Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembinaan Pendidikan Agama Anak


BAB III
Pembinaan Pendidikan Agama Anak
Pembinaan Pendidikan Agama Anak

A.    Hakikat Mendidik Anak
Sebelum sampai pada pengertian pendidikan anak, maka perlu di awali apa yang dimaksud dengan pendidikan itu sendiri. Terdapat beragam pandangan mengenai pengertian pendidikan sebagai berikut:
Ahmad D Marimba misalnya, mengatakan bahwa:
Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan terdapat lima unsur utama pendidikan, yaitu: pertama, usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. Kedua, terdapat pendidik, pembimbing atau penolong. Ketiga, ada yang di didik atau si terdidik. Keempat, adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut. Kelima, dalam usaha itu ada alat-alat yang dipergunakan.[1]

Menurut Ahmad Tafsir definisi tersebut dinilai sebagai definisi yang belum mencakup semua unsur yang dikenal sebagai pendidikan. Definisi tersebut cukup memadai bila pendidikan dibatasi hanya pada pengaruh seseorang pada orang lain, dengan sengaja atau sadar. “Pendidikan oleh diri sendiri dan oleh lingkungan, nampak belum mencakup kedalam batasan pendidikan dalam pandangan Ahmad D Marimba tersebut”.[2]
Formulasi definisi pendidikan selanjutnya diajukan oleh tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantoro. Pendidikan adalah:
Usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi sering merupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti memelihara hidup tumbuh kearah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.[3]

Rumusan pendidikan ini nampak bernuansa dinamis dan modern. Pendidikan tidak boleh hanya memberikan bekal untuk membangun, tetapi seberapa jauh didikan yang diberikan itu dapat berguna untuk menunjang kemajuan suatu bangsa. Hal yang demikian ini nampaknya sejalan dengan pesan Khalifah Umar Ibn Al-Khatab yang mengatakan anak-anak masa sekarang adalah generasi muda dimasa yang akan datang. “Dunia dan kehidupan yang akan mereka hadapi berbeda dengan dunia yang sekarang. Untuk itu apa yang diberikan kepada anak didik harus memperkirakan kemungkinan-kemungkinan relevansi dan kegunaannya dimasa datang”.[4]
Definisi pendidikan yang agak luas cakupannya dapat dilihat dari pendapatnya Soegarda Poerbacaraka. Menurutnya, pendidikan mencakup:
Segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik-baiknya. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan. Karenanya jika corak penghidupan itu berubah, maka corak pendidikan itu akan berubah pula, agar si anak siap untuk memasuki lapangan pendidikan itu.[5]
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana, dan bertujuan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam arti memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan menyampaikannya kepada anak didik secara bertahap. Apa yang diberikan kepada anak didik diharapkan dapat menolong tugas dan perannya dimasyarakat dimana kelak mereka hidup.
Adapun pengertian anak sebagaimana tertulis dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti sebagai “keturunan kedua. Disamping itu anak juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil”.[6] Selain itu tedapat pengertian lain, bahwa anak pada hakekatnya adalah “seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu atau mempunyai potensi untuk menjadi dewasa”.[7]
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa anak adalah seseorang yang masih berada dalam tahap perkembangan menuju dewasa. Adanya pentahapan yang mesti dilalui menunjukkan bahwa anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapan-kelengkapan dasar dalam dirinya baru mencapai kematangan hidup melalui beberapa proses seiring dengan pertambahan usianya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan pendidikan anak adalah usaha orang dewasa yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana dan bertujuan untuk membantu agar potensi anak dapat dikembangkan secara maksimal dan profesional sehingga ia mampu menjalani kehidupannya ditengah masyarakat.
B.    Tujuan Mendidik Anak  
Tujuan dari melaksanakan pendidikan anak untuk memberikan pengetahuan tentang pelajaran agama Islam yang diajarkan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan agama termasuk salah satu pengetahuan terpenting dalam mengembangkan wawasan keagamaan anak, karena dengan adanya pendidikan agama, anak dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengabdian manusia kepada Khaliknya.
Oleh karena itu, secara garis besar, pendidikan anak mempunyai tujuan sebagai berikut:
a.    Untuk mengenal hubungan manusia dengan Allah Swt. (Hablumminallah).
Hubungan vertikal antara manusia dengan Khaliknya mencakup dari segi aqidah yang meliputi: iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, iman kepada Kitab-Kitab-Nya, iman kepada Rasul-rasul-Nya, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada Qadha Qadar-Nya.[8]
b.   Untuk mengenal hubungan manusia dengan manusia (Hablumminannas).
Pengetahuan yang diajarkan meliputi: akhlak dalam pergaulan hidup sesama manusia, kewajiban membiasakan berakhlak yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk.[9]
c.    Untuk mengenal hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam sekitarnya meliputi akhlak manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan dalam arti luas, maupun  makhluk hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan.[10]
Proses penyaluran ilmu pengetahuan mempunyai fungsi dan peranannya yang amat luas, baik di dalam tujuan pokok maupun dalam tujuan sementara. Karena hal tersebut menyangkut keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. sudah sejak awal menjadi ciri dan unsur pokok umat manusia.
Iman dapat diartikan dengan “keyakinan yang mantap akan adanya keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, syari’at serta keputusan-Nya, Maha Pencipta segalanya Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya, tiada Tuhan selain Dia.[11]
          Namun demikian konsep iman yang dibicarakan dalam bacaan pada umumnya mengacu pada masalah berbakti kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Mahmud Syaltut, yang dimaksud dengan keimanan “mengamalkan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya; disebut “taqwa” karena mereka teguh mengikuti sunnah Nabi Saw. disebut muslimin, karena mereke berpegang di atas al-haq (kebenaran), tidak berselisih dalam agama, mereka terkumpul pada para imam al-haq, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama”.[12]
Karena itu mengikuti sunnah Rasulullah Saw. maka mereka disebut dengan ahlul hadits, ahlul autsar, ahlul ‘ittiba’, thaifah al-mansurah (kelompok yang dimenangkan), dan firqah an-najah (golongan yang selamat).[13] Oleh karena itu, mempelajari aqidah akhlak merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin yang hendak beriman kepada secara teguh kepada Allah Swt.
Demikian juga dengan akhlak sebagian dari pelajaran pokok yang diajarkan dalam aqidah akhlak menyangkut masalah-masalah akhlak dan moralitas dengan mengangkat cerita-cerita kesabaran dan ketabahan Nabi Saw dalam menghadapi segala macam cobaan, maka dapatlah diketahui pembinaan akhlak dan moralitas merupakan hal yang sangat diutamakan disetiap masyarakat sejak dahulu sampai sekarang, terutama dalam upaya pembinaan manusia seutuhnya dan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.            
C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Mendidik Anak     
Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan.[14] Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqâmah. Keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali bagi tumbuh kembangnya anak, baik jasmani maupun rohani.
Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk aqidah, mental, spiritual dan kepribadian, serta pola pikir anak. Yang kita tanamkan pada masa-masa tersebut akan terus membekas pada jiwa anak dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya.[15] Adapun bagi seorang pendidik, ia harus menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa kepada kebinasaan dan ketergelinciran, serta mengangkat derajat mereka dari derajat binatang menjadi derajat manusia yang mempunyai semangat untuk mengemban amanat dan tugas agama.
Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu'alaihi Wa Sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik agar selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Dan ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak, yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.


1.     Rumah.
Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah 'Azza Wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.[16]

Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.

2.     Sekolah.
Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.[17]

3.     Media Elektronik dan Cetak.
Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhatihati dan waspada terhadap kedua media ini. Tidak jarang anak-anak akan tumbuh sebagai mana yang ia peroleh dari kedua media ini.


4.     Teman dan Sahabat.
“Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Oleh sebab itu, Alquran dan As-Sunnah sangat menaruh perhatian dalam masalah persahabatan”.[18]
5.     Jalanan.
“Jalanan tempat bermain dan lalu lalang anak-anak terdapat banyak manusia dengan berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan”.[19] Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.
6.     Pembantu dan Tetangga.
“Para pembantu memiliki peran cukup signifikan dalam pendidikan anak, karena pembantu mempunyai waktu yang relatif lama tinggal bersama anak, terutama pada usia balita”.[20] Sedangkan pada fase tersebut, anak sangat sensitif dari berbagai macam pengaruh. Pada masa usia itu merupakan masa awal pembentukan pemikiran dan aqidah, serta emosional. Begitu juga tetangga, mereka bisa membawa pengaruh, karena anak-anak kita kadang harus bermain ke rumahnya.
D.    Mendidik Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam    
       
Islam memandang pendidikan adalah suatu yang penting yang harus diberikan kepada anak sejak dini. Hal ini disebabkan karena pada fase ini anak-anak mudah menerima sesuatu yang baik dan begitu pula dengan hal-hal yang buruk. Pendidikan sejak dini akan menentukan kehidupan di masa yang akan datang. Apabila anak-anak dibiasakan dan diajarkan dengan sifat-sifat yang baik, maka ia akan tumbuh dengan sifat yang baik dan begitu pula sebaliknya, apabila anak dibiasakan tumbuh dengan hal-hal yang dilarang agama, maka ia terbiasa dengan keadaan tersebut.
Menurut Islam, pendidikan anak adalah kegiatan pendidikan yang diberikan kepada anak yang dijalankan sesuai dengan landasan agama Islam yaitu Alquran dan hadits sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka semua pihak hendaknya bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya. Dimanapun anak berada, keberadaan orang dewasa sangat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan, di antaranya pendidik (guru), orang tua dan masyarakat.
Lingkungan keluarga merupakan fondasi awal, dan yang paling kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lingkungan pertama seorang anak melakukan interaksi. Dalam hal ini orang tualah yang berperan utama dalam memberi pendidikan kepada anak, keteladanan orang tua akan menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak. Berkenaan dengan ini Rasulullah Saw. Bersabda sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.  (رواه  البخاري)
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: Tiap-tiap anak yang baru lahir dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari)[21]

Oleh karena itu kedudukan orang tua sangat berperan dalam membentuk pribadi anak, baik dan buruknya seorang anak tergantung dibawah kendali orang tuanya.
Dalam Alquran surat At-Tahrim ayat 6 Allah juga menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: ٦)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. At-Tahrim: 6).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa orang tua memegang tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab tersebut bukan saja dari segi materi, tetapi lebih dari itu adalah pendidikan agama, sebab pemeliharaan diri yang dimaksud dalam ayat di atas adalah masalah pendidikan agama. Pendidikan tersebut haruslah diamati dari keluarga dimana orang tualah yang mempunyai peran penting dalam pembentukan pribadi anak.
Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di sekolah guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Dalam hal ini, Zakiah Daradjat menegaskan “bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang yang pertama sesudah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik.[22]

Apa saja yang dilakukan oieh guru dinilai baik oleh anak dan sebaliknya apa saja yang tidak balk menurut guru juga tidak baik menurut anak. Jadi guru memegang tanggung jawab dan peranan yang amat penting terhadap pendidikan agama anak dalam rangka pembentukan kepribadiannya menjadi seorang muslim yang bertaqwa dan berintelektual.
Sedangkan lingkungan yang ketiga, setelah keluarga dan sekolah adalah masyarakat. Di lingkungan inilah seorang anak lebih banyak menggunakan waktunya dibandingkan di rumah dan di sekolah. Di dalam masyarakat anak mulai belajar dan memahami orang lain. Anak tersebut terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan dan adat yang ada di lingkungan. Adat dan kebiasaan tersebut akan ikut mewarnai sikap dan prilaku anak.
Oleh karena itu, masyarakat juga ikut serta memikul tanggung jawab dan ini merupakan tanggung jawab moral dari setiap individu muslim. Tanggung jawab ini hendaknya dilaksanakan secara sukarela dan dengan penuh kesadaran bahwa pendidikan anak sebagai generasi penerus ada di tangan orang tua dalam kelompok besar yakni masyarakat, karena sudah menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai kecenderungan berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga perlu dibangun masyarakat muslim yang madani, berakhlak dan berintelektual, seperti yang tertera dalam Alquran sebagai berikut:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. (ال عمران: ١١٠)
Artinya: Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
(Qs. Ali Imran: 110).

Ayat di atas menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat terbaik yang diutus Allah. Masyarakat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika lingkungan ini dapat diwujudkan maka akan terbentuk masyarakat yang dijadikan teladan bagi anak dan hal ini merupakan tanggung jawab kita semua.
Dan uraian di atas dapat dipahami, bahwa pendidikan anak menurut konsep Islam adalah pendidikan yang dijalankan atas dasar Alquran dan Hadits untuk mencapai tujuan akhir yaitu generasi yang bertaqwa dan berintelektual.





               [1] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma'arif, 1962), hal. 19.
              
               [2]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), hal. 25.
               [3] Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962), hal. 166.
              
               [4] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 9-10.
              
               [5] Soegarda Poerbacaraka, Pendidikan Dalam Alam Indonesia Merdeka, (Jakarta: Gunung Agung, 1970), hal. 11.
               [6] Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hal. 30-31.
              
               [7] Wasti Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hal. 166.
[8]Ahmad Amin, Etika dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992), hal. 2.

[9]Ibid., hal. 3.

[10]Ibid., hal. 4.

[11]Muhammad Abduh, Risalatut Tauhid, (Beirut: Wasyirkah al-Halabi al-Babi, 1953), hal. 122.
[12]Mahmud Syaltut, Aqidah wa Syari’ah, (Mesir: Dar al-Kutub, t.t.), hal. 65.

[13]Ibid., hal. 66.

               [14] Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 209.
               [15] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Rosdakarya, 1995), hal. 59.
               [16] Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik), Cet. I, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 7.

               [17] Ibid., hal. 8.
               [18] Ibid., hal. 9.

               [19] Ibid., hal. 9.

               [20] Ibid., hal. 10.
[21] Imam Bukhari, Shaheh Bukhari, juz. II, (Cairo: Darul Ma’taban, Asya’biah, t.t), hal. 125.
[22] Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, Cet. II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 18.