Pengertian Strategi Mengajar
BAB II
LANDASAN
TEORITIS
A. Strategi Mengajar
1. Pengertian Strategi Mengajar
“Strategi
adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan dan penggunaan potensi dan
sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi dari suatu sasaran
kegiatan. Secara umum strategi dapat berupa garis-garis haluan untuk bertindak
dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Berkaitan dengan masalah
belajar dan pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum
kegiatan guru-anak didik dalam upaya mengoptimalkan kegiatan belajar untuk
mencapai tujuan yng telah ditetapkan”.[1] Maka
strategi mengajar (teaching strategy) merupakan sebagai sejumlah langkah
yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Strategi merupakan siasat dalam
pembelajaran yang bertujuan mengoptimalkan proses belajar dan pembelajaran.
Contohnya mengaktifkan anak didik agar terlibat bukan hanya fisik tapi juga
mental dan emosionalnya. Guru mengorganisir kegiatan belajar mengajar di kelas
antara lain menmfungsikan metode sebagai
alat strategi, memilih metode yang sesuai sebagai alat pencapaian
tujuan, merangkai berbagai komponen pembelajaran yang dapat memotivasi anak
didik belajar.
Istilah
strategi mula-mula dipakai di kalangan militer dan diartikan sebagai seni dalam
merancang (operasi)penyerangan, terutama yang erat kaitannya dengan gerakan
pasukan dan navigasi ke dalam posisi kemenangan. Penerapan strategi tersebut
didahului oleh analisis kekuatan musuh yang meliputi jumlah personal, kekuatan
persenjataan, kondisi lapangan, posisi musuh dan sebagainya. Dalam
perwujudannya strategi itu dikembangkan dan dijabarkan lebih lanjut menjadi
tindakan-tindakan nyata dalam medan
pertempuran.
Dewasa ini istilah strategi banyak dipinjam oleh
bidang-bidang ilmu lain, termasuk bidang ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya
dengan belajar-mengajar, pemakaian istilah strategi dimaksudkan sebagai daya
upaya guru dalam menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan
terjadinya proses belajar. Maksudnya agar tujuan pengajaran yang telah
dirumuskan dapat tercapai secara berdaya guna, guru dituntut untuk memiliki
kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pengajaran sedemikian rupa
sehingga terjalin keterkaitan fungsi antar komponen pengajaran tersebut. Dengan
rumusan lain, dapat juga dikemukakan bahwa strategi berarti pilihan pola
kegiatan belajar-mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif.
Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukan wawasan yang
mantap tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajar yang sesuai dengan
tujuan belajar yang telah dirumuskan.
Allah
SWT berfirman:
وماكان المؤ منون لينفروا كافلولا نفرمن
كل فرقة منهم طا افة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم اذارجعوااليهم لعلهم
يحذرون.
Artinya: Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga diri mereka. (QS. At-Taubah:122)
Ayat diatas
adalah dorongan bagi manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan, termasuklah
didalamnya untuk mempelajari strategi belajar mengajar. Tidak semua pendidik
(guru) mengerti akan masalah strategi belajar mengajar jika tidak mempelajari
secara khusus ilmu tersebut. Padahal penguasaan pengetahuan tentang strategi
belajar mengajar menjadi salah satu komponen kompetensi yang dibutuhkan oleh
guru. Paradigma lama yang mengatakan bahwa guru memberi dan murid hanya
menerima haruslah diubah. Seorang pendidik harus mampu mengaktifkan kemampuan
siswa. Dengan kata lain, seorang guru harus mampu membangkitkan kemampuan
terpendam yang dimiliki oleh anak didik. Disinilah strategi belajar mengajar dibutuhkan.
Manfaat dari penggunaan strategi belajar mengajar dalam
proses pembelajaran adalah:
1.
Memusatkan
perhatian
Banyak faktor yang mempengaruhi
perhatian siswa. Dalam permulaan pelajaran, guru dapat membuat kontak mata atau
berbuat sesuatu yang mengejutkan siswa dengan maksud untuk menarik perhatian
siswa. Seorang guru ilmu pengetahuan alam atau guru fisika dapat meniup balon
sebelum pelajaran dimulai. Warna yang mencolok, penempatan kata yang tidak
biasa, menggaris bawah, perubahan dalam nada suara, sinar, kejadian-kejadian
yang tidak diharapkan, semua dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa.
Seorang guru mungkin dalam memperkenalkan pelajaran menggunakan pertanyaan yang
membangkitkan minat, seperti “Apakah kamu ingin tahu apa yang menyebabkan petir?”
Terakhir guru mungkin dapat membuat stimulasi non verbal dengan gerakan tubuh,
mendemonstrasikan, dan menggambar. Siswa akan belajar lebih banyak karena guru
dalam menyampaikan pelajaran sangat menarik dan mengasyikkan.
Berikut ini ada beberapa saran untuk
menarik perhatian siswa sebagaimana yang di ungkapkan oleh Skinner:
- Katakan kepada siswa tujuan mata pelajaran yang Anda berikan.
- Tunjukkan bagaimana belajar mata pelajaran yang nantinya berguna bagi
siswa.
- Tanyakan pada siswa mengapa mereka berpikir bahwa mata pelajaran ini
penting bagi mereka.
- Bangkitkan keingintahuan mereka dengan pertanyaan, seperti : “Apa yang
akan terjadi jika?”
- Ciptakan suatu kejutan dengan mempertunjukkn suatu kejadian yang tidak
diharapkan, seperti argumentasi yang keras sebelum komunikasi pelajaran.
- Mengubah lingkungan fisik dengan mengatur kelas dan menciptakan
situasi yang berbeda.
- Pindahkan kesan siswa dengan memberikan suatu pelajaran yang membuat
siswa dapat menyentuh, mencium, atau merasakan.
- Gunakan gerakan, sikap tubuh, dan perubahan nada suara dengan berjalan
di antara siswa-siswa, berbicara pelan, dan kemudian lebih tegas.
- Hindari tingkah laku yang mengacau seperti mengetuk-ngetuk meja dengan
pensil.[2]
Suatu peringatan tentang penggunaan
perubahan stimulus untuk menangkap perhatian siswa yang telah disarankan oleh
Skinner. Kejadian-kejadian yang mengherankan, gambar-gambar atau
gerakan-gerakan dalam suatu pelajaran akan menimbulkan respons insting terhadap
sesuatu yang baru. Skinner berpendapat, teknik-teknik demikian mungkin akan
membuat siswa kurang berminat dalam pelajaran yang kurang dikenal dan aneh.
Oleh karena itu, sebaiknya kita hati-hati dalam memberikan sesuatu yang baru
kepada siswa-siswa kita. Agar siswa belajar, siswa harus menaruh perhatian,
khususnya terhadap mata pelajaran yang kurang menarik.
2.
Mengidentifikasi
apa yang penting, sulit, dan tidak biasa
Siswa
sering memperhatikan dan belajar keras, tetapi mereka memusatkan pada metode
yang salah. Mereka mungkin menghabiskan waktu belajar mereka dengan hal-hal
yang tidak penting dan kehilangan pokok-pokok yang penting. Mereka mungkin
berkonsentrasi pada materi yang telah mereka ketahui dan menghindari
mengerjakan tugas-tugas yang sulit atau kurang dikenal. Beberapa siswa ada yang
lebih baik dari yang lain dalam mempertimbangkan pelajaran mana yang penting
setelah mereka betul-betul mengerti ide yang disampaikan guru.
3.
Belajar
dapat dipertinggi jika guru membantu siswa merasa betapa pentingnya informasi
baru
Satu strategi untuk melakukan ini
adalah membuat tujuan pelajaran sejelas mungkin. Jika siswa-siswa tahu apa yang
diharapkan dari mereka untuk melakukan sesuatu dengan informasi, mereka akan
lebih dapat memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting.
Dalam pelajaran mengarang atau
membuat grafik, hal-hal yang penting dapat ditandai dengan membuat huruf italic, diberi garis bawah, atau
simbol-simbol seperti bintang. Dalam penyampaian pelajaran lisan, guru dapat
memperjelas perbedaan dan persamaan ide-ide yang disampaikan dan memberikan
contoh yang berbeda dari konsep-konsep yang diajarkan. Jika suatu ide baru
membuat siswa bingung, guru harus memberi contoh dengan memperjelas perbedaan
yang ada. Bagian pelajaran yang sulit harus diberi ekstraperhatian.
4.
Membantu
siswa mengingat kembali informasi yang telah dipelajari sebelumnya
Ahli-ahli teori kognitif berpendapat
bahwa belajar adalah suatu integrasi atau gabungan antara informasi baru dan
struktur kognitif yang ada. Sebelum integrasi dibuat, siswa harus dapat
mengingat kembali informasi yang telah mereka ketahui. Belajar sebelumnya
mungkin dalam bentuk konsep, definisi, dan hukum-hukum. Ketika siswa harus
menguasai informasi baru, konsep, definisi, dan hukum-hukum ini sudah harus
dikuasai. Strategi untuk membantu siswa mengingat kembali pelajaran yang sudah
diberikan dapat berupa meninjau kembali secara singkat pelajaran yang sudah
diberikan atau mendiskusikan kata-kata kunci dalam pelajaran kosakata.[3]
5.
Membantu
siswa memahami dan menggabungkan informasi
Mungkin satu-satunya metode terbaik
untuk membantu siswa memahami pelajaran dan mengombinasikan informasi yang
telah ada dengan informasi baru adalah membuat setiap pelajaran sedapat mungkin
bermakna (meaningfull). Pelajaran
yang berarti itu sendiri artinya bukan suatu perubahan, dan pelajaran itu
selalu berhubungan dengan informasi atau konsep siswa yang telah ada. Pelajaran
yang berarti disampaikan dalam perbendaharaan kata yang dapat dimengerti oleh
siswa. Istilah baru dijelaskan melalui penggunaan kata dan ide-ide yang sudah
dikenal. Pelajaran yang berarti umumnya terorganisasi dengan baik dan dengan
jelas menghubungkan di antara unsur-unsur pelajaran yang berbeda. Akhirnya,
pelajaran yang bermakna membuat wajar penggunaan informasi-informasi yang sudah
ada untuk membantu siswa mengerti informasi baru dengan memberikan contoh atau
analogi.[4]
Mulai
dengan menutup semua baris kalimat kecuali baris pertama. Lihat untuk beberapa
detik, tutup buku, dan tulislah semua huruf yang kita ingat. Kemudian ulang
prosedur ini dengan baris kedua dan ketiga. Setiap baris jumlah huruf sama,
tetapi kemungkinan yang paling besar yang kita ingat dari semua baris adalah
baris ketiga.
Baris pertama tidak masuk akal,
tidak ada cara untuk mengorganisasi atau mengatur kata itu dalam waktu yang
singkat. Baris kedua lebih bermakna atau berarti. Kita tidak harus melihat
setiap huruf, karena kita sudah tahu sebelumnya aturan-aturan ejaan dan
perbendaharaan kata. Baris ketiga adalah yang paling berarti. Dengan melihat
sepintas kita mungkin dapat mengingat semua kata, karena kita telah tahu sebelumnya,
tidak hanya ejaan kata dan perbendaharaan kata, tetapi juga tahu aturan-aturan
sintaksis dan mungkin juga tahu sedikit tentang sejarah mengenai raja-raja.
Kalimat ketiga ini berarti karena kita mempunyai schemata. Schemata adalah prosedur untuk mengorganisasi bagian
pengalaman tertentu ke dalam suatu sistem yang berarti untuk memahami kalimat
itu. Kalimat terakhir ini secara mudah dapat di mengerti karena kata-kata
dengan informasi lain telah ada dalam ingatan jangka panjang.[5]
Tantangan guru adalah membuat materi pelajaran seperti baris ketiga, bukan
seperti baris pertama, Allah SWT berfirman:
قتعلى لله الملك الحق ولاتعجل بالقران من
قبل ان يقض اليك وقل رب زدني علما.
Artinya: Maka Maha
Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa
membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. (QS. Thaha:114)
2. Jenis-jenis Strategi Mengajar
Jenis-jenis
strategi mengajar dalam dunia pendidikan sangatlah banyak, dalam penelitian ini
penulis akan membatasi jumlahnya dengan anggapan jenis strategi mengajar yang
dipilih merupakan strategi yang sering dipakai dalam pembelajaran disekolah
saat ini.
a. Strategi mengajar dengan berdiskusi
Strategi
mengajar dengan berdiskusi adalah salah satu strategi belajar mengajar yang
dilakukan oleh seorang guru di sekolah. di dalam diskusi ini proses interaksi
antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman,
informasi, memecahkan masalah, dapat
terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pemdengar saja.
Mengajar
dengan strategi berdiskusi dapat diterapkan dengan cara:
a. Kelas dibagi
dalam beberapa kelompok.
b. Dapat
mempertinggi partisipasi siswa secara individual.
c. Dapat
memperrtinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan dan kesatuan.
d. Rasa sosial
mereka dapat dikembalikan, karena bisa saling membantu dalam memecahkan soal,
mendorong rasa kesatuan.
e. Memberi
kemungkinan untuk saling mengumukakan pendapat.
f. Merupakan
pendekatan yang demokratis.
g. Memperluas
pandangan.
h. Menghayati
kepemimpinan bersama-sama.
i. Membantu
mengembangkan kepemimpinan.[6]
Namun demikian
strategi mengajar berdiskusi juga ada kelemahannya seperti:
1. Kadang-kadang
bisa terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang pecah;
bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang
panjang. Untuk mengatasi hal ini intruktur harus menguasai benar-benar
permasalahannya, dan mampu mengarahkan pembiacaraan, seghingga bisa membatasi
waktu yang diperlukan.
2. Dalam
diskusi menghendaki pembuktian logis, yang tidak terlepas dari fakta-fakta; dan
tidak merupakan yang hanya dugaan atau coba-coba saja. Maka pada siswa dituntut
kemampuan berfikir ilmiah, hal mana itu tergantung kepada kematangan,
pengalaman dan pengetahuan siswa.
3. Tidak dapat
dipakai pada kelompok yang besar.
4. Peserta
mendapat informasi yang terbatas.
5. Mungkin
dikuasai orang-orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.[7]
Dengan
demikian berarti bahwa metode belajar dengan berdiskusi mempunyai
kelebihan-kelebihan dan juga sekaligus memiliki kelemahan yang harus diperhatikan
oleh seorang pendidik, dan jika kelemahan dari strategi mengajar dengan
berdiskusi ini tidak diperhatikan maka kelebihan-kelebihan dari metode ini yang
ingin dicapai niscaya hanya menjadi angan-angan belaka.
Tujuan penggunaan strategi mengajar berdiskusi:
Pertama,
dengan diskusi siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk
memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Mungkin
ada perbedaan segi pandangan, sehingga memberi jawaban yang berbeda. Hal itu
tidak menjadi soal; asal pendapat itu logis dan mengdekati kebenaran. Jadi
siswa dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri.
Kedua,
Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, karena hal itu perlu untuk
melatih kehidupan yang demokratis. Dengan demikian siswa melatih diri untuk
menyatakan pendapatnya sendiri secara lisan tentang sesuatu masalah bersama.
Ketiga,
Diskusi memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam
pembicaraan untuk memecahkan sesuatu masalah bersama.
Diskusi baik dilaksanakan bila
mempermasalahkan :
-
Hal-hal yang menarik minat dan perhatian
siswa/urgen. Siswa akam memiliki motivasi yang jkuat dalam memecahkan soal,
kalau mereka berminat dan menaruh perhatian terhadap masalah itu.
-
Masalah itu harus mengandung banyak kemungkinan
jawaban, dan masing-masing jawaban dapat dijamin kebenarannya.
-
Harus merangsang pertimbangan, kemampuan berpikir
logis dan usaha memperbandingkan.[8]
b. Strategi
Mengajar Kerja Kelompok
Teknik ini sebagai salah satu
strategi belajar mengajar, ialah suatu cara mengajar, di mana siswa di dalam
kelas diapandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 5 (lima) atau 7 (tujuh) siswa, mereka bekerja
bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan
berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan pula oleh guru.
Robert L. Cilstrap dan Willian
Responden Martin memberikan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan
sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil yang diorganisir untuk
kepentingan belajar.[9]
Keberhasilah kerja kelompok ini menuntut kegiatan yang kooperatif dari beberapa
individu tersebut.
Pemilihan strategi mengajar dengan
menggunakan kerja kelompok biasanya dipilih dengan beberapa alasan:[10]
1.
Adanya alat pelajaran yang tidak
mencukupi jumlahnya.
Agar penggunaannya dapat lebih efisien dan efektif, maka
siswa perlu dijadikan kelompok-kelompok kecil. Karena bila seluruh siswa
sekaligus menggunakan alat-alat itu tidak mungkin. Dengan pembagian kelompok
mereka dapat memanfaatkan alat-alat yang terbatas itu sebaik mungkin, tanpa
saling menunggu giliran.
2.
Kemampuan belajar siswa
Di dalam satu kelas kemampuan belajar siswa tidak sama.
Siswa yang pandai di dalam bahasa inggris, belum tentu sama pandainya dalam
pelajaran sejarah. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu
dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masing-masing, agar setiap siswa
dapat belajar sesuai dengan kemampuannya.
3.
Minat khusus
Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu
dikembangkan, hal mana yang satu pasti berbeda dengan yang lain. Tetapi tidak
menutup kemungkinan ada anak yang minat khususnya sama, sehingga memungkinkan
dibentuknya ke kelompok, agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama
minat khusus tersebut.
4.
Memperbesar partisipasi siswa
Di sekolah pada tiap kelas biasanya jumlah siswa terlalu
besar, dan kita tahu bahwa jumlah jam pelajaran yang sedang berlangsung sukar
sekali untuk guru akan mengikutsertakan setiap murid dalam kegiatan itu. Bila
itu terjadi siswa yang ditunjuk guru akan aktif, yang tidak disuruh akan tetap
pasif saja. Karena itulah bila berkelompok, dan diberikan tugas yang sama pada
masing-masing kelompok, maka banyak kemungkinan setiap siswa ikut serta
melaksanakan dan memecahkannya.
5.
Pembagian tugas atau pekerjaan
Di dalam kelas bila guru menghadapi suatu masalah yang
meliputi berbagai persoalan, maka perlu tugas membahas masing-masing persoalan
pada kelompok, sesuai dengan jumlah persoalan yang akan dibahas. Dengan
demikian masing-masing kelompok harus membahas tugas yang diberikan itu.
c. Active
Learning
Secara
umum pembelajaran aktif ini meminimalisir peran guru didalam kelas. Guru lebih
memposisikan dirinya sebagai fasilitator pembelajaran yang mengatur sirkulasi
dan jalannya proses pembelajaran dengan terlebih dahulu menyampaikan tujuan dan
kompetensi yang ingin dicapai dalam suatu proses pembelajaran. Siswalah yang
banyak berperan dalam proses pembelajaran tersebut dan guru lebih banyak
memberikan arahan dan bimbingan saja.
Pembelajaran
aktif merupakan salah satu tuntutan dalam model pembelajaran. Filosofis dalam
pembelajaran aktif ini adalah terbentuknya proses pembelajaran yang meaningfull
learning, yang mengajak siswa berpikir dan memahami materi pelajaran, bukan
sekedar mendengar, menerima dan mengingat-ingat. Setiap unsur materi pelajaran
harus diolah dan interpretasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal.
Pembelajaran
aktif atau belajar aktif adalah belajar yang memperbanyak aktifitas siswa dalam
mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber, buku teks, perpustakaan,
internet atau sumber-sumber lain untuk mereka bahas dalam proses pembelajaran
dalam kelas sehingga memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah
kompetensi pengetahuan mereka, tetapi juga kemampuan analitis, sintetis dan
menilai informasi yang relevan untuk dijadikan nilai baru dalam hidupnya
sehingga mereka terima dijadikan bagian dari nilai yang diadopsi dalam
kehidupannya.[11]
Dalam
konteks pembelajaran aktif ini guru harus mampu menjelaskan apa yang harus
dilakukan oleh siswa, apa tujuan dari tugas yang diberikan, lalu bagaimana
harus mengolah informasi, membahasnya didalam kelas sampai siswa bisa mempunyai
kesimpulan yang sudah dibahas dalam kelompoknya masing-masing.
B. Gaya Belajar
1. Pengertian Gaya Belajar
Pada
dasarnya para orang tua dan para guru menyadari, cara belajar anak berbeda satu
dan lainnya dan kegiatan tertentu bisa jadi menarik buat satu anak, tetapi
belum tentu menarik buat anak yang lain. Berdasar pemikirin "kuno"
mengenai pengajaran, dikatakan bahwa ada cara tertentu untuk mempelajari
keterampilan khusus. Sebagai orang tua, kita seringkali frustrasi menghadapi
anak-anak kita yang tidak mengerti apa yang kita ajarkan. Bila kita bisa
mengerti intelegensia dan cara belajar anak, kita dapat mengetahui cara terbaik
bagi si anak
untuk belajar
dengan baik.
Untuk
mengerti cara belajar anak kita, perhatikan mereka pada waktu mereka bermain.
Mainan apa yang disukainya? Mungkin saja mainan yang menarik buat anak Anda
ternyata mainan yang umum. Tapi bisa juga mereka menyukai benda-benda dengan
warna yang ceria, sesuatu yang unik, atau benda-benda mengeluarkan suara.
Perhatikan pula cara dia bermain. Apakah dia cenderung memperhatikan mainan
tersebut dengan cermat atau memegang dan merasakan mainan tersebut di tangan
mereka? Bisa jadi dia tidak begitu tertarik
dengan mainan yang berputar dan
bergerak.
Gaya
belajar adalah model yang dimiliki oleh seorang anak dalam mempelajari sesuatu.[12]
Sementara itu itu Prof. Dwi Suwarni
mengatakan gaya belajar adalah pola-pola anak dalam mempelajari sesuatu menurut
kehendak yang disukainya .[13]
Setiap
anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Biasanya gaya-gaya tersebut
biasanya bawaan lahir atau diturunkan oleh orangtuanya. Bayi yang baru lahir
dipenuhi dengan penglihatan, suara, dan kepekaan. Pendengaran, penglihatan,
serta rangsangan sentuhan diterima dengan penerimaan yang sangat peka oleh
telinga, mata, dan kulit bayi.
2. Macam-macam Gaya Belajar
Dalam
ilmu tumbuh kembang anak bisa diambil kesimpulan bahwa seorang anak menunjukkan
suatu pola ketika dia belajar sesuatu. Diantara pola - pola atau bisa disebut
gaya belajar akan kami uraikan di bawah ini. Untuk itu mempelajari kebiasaan
anak, sehingga bisa tahu bakat-bakatnya yang dimilikinya sehingga ke depannya
kita bisa mengarahkan sehingga bisa berkembang secara optimal.
Gaya belajar kecerdasan linguistik
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan linguistik antara lain:
1. Mengarang
puisi, merangkum pelajaran, menulis kisah sejarah.
2. Suka
bercerita panjang lebar dan berkisah.
3. Menyukai
permainan kata-kata.
4. Suka membaca
buku.
5. Banyak
bicara.
6. Cepat menangkap pelajaran yang disampaikan lewat penuturan.[14]
Gaya belajar
linguistik merupakan gaya belajar yang cenderung kepada penguasaan bahasa, baik
melalui tulisan ataupun melalui lisan. Anak yang mempunyai gaya belajar
linguistik lewat tulisan kebiasaannya menyukai pembahasan pelajaran dengan
menulis. Ada juga anak yang menyukai penguraian dengan penggunaan bahasa
melalui lisan, lazimnya anak seperti ini menyenangi pelajaran melalui
penjelasan-penjelasan atau penuturan kata-kata.
Gaya
belajar kecerdasan matematis logis
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan matematis logis antara lain:
1. Menyukai
pelajaran berhitung.
2. Mudah
memahami cara kerja computer.
3. Suka
memikirkan hal dan kejadian yang berkaitan sebab akibat.
4. Pandai
bermain catur, halma dan berbagai permainan strategis lain.
5. Menjabarkan
segala sesuatu secara logis.
6. Cepat
memahami pelajaran IPA dan matematika.
7.
Suka bereksperimen terhadap apa
yang ingin diketahui.[15]
Anak
yang mempunyai gaya belajar kecerdasan matematis logis lebih menyukai pelajaran
eksakta atau ilmu yang bersifat pasti. Anak seperti ini sifatnya suka
menduga-duga akibat yang ditimbulkan dari sesuatu hal. Kelebihan lainnya anak
yang mempunyai gaya ini sangat suka menggunakan otaknya untuk berpikir.
Gaya
belajar kecerdasan spasial
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan spesial antara lain:
- Menonjol dalam bidang seni.
- Mampu menggambarkan secara
visual segala sesuatu.
- Mudah membaca peta, grafik
dan diagram.
- Menggambar sosok orang atau
benda sesuai aslinya.
- Senang melihat film, slide
atau foto.
- Menyukai teka teki jigzaw,
maze dan puzzle.
- Asyik dengan permainan
konstruksi 3 dimensi seperti lego.
- Terbiasa mencoret-coret
kertas jika jenuh.
- Lebih mudah membaca gambar
daripada kata.[16]
Anak yang memiliki gaya belajar spasial
memiliki rasa kepekaan yang tinggi dan kuat jika belajar dengan menggunakan
gambar-gambar. Jenis belajar ini juga menyenangi belajar dan mempelajari
tentang sesuatu yang berwarna.
Gaya
belajar kecerdasan kinestetis-jasmani
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan kinestetis jasmani antara lain:
- Kompetitif dalam bidang
olahraga.
- Suka menggerak-gerakkan
anggota badan di luar sadar.
- Sangat ingin menyentuh benda
yang sedang dipelajari.
- Menikmati gerakan atletik
atau sekedar menontonnya.
- Lebih mampu dalam bidang
kerajinan tangan motorik halus.
- Suka menirukan gerakan dan
kebiasaan orang.
- Gemar membongkar dan
menyusun kembali benda-benda.[17]
Gaya belajar kinestetis jasmani
dipergunakan bagi anak yang senang mengekspresikan tubuhnya dalam mengungkapkan
gagasan-gagasan yang dimilikinya. Tipe belajar ini bila dimiliki oleh
anak-anak, maka si anak tersebut akan selalu bergerak untuk mengiringi
kata-katanya.
Gaya
belajar kecerdasan musikal
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan musikal antara lain:
- Mudah mengikuti melodi lagu.
- Menyukai pelajaran musik dan
menyanyi.
- Menyukai belajar dengan
iringan musik.
- Suka menyanyi baik untuk
diperdengarkan atau tidak.
- Mudah mengikuti irama musik.
- Peka terhadap beragam suara,
irama dan nada.
- Cepat merespon berbagai
jenis musik.[18]
Anak yang memiliki kecerdasan
musikal biasanya dalam berpikir akan berusaha dengan mendengarkan musik atau
malah mungkin sambil menyanyikan lagu tertentu. Adalalanya anak jenis ini
sambil berusaha mengingat dalam mulut atau hatinya juga sambil mengingat musik
yang disukainya.
Gaya
belajar kecerdasan intrapersonal
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan intrapersonal antara lain:
- Pandai menyenangkan hati
teman.
- Mudah beradaptasi dengan
lingkungan dan orang baru.
- Suka bersosialisasi dengan
lingkungan sekolah dan rumahnya.
- Menyukai kegiatan dan
permainan kelompok.
- Bisa memahami dan berempati
pada perasaan teman.
- Mampu bersikap netral di
tengah pertikaian antar teman.
- Memiliki kemampuan
mengkoordinir dan memimpin teman-temannya.[19]
Anak yang menguasai gaya belajar
intrapersonal biasanya belajar dengan bergabung dengan teman-temannya.
Anak-anak seperti ini akan lebih mudah menguasai materi pelajaran dengan
belajar kelompok ataupun dengan berdiskusi bersama teman-temannya.
Gaya
belajar kecerdasan natural
Bentuk-bentuk
gaya belajar kecerdasan natural antara lain:
- Peka terhadap benda-benda
alam.
- Suka memelihara binatang
piaraan.
- Suka berkebun, berada di
dekat kebun atau menikmati gambarnya.
- Menikmati sistem kehidupan
seperti akuarium.
- Mengoleksi gambar, foto yang
berkaitan dengan benda-benda alam.
- Suka mengumpulkan dan
membawa pulang daun, batang, ranting, rumput atau bunga.
- Suka bermain-main dan
berkreasi dengan bahan-bahan alam.[20]
Setiap orang pasti
mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda. Banyak gaya yang bisa
dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut ini penulis menjelaskan tujuh
gaya belajar yang mungkin beberapa diantaranya bisa di terapkan pada anak didik
kita :
1. Belajar dengan kata-kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang
teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta
menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita
mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar
kemudian menyebutkannya.
2. Belajar dengan pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan
bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya,
kita memancing keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul
jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau
kesimpulan.
3. Belajar dengan gambar.
Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan
membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang
memiliki kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar
atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.
4. Belajar dengan musik.
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah
satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang
suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau melodi
musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan
informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau
notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan
itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimana lagu itu dibuat,
siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul.
Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik,
tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu
tertentu.
5. Belajar dengan bergerak.
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan
menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar
yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi
dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk
kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam
aktivitas menyenangkan seperti menari atau berolahraga.
6. Belajar dengan bersosialisasi.
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah
cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul,
kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah
memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih
lama terekam dalam ingatan.
7. Belajar dengan Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala
sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini,
biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda
termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu
Anda bisa belajar secara mandiri.
Menurut Ike Sugianto, Psi, ada 3 tipe gaya belajar
yang biasa dijumpai pada anak-anak:[21]
1. Visual Learner
Gaya belajar visual
(visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti
konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. Ciri-ciri anak
yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat
dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya.
Konkretnya, yang
bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain
itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai
pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki
kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara,
sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah
menginterpretasikan kata atau ucapan.
Untuk mendukung gaya
belajar ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. Caranya, gunakan
beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat
grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu
gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara
berurutan. Ike sendiri pernah memiliki klien yang setiap kali rela mengubah
materi pelajaran menjadi sebuah komik menarik agar anaknya bisa menangkap isi
pelajaran tersebut.
Ciri-ciri anak yang
mempunyai gaya belajar visual learner adalah:
· Mampu mengingat dengan baik
materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
· Mengenal banyak sekali lagu
atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
· Cenderung banyak omong.
· Tak suka membaca dan umumnya
memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa
yang baru saja dibacanya.
· Kurang cakap dalam
mengerjakan tugas mengarang/menulis.
· Kurang tertarik memperhatikan
hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan
pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.
2. Auditory Learner
Gaya belajar ini
mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya.
Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai
alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa
mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah
mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah
menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki
kesulitan menulis ataupun membaca.
Untuk membantu anak-anak
seperti ini, orang tua bisa membekali anaknya dengan tape untuk merekam semua
materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam
diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa
diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam
bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah
terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.
Ciri-ciri anak yang
mempunyai tipe gaya belajar auditory learner adalah:
· Senantiasa berusaha melihat
bibir guru yang sedang mengajar.
· Saat mendapat petunjuk untuk
melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian
dia sendiri yang bertindak.
· Cenderung menggunakan gerakan
tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan
sesuatu.
· Tak suka bicara di depan
kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
· Biasanya kurang mampu
mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
· Lebih suka peragaan daripada
penjelasan lisan.
· Biasanya dapat duduk tenang
di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.
3. Kinesthetic/Tactile Learner
Gaya belajar ini
mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan
informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa
karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Karakter pertama adalah
menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus
mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya
belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Karakter berikutnya
dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan
penyampaian pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini
merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.
Kelebihannya, mereka
memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan
mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung
memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara
menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami
fakta.
Nah, mereka yang memiliki
karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman
dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar
yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah
secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu
belajarnya.
Hanya saja dalam
kenyataannya, pengelompokan ketiga gaya belajar ini tidaklah sederhana.
Terbukti, pada beberapa anak ditemukan kombinasi antara satu gaya belajar
dengan gaya belajar lainnya. Contohnya adalah anak-anak yang gemar membuat
gambar/ilustrasi selagi belajar, tapi juga sibuk merekam pelajaran gurunya.
Kendati begitu, “Pasti ada gaya belajar yang dominan dan subdominan. Untuk
mengetahui mana yang dominan dan mana yang subdominan, harus dilakukan
observasi menyeluruh.”
Ciri-ciri anak didik yang
mempunyai tipe gaya belajar ini adalah:
· Gemar menyentuh segala
sesuatu yang dijumpainya.
· Amat sulit untuk berdiam
diri/duduk manis.
· Suka mengerjakan segala
sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.
· Memiliki koordinasi tubuh
yang baik.
· Suka menggunakan objek nyata
sebagai alat bantu belajar.
· Mempelajari hal-hal yang abstrak
(simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan
gaya belajar ini.
· Cenderung terlihat “agak
tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak
cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim
diterapkan di sekolah-sekolah.
C. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Mehren
dan Lelman berpendapat pengertian hasil
adalah sasaran yang dicapai dari suatu proses dalam merencanakan, memperoleh
dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat
alternatif-alternatif keputusan.[22]
Dalam
hubungannya dengan kegiatan belajar/ pengajaran, Wrightstone mengemukakan hasil
belajar adalah pencapaian dari suatu penaksiran terhadap pertumbuhan dan
kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan.[23]
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
a. Faktor dari Luar
- Faktor Environmental input (Lingkungan)
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil
belajar, lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/alam dan lingkungan
sosial, lingkungan fisik/alami termasuk di dalamnya adalah seperti keadaan
suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya. Belajar pada keadaan udara
yang segar, akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang
panas dan pengap. Di Indonesia misalnya, orang cenderung berpendapat bahwa
belajar pada pagi hari lebih baik hasilnya daripada belajar pada siang hari.[24]
Lingkungan sosial baik yang berwujud manusia maupun
hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang
yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan membutuhkan konsetrasi
tinggi, akan terganggu, bila ada orang lain yang mondar mandir didekatnya,
keluar masuk kamarnya, atau bercakap-cakap yang cukup keras di dekatnya.
Representasi manusia seperti, potret, rekaman, tulisan, dan sebagainya juga
berpengaruh. Dalam banyak hal, pengaruhnya bersifat negatif (meskipun ada juga
orang yang dapat belajar jika mendengarkan suara rekaman, radio, dan
sebagainya) tetapi itu relatif sedikit.
Lingkungan sosial yang lain, seperti suatu mesin pabrik,
hiruk pikuk lalulintas, gemuruhnya pasar, dan sebagainya juga berpengaruh
terhadap proses dan hasil belajar. Karena itulah disarankan agar lingkungan sekolah
didirikan di tempat yang jauh dari keramaian pabrik, lalu-lintas dan pasar.
Lingkungan sosial yang jorok pun dapat mengganggu belajar, misalnya dekat
dengan lakasi WTS.
- Faktor-faktor Intrumental
Faktor-faktor
instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancangkan
sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana
untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah dirancangkan.[25]
Faktor-faktor
instrumental ini dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware) seperti:
1.
Gedung perlengkapan belajar
2.
Alat-alat praktikum
3.
Perpustakaan dan sebagainya.[26]
Maupun
faktor-faktor lunak (software) seperti:
1.
Kurikulum
2.
Bahan/program yang harus
dipelajari
3.
Pedoman-pedoman belajar dan
sebagainya.[27]
Ketersediaan
sarana-sarana yang bersifat instrumental sangat menentukan dalam proses pembelajaran.
Tanpa adanya faktor-faktor instrumental ini niscaya tujuan-tujuan belajar,
mulai dari tujuan pribadi hingga tujuan nasional tidak akan tercapai.
- Faktor dari dalam
Faktor
dari dalam kondisi individu atau anak yang belajar itu sendiri, faktor individu
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a.
Kondisi fisiologis anak
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang
prima tidak dalam keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, seperti
kakinya atau tangannya (karena ini akan mengganggu kondisi fisiologis), dan
sebagainya akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar. Anak yang
kekurangan gizi misalnya, ternyata kemampuan belajarnya berada di bawah
anak-anak yang tidak kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi
biasanya cenderung lekas lelah, capai, mudah mengantuk dan akhirnya tidak mudah
dalam menerima pelajaran. Disamping kondisi yang umum tersebut, yang tidak
kalah pentingnya dalam pengaruh proses dan hasil belajar adalah kondisi
pancaindera, terutama indera penglihatan dan pendengaran. Sebagian besar orang
melakukan aktivitas belajar dengan mempergunakan indera penglihatan dan
pendengaran. Membaca melihat contoh atau model, melakukan abservasi, mengamati
hasil-hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan ceramah, mendengarkan
keterangan orang lain dalam diskusi, hampir tidak dapat lepas dari indera
penglihatan dan pendengaran.
b.
Kondisi psikologis
1.
Minat
Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu,
ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal
tersebut. Sebaliknya kalau seseorang mempelajari sesuatu dengan minat, maka
hasil yang diharapkan akan lebih baik, jika setiap pendidik menyadari hal ini,
maka persoalan yang timbul adalah bagaimana mengusahakan agar hal yang
disajikan sebagai pengalaman belajar itu dapat menarik minat para pelajar atau
bagaimana caranya menentukan agar para pelajar mempelajari hal-hal yang menarik
minat mereka.
2.
Kecerdasan
Telah menjadi pengertian yang ralatif umum bahwa
kecerdasan memegang peranan besar dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang
mempelajari sesuatu ataumengikuti sesuatu program pendidikan. Oarang yang lebih
cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar dari pada orang kurang cerdas.
Kecerdasan seseorang biasanya dapat diukur dengan menggunakan alat tertentu.
Hasil dari pengukuran kecerdasan biasanya dinyatakan dengan angka yang
menunjukkan perbandingan kecerdasan yang terkenal dengan sebutan Intelligence
Quotient (IQ)
3.
Bakat
Di samping inteligensi, bakat merupakan faktor yang besar
pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang, hampir tidak ada orang
yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat akan
memperbesar kemungkinanberhasilnya usaha itu. Anak yang memiliki bakat yang
tiggi, disebut anak berbakat.
Secara defenitif, anak berbakat adalah mereka yang oleh
orang-orang yang berkualifikasi profesional di indetifikasikan sebagai anak
yang mampu mencapai prestasi yang tinggi.[28]
Anak tersebut adalah anak yang membutuhkan program pendidikan berferensiasi dan
pelayanan di luar jangkauan program sekolah bisa, untuk mereliasasikan
sumbangannya terhadap masyarakat maupun terhadap dirinya. Mereka ini oleh
Getzels ditandai dengan ciri-ciri antara lain adanya dorongan ingin tahu, juga
oleh renpon yang memadai kecerdasan dan ingatan kuat terutama oleh:
· Kemampuan
untuk bekerja secara independent
· Kemampuan
untuk berkosentrasi dalam jangka waktu yang lama
· Seleksi
jawaban yang sukar dalam menghadapi masalah
· Kemampuan
mengkaji masalah secara kritis bukan untuk menentang, tetapi untuk memahami
· Kemampuan
untuk mengadakan generasisasi
· Pengembangan
sensitivitas tentang baik dan jahat
· Sensitivitas
terhadap orang lain
· Memiliki
cita-cita tinggi (great ideas).[29]
4.
Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu.[30]
Jadi, motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian bahwa hasil belajar pada umumnya
meningkat jika motivasi belajar bertambah. Oleh karena itu meningkatkan
motivasi belajar anak didik memegang peranan penting untuk mencapai hasil
belajar yang optimal. Motivasi merupakan
dorongan yang ada dalam individu, tetapi munculnya motivasi yang kuat ataun
lemah, dapat ditimbulkan oleh rangsangan dari luar.
5.
Kemampuan-kemampuan kognitif
Kemampuan-kemampuan kognitif yang terutama adalah:
-
persepsi
-
ingatan
-
berfikir,[31]
Kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, mengingat,
dan befikir sangat mempengaruhi belajar. Setelah diketahui beberapa faktor yang
mempengaruhi proses hasil belajar seperti diuraikan di atas, maka hal penting
untuk dilakukan bagi para pendidik, guru, dosen, orang tua, dan sebagainya
adalah mengatur faktor-faktor tersebut yang mempunyai pengaruh dalam mencapai
hasil belajar yang optimal. Misalnya kalau mengetahui bahwa tempat yang gaduh
tidak baik untuk belajar, maka jangan melakukan kegiatan belajar di tempat yang ramai, dan sebagainya. Dewasa
ini banyak guru yang terpaku dengan metode belajar yang monoton
D. Pengaruh
Strategi Mengajar dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa
Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang berkembang cepat tidak dapat dikejar dengan
cara-cara lama yang dipakai disekolah-sekolah kita. Sudah tentu paradigma
tersebut mempunyai relevansi dengan strategi belajar-mengajar yang dikuasai
oleh guru dengan gaya
belajar anak didik. Hal ini disebabkan strategi belajar-mengajar sebagai pola
dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan
belajar-mengajar.
Namun yang perlu diketahui bahwa strategi
belajar-mengajar yang berkembang sekarang dilingkungan pendidikan Indonesia
adalah strategi belajar-mengajar yang berorientasi pada kemampuan anak didik.
Pendidikan berusaha untuk meningkatkan kemampuan peserta didik pada taraf
tertentu. Untuk itu dibutuhkan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan gaya belajar murid
sehingga hasil belajar memuaskan seperti yang diharapkan.
Strategi belajar-mengajar tersebut berimplikasi pada
intelejensia seorang guru dalam menyelami kecerdasan anak didik melalui gaya belajarnya dengan
materi pelajaran yang diajarkan. Guru dituntut penguasaan terhadap berbagai
kemampuan sebagai guru profesional dalam bidangnya. Guru yang profesional
menjalankan pekerjaan yang sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain
memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan dan profesinya.
Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan
profesionalisme dan bukan secara amatir karena memang inti dari profesi adalah
seseorang harus memiliki keahlian tertentu. Dalam hal ini guru haruslah
menguasai strategi belajar mengajar dan mengetahui tentang gaya belajar anak didiknya.
Dalam usaha meningkatkan hasil belajar, guru tidak hanya
menyampaikan materi pengetahuan kepada siswa di kelas. Karena cara penyampaian
materi yang diberikan oleh guru belum tentu sesuai dengan gaya belajar anak, hingga hal ini menjadi
fokus utama yang harus diperhatikan oleh seorang guru.
Mengajar bukan saja usaha untuk menyampaikan ilmu
pengetahuan, melainkan juga usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang
membelajarkan subjek didik agar tujuan pengajaran tercapai secara optimal.
Mengajar dalam pemahaman ini membutuhkan suatu strategi belajar-mengajar yang
sesuai dengan gaya
belajar anak didik. Mutu pengajaran tergantung pada pemilihan strategi yang
tepat bagi tujuan yang ingin dicapai terutama dalam upaya mengembangkan
kreativitas dan sikap inovatif subjek didik. Untuk itu, perlu dibina dan
dikembangkan kemampuan profesional guru untuk mengelola program pengajaran
dengan strategi belajar-mengajar yang kaya dengan variasi untuk disesuaikan
dengan gaya
belajar anak didik.
Strategi belajar-mengajar sangat penting artinya dalam
menyikapi berbagai perubahan disegala aspek terutama bidang pendidikan yang
sejalan dengan tuntutan zaman. Dalam hal ini ada kecenderungan guru lebih
mementingkan hal-hal yang bersifat teknis mekanis belaka seperti teknik
perumusan tujuan pengajaran, teknik evaluasi. Kecenderungan seperti ini
mengabaikan hal-hal yang prinsipil yang merupakan misi dari pendidikan itu
sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia
seutuhnya. Hingga terjadilah proses pengajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar anak didik.
Proses pendidikan cenderung menjadi usaha merekayasa
manusia yang mengarah pada domestikasi berbagai perubahan yang terjadi.
Bagaimana mengharapkan hasil belajar yang sempurna jika strategi
belajar-mengajar yang dipergunakan oleh guru tidak sesuai dengan gaya belajar anak didik.
Dalam hal lain, selama ini anak didik dituntut untuk
mengikuti kehendak guru dalam proses belajar, tanpa guru mau mengerti apakah
cara pengajarannya telah sesuai dengan gaya
belajar siswa.
Apabila strategi belajar-mengajar mampu diasimilasikan
dengan gaya
belajar anak didik, maka akan didapat hasil belajar yang memuaskan.
Para guru akan lebih mudah menyesuaikan diri antara
bahan, metode dengan anak didik, karena pengajaran yang diberikan kepada mereka
telah disesuaikan dengan kondisi gaya
belajar. Hingga akhirnya guru akan mendapatkan kemudahan dalam memberikan
pelajaran dan juga mendapatkan kepuasan karena anak didik akan lebih berhasil
dalam menerima pelajaran sehingga prestasi/hasil belajar yang dimiliki oleh
anak didik membanggakan guru yang mendidiknya.
Pengaruh lainnya pemakaian strategi belajar yang
disesuaikan dengan gaya belajar anak didik akan membuat tujuan pendidikan yang
ingin diraih oleh guru, sekolah/institusi maupun tujuan pendidikan yang ingin
dicapai oleh pemerintah secara nasional akan tercapai dengan angka memuaskan,
ini disebabkan oleh karena para guru mendapatkan kemudahan dalam memberikan
pelajaran dan kemudahan yang didapat oleh siswa dalam menerima materi pelajaran
yang diberikan oleh pendidiknya.
Para guru harus berpikir
inovatif agar bisa menghasilkan pembaruan dalam bidang pendidikan. Gaya belajar
tidak perlu diatur dengan formal karena hanya akan membuat para siswa menjadi
bosan dengan pelajaran. Selain itu, guru juga harus mulai membiasakan diri
membuat karya tulis ilmiah.
Hal ini menjadi pokok
bahasan yang disampaikan Dr. Dalman, M.Pd. dalam Rangka Peningkatan
Profesionalisme Terkait dengan Implementasi Undang-Undang tentang Guru dan
Dosen ini.[32]
Saat ditanya contoh
konkretnya, ia menyarankan gaya belajar tidak dibuat kaku. "Selama ini
tangan siswa harus di atas meja dengan posisi duduk manis. Tidak boleh bergerak
atau membaca tidak boleh bersuara".
Menurut Dalman, gaya
belajar seperti inilah yang membuat minat belajar para siswa makin turun.
Para guru setingkat SD,
SMP, dan SMA yang berasal dari berbagai daerah ini harus memperhatikan hal ini.
Mereka disarankan agar mulai aktif dalam melihat potensi anak didik. Hal ini,
ujar Dalman, akan merangsang kreativitas guru dalam kegiatan belajar-mengajar.
Beliau juga mengutip
seorang ahli bernama Moore, Dalman menjelaskan enam model pembelajaran efektif
antara lain memahami situasi belajar, merencanakan pelajaran, merencanakan
tugas-tugas, melaksanakan kegiatan belajar, mengevaluasi kegiatan belajar, dan
menindaklanjutinya.
Bila
strategi mengajar mampu diasimilasikan dengan gaya belajar anak didik, maka
akan didapat hasil yang memuaskan, seperti:
Para
guru akan lebih mudah menyesuaikan diri antara metode, bahan dengan anak didik,
karena pengajaran yang diberikan kepada mereka disesuaikan dengan kondisi anak,
sehingga para guru akan mendapatkan kemudahan dalam memberikan pelajaran dan
juga mendapatkan kepuasan karena anak didik akan lebih berhasil dalam menerima
pelajaran sehingga hasil prestasi belajar yang dimiliki murid membanggakan guru
yang mendidiknya.
1.
Para murid dijamin akan senang
dan menyenangi pelajaran yang diterimanya karena apa yang diberikan oleh para
guru sesuai dengan keinginan hati mereka, anak-anak tidak merasa dipaksa untuk
menerima sesuatu yang tidak mereka senangi.
2. Tujuan pendidikan yang ingin diraih oleh para guru, sekolah/institusi
maupun tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh pemerintah secara nasional
akan tercapai dengan angka yang memuaskan, ini disebabkan oleh para guru yang
mendapat kemudahan dalam memberikan pelajaran dan kemudahan yang didapat oleh
siswa dalam menerima materi yang diberikan oleh pendidiknya.
[1]Joko
Tri Prasetya, Strategi Belajar-Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 1997),
hal. 6
[2]Muhibbin
Syah, Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru, (Jakarta: Rosda, 1998), hal. 56
[3]Ibid.,
hal. 58
[4]
Joko Tri Prasertya, Strategi ..., hal. 39
[5] Ibid.,
hal. 43
[6]Tarmizi,
Pengantar Metodelogi Pengajaran di Madrasah, (Jakarta: Purnama, 1993), hal.
12
[7]Ibid.,
hal. 14
[8]Ibid.,
hal. 14
[9]
Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001)
hal. 15
[10]Tarmizi,
Pengantar Metodologi ..., hal. 24
[11]Departemen
Agama, Sistem Pembelajaran ,(Jakarta: MP3A,2006), hal.56
[12]Dalman,
Meningkatkan Profesiojalisme Guru dan
Dosen, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hal. 2
[13]
Prof. Dwi Suwarni, Mengenal Anak Melalui
Gaya Belajarnya, (Bandung :
Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 1
[14]Cyntia
Ulrich Tobias, Cara Mereka Belajar, (Jakarta: Harvest Publication House,
2000), hal. 31
[15]Ibid.,
hal. 36
[16]Ibid.,
hal. 40
[17]Ibid.,
hal. 43
[18]Ibid.,
hal. 47
[19]Ibid.,
hal. 49
[20]Ibid.,
hal. 54
[21] Ibid.,
hal. 12
[22]Mehren,
W. A. dan I. J. Lelman, Measurement and Evaluation in Education and
Psychology, Edisi Kedua, (New York: Holt Rinehart and Winston, 1978), hal
214
[23]Raka
Joni. T, Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, (Jakarta: YP2LPM, 1984),
hal. 92
[24]Wanardi,
Sumarto, Muchlidawati, Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan
Hidup, (Jakarta: Depdikbud, 1997), hal. 82
[25]
Sardirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengaja, (Jakarta: Rajawali,
1986), hal. 22
[26] Ibid.,
hal. 24
[27] Ibid.,
hal. 28
[28]
Nasution, S, Berbagai Pendekatan Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bina
Aksara,1984), hal. 55
[29]
Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia 1987), hal. 33
[30] Ibid.,
hal 45
[31] Ibid.,
hal. 47
[32]Dalman, Peningkatan
Profesionalisme Guru dan Dosen, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hal. 12

Post a Comment for "Pengertian Strategi Mengajar"