2.   Hadits
As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT. Yang dimaksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. As-Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur'an. Seperti Al-Qur'an, As-Sunnah juga berisi tentang aqidah dan syari’ah. Sunnah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa. Untuk itu, Rasul menjadi guru dan pendidik utama. Beliau sendiri mendidik, pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca tulis, ketiga dengan mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masyarakat Islam.  Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. dijelaskan tentang anjuran menuntut ilmu sebagai berikut:
عن أبى هريرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أطلب علم من المهد الى اللحد (رواه ابو داود) [4]
Artinya: Hadits dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat”. (H. R. Abu Daud)
Oleh karena itu, Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim. Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunnah yang berkaitan dengan pendidikan.
Namun demikian, jika dari aspek tujuannya pendidikan dalam Islam mempunyai tujuan umumnya adalah menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah, mengingat Islam adalah risalah samawi yang diturunkan kepada seluruh manusia sejak detik-detik pertama turunnya Islam. Tujuan strategis ini, sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:
اِنْ هُوَ اِلاَّ ذِكْرٌ لْلعَالَمِيْنَ (التكوير: ٢٧)
Artinya: "al-Qur'an  tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam." (Q. S. at-Takwir: 27).
Bahkan sebelum turun ayat ini keharusan da'wah merupakan tugas untuk memperingatkan seluruh manusia terhadap kufur dan syirik serta menyuruh mereka supaya mengagungkan dan membesarkan asma Allah, dengan meneladani Muhammad  sebagai  rasul.[5]
Di samping itu secara rinci tujuan pendidikan dalam Islam[6] adalah: pertama, Untuk membentuk akhlak yang mulia, karena akhlak inti pendidikan Islam untuk mencapai akhlak yang sempurna harus melalui pendidikan. Kedua, Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam bukan hanya  menitikberatkan pada  keagamaan saja, atau pada keduniaan saja tetapi pada kedua-duanya. Ketiga, Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat atau lebih dikenal dengan prefosionalisme. Tujuan ini adalah menyiapkan pelajar dari segi propesionalisme, teknikal dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu, dan keterampilan pekerjaan agar dapat mencari rezeki dalam hidup di samping memelihara segi kerohanian dan keagamaan. Keempat, menumbuhkan semangat ilmiyah pada pelajar dan memuaskan keingin tahuan (curiosity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
Secara  psikologi tujuan pendidikan Islam adalah:
1.     Pendidikan akal dan persiapan pikiran, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan kejadian langit dan bumi agar dapat beriman kepada Allah.[7]
2.     Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat terutama pada manusia karena Islam adalah agama fitrah sebab ajarannya tidak asing dari tabi'at manusia, bahkan ia adalah fitrah yang manusia diciptakan sesuai dengannya.[8]
3.     Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi  generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik lelaki maupun perempuan.
4.     Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi-potensi  dan bakat-bakat manusia.   
Di dalam al-Qur'an tujuan pendidikan adalah: pertama, mengarahkan  manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengelola  bumi sesuai dengan kehendak Tuhan. Kedua, mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan. Ketiga, membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahan. Keempat, mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga tidak menyalahkan fungsi kekahlifahannya. Kelima, mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
B.   Objek Pendidikan
Berdasarkan sifat, corak dan pendekatannya, pendidikan Islam dapat dibagi kepada empat bagian. Pertama, pendidikan Islam yang bercorak normative-perenialis (Islamic education in normatif dan perenialis persepektive). Kedua, pendidikan Islam yang bercorak filosofis  (Islamic education in filisofical persefektive). Ketiga, pendidikan yang bercorak sejarah (Islamic education  in historical  persepektive). Keempat, pendidikan Islam yang bercorak aplikatif, (Islamic education in applicative).[9]
Pendidikan Islam yang  bercorak nornatif-perenialis adalah pendidikan yang memfokuskan kajiannya  pada  penggalian  ajaran al-Qur'an dan hadist yang berkaitan  dengan  pendidikan  islam  yang diyakini  sebagai ajaran yang  pasti  benar, harus diamalkan  dan  dinilai  lebih unggul  dibandingkan  konsep  pendidikan  yang berasal  dari sumber agama  lain.[10]
Pendidikan Islam yang bercorak filosofis adalah ilmu pendidikan Islam yang memfokuskan kajiannya pada pemikiran filsafat Islam yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Dengan sifatnya yang mendalam, radikal, universal dan sitematis, filsafat Islam berupaya  menjelaskan konsep-konsep  yang mendasar tentang  berbagai hal  yang ada  hubungannnya  dengan berbagai aspek  pendidikan Islam, yaitu visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan  pelajaran, guru, murid, hubungan guru murid, proses belajar mengajar, majenen, dan aspek pendidikan lainnya  dikaji secara mendalam untuk ditemukan inti gagasan yang terdapat didalamnya.[11] 
Pendidikan Islam yang bercorak histories adalah pendidikan yang memfokuskan kajiannya pada data-data empiris yang dapat dilacak dalam sejarah, baik yang berupa karya tulis, peninggalan berupa lembaga maupun pendidikan dengan berbagai aspeknya.[12] 
Adapun pendidikan Islam yang bercorak aplikatif adalah pendidikan Islam yang memfokuskan kajiannya pada upaya menerapkan konsep-konsep pendidikan dalam kegiatan yang lebih konkret dan dapat diukur serta dilihat hasilnya Kajian ini mengharuskan adanya uji coba  konsep  melalui eksperimen  di kelas dan lainnya.
Islam mewajibkan umatnya untuk belajar tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Kewajiban ini termaktub dalam Hadits Rasulullah saw sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمَ فَرِيْضَةً عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةِ (رواه البخاري)[13]
Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata: Nabi saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah perlu/wajib atas setiap muslim dan muslimat (H. R. Bukahri)
Berdasarkan keterangan hadits di atas, maka dipahami bahwa menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap kaum muslimin dengan tidak memandang laki-laki maupun perempuan. Apalagi sebagian ulama berpendapat bahwa mempelajari ilmu agama merupakan fardhu ‘ain. Artinya apabila tidak dilakukan, maka mendapat azab dari Allah SWT.
Pada dasarnya, menuntut ilmu dalam Islam tidak diberikan batasan, karena selagi masih dikaruniai umur oleh Allah, berarti kewajiban itu masih dibebankan kepada manusia. Hal ini sesuai dengan hadits yang yang artinya Dari Abdullah bin Umar ra berkata: berkata rasulullah saw: Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahad (H. R. Imam Hakim)
Atas dasar hadits inilah, maka penulis memahami bahwa dalam Islam tidak diberikan batasan untuk belajar, karena belajar diwajibkan sampai akhir kehidupan di dunia ini, sehingga manusia tidak lagi mampu mengenal pengetahuan yang dipelajarinya disebabkan oleh ajal.
Dalam hal ini Zakiah Daradjat menjelaskan bahwa pendidikan dimulai sejak masa pemeliharaan yang merupakan arah menuju kepada pendidikan nyata, yaitu pada minggu dan bulan pertama manusia dilahirkan, sedangkan pendidikan sesungguhnya dilalui pada masa telah dewasa.[14]
Berdasarkan keterangan di atas, maka diketahui bahwa objek pendidikan tidak hanya terbatas pada masa anak-anak saja, tetapi dimulai oleh seseorang anak semenjak masih dalam masa pemeliharaan (bayi). Dan pendidikan itu akan berlanjut sampai dewasa. Ini menandakan bahwa belajar wajib dilaksanakan oleh umat Islam tanpa ada batas tanpa memandang batas usia.

C.   Lingkungan Pendidikan Islam
Lingkungan pendidikan Islam adalah merupakan sekian sistem yang berusaha mengembangkan dan mendidik segala aspek pribadi manusia dengan segala kemampuannya.
Tiga hal yang mempengaruhi pendidikan Islam, yaitu:
1.     Lingkungan keluarga
Keluarga adalah yang menjadi landasan utama untuk terwujudnya masyarakat yang bermoral. Tanpa landasan itu, akan menyebabkan kekacauan dalam masyarakat.
Peranan keluarga sangat strategis, sesuai dengan perkambangan zaman. Apalagi saat ini di mana pengaruh teknologi informasi yang semakin kental. Dalam hal ini, peran keluarga sangat penting sebab kondisi dasar dari sebuah generasi dimulai dari sebuah keluarga. Menurut Zakiah Daradjat keluarga adalah suatu sistem kehidupan masyarakat yang terkecil dibatasi oleh adanya keturunan atau disebut juga umat, akibat adanya kesamaan agama.[15]
Sebagaimana orang tua atau pendidik, kita harus sadar bahwa lingkungan yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak adalah keluarga, di samping sekolah dan masyarakat. Berhasil tidaknya proses pendidikan juga sangat bergantung pada lingkungan yang menumbuhkan dan mengembangkan anak-anak kita. Sebab keteladanan lebih efektif dibandingkan nasehat berupa ucapan atau indoktrinasi. Tanpa keteladanan, rasanya sulit menjadi generasi qur’ani yang kelak akan meneruskan cita-cita Islam.[16]
Posisi keluarga sangat berarti bagi pembinaan subjek didik, karena dituntut untuk mengedepankan sosok keluarga yang muslim. Islam juga menutut agar keluarga benar memberikan pengawasan yang intensive terhadap segala aktifitas yang dilakukan anak untuk menentang kemungkinan berprilaku yang ngatif, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat at-Tahrim ayat 6 sebagai berikut:
يَاَيُّهَا الّّذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِكُمْ نَارً...(التحريم: ٦)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu api neraka (Q. S. at-Tahrim: 6)
Seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. Ibu merupakan guru pertama dan utama dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Selain ibu, ayahpun mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam memberikan pendidikan kepada anak.
Dari uraian di atas, penulis memahami bahwa di dalam keluarga harus dilakukan kerjasama yang baik untuk mencapai anggota keluarga yang serasi dan terpadu saling isi mengisi sehingga menimbulkan keakraban di dalam keluarga. Dengan modal tersebut pendidikan Islam akan lebih mudah diserapkan kepada anaknya.
2.     Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan pendidikan formal yang kedua setelah keluarga yang merupakan lembaga pendidikan informal. Tujuan pendidikan di sekolah untuk melaksanakan tiga aspek pendidikan, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Aspek kognitif memberikan ilmu pengetahuan dengan kata lain pengisian otak anak. Aspek afektif dapat mempengaruhi anak didik agar menjadi manusia social, berkepribadian agar menjadi manusia utuh, sedangkan aspek psikomotor adalah bertanggung jawab dan berketrampilan dalam berbuat.[17]
Perubahan ke arah lebih baik merupakan memang merupakan ajaran Islam. Sekolah merupakan pusat perubahan baik perubahan cara berpikir maupun perubahan tingkah laku. Namun dalam pendidikan Islam perubahan tingkah laku dari yang buruk kepada yang baik adalah cita-citanya. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu mewariskan kesejahteraan, kebijaksanaan, keilmuan dan keahlian tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan dating. Inilah hubungan yang hidup antara kesesuaian yang sehat dan pembaharuan yang berlawanan.[18]
Dari keterangan di atas tampak bahwa semua proses perkembangan pendidikan terhadap peserta didik di lingkungan sekolah sangat berpengaruh setelah dilakukan proses pendidikan di lingkungan seluarga.
3.     Lingkungan masyarakat
Masyarakat merupakan lembaga pendidikan ketiga setelah pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Akan tetapi untuk sampai kepada pembentukan akhlak Islam yang sempurna dan masyarakat pun tidak menghancurkan apa yang dibina dalam rumah tangga dan di sekolah hingga dapat ditegakkan mission dalam masa modern sekarang ini.[19]
Kebutuhan manusia yang diperlukan tidak hanya menyangkut bidang material melainkan juga di bidang spiritual termasuk ilmu pengetahuan dan pengalaman, ketrampilan dan sebagainya. Demikian, dapat dicari suatu pemahaman bahwa dalam rangka menemukan sosial dalam mendidik masyarakat. Dari sebab itulah para ahli pendidikan umumnya memasukkan lingkungan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang terakhir setelah pendidikan keluarga bagi anaknya untuk mendapatkan dengan berbagai jenis pengalaman dan pengetahuan.[20]
Dengan kata lain masyarakat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan anak di luar rumah tangga dan sekolah sebagai pusat pendidikan. Pendidikan agama dalam didapatkan melalui ceramah, pengajian di mesjid dan di berbagai tempat lainnya.
Orang tua bekerja sama dengan masyarakat dalam membimbing anak untuk dapat memilih teman yang sesuai dengan ketentuan nilai-nilai Islam. Anak cenderung menyukai hal-hal yang baru  dalam lingkungan dan menyukai orang lain, berbaur dalam lingkungan mereka sendiri, karena itu harus dikenalkan pada berbagai jenis pendidikan Islam supaya dapat mencegah mereka dari perbuatan yang tidak dinginkan.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa mendidik secara islami akan lebih berkesan dan berhasil, serta berguna apabila lingkungan ikut mempengaruhi prilaku anak meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat sama-sama mengarahkan kepada pendidikan jiwa agama dan menjadikan Al-Qur'an dan hadits sebagai petunjuk, pedoman, dan bimbingan untuk keperluan hidup sehari-hari. Dengan demikian, jiwa anak akan tentram sejahtera dan selalu berbuat amar ma’ruf nahi mungkar.

D.   Tahap-Tahap Pendidikan Islam
Pertumbuhan dan perkembangan anak menurut para ahli ilmu jiwa ialah masa perubahan tubuh, intelegensi, emosional dan kemampuan interaksi yang memberi pengaruh pada utuhnya individu dan matangnya kepribadiannya.
Para ahli pendidikan dan pakar menetapkan bahwa setelah melewati masa kelahiran, seorang anak mengalami beberapa pertumbuhan dan perkembangan yang harus diketahui oleh orang tua untuk memudahkan langkap pendidikan pada setiap tahap umur, sehingga orang tua mampu membuat skedul program untuk diterapkan secara tepat dan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan, sehingga anak tumbuh besar bersama pendidikan secara Islami.
Adapun tahap-tahap pendidikan yang harus dilalui seorang anak adalah sebagai berikut:
1.     Tahap sebelum lahir (pranatal)
Tahap ini berlangsung sejak proses pembuahan hingga anak lahir, yaitu sekira 9 bulan. Meskipun relative singkat, proses perkembangan pada tahap ini begitu penting. Sebab, pada saat hamil itulah seorang ibu mulai berperan dalam mendidik anaknya.
Kesehatan jasmani dan rohani anak juga dipengaruhi oleh sikap dan kondisi ibu ketika hamil. Ashley Monteque mengatakan bahwa: “gangguan emosi pada ibu dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Tidak hanya itu, perkembangan fisik janin pun akan terganggu. Ibu hamil yang mengganggu emosinya seperti stress, menyimpan dendam, atau ditekan suaminya akan mempengaruhi pertumbuhan fisik maupun psikis janin”. [21]
Oleh karena itu, ketika ibu hamil, sang ibu sebaiknya tidak boleh stress, panic atau marah-marah. Yang perlu dilakukan itu adalah banyak berdoa, membaca Al-Qur'an, atau berselawat kepada Nabi saw. Menumbuhkan sikap tawakkal yang tinggi kepada Tuhan sangat membantu kesehatan ibu dan janinnya. Begitu juga dengan menjaga pola makan yang sehat dan berolahraga. Dengan begitu, insya Allah janin yang diakndung akan merasa ketenangan dan menjadi sehat jasmani dan rohani.
2.     Tahap kelahiran bayi
Proses pendidikan selanjutnya adalah setelah anak lahir. Sejak itulah fitrah ketuhanan mulai ditumbuhkembangkan secara bertahap. Fitrah yang dimaksud ialah kecenderungan beragama dalam diri anak. Kecenderungan ini harus benar-benar dijaga agar tetap lurus, sehingga anak memiliki sikap tauhid yang kokoh. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا، فِطْرَاتَ اللهِ اَلَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَالَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنْ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوَْن (الروم: ٣٠)
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q. S. ar-Rum: 30)
Berdasarkan ayat tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa orang tua sangat dianjurkan untuk mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri ketika bayinya lahir. Hal ini dimaksudkan agar kalimat-kalimat pertama direkam oleh bayi adalah kalimat tauhid dan kalimat yang mengandung kebesaran Allah SWT.
Sejak dilahirkan, anak dibekali Allah seperengkat kebutuhan jasmani dan rohani. Untuk itu, seorang ibu diperintahkan untuk menyusui anaknya dengan ASI. Menyusui anak dengan ASI dapat memenuhi kebutuhan jasmani anak, juga kebutuhan rohani dan emosinya. Sebab, dengan menyusu dan melekat dengan ibu, anak akan merasa aman dan nyaman, serta akan tumbuh menjadi pribadi yang mantap, kuat dan sehat. [22]
Dengan memahami berat perjuangan seorang ibu dalam mendidik anak, kelak anak akan dapat mengerti ihwal kewajibannya untuk berbakti kepada kedua orang tua, sehingga anak juga akan mendapatkan keridhaan Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
3.     Tahap anak-anak
Dengan asuhan ibu dan bapaknya, bayi yang yang mungil dapat tumbuh dan berkembang dan akhirnya menjadi anak-anak. Perkembangan fisik dan mental pun mendekati kesempurnaan. Pada saat itulah muncul berbagai perkembangan secara pesat, misalnya kemajuan dalam hal ketrampilan fisik, emosi, sosialisasi, pengertian dan minatnya.
Orang tua sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama memiliki tanggung jawab untuk mengoptimalkan seluruh aspek perkembangan anak. Orang tua harus mengarahkan keteladanan yang positif. Pola pendidikan berbasis keteladanan dalam keluarga sangat menentukan kepribadian anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tua perlu mendidik anaknya dalam beberapa hal, yaitu:
a.      Penanaman aqidah atau tauhid. Aqidah atau tauhid dapat diibaratkan sebagai fondasi. Karena itu, ia harus kuat dan kokoh.
b.     Penanaman kesadaran bertindak, yaitu kesadaran yang didasarkan pada keyakinan bahwa setiap gerak langkah manusia selalu berada di bawah pengawasan Allah SWT.
c.      Perintah untuk mengerjakan shalat dan amar ma’ruf nahi mungkar. Shalat harus dimulai sejak kecil hingga dewasa.
d.     Melatih kesabaran. Kesabaran perlu ditanamkan dalam jiwa anak sejak dini. Sebab hidup penuh dengan tantangan dan rintangan. Kesabaran ini diperlukan agar anak tidak mudah putus asa.
e.      Larangan bersikap sombong dan angkuh. Kesombongan perlu dihindari agar karena akan mengantarkan pada kehinaan dan kerendahan martabat, baik di mata Allah maupun di mata manusia.[23]

4.     Tahap Remaja
Pada tahap remaja orang tua harus lebih waspada dan hati-hati kepada anaknya. Sebab inilah saat yang paling kritis dalam pembentukan kepribadian anak. Masa ini, oleh psikolog, disebut dengan masa pancaroba atau peralihan dari masa anak-anak kepada masa dewasa. Seiring dengan pertumbuhan fisik, terutama organ seks, perkembangan pola piker dan kejiwaan anak, seperti merasa besar dan ingin dihargai, mempunyai dampak yang khusus pada kepribadiannya.
Untuk menghadapi masa remaja, orang tua harus bijak, pandai dan banyak wawasan. Orang tua perlu memahami apa yang diinginkan anaknya dan menyampaikan harapan yang diinginkan oleh orang tua. Sikap ini bisa memupuk hubungan interpersonal yang baik antara anak dan orang tua, sekaligus menyuburkan proses pendidikan dalam lingkungan keluarga.
Orang tua juga perlu memahami bahwa pada usia remaja, hubungan laki-laki dan perempuan sudah mulai dekat, misalnya melalui komunikasi di sekolah dan di lingkungan rumah. Menghadapi kemungkinan kedekatan yang menjurus kepada kemaksiatan, orang tua harus dapat menciptakan control yang bisa menghindarkan anak remajanya dari melanggar aturan agamanyakontrol tersebut bisa dilakukan dengan menciptakan suasana kehidupan keluarga yang agamais dan selalu mengingatkan mereka tentang pentingnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.
Usia remaja memang sangat rawan. Kepribadian remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh ajakan atau bujukan ke arah yang negative. Untuk mengatasi permasalahan ini, secara psikologis, ada beberapa konsep yang harus dijalankan orang tua, yaitu:
a.      Memahami secara optimal perubahan-perubahan yang terjadi pada masa puber dengan melakukan pengamatan yang jeli.
b.     Mengarahkan mereka untuk rajin pergi ke mesjid untuk shalat berjama’ah atau menghadiri majelis ta’lim.
c.      Membuka dialog komunikatif dan menyadarkan mereka ihwal status sosial anak.
d.     Menanamkan rasa percaya diri anak dan mau mendengarkan pendapat mereka.
e.      Menyarankan agar mereka menjalin persahabatan yang baik dan mencari lingkungan pergaulan yang kondusif.
f.      Mengembangkan potensi anak di semua bidang yang bermanfaat.
g.     Menganjurkan anak untuk rajin shalat tahajjud dan berpuasa senin – kamis sebagai pengendali emosi dan perilaku anak dari perbuatan yang menyimpang. [24]




BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


A.   Iklim, Letak dan Luas
Desa Lampulo terletak di bahagian pesisir sebelah Utara Kota Banda Aceh dan termasuk dalam wilayah Kota Banda Aceh. Menurut letaknya Lampulo merupakan wilayah yang terletak membujur dari Barat ke Timur di depan Selat Malaka dan dialiri oleh sungai Krueng Aceh.
Sebagai desa yang masuk dalam wilayah Desa Kuta Alam, Desa Lampulo memiliki batas-batas sebagai berikut:
-   Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Syiah Kuala
-   Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia
-   Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bandar Baru
-   Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Baiturrahman.[25]
Dilihat dari letak geografisnya desa ini terletak di tepi Samudera Hindia, keadaan tanahnya terdiri dari daratan rendah dengan ketinggian rata-rata di atas permukaan laut berkisar 1.5 meter. Sedangkan curah hujan rata-rata 2250 mm pertahun dan suhu udaranya 28 – 310 C. Desa Lampulo luas daerahnya lebih kurang 60 Ha2 dengan rincian luas tanah perumahan 25 Ha2, sungai dan lain-lainnya 35 H2, dengan jumlah penduduknya 3.680 jiwa.
B.   Penduduk dan Mata Pencaharian
Masyarakat Desa Lampulo umumnya hidup dari hasil perikanan, pedagang dan pegawai negeri. Usaha masyarakat dalam bidang perdagangan terdiri dari berbagai jenis bentuk perdagangan seperti, ikan, kelontong, Warung Kopi, dan sayur.
Sedangkan penduduk yang mencari nafkah dari hasil perikanan menggunakan berbagai jenis peralatan penagkapan ikan seperti kapal motor, perahu, motor, sampan, menjala dan memancing. Namun demikian, semua peralatan penangkapan ikan tersebut belum dapat membantu mencukupi kebutuhan warganya, sehingga para nelayan mengambil inisiatif untuk membuka usaha sampingan lainnya.
Menurut pengamatan di lapangan bahwa masyarakat Desa Lampulo lebih dominan mengusahakan usaha sampingan dalam bentuk perdagangan, karena perdagangan lebih cepat terlihat hasil yang didapati dari hasil perdagangan tersebut. Untuk melihat mata pencaharian masyarakat Desa Lampulo dapat dilihat pada tabel berikut ini.



TABEL I
MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT DESA LAMPULO TAHUN 2005

No
Mata Pencaharian
Jumlah
Prosentase
1.
2.
3.
4.
5
Pedagang
Nelayan
Pegawai
Buruh
Lain-lain
117
892
  73
  18
  35
10.04
76.57
6.26
1.54
3.00
Jumlah Total
1165
100
Sumber Data: Statistik Desa Lampulo tahun 2005

C.   Pendidikan
Desa Lampulo merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Desa Kuta Alam Kota Banda Aceh, sebagaimana dengan desa lainnya bahwa masalah pendidikan merupakan dambaan masyarakat. Dalam masa reformasi pendidikan di Desa lampulo banyak mengalami kemajuan dibandingkan masa sebelumnya.
Dari hasil wawancara penulis dengan pejabat dan tokoh masyarakat Desa Lampulo, bahwa pendidikan agama dan pendidikan umum pada hakikatnya adalah sama, karena keduanya adalah bertujuan untuk menjadikan anak berguna bagi nusa, bangsa dan agama di masa yang akan datang. Namun perbedaan antara sekolah agama dengan sekolah umum adalah dari kurikulum dan mata pelajarannya. Sekolah agama dititikberatkan pada materi agama seperti bahasa Arab, Fiqh, Tafsir, dan Hadits. Sedangkan sekolah umum hanya sedikit saja materi agamanya.
Pada saat ini pemerintah Desa Kuta Alam telah mengupayakan beberapa kebijaksanaan dalam pembangunan di bidang pendidikan. Masyarakat Desa Lampulo telah membangun gedung-gedung sekolah, memperbaiki atau membantu mesjid dan TPA.
Dalam sejarah pendidikan dapat dilihat perkembangan dan usaha-usaha perwujudan pendidikan sebenarnya merupakan suatu cita-cita bangsa dan golongan yang dapat mencetak kader-kader untuk masa yang akan datang.
Adapun sarana dan fasilitas pendidikan yang ada di Desa Lampulo, pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan pendidikan secara merata dan dapat dirasakan oleh semua penduduk Desa Lampulo khususnya dan Indonesia pada umumnya.

D.   Agama dan Adat Istiadat
Penduduk Desa Lampulo mayoritas memeluk agama Islam atau 99, 8 % dan selebihnya 0,2 % pemeluk agama Kristen, Hindu dan Budha.[26]
Menurut pengamatan penulis masyarakat Desa Lampulo dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT baik yang menyangkut ibadah wajib maupun yang menyangkut ibadah amaliah sunat, kelihatan aktifitasnya agak menonjol, hal ini didukung pula dengan tersedianya rumah ibadah yang ada di desa tersebut serta TPA yang menyemarakkan kehidupan beragama di Desa Lampulo
Hidup syi’ar agama bagi masyarakat Desa Lampulo bisa dilihat dalam hal mereka menjalankan ajaran agama seperti melaksanakan shalat lima waktu secara berjama’ah, pengajian Al-Qur'an dan memperingati hari-hari besar Islam serta kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan di mesjid, meunasah serta tempat-tempat yang dianggap sesuai dengan Syari'at Islam.
Sedangkan pemeluk agama Kristen, Hindu dan Budha menjalankan ibadahnya di tempat peribadatannya sendiri, namun walupun demikian kehidupan beragama di Desa Lampulo sering menghormati antara satu dengan yang lainnya.
Adapun sarana ibadah di Desa Lampulo boleh dikatakan mencukupi, di mana di desa tersebut mempunyai tempat ibadah atau mesjid, demikian juga dengan meunasah.
Segala kegiatan ibadah di mesjid-mesjid dalam wilayah Desa Lampulo tidak selalu sama, hal ini disebabkan dari kondisi kehidupan masyarakat itu sendiri yang berbeda. Hanya sebagian saja yang selalu melaksanakan shalat berjama’ah dan disetiap mesjid selalu disemarakkan dengan berbagai aktifitas keagamaan seperti ceramah agama dan peringatan hari-hari besar Islam. Sedangkan mesjid yang lainnya hanya melaksanakan shalat berjama’ah pada waktu shalat Maghrib, Isya dan Subuh saja, sedangkan shalat Dhuhur dan ‘Ashar tidak dilaksanakan, karena kebiasaannya masyarakat tidak ada ditempat pergi emncari nafkah hidupnya. Tetapi acara memperingati hari-hari besar Islam seperti isra’ mi’raj ceramah agama, juga dilaksanakan di mesjid-mesjid dan meunasah serta tempat-tempat lainnya yang sesuai.
Umumnya masyarakat Aceh, khususnya masyarakat Desa Lampulo adalah beragama Islam dan fanatisme agama (Islam) cukup tinggi, sikap ini telah membudaya secara turun temurun dalam masyarakat.
Namun demikian adat istiadat yang berlaku di kalangan masyarakat sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari seperti upacara selamatan bayi, perkawinan, kematian dan sebagainya yang merupakan warisan budaya lama yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Tata cara pelaksanaan pada umumnya masih terdapat penyimpangan dengan ajara Islam dan sosial budaya masyarakat. Upacara adat seperti ini merupakan warisan turun temurun dari generasi terdahulu sampai sekarang.
Adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Desa Lampulo sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, hal ini memberikan dampak positif bagi pelestarian adat istiadat, di samping memang masih terdapat unsur penyimpangan dengan Syari'at Islam, seperti percaya pada kekuatan seorang dukun dalam penyembuhan berbagai penyakit, kekeramatan kuburan orang-orang tertentu dan sebagainya.
Adat istiadat tetang kehidupan sosial merupakan satu sistem kehidupan dan budaya makhluk sebagai individu dan kelompok. Oleh karena itu, adat istiadat yang berlaku dapat menjadi suatu ketentuan hukum yang wajib dipatuhi masyarakat, walaupun itu tidak tertulis, sehingga kehidupan sosial dalam masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan atau tradisi masa lampau.
Masyarakat Desa Lampulo mempunyai adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun yang dilaksanakan dengan khidmat dan cermat. Menurut M. Ali Yusuf, dalam perkembangannya terjadi perubahan, ini dikarenakan bertambahnya ilmu pengetahuan agama pada masyarakat.
Adat istiadat yang berlaku di Desa Lampulo itu sangat banyak, tetapi penulis hanya mengemukakan beberapa saja terutama yang menyangkut dengan kepercayaan. Di antaranya ialah kenduri mate, sunat rasul, perkawinan, kenduri blang, maulid dan sebagainya.



BAB IV
PROSES PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA MASYARAKAT NELAYAN



A.  Pelaksanaan Pendidikan Islam dalam Masyarakat Nelayan
1.   Informal
Pendidikan informal merupakan salah satu bentuk pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Pendidikan tersebut diberikan dalam bentuk pengajaran keluarga, sehingga mengerti tentang tatakrama tentang kehidupan dalam bermasyarakat. Untuk melihat ada tidaknya orang tua memberikan pendidikan kepada anaknya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel: 4. 1 Ada tidaknya orang tua memberikan pendidikan agama kepada anak di rumah

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Ya
Tidak
Tidak ada
60
-
-
100
-
-
Jumlah Total
60
     100 %

Berdasarkan tabel di atas, maka terlihat dengan jelas bahwa orang tua pada umumnya memberikan pendidikan kepada anaknya dirumah. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang memberikan jawaban secara penuh menyatakan memberikan pendidikan kepada anaknya dimulai di dalam rumah.
Akan tetapi, pada umumnya pendidikan anak mereka berikan melalui pendidikan umum. Hal ini terlihat dari tabel sebagai berikut:
Tabel 4. 2 Ada tidaknya anak para nelayan bersekolah

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Ya, sekolah
Ya, tidak sekolah
Tidak ada yang sekolah
49
  7
  4
81.66
11.66
   6.66
Jumlah Total
60
       100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa hampir semua anak masyarakat nelayan Lampulo sekolah di lembaga pendidikan umum. Hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan responden yang menjawab ya, sekolah sebanyak 49 orang atau 81. 66 %, sedangkan selebihnya anak masyarakat nelayan tidak ada yang sekolah. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang menyatakan ya, tidak sekolah sebanyak 7 orang atau 11.66 % dan yang menjawab tidak ada yang sekolah sebanyak 4 orang atau 6.66 %.
2.   Non Formal
Memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya bisa dilakukan dalam berbagai bentuknya. Hal ini dilakukan agar pendidikan anak tidak terbengkalai, sehingga anak-anak dapat menerima pendidikan secara baik dan benar. Namun untuk melihat bentuk pendidikan yang diberikan masyarakat nelayan kepada anak-anaknya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 4. 3 Bentuk pendidikan agama yang berikan kepada anak-anak

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
A

b
c
Pengajian Al-Qur'an setelah shalat maghrib
Menghadirkan guru privat ke rumah
Menyuruh anak mengaji di rumah tetangga
54
-
6
90
-
10
Jumlah Total
60
   100 %

Berdasarkan tabel di atas terlihat dengan jelas bahwa pada umumnya orang tua memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya melalui pengajian sehabis shalat maghrib. Hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan responden yang menjawab pengajian Al-Qur'an setelah shalat maghrib sebanyak 54 orang atau 90 %.
Namun demikian, para nelayan rata-rata mempunyai banyak anak-anaknya dalam pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Hal ini terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel. 4. 4 Jumlah anak nelayan dalam pendidikan

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
1 orang
2 – 3 orang
3 - …………….. orang
20
25
15
33.33
41.66
     25
Jumlah Total
60
       100 %

Berdasarkan gambaran tabel di atas, maka diketahui bahwa para nelayan umumnya memiliki banyak anak-anak yang belajar pendidikan Islam. Hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan responden yang menyatakan 1 orang sebanyak 20 atau 33.33 %, responden yang menyatakan 2 – 3 orang sebanyak 25 orang atau 41. 66 % dan responden yang menjawab 3 orang lebih sebanyak 15 orang atau 25 %. Hal ini menandakan bahwa dalam keluarga para nelayan, anak-anak yang belajar pendidikan Islam bervariasi, karena ada yang satu orang anak yang belajar, ada yang dua orang dan ada nelayan yang anak melebih 3 orang dalam pendidikan Islam.
Karena demikian, banyak anak-anak para nelayan yang mengikuti pendidikan Islam di luar rumah, maka kebutuhan keluarga pun akan meningkat dengan sendirinya. Bahkan ada nelayan yang tidak cukup dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel. 4. 5 Pendapatan nelayan dalam sehari-hari selaku untuk membiayai pendidikan anak

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Cukup
Tidak cukup
Kadang-kadang
10
35
15
16.66
58.33
     25
Jumlah Total
60
       100 %

Dari keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa pada umumnya penghasilan nelayan dari melaut tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang menyatakan cukup sebanyak 10 orang atau 16..6 %, responden yang menyatakan tidak cukup sebanyak 35 orang atau 58.33, dan responden yang menyatakan kadang-kadang sebanyak 15 orang atau 25 %. Dari gambaran tersebut di atas, dapat dilihat bahwa penghasilan nelayan rata-rata belum cukup untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Oleh karena itu, dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak para nelayan kerapkali dibantu oleh isterinya ketika mereka pergi melaut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban biaya yang harus mereka tanggung. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel. 4. 6 Orang yang mendidik dan membimbing anak-anak Bapak di rumah ketika para nelayan melaut

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Tidak ada
Belajar sendiri
Isteri
   5
15
40
  8.33
      25
66.66
Jumlah Total
60
       100 %

Dari keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa ketika para nelayan melaut, umumnya anak-anak mereka diajarkan oleh isterinya. Hal tersebut terlihat dari jawaban yang diberikan tidak ada sebanyak 5 orang atau 8. 33 %, yang menjawab belajar sendiri sebanyak 15 orang atau 25 %, dan responden yang menjawab isteri sebanyak 40 orang atau 66.66 %. Keterangan ini menunjukkan bahwa isteri mengambil peran serta dalam mendidik anak-anak mereka ketika para nelayan melaut di malam hari.

B.  Teknik Pelaksanaan Pendidikan Agama di Masyarakat Nelayan
Memberikan pendidikan kepada anak-anak merupakan kewajiban bagi orang tua, karena hal tersebut merupakan salah satu jalan untuk memberikan membahagiakan anak dunia akhirat. Demikian pula dengan, keluarga nelayan di Lampulo dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak menjadi tanggung jawab mereka. Bahkan memberikan pendidikan kepada anak merupakan tanggung jawab orang tua, sehingga mereka umum memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Namun demikian untuk lebih jelasnya mengenai pandangan masyarakat nelayan terhadap pelaksanaan pendidikan agama dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 7. Pandangan nelayan terhadap Pelaksanaan pendidikan agama

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Sangat penting
Tidak penting
Tidak tahun
60
-
-
100
-
-
Jumlah Total
60
    100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa para menyatakan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak sangat penting. Hal ini terbukti dari jawaban yang diberikan secara total atau 100 % menyatakan sangat penting. Hal ini membuktikan bahwa para nelayan sangat antusias dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka..
Karena pentingnya pendidikan bagi para nelayan, maka mereka memberikan pendidikan kepada anaknya mulai dari pendidikan agama sampai pendidikan umum. Namun untuk melihat bentuk pendidikan yang diberikan nelayan kepada anak-anaknya dapat dilihat dalam tabel berikut ini
Tabel 4. 8 Pelaksanaan pendidikan agama yang diberikan kepada anak-anak

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Pendidikan formal
Pendidikan non formal
Kedua-duanya
-
-
60
-
-
100
Jumlah Total
60
     100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa para nelayan memberikan pendidikan kepada anak-anaknya melalui dua bentuk pendidikan, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diberikan para nelayan yang menyatakan secara kedua-duanya sebanyak 60 orang atau 100 %. Hal ini menunjukkan kepentingan para nelayan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, sehingga mereka memanfaatkan kedua bentuk pendidikan tersebut.

C.  Usaha-Usaha Kearah Perbaikan Pendidikan Agama Masyarakat Nelayan
Dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak harus dilakukan berbagai usaha agar anak tersebut dalam menerima pendidikan dengan baik. Demikian pula dengan masyarakat nelayan Lampulo melakukan berbagai usaha ut memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Namun untuk melihat usaha yang dilakukan nelayan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 9 Usaha yang lakukan nelayan untuk meningkatkan pendidikan agama anak

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a

b

Bekerja keras untuk memantapkan perekonomian
Mendatangkan ustadz-dzah ke rumah
Memberikan nasehat
50

10
83.33

16.66
Jumlah Total
60
100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa usaha yang dilakukan nelayan untuk meningkatkan pendidikan agama dengan bekerja keras untuk memantapkan perekonomian. Hal ini terbukti dari jawaban yang diberikan oleh responden yang secara penuh atau 100 % memberi jawaban bekerja keras untuk memantapkan perekonomian.
Hal tersebut dilakukan oleh para nelayan ut mengantisipasi anaknya dari malas belajar. Sebab dengan malas belajar anak-anak akan terbawa kepada kebodohan. Namun untuk melihat ada tidaknya digunakan metode dalam penerapan disiplin siswa dapat dilihat dalam tabel berikut ini
Tabel 4. 10 Usaha para nelayan dalam mengatasi anak yang malas dalam belajar

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
Meningkatkan pengawasan terhadap anak
Memberikan sanksi jika terjadi kesalahan
30
30
50
50
Jumlah Total
60
    100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam mengatasi anak yang malas dalam belajar, para nelayan melalui cara meningkatkan pengawasan terhadap anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diberikan responden yang menyatakan meningkatkan pengawasan terhadap anak sebanyak 30 orang atau 50 %, dan responden yang menyatakan memberikan sanksi jika terjadi kesalahan sebanyak 30 orang atau 50 %. Ini berarti dapat diketahui bahwa para orang tua yang berprofesi sebagai nelayan sangat disiplin dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, sehingga bila anak berbuat salah langsung diberikan hukuman agar si anak tidak mengulangi kesalahan tersebut.
Namun demikian, pelaksanaan pendidikan agama yang diselenggarakan di Lampulo dapat memberikan pencerahan kepada anak-anak. Hal ini sesuai dengan harapan yang dikemukakan oleh Bapak Hasbi tokoh masyarakat yang menyatakan bahwa “pelaksanaan pendidikan agama yang dilaksanakan di Lampulo saat sudah mulai membaik, setelah dihantam Tsunami tahun yag lalu”.[27]
Untuk melihat Harapan para nelayan terhadap pelaksanaan pendidikan agama dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. 11. Harapan para nelayan terhadap pelaksanaan pendidikan agama

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b

c
Sudah baik, tetapi perlu peningkatan
Sarana dan prasarana pendidikan agama perlu ditambah
Guru professional perlu didatangkan
33

26
   1
      55

43.33
  1.66
Jumlah Total
60
       100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa sarana pendidikan agama di Lampulo sudah baik, tetapi perlu peningkatan. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang menyatakan Sudah baik, tetapi perlu peningkatan sebanyak 33 orang atau 55 %, responden yang menjawab sarana dan prasarana pendidikan agama perlu ditambah sebanyak 26 orang atau 43. 33 %, dan responden yang menjawab guru professional perlu didatangkan hanya 1 orang atau 1. 66 %.

D.  Faktor-Faktor Penghambat Masyarakat Islam
Melakukan sesuatu pekerjaan tentu saja ada rintangan dan halangan yang harus dihadapi. Demikian pula dengan penyelenggaraan pendidikan di desa Lampulo Banda Aceh yang mengalami berbagai kendala yang harus dihadapi oleh pihak masyarakat. Hal ini sesuai pernyataan salah tokoh masyarakat yang menukilkan bahwa dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak di desa Lampulo banyak mengalami hambatan.[28]
Namun untuk melihat lebih jelas tentang ada tidaknya hambatan dalam memberikan pendidikan agama dapat dilihat melalui tabel berikut ini:
Tabel 4. 12. Hambatan dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
Ya
Tidak
Kadang-kadang
60
-
-
100
-
-
Jumlah Total
60
    100 %

Berdasarkan keterangan tabel di atas, maka dapat dipahami bahwa dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak sering mengalami kendala. Hal ini terbukti dari jawaban responden yang menyatakan secara penuh bahwa dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak sering mengalami hambatan yang harus diatasi.
Pemberian pendidikan yang dilakukan di desa Lampulo Banda Aceh, tidak jauh berbeda dengan pemberian pendidikan agama yang diselenggarakan di desa lain, terutama dalam hal memberikan pengajaran tentang berbuat baik kepada kedua orang dan masyarakat. Namun demikian, hambatan tersebut terjadi dalam berbagai bentuknya. Adapun bentuk kendala yang paling berat dihadapi dapat dilihat pada tabel ini:
Tabel 4. 13. Kendala yang paling berat dihadapi masyarakat nelayan Lampulo
No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
a
b
c
d
Keterbatasan ilmu pengetahuan
Keterbatasan ekonomi
Anak-anak malas belajar
A dan B yang dipilih
16
15
19
10
26.66
      25
36.66
16.66
Jumlah Total
60
100 %

Dari keterangan tabel di atas, maka dapat difahami bahwa kendala yang paling berat dihadapi masyarakat nelayan Lampulo sangat beragam. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan responden melalui angket yang penulis sebarkan bahwa yang menyatakan keterbatasan ilmu pengetahuan sebanyak 16 orang atau 26.66  %,  responden menyatakan keterbatasan ekonomi sebanyak 15 orang atau 25 %, responden yang menjawab anak-anak malas belajar sebanyak 19 orang atau 36. 66 % dan responden yang menyatakan A dan B yang dipilih sebanyak 10 orang atau 16. 66 %. Ini membuktikan bahwa bentuk hambatan yang dihadapi sangat beragam, sehingga para orang kesulitan dalam mengatasi kendala tersebut.
Namun jika hambatan yang dihadapi hanya sekedar keterbatasan ekonomi, para nelayan akan lebih mudah mengatasinya. Untuk lebih jelasnya mengenai cara mengatasi hambatan disebabkan keterbatasan ekonomi dapat dilihat dalam tabel berikut ini
Tabel 4. 14 Cara mengatasi kendala karena keterbatasan ekonomi

No
Alternatif Jawaban
Frekwensi
Persen
A
b
c
Membuat usaha sampingan
Mengutang ke tetangga
Tawakkal kepada Allah
37
  3
20
61.66
       5
33.33
Jumlah Total
60
100 %

Berdasarkan keterangan tabel tersebut, maka dapat diketahui bahwa cara mengatasi kendala karena keterbatasan ekonomi dapat dilakukan dengan membuat usaha sampingan. Hal ini sesuai dengan jawaban responden yang menjawab membuat usaha sampingan sebanyak 37 orang atau 61.66 %, responden yang menjawab mengutang ke tetangga sebanyak 3 orang atau 5 %, dan responden yang menjawab tawakkal kepada Allah sebanyak 20  orang atau 33.33 %. Ini membuktikan bahwa cara mengatasi kendala sangat beragam, sehingga hambatan-hambatan yang dihadapi tersebut dapat diatasi dengan cepat.


BAB V
PENUTUP

Bab ini adalah bab terakhir dari pembahasan skirpsi ini yang di dalamnya penulis akan menguraikan beberapa kesimpulan, sekaligus diajukan beberapa saran yang berkenaan dengan pembahasan masalah tersebut. Adapun kesimpulan dan saran-sarannya sebagai berikut:

A.  Kesimpulan
1.   Pelaksanaan pendidikan Islam dalam masyarakat nelayan Lampulo sangat antusias. Hal ini terlihat dari keinginan para nelayan memberikan pendidikan agama anak-anaknya mulai dari pendidikan agama sampai pendidikan umum, sehingga anak mereka dapat mengecap pendidikan dengan baik dan benar.
2.   Dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak tentunya menemui kendala. Kendala yang dihadapi masyarakat Lampulo dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya berupa keterbatasan ekonomi, sehingga pendidikan anak-anak mereka sering tersendat-sendat, bahkan ada di antara anak mereka yang tidak sekolah sama sekali.
3.   Dalam meningkatkan pendidikan anak-anak nelayan telah dilakukan berbagai usaha. Usaha-usaha yang dilakukan tersebut berupa bekerja keras untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Hal ini dilakukan untuk memenuhi harapan para nelayan agar anak-anak mereka dapat mengecap pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
4.   Lingkungan pendidikan masyarakat Lampulo sampai saat sudah sangat baik. Hal ini disebabkan kegigihan mereka dalam memberikan perhatian terhadap pola pendidikan, sehingga umumnya masyarakat Lampulo sudah mulai berminat untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

B.  Saran-Saran
1.   Diharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat memberikan pendidikan Islam kepada anaknya secara maksimal, karena hanya dengan memberikan pendidikan anak-anak akan dapat mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Apalagi anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah SWT untuk dididik menurut ketentuan yang telah digariskan oleh ajaran Islam.
2.   Kepada masyarakat nelayan desa Lampulo, diharapkan agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan anaknya, karena hanya dengan jalan tersebut, anak-anak akan menggapai kehidupan yang cerah di masa yang akan datang, apalagi era globalisasi menuntut seorang anak untuk hidup lebih baik.
3.   Kepada lembaga pendidikan agama, diharapkan agar dapat memberikan pendidikan agama secara maksimal kepada murid-muridnya. Karena lembaga pendidikan agama merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam melahirkan kader-kader ulama, sehingga pada suatu waktu nanti hadir ulama-ulama yang professional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.





DAFTAR KEPUSTAKAAN


A. Syailabi, Sejarah Pendidikan Islam,  Jakarta: Bulan Bintang, 1989

Abdul Fatah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, Bandung: Diponegoro, 1988

Abdul Mustaqim, Menjadi Orang Tua Bijak, Bandung: Mizan, 2005

Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1991

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1999

_______, Sejarah Pendidikan Islam, Pada Priode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: RajaGrafindo  Persada, 2004

_______, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003

Alitan al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1970

Azis Abbas, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Sumber Widya, 1995

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. III, Jakarta: Balai Pustaka, 1990

Endang Saefuddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, Jakarta: Rajawali, 1986

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995

Herry Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Yokyakarta: Logos Wanan Ilmu, 1999

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Bandung: Dahlan, t.t.

K. Sukarji, Ilmu Pendidikan dan Pengarah Agama, Jakarta: Idarajata, 1994

M. Nasir Budiman, Pendidikan Dalam Persepektif Al-Qur'an, Jakarta: Madani Press, 2001

Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997

Madyo Ekosusilo K. B. Kasihadi, Dasar-Dasar Pendidikan, Semarang: Piblishing, 1988

Majid  Fakhri, Sejarah  Filsafat  Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986

Muhammad AR., Pendidikan di Alas Baru, Jakarta: Prismobophile Press, 2003

Mushthafa al-Maraghiy,  Tafsir  al-Maraghiy,  Juz. VII, Libanon: Dar al-Ahya' ,tt

No. Nr. Widhiya, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1982

Saifuddin, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Majalah Jalo, 2005

Sudjana, Metode Statistika, Bandung: Tarsito, 1982

Tridoto Kusumastanto, Ocean Politic dalam Membangun Negeri Baharai di Era Otonomi Daerah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. V, Jakarta: Bumi Aksara, 2004

Zuhairini dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama, Cet. VIII, Surabaya: Usaha Nasional, 1983




[1]M. Nasir Budiman, Pendidikan Dalam Persepektif Al-Qur'an, (Jakarta: Madani Press, 2001), hal. 1.
[2]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. V, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 20
[3]Ibid., hal. 20
[4]Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Beirut Libanon: Dar al-Fikr, t.t.), hal. 173
[5]Abdul Fatah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, (Bandung: Diponegoro, 1988), hal. 119.
[6]Azis Abbas, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Sumber Widya, 1995), hal.  71.

[7]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995). hal. 61.
[8] Fitrah adalah  mengakui  ke-esa-an Allah. Manusia  lahir  dengan  membawa potensi, atau paling tidak, ia berkecendrungan  untuk mengesakan Tuhan, dan berusaha  secara terus menerus  untuk mencari  dan mencapai ketauhidan.  Secara  fitri  manusia  lahir  cendrung berusaha mrncari dan menerima kebenaran, walaupun pencarian itu masih tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam. Adakalanya manusia  telah menemukan kebenaran  itu, namun  karena faktor  eksternal yang mempengaruhinya, maka ia berpaling dari kebenaran itu. Lihat Mushthafa al-Maraghiy,  Tafsir  al-Maraghiy,  Juz. VII, (Libanon: Dar al-Ahya' ,tt), hal.  44.
[9]Abudin  Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Pada Priode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: RajaGrafindo  Persada, 2004), hal. 1. 

[10]Abudin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hal. 6.
[11]Majid  Fakhri, Sejarah  Filsafat  Islam, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), hal. 29.

[12]A. Syailabi, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989),  hal.12.

[13]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, (Bandung: Dahlan, t.t.), hal. 94
[14]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. V, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 48
[15]Endang Saefuddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, (Jakarta: Rajawali, 1986), hal. 185

[16]Abdul Mustaqim, Menjadi Orang Tua Bijak, (Bandung: Mizan, 2005), hal. 22-23
[17]Madyo Ekosusilo K. B. Kasihadi, Dasar-Dasar Pendidikan, (Semarang: Piblishing, 1988), hal. 69
[18]Muhammad AR., Pendidikan di Alas Baru, (Jakarta: Prismobophile Press, 2003), hal. 64

[19]Alitan al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hal. 115
[20]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 120
[21]Abdul Mustaqim, Menjadi…, hal. 28
[22]Abdul Mustaqim, Menjadi…, hal. 29
[23]Abdul Mustaqim, Menjadi…, hal. 32
[24]Abdul Mustaqim, Menjadi…, hal. 34
[25]Sumber Data: Statistik Desa Lampulo Tahun 2005
[26]Sumber Data: Statistik Desa Lampulo tahun 2005
[27]Wawancara dengan Bapak Hasbi Tokoh Masyarakat Lampulo tanggal 15 Juli 2006
[28]Wawncara dengan Bapak Armia tokoh masyarakat Lampulo, tanggal 15 Juli 2006