Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Dan Pekerjaan


BAB II
LANDASAN TEORITIS



A.    Islam Dan Pekerjaan
1.     Pengertian Bekerja
Secara ekonomi bekerja diartikan pengerahan dan daya usaha manusia secara sadar dan terkontrol untuk memproduksi barang atau menghasilkan pelayanan guna memenuhi kebutuhan hidup ini.[1]
Kerja dalam bahasa arabnya “amila” dengan berbagai akarnya dalam al-qur’an disebut lebih dari 700 kali. Khususnya kata pekerja yang bahasa arabnya “aamil” dalam berbagai bentuk tercatat lebih dari 25 kali.[2] Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bekerja menurut ajaran agama islam.
Sedangkan bekerja itu sendiri didefinisikan sebagai usaha-usaha serius untuk memperoleh rizki halal dengan cara mengolah dan memproses “rahmat" menjadi ‘nikmat” yang bermanfaat bagi manusia dalam rangka beribadah dan taat kepada perintah Allah Swt.[3]
Tegasnya Islam menganjurkan seluruh manusia untuk bekerja dan menempatkan bekerja atau berkarya sebagai Ibadan, bahkan mensejajarkan bekerja itu dengan jihad fisabilillah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mulk ayat 15:
هوالذي جعل لكم الأرض ذ لولا فامشوافي مناكبهاوكلوا من رزقه. وإليه النشور.
Artinya: Dialah yang telah menjadikan bumi yang dengan mudah kamu jalan (manfaatkan), maka berjalanlah kamu kesegala penjurunya dan makanlah rizkinya dan kepada Allah lah kamu akan kembali (Q.S. Al-Mulk: 15).
Ayat diatas memberikan keterangan bahwa bumi ini laksana hamparan, termasuk manusia didalamnya diberikan keleluasaan menjalani kegiatan hidupnya termasuk didalamnya mencari rizki sebagai jihad dijalan Allah.
2.     Hukum Bekerja Dalam Islam
Bekerja mempunyai nilai sosiologis dan berdimensi sosial yang positif bagi pembangunan umat. Justru itu Islam menetapkan hukum bekerja adalah fardhu `ain dan ada juga yang mengatakan fardhu kifayah. Namun hal tersebut tidak perlu diperdebatkan, karena yang substansinya bekerja itu tetap fardhu (wajib).
Orang Islam tidak boleh malas-malasan dan orang yang masih kuat tidak pula dibenarkan untuk hidup mengemis.
Menurut Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya mengatakan “berusaha adalah nilai hakiki bagi perbuatan seseorang dan seseorang yang mampu menguasai diri dan mengatasi kekurangannyalah yang mampu berusaha giat dalam bekerja”.[4]
Dalam catatan sejarah tercatat bahwa banyak para nabi yang bekerja dan punya pekerjaan selain menyampaikan risalah Tuhan dalam hidupnya, Nabi Adam a.s bekerja sebagai petani, Nabi Nuh a.s sebagai pemahat, Nabi Daud a.s sebagai pandai besi, Nabi Idris a.s sebagai tukang tenun, Nabi Sulaiman a.s sebagai tukang keramik, Nabi Zakaria a.s sebagai tukang kayu, Nabi Musa a.s sebagai Pengembala, Nabi Muhammad Saw populer sebagai pengembala ketika kecil dan remajanya dan juga populer sebagai pedagang barang-barang dagangan Siti Khadijah.[5]
Para Nabi/Rasul yang dikemukakan diatas mempunyai keahlian masing-masing. Hal ini memberikan motivasi kepada kita Semarang bahwa bekerja dengan keahlian sangat dominan apalagi kegiatan dalam pembangunan bangsa yang sangat diperlukan dan dibutuhkan dalam era pembangunan dewasa ini menuju masyarakat yang maju dibawah lindungan Allah SWT.
3.     Islam dan Anjuran untuk Bekerja
Agama Islam menilai bahwa setiap gerak dan kegiatan seseorang sesuai dengan motivasi niatnya. Yang menjadi motivasi dasar yang harus diletakkan oleh setiap muslim dalam melakukan sesuatu dalam menjalani kehidupan ini adalah bernilai ibadah atau pengabdian kepada Allah SWT. Demikian pula mengenai “bekerja” atau beramal dalam Islam tidak saja merupakan ikhtiar untuk pemenuhan keperluan hidup didunia, tetapi juga merupakan panggilan ibadah dan keharusan agama. Yang kedudukannya sejajar dengan ibadah atau menjadi kegiatan ibadah. Jadi, bekerja adalah tugas suci yang harus dilaksanakan dalam hidup ini oleh setiap muslim untuk mencapai keridhaan Allah SWT seperti tujuan ibadah itu sendiri.
Islam tidak mendorong penghayatan agama yang melarikan diri dari kehidupan dunia. Bahkan sebaliknya, Islam mengajarkan memakmurkan kehidupan dunia, namun tidak hanyut dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Intensifikasi pengabdian agama tidak saja melalui ibadah mahdhah, tetapi simultas dengan menangani kegiatan-kegiatan kerja duniawi. Dalam hubungan ini Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qashas ayat 77:
وابتغ فيما اتك الله الدارالأخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا واحسن كما احسن الله إليك ولا تبغ الفساد فى الأرض...

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadamu kebahagiaan kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi…(Q.S. Al-Qashas: 77).
Ayat al-Qur’an diatas memberikan motivasi kepada setiap orang untuk kelangsungan hidupnya di dua terminal kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang sangat memerlukan kerja keras. Kebahagiaan dapat diraih bila perhatiannya sungguh-sungguh berupaya mencarinya, bila tanpa kerja keras, santai dan pasif, maka kebahagiaan dunia dan akhirat hanya fantasi belaka dan tidak dapat dicapai.
Yang harus diperhatikan pula adalah sikap mental yang positif harus dimiliki oleh orang yang melakukannya dan mengembangkan inovasi kerja untuk pembangunan bangsa. Diantara sikap positif yang harus dimiliki adalah:
1.     Orientasi ke masa depan. Orientasi artinya semua kegiatan harus direncanakan dan diperhitungkan secara matang untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, maju dan lebih sejahtera.
2.     Rasa tanggung jawab. Artinya semua masalah yang diperbuat harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap masyarakat dan Allah SWT, baik keberhasilan maupun kegagalan. Jangan sekali-kali berwatak ataupun melemparkan kesalahan kepada orang lain.
3.     Hemat dan Sederhana. Artinya dalam memanfaatkan hasil kerja itu harus Hemat dan sederhana, tidak boros, konsumtif dan berlebih-lebihan. Islam mengajarkan hidup sederhana tetapi tidak kikir, melarang berbuat boros dan berlebih-lebihan karena hidup boros dan berlebih-lebihan itu adalah perbuatan syaitan yang selalu menggoda manusia untuk berbuat kejahatan.
4.     Bersaing secara Jujur dan sehat. Artinya bahwa orang yang bekerja itu harus berusaha untuk berkembang dan maju. Namun kemajuan dan perkembangan itu harus dikejar secara wajar, Jujur dan sehat tanpa merugikan orang lain. Namun keterbukaan itu tetap dikembangkan dalam batas-batas yang memungkinkan dengan maksud menghilangkan keraguan orang lain kepada kita dan kepercayaan semua pihak kepada kita tetap terjamin dan terpelihara dengan baik.
5.     Teliti dan menghargai waktu. Artinya orang-orang yang bersifat santai dalam bekerja, tanpa rencana, malas, pemborosan tenaga, melalai-lalaikan pekerjaan yang seharusnya pekerjaan itu segera selesai, namun pekerjaan itu sering tertunda-tunda, justru tidak serius mereka lakukan. Padahal waktu untuk bekerja itu adalah kesempatan buat mereka untuk bekerja lebih banyak, maka banyak pula hasilnya yang mereka raih.

B.    Prestasi Belajar
1.     Pengertian Prestasi
Prestasi belajar berasal dari dua kata yang berbeda makna. Prestasi menurut Bahasa Indonesia adalah jenjang yang diperoleh seseorang.[6] Namun Abu Ahmadi memberikan pengertian adalah “hasil yang didapati siswa (orang yang belajar) selama belajar”.[7]
Menurut David Krech, dkk., mendapatkan hasil belajar dapat dilakukan melalui proses kognisi yang kompleks dan menghasilkan sesuatu yang mungkin dicapai atau dicita-citakan. Karena itu, prestasi berperan aktif sebagai stimulus yang diterima, tetapi diri orang tersebut secara  total, baik pengalaman, sikap serta motivasinya terhadap  stimulus atau objek itu.”[8]
Prestasi adalah  suatu hasil usaha yang didapat siswa dan siswi selama mengikuti proses pembelajaran. Prestasi dapat ditingkatkan dengan cara memberikan motivasi kepada siswa agar mereka giat dalam belajar, sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai dengan baik.[9]
2.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
A.    Faktor Intern
Yang dimaksud dengan faktor intern adalah semua faktor yang sumbernya berasal dari diri individu yang belajar, baik yang berkenaan jasmani maupun dengan rohani, faktor intern ini juga terbagi dua, yaitu faktor biologis (faktor yang bersifat jasmaniah) dan faktor psikologis (faktor yang bersifat rohaniah).




a.      Faktor biologis (jasmaniah)
Faktor biologis yaitu "Faktor yang berasal dari individu itu sendiri yang erat hubungannya dengan keadaan fisik dan panca indera"[10]. Faktor biologis ini mempengaruhi kegiatan sekaligus hasil belajar seseorang. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya terganggu, selain itu juga akan cepat lelah, kurang semangat, mudah pusing, ngantuk dan gangguan-gangguan fungsi alat inderanya.
Sebagaimana dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata bahwa: "Penyakit seperti pilek, batuk, sakit gigi dan penyakit sejenisnya, itu biasanya diakibatkan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan, akan tetapi kenyataannya penyakit-penyakit itu sangat mengganggu aktifitas belajar."[11]
Di samping kondisi fisik (kesehatan), kondisi panca indera yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, karena panca indera itu merupakan pintu masuk yang mempengaruhi dari luar ke dalam diri individu yang diolah oleh otak untuk diterima atau ditolaknya.
b.     Faktor psikologis (rohaniah)
Faktor psikologis adalah faktor yang berhubungan dengan rohaniah yaitu "Segala bentuk kemampuan yang berpusat pada otak dan akal, yang termasuk dalam faktor ini antara lain intelegensi, minat, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif".[12] Berikut ini akan penulis jelaskan satu persatu tentang masalah tersebut.
a)     Intelegensi (kecerdasan)
Intelegensi adalah "Kemampuan yang dibawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang berbuat dengan cara tertentu."[13]
Pada umumnya perkembangan intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan yang sama dengan tingkat perkembangan yang sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang berbeda antara anak yang satu dengan anak yang lain, sehingga seorang anak pada masa tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Faktor kecerdasan sangat penting dalam segala kegiatan yang kita lakukan lebih-lebih dalam proses belajar di sekolah/perguruan tinggi. Siswa/mahasiswa yang cerdas biasanya cepat menanggapi setiap penjelasan guru, sehingga dia selalu sukses dan kemungkinan akan mencapai prestasi belajar yang tinggi. Demikian pula dalam hubungan sosialnya, ia mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan dan situasi yang timbul di sekelilingnya. Sebaliknya bagi siswa/mahasiswa yang kurang cerdas atau bodoh sering mengalami kesulitan dalam belajar.
b)    Minat
Minat adalah "Keinginan atau kemauan yang ada dalam diri seseorang untuk merasa tertarik pada hal-hal tertentu atau keinginan untuk mempelajari sesuatu."[14]
Minat merupakan suatu faktor yang mempengaruhi prestasi dalam belajar, dengan adanya minat maka akan timbul senang, penuh gairah tanpa rasa dipaksakan akan selalu timbul rasa ingin tahu terhadap pelajaran yang sedang dipelajari.
Bila seseorang tidak berminat untuk belajar, kemungkinan orang tersebut itu tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik belajarnya. Dalam proses belajar, seorang guru/dosen harus mampu membangkitkan minat siswa/mahasiswa terhadap pelajaran, agar orang yang belajar tidak merasa terpaksa mempelajarinya, apalagi menjadikan pelajaran itu sebagai beban yang harus ia pelajari.
Tentang pengaruh minat ini, The Liang Gie mengatakan: "Seorang pelajar yang tidak mempunyai minat untuk mempelajari sesuatu pengetahuan, karena tidak mengetahui faedahnya, pentingnya hal-hal yang mempersoalkan pada pengetahuan itu".[15]
Pada umumnya minat belajar terhadap suatu pelajaran berbeda-beda, ada siswa/mahasiswa yang mempunyai minat tinggi, sedang, dan ada pula yang tidak berminat sama sekali. Sering siswa/mahasiswa yang tidak mempunyai tingkat intelektualitas tinggi kurang berhasil dalam belajarnya tidak diiringi oleh minat yang tinggi pula, sebaliknya siswa/mahasiswa yang mencapai prestasi gemilang terhadap pelajaran tertentu disebabkan oleh tingginya minat mereka terhadap pelajaran tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Kostro Partowirastro sebagai berikut: "Minat yang kurang mengakibatkan kurangnya intensitas kegiatan, kurangnya intensitas kegiatan menimbulkan hasil yang kurang pula. Sebaliknya hasil yang kurang dapat pula mengakibatkan berkurangnya minat terhadap pelajaran itu".[16]
Minat siswa/mahasiswa terhadap suatu pelajaran merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap siswa/mahasiswa. Guru/dosen adalah orang yang paling berperan dalam usaha membangkitkan minat siswa/mahasiswa, oleh karenanya keberhasilan seorang guru/dosen dalam mengajar dapat diukur dari berhasil tidaknya guru/dosen tersebut membangkitkan minat para siswa/mahasiswa sehingga mereka akan belajar dengan penuh gairah dan semangat, pada akhirnya para siswa/mahasiswa akan dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi.
c)     Bakat
Bakat adalah "Kecakapan (potensi-potensi) yang merupakan bawaan sejak lahir yaitu semua sifat-sifat, ciri-ciri dan kesanggupan-kesanggupan yang dibawa sejak lahir".[17]
Bakat ini memegang peranan penting dalam proses belajar anak, apabila anak belajar sesuai dengan bakatnya, maka akan mendapatkan prestasi belajar yang baik.
Dalam hal ini Utami Munandar mengemukakan:
"Ketidakmampuan seorang anak yang berbakat untuk berpotensi disebabkan oleh kondisi-kondisi tertentu, misalnya taraf sosial ekonomi yang rendah atau tinggal di daerah-daerah terpencil yang tidak dapat menyediakan fasilitas pendidikan dan kebudayaan sehingga mempengaruhi prestasi belajar anak".[18]

Seperti halnya intelegensi, bakat juga mempunyai kualitas tertentu, ada yang tinggi dan ada pula yang rendah. Pada manusia yang paling normal terdapat sejumlah jenis bakat khusus yang berbeda-beda kualitasnya.
d)    Motivasi
Motivasi adalah "Suatu keadaan individu yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu".[19]
Sardiman A.M. mengemukakan :
”Seseorang yang belajar tanpa adanya motivasi maka tujuan yang ingin dicapai kemungkinan besar tidak akan memperoleh hasil yang baik. Motivasi dan belajar adalah dua hal yang erat kaitannya, adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang akan menentukan prestasi belajar yang baik".[20]

Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat penting, karena itu sangat diharapkan kepada para guru agar selalu berusaha untuk dapat membangkitkan motivasi siswa-siswanya. Dengan adanya motivasi yang kuat maka usaha belajar akan berhasil.
Bila ditinjau dari segi belajar, motivasi dapat digolongkan kepada dua jenis, yaitu:
1)    Motivasi intrinsik
Sardiman mengemukakan bahwa: "Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang aktif dan fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang senang membaca, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibaca".[21]
Dari kutipan di atas jelas bahwa motivasi adalah salah satu faktor pendorong yang datang dari dalam diri siswa/mahasiswa yang dapat mempengaruhi belajarnya.
2)    Motivasi ekstrinsik
Sardiman A.M mengatakan "Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif karena adanya perangsang yang kuat. Sebagai contoh seseorang yang belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan untk mendapatkan nilai yang baik sehingga akan mendapatkan pujian dari teman".[22]
Oleh karena itu motivasi merupakan suatu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa, karena adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar. Tanpa ada motivasi semangat belajar menjadi lebih kurang sehingga hasilnya kurang memuaskan.
2.     Faktor Ekstern
Faktor ekstern ialah "Faktor yang datang dari luar diri anak, seperti keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya".[23]
a.      Keluarga
Ibu merupakan anggota keluarga yang mula-mula paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, meskipun pada akhirnya seluruh anggota keluarga ikut berintegrasi dengan anak.
Nasir Budiman menyebutkan:
"Di lingkungan rumah tangga anak adalah anggota yang sangat sugestibel, pengaruh orang tua sangat dominan pada dirinya, terutama pengaruh pada pihak ibunya. Pengaruh tingkah laku ibu sangat dirasakan oleh anak karena sejak kelahiran sampai ia berpisah dari kedua orang tuanya. Faktor ibu selalu mempengaruhi kepadanya".[24]

Pengaruh keluarga terhadap anak sudah ada sejak anak berada dalam kandungan ibu, dalam hal ini ibu mempunyai peranan utama dalam kehidupan anak. Hal ini sama dengan pendapat A. Muri Yusuf yang mengatakan bahwa :
"Sejak ibu mengandung telah terjadi hubungan dengan anaknya, proses pertumbuhan anak dalam kandungan sejak dini telah ditentukan bagaimana pelayanan ibunya, setelah anak lahir ke dunia maka yang utama dan pertama ia mengasuh, menyusukan, mengganti pakaian dan melindungi anak dari penyakit. Keterlibatan ibu yang sangat banyak pada anak sejak permulaan kehidupan anak menyebabkan ibu sering dikatakan sebagai pendidik utama dan pertama".[25]

Di samping itu setiap anak dalam keluarga yang harmonis sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya yakni pemenuhan dalam kebutuhan hidup.
Mustafa Fahmi mengemukakan :
"Manusia adalah makhluk yang mempunyai beberapa kebutuhan hidup, yaitu:
1.     Kebutuhan jasmani: seperti makan, minum dan sebagainya
2.     Kebutuhan rohani sebagai kebutuhan jiwa yang dimiliki oleh manusia, seperti kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan pengenalan, kebutuhan akan kekeluargaan kebutuhan akan tanggung jawab dan kebutuhan akan kependidikan".[26]

Menurut Ki Hajar Dewantara :
"Suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya melakukan pendidikan individu maupun sosial. Keluarga merupakan pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh. Peranan orang tua dalam keluarga sebagai penuntun, pengajar dan sebagai pemberi contoh".[27]

Suatu keluarga juga dapat memberikan suasana atau kondisi tertentu bagi keberhasilan anaknya, yaitu keutuhan keluarga, yang dimaksud keutuhan di sini adalah adanya ayah dan ibu serta interaksi yang wajar. Apabila tidak ada keharmonisan dalam keluarga maka akan memberi pengaruh yang kurang baik bagi anak-anaknya.
b.     Sekolah/Perguruan Tinggi
Lingkungan sekolah merupakan pusat pendidikan yang kedua bagi anak untuk berlangsungnya pendidikan secara formal yang merupakan kelanjutan dari lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah yang baik akan mendorong anak belajar dengan baik, sedangkan lingkungan sekolah yang  tidak baik dapat menyebabkan anak kurang gairah dalam belajar.
Adapun prestasi belajar yang diperoleh dipengaruhi oleh faktor yang berhubungan antara satu dengan yang lain dan akan mempengaruhi proses belajar di antaranya yaitu :
1)    Kompetensi profesional guru/dosen
Dalam proses belajar mengajar, seorang guru tidak hanya dituntut mempunyai sejumlah pengetahuan yang akan diajarkan kepada anak didiknya. Tetapi juga sangat dituntut untuk dapat mendesain program dan keterampilan mengkomunikasikan program tersebut merupakan modal dasar dalam kegiatan mengelola interaksi belajar mengajar, kedua macam modal dasar itu akan tercakup dalam sepuluh kompetensi profesional guru/dosen, yaitu :
-        Menguasai bahan bidang studi
-        Mengelola program belajar mengajar
-        Mengelola kelas
-        Menggunakan media dan sumber balajar
-        Menguasai landasan pendidikan
-        Mengelola interaksi belajar mengajar
-        Menilai prestasi anak didik untuk kepentingan pengajaran
-        Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan penyuluhan
-        Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah/kampus
-        Memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guru untuk kepentingan pengajaran[28]

2)    Kurikulum sekolah/perguruan tinggi
Setiap kegiatan membutuhkan perencanaan karena tanpa perencanaan yang baik dan sistematis akan menyebabkan suatu kegiatan tidak sesuai dengan yang diharapkan bahkan dapat menimbulkan gejala-gejala lain yang saling bertentangan dan tidak pada tempatnya. Salah satu kegiatan yang memerlukan perencanaan adalah kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Perencanaan dalam kegiatan belajar mengajar adalah sering disebut kurikulum. Kurikulum adalah pedoman dasar bagi pengajar (pendidik) untuk mengajar. Menurut S. Nasution: "Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk kelancaran proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab suatu badan sekolah atau instansi pendidikan beserta staf pengajarannya".[29]
3)    Disiplin sekolah/perguruan tinggi
Sekolah/perguruan tinggi merupakan suatu lembaga pendidikan formal dan memiliki peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh semua anggota seperti siswa/mahasiswa, guru dan karyawan lainnya, untuk menanamkan disiplin yang baik di sekolah maka setiap guru dan karyawan harus mampu menegakkan disiplin bagi dirinya sendiri, karena guru/dosen merupakan contoh teladan bagi siswa-siswanya. Begitu juga dalam menyajikan materi pelajaran yang diajarkannya, sehingga siswa tidak bosan.
Kedisiplinan sekolah/kampus tidak hanya menyebabkan para siswa mahasiswa akan rajin belajar di lingkungan sekolah saja, namun juga akan berpengaruh terhadap kedisiplinan siswa sewaktu belajar di luar sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.
Demikian pula sebaliknya, kedisiplinan siswa belajar di rumah akan terbiasa pula untuk berdisiplin dalam melakukan kegiatan belajar di lingkungan sekolah. Winarno Surachmad mengatakan bahwa "Kehidupan di sekolah merupakan jembatan antara kehidupan masyarakat dan juga merupakan perwujudan, karena itu tujuan pendidikan keluarga harus sejalan dengan tujuan hidup yang diinginkan lingkungan keluarga".[30]
c.      Masyarakat
Adapun faktor lain yang tidak kalah pentingnya yang sangat berpengaruh terhadap potensi belajar siswa adalah faktor masyarakat-masyarakat dalam pengertian luas adalah lingkungan di luar sekolah dan keluarga.
Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan, ia harus berhubungan dengan masyarakat.
Agar siswa mendapat pengaru positif dalam masyarakat terhadap prestasi belajarnya maka ia perlu melibatkan diri dalam organisasi masyarakat, baik dalam pengajian ayaupun pengurus-pengurus mesjid maupuyn organisasi-organisasi lainnya yang dapat membawa ke arah perbaikan, karena kegiatan seperti itu baik untuk perkembangan kepribadiannya.
Jadi perubahan dalam masyarakat selalu menyangkut usaha pendidikan karena disebabkan oleh faktor lingkungan sekolah, keluarga atau masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Jika ketiga lingkungan tersebut siswa mendapatkan pendidikan dengan baik maka ia akan mengalami perubahan yang baik pula.
Dengan demikian fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan yang sangat tergantung pada masyarakat beserta sumber belajar yang ada di dalamnya. Adanya kerja sama yang baik maka pendidikan anak akan berjalan positif dan dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan.

3.     Indikator Prestasi Belajar
Pada prinsipnya pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa siswa/mahasiswa sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tidak dapat diraba). Oleh karena iu yang dapat dilakukan guru/dosen dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa/mahasiswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa/mahasiswa sebagaimana yang terurai diatas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) diakitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Selanjutnya agar pemahaman guru/dosen lebih mendalam mengenai kunci pokok tersebut dan untuk memudahkan dalam menggunakan alat dan kiat evaluasi yang tepat, reliabel, dan valid dapat dilihat pada tabel yang dirumuskan oleh Muhibbin Syah dibawah ini[31]:



Ranah/ jenis Prestasi
Indikator
Cara evaluasi
A.
Ranah Cipta (kognitif)
1. pengamatan



2. Ingatan



3. Pemahaman



4. Aplikasi/Penerapan




5. Analisis (pemeriksaan dan pemilahan yang teliti)


6. Sintesis (membuat paduan yang utuh)

1. dapat menunjukkan
2. dapat membandingkan
3. dapat menghubungkan

1. dapat menyebutkan
2. dapat menunjukkan kembali

1. dapat menjelaskan
2. dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

1. dapat memberikan contoh
2. dapat menggunakan secara tepat

1. dapat menguraikan
2. dapat mengklasifikasikan/memilah-milah

1. dapat menghubungkan materi-materi hingga menjadi satu kesatuan baru
2. dapat menyimpulkan
3. dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

1.   tes lisan
2.   tes tertulis
3.   observasi

1.   tes lisan
2.   tes tertulis
3.   observasi

1.   tes lisan
2.   tes tertulis


1.   tes tertulis
2.   resitasi
3.   observasi


1.   tes tertulis
2.   resitasi



1.   tes tertulis
2.   resitasi
B.
Ranah Rasa (Afektif)
1.   Penerimaan




2.   Sambutan




3.   Apresiasi (sikap menghargai)




4.   Internalisasi (pendalaman)







5.   Karakterisasi (penghayatan)


1. menunjukkan sikap menerima
2. menunjukkan sikap menolak

1. kesediaan berpartisipasi/terlibat
2. kesediaan memanfaatkan

1. menganggap penting dan bermanfaat
2. menganggap indah dan harmonis
3. mengagumi

1. mengakui dan meyakini
2. mengingkari






1. melembagakan atau meniadakan
2. menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari

1.   tes tertulis
2.   tes skala sikap
3.   observasi


1.   tes skala sikap
2.   resitasi
3.   observasi


1.   tes skala penilaian sikap
2.   resitasi
3.   observasi


1.   tes skala sikap
2.   pemberian tugas ekspresif (yang menyatakan sikap) dan tugas proyektif (yang menyatakan perkiraan)

1.   pemberian tugas ekspresif dan proyektif
observasi
C.
Ranah Karsa (Psikomotor)
1.   keterampilan bergerak dan bertindak



2.   kecakapan ekspresi verbal dan non verbal


Kecakapan mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya

1.   kefasihan melafalkan/mengucapkan
2.   kecakapan membuat mimik dan gerakan jasmani

1.  observasi
2.  tes tindakan





1.  tes lisan
2.  observasi
3.  tes tindakan

4.     Pengukuran Prestasi Belajar
Mengukur prestasi belajar seseorang bukanlah perkara yang gampang. Namun membutuhkan ketelitian dan harus mencakup keseluruhan aspek yang ada pada orang tersebut.
1.     Pengukuran prestasi belajar kognitif
Mengukur keberhasilan siswa/mahasiswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis, tes lisan dan perbuatan. Karena semakin banyaknya siswa/mahasiswa disebuah tempat belajar, maka tes lisan dan tes perbuatan semakin jarang digunakan. Alasan lain tes lisan kurang mendapat perhatian adalah pelaksanaannya yang face to face (tatap muka langsung). Cara tes lisan ini dianggap mendorong penguji untuk bersikap kurang objektif terhadap siteruji/peserta didik tertentu.
Dampak negatif yang terkadang muncul dalam tes lisan itu ialah iskap dan perlakuan penguji yang subjektif dan kurang adil, seingga soal yang diajukan pun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disatu pihak siswa yang diberi soal mudah dan terarah (sesuai dengan topik) sedangkan dipihak yang lain ada pula yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.
Untuk mengatasi masalah subjektivitas itu semua jenis tes tertulis itu baik yang berbentuk subjektif maupun yang berbentuk objektif seyogyanya dipakai dengan sebaik-baiknya oleh para pengajar. Namun demikian apabila dikehendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa/mahasiswa pilihan berganda juga sebaiknya tidak dipakai oleh pengajar. Untuk mengukur kemampuan kognitif dapat digunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, dan tes esai. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis seseorang lebih baik menggunakan tes esai, karena tes ini adalah ragam instrumen evaluasi yang dipandang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal tadi.
2.     Pengukuran prestasi belajar afektif
Dalam merencanakan penyusunan instrumen tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seharusnya mendapat perhatian khusus. Alasannya karena kedua jenis prestasi ranah rasa inilah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa/mahasiswa.
Salah satu bentuk tes ranah rasa yang popular adalah “Skala Likert” yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan sikap.[32] Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skor ini diberi skor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai sangat “tidak”
Hal lain yang perlu diingat bagi guru/dosen yang hendak menggunakan skala sikap ialah bahwa dalam pengukuran ranah rasa yang dicari bukan benar dan salah, melainkan sikap atau kecenderungan setuju atau tidak setuju. Jadi, tidak sama pengukuran ranah cipta yang secara prinsip bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan akal dengan batasan benar dan salah.


3.     pengukuran prestasi belajar psikomotor
Cara yang dipandang tepat untuk mengukur keberhasilan belajar yang berdimensi psikomotor (ranah karsa) adalah observasi. Observasi dalam hal ini dapat diartikan sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku atau fenomena lain dengan pengamatan langsung. Namun observasi harus dibedakan dari eksperimen karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.[33]
Bagi orang yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor hendaknya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang telah disusun sebelumnya.

C.    DAMPAK BEKERJA TERHADAP PRESTASI BELAJAR
Salah satu dampak dari besarnya biaya hidup dewasa ini membuat bertambahnya kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan. Akhirnya kalau biasanya orang tua yang bekerja sekarang anakpun ikut bekerja. Apalagi jika anak telah menjadi mahasiswa yang tentunya juga semakin membutuhkan biaya besar untuk biaya pendidikannya.
Mahasiswa yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada mahasiswa yang bekerja dirumah dan ada juga mahasiswa yang memilih bekerja diluar rumah. Jika mahasiswa memilih bekerja diluar rumah maka mahasiswa harus pandai-pandai mengatur waktu. Karena pada hakikatnya tugas utama mahasiswa adalah belajar.
Untuk itu maka mahasiswa yang bekerja diluar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ataupun sekedar membantu untuk meringankan beban orang tua memang sangat mulia, tetapi harus diingat tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar menuntut ilmu. Mahasiswa yang pergi bekerja pagi dan kuliah siang tetap harus meluangkan waktunya untuk belajar dan memeriksa tugas-tugas dikampusnya, walaupun sangat capek setelah bekerja dan kuliah seharian tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika mendapatkan prestasi yang tinggi minimal prestasi stabil ataupun malah menanjak naik.
Sejumlah mahasiswa kuliah sambil bekerja. Sebagian karena mereka memerlukan biaya untuk uang kuliah, sebagian lain untuk mengoptimalisasikan potensi dirinya walaupun belum selesai kuliah. Kini sebagian besar mahasiswa memilih belajar sekaligus bekerja apa saja asal halal, malah sebagian mahasiswa tersebut bekerja bukan semata uang, tetapi hanya ingin menyalurkan hobinya.
Namun pekerjaan yang dilakukan oleh mahasiswa selama ini telah mempengaruhi tugas utama mereka sebagai penuntut ilmu. Kebanyakan dari mereka karena mengutamakan bekerja membuat prestasi belajar mereka merosot tajam. Dalam arti bahwa dikarenakan bekerja prestasi belajar sebagian besar mahasiswa terus menurun dari yang ditargetkan. Sehingga kadang-kadang mahasiswa sendiri tidak tahu, manakah yang mereka utamakan. Ataupun bagaimana pilihan sebenarnya yang sedang mereka buat “belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar”.
Dampak yang ditimbulkan karena bekerja terhadap belajar itu kadangkala tidak langsung dirasakan oleh mahasiswa. Sehingga kadang mereka baru sadar setelah melihat indeks prestasi(IP) nya menurun dari prestasi yang telah diperoleh sebelumnya.
Namun untuk menilai dampak terhadap prestasi belajar mahasiswa, terlebih dahulu harus dinilai dampak kerja itu sendiri terhadap kegiatan perkuliahan yang ikuti oleh mahasiswa tersebut dalam kehidupannya sehari-hari sebagai mahasiswa sebelum prestasi belajar itu dinilai pada tiap akhir semester. Ini disebabkan karena prestasi belajar mahasiswa dinilai pada akhir semester setelah diadakan ujian akhir pada akhir semester tersebut.
Dampak-dampak mahasiswa bekerja terhadap kegiatan kuliahnya sehari-hari adalah:
1.     Belajar tidak lagi teratur.
Belajar dengan teratur merupakan pedoman mutlak yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang menuntut ilmu disekolah maupun diperguruan tinggi. Betapa tidak, karena banyaknya bahan pelajaran yang harus dikuasai menuntut pembagian waktu yang sesuai dengan kedalaman dan keluasan materi bahan pelajaran. Penguasaan atas semua bahan pelajaran dituntut secara dini, tidak harus menunggunya sampai menjelang kuis, midterm ataupun ujian final.
Belajar sambil bekerja merupakan sikap yang kurang menguntungkan dalam belajar. Satu, dua atau tiga hari lagi akan ujian baru belajar adalah suatu tindakan yang kurang menguntungkan. Sebab dalam waktu yang relatif singkat itu tidak mungkin dapat menguasai bahan pelajaran untuk semua mata kuliah. Orang yang sering tidak masuk ruang kuliah dapat dipastikan akan kurang mengerti bahan-bahan pelajaran tertentu. Sejumlah buku terkadang ada uraian tertentu yang tidak dijelaskan secara mendalam. Guru atau dosen akan menjelaskan bahan itu secara mendalam dan jelas. Guru atau dosenlah yang menjembatani hal-hal yang Belem dijelaskan di dalam buku.
Penjelasan yang diberikan oleh guru/dosen berikan itupun bukan hnaya didengar saja, tetapi harus dicatat diatas kertas. Dan dalam mencatatnya pun harus rapi dan teratur untuk memudahkan. Tetapi bagaimana akan mencatat atau mendengar penjelasan dosen/guru sedangkan mahasiswa itu sendiri tidak belajar dengan teratur disebabkan kesibukan dengan pekerjaannya.
Cukup banyak orang yang tidak mampu meraih prestasi belajar yang memuaskan disebabkan catatan bahan pelajaran/kuliah yang tidak lengkap dan tidak teratur yang disebabkan oleh karena tidak sempat mengikuti mata kuliah yang diambilnya.


2.     Hilangnya disiplin belajar dan tidak bersemangat.
Dampak belajar sambil belajar lainnya adalah hilangnya disiplin belajar dan tidak bersemangat lagi mengikuti mata kuliah. Dalam belajar disiplin sangat diperlukan. Disiplin dapat melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu. budaya jam karet adalah musuh besar bagi orang yang sedang belajar. Tetapi orang yang telah mengutamakan pekerjaan akan menunda-nunda waktu untuk belajar/ mengikuti mata kuliah.
Orang yang tidak disiplin tidak akan pernah berhasil dalam belajar maupun berkarya. Dimana semua jadwal kuliah yang telah mereka susun akan mereka ingkari sendiri dengan melalaikannya. Sebaliknya bagi orang yang berdisiplin diri, semua jadwal belajar yang telah disusun dan dibuat akan ditaati dan dijalankan. Rela mengorbankan apa saja demi perjuangan menegakkan disiplin pribadi dalam belajar.
Selain masalah disiplin, semangat juga sangat penting dalam belajar. Orang yang tidak bersemangat dalam belajar akan lesu dan tidak bergairah sehingga motivasi untuk belajar pun tidak ada sehingga kegagalan dalam studipun tinggal menunggu waktu.
Semangat bagi mahasiswa perlu ditumbuhkan dan dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan. Sebagai penggerak jira untuk melakukan aktifitas belajar. Sehingga dengan adanya disiplin diri dan semangat untuk belajar tidak akan menjadi sebuah penghalang bagi mahasiswa walaupun ia bekerja diluar studinya.
3.     Hilangnya konsentrasi.
Konsentrasi adalah pemusatan fungsi jiwa terhadap suatu masalah atau objek. Dalam belajar diperlukan konsentrasi dalam perwujudan perhatian terpusat. Pemusatan perhatian pada suatu objek tertentu dengan mengabaikan masalah-masalah lain yang tidak diperlukan.
Namun bagi mahasiswa yang bekerja bagaimana akan memusatkan konsentrasinya, mereka akan merasa capek setelah lelah bekerja. Ataupun ketika sedang belajar akan teringat terhadap pekerjaan yang Belum diselesaikan. Hal ini otomatis akan berakibat terhadap upaya belajar yang sedang dilakukan. Dalam belajar, orang yang tidak mampu berkonsentrasi tidak akan berhasil menyimpan atau menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu setiap pelajar ataupun mahasiswa harus berusaha dengan keras agar mempunyai konsentrasi yang tinggi dalam belajar.
Abu Ahmadi mengemukakan sebab-sebab pelajar atau mahasiswa tidak dapat berkonsentrasi, yaitu:
a.      Kurang minat terhadap pelajaran.
b.     Banyak urusan-urusan lain yang mengganggu perhatian.
c.      Adanya gangguan-gangguan suara keras.
d.     Adanya gangguan kesehatan ataupun terlalu lelah.[34]


4.     Susahnya melakukan pengaturan waktu.
Seluruh kehidupan manusia pada hakikatnya bergelut dalam dimensi waktu. manusia tidak hanya bergerak dalam lingkaran waktu, tetapi juga bernafas dalam ruang lingkup waktu, karena manusia berada dalam siklus waktu. Maka setiap aktifitasnya bermuda dan berkesudahan dalam waktu.
Mahasiswa adalah manusia, maka mereka tidak bisa menghindarkan diri dari masalah waktu. Mereka harus menggunakan rentangan waktu yang dua puluh empat jam itu dengan sebaik-baiknya. Tanpa ada waktu yang berlalu atau terbuang dengan sia-sia.
Masalah pengaturan waktu inilah yang menjadi persoalan bagi pelajar maupun mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengeluh karena tidak dapat membagi waktu dengan tepat dan baik. Akibatnya, waktu yang seharusnya dimanfaatkan terbuang dengan percuma. Apalagi bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, pengaturan waktu menjadi masalah terbesar bagi mereka. Prestasi belajar yang diidam-idamkan untuk dicapai hanya tinggal harapan karena tidak bisa mengatur pembagian waktu antara belajar dan bekerja. Sehingga pada akhirnya akan membuahkan kekecewaan.
Persoalan bagi mahasiswa yang juga bekerja tersebut dalam pembagian waktu adalah mana yang harus diprioritaskan, apakah waktu untuk belajar ataukah waktu untuk bekerja. Jika mengutamakan pekerjaan maka dampak terhadap studipun akan jelas buruk. Karena dalam dunia pendidikan ada aturan bahwa semakin dewasa dan matang pikiran seorang pelajar atau mahasiswa harus dapat belajar semakin lama. Dan juga untuk mempelajari mata pelajaran yang semakin sulit otomatis pula semakin banyak waktu yang mereka butuhkan untuk mempelajarinya. Tetapi bagaimana akan menghabiskan banyak waktu untuk belajar, sedangkan waktu untuk bekerja juga harus disediakan. Apalagi jika mahasiswa tersebut bekerja dibawah orang lain, maka ia harus mengikuti jam/waktu yang telah ditentukan oleh majikannya.
Akhirnya orang yang pandai membagi dan memanfaatkan waktu untuk kepentingan keberhasilan studi selama menuntut ilmu , dialah yang akan berhasil dan beruntung hari ini, esok dan mendatang.




[1]Safwan Nur, Ekonomi Pembangunan, (Surabaya: Gita Remaja, 2001), hal. 4.

[2]N. A. Baiquni, dkk.,Indeks Al-Qur’an: Cara Mencari Ayat Al-Qur’an, (Surabaya: Arbola, 1996), hal.51.

[3]Mohd. Yasin Abduh, Islam dan Etos Kerja, (Banda Aceh: Proyek Bimbingan dan Dakwah Agama Islam, 1997), hal. 6.
[4]Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, (Libanon: Daar Al-Fikr, t.t.), hal. 827.

[5]Ibid., hal. 843.

[6]Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hal. 654

[7]Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, hal. 88

[8]Yahya, dkk Mendidik Anak yang Berprestasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),   hal. 1.

[9]Widayatun, Mencari Siswa yang Berprestasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999) hal. 110-111.

[10]Saiful Bahri, Perbandingan Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari SMP dan MTsN dalam Bidang Studi Matematika pada MAN Idi Rayeuk Aceh Timur, (Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry, 2003), hal. 20.

[11]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1972), hal. 252.

[12]Saiful Bahri, Perbandingan …, hal. 22.

[13]M. Ngalim Poerwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), hal. 547.

[14]W.S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986), hal. 30.

[15]The Liang Gie, Cara Belajar yang Efesien, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1983), hal. 13.

[16]Kostro Partowirastro, Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar, Jil. 2, (Jakarta: Erlangga, 1984), hal. 34.

[17]M. Ngalim Poerwanto, Psikologi…, hal. 547.

[18]Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Keaktifan Anak, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 54.

[19]Sumadi Suryabrata, Pendidikan…, hal. 66.

[20]Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru, (Jakarta: Rajawali, 1985), hal. 85.

[21]Ibid., hal. 73.

[22]Ibid.,hal. 71.

[23]Rosyitah N.K, dan Farida Poernomo, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Naslo, 1978), hal. 8.

[24]M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Islam Al-Qur'an, (Jakarta: Madani Press, 2001), hal. 58.

[25]A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Choli Indonesia, 1982), hal. 26-27.

[26]Mustafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga dan Masyarakat, Jil. I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal. 74.

[27]Umar Tirta Raharja, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 31.
[28]Sardiman A.M, Interaksi…, (Jakarta: Rajawali, 1992), hal. 162.

[29]S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Bandung: Bumi Aksara, 1989), hal. 5.

[30]Winarno Surachmad, Pengantar Metodologi Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1978), hal. 18.
[31]Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 214
[32] Sarlito Sarwono Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, Cet. III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hal. 85.

[33]Ibid., hal. 97.
[34]Abu Ahmadi, Teknik Belajar yang Efektif, Cet. I, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 25.