Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


A.    Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terancana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal memahami, mengahayati, hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungnya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa.[1]
Dalam kegiatan pembelajaran tedapat dua kegiatan yang sinergi, yaitu guru mengajar dan siswa belajar yang biasa dikenal dengan istilah proses belajar mengajar (PBM), dalam kegiatan ini guru mengajarkan bagaimana siswa harus belajar, sementara siswa belajar bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai pengalaman belajar hingga terjadi perubahan dalam dirinya dari segi kognitif, afektif dan atau psikomotorik. Benyamin S. Bloom dalam bukunya  The Taxonomy of education Objectives – Cognitive Domain menyatakan bahwa dalam “proses belajar mengajar akan diperoleh kemampuan yang terdiri dari tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan (cognitive), aspek sikap (affective), dan aspek ketrampilan (psychomotor)”[2].
Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan individual  mengenai dunia sekitarnya yang meliputi perkembangan intelektual atau mental. Aspek affektive mengenai perkembangan sikap, perasaan, nilai-nilai yang dulu sering disebut perkembangan emosional dan moral, sedangkan psychomotor menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung unsur motoris. Ketiga aspek tersebut secara sederhana dapat dipandang sebagai aspek yang bertalian dengan “head” (aspek cognitive), “heart  (affektive), dan  hand   (psychomotor), yang ketiganya saling berhubungan erat dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain.
Dari uraian di atas jelas bahwa proses belajar mengajar pendidikan agama di sekolah merupakan usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui bimbingan, pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Jadi pembelajaran pendidikan agama di sekolah diharapkan membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial dan mampu mewujudkan ukuwah islamiyah dalam arti luas.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar pendidikan Agama merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku seseorang sesuai dengan Taxsonomi Bloom yaitu tujuan pendidikan agama yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dan sifat perubahan yang terjadi pada masing-masing aspek tersebut tergantung pada tingkat kedalaman belajar[3].
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama menekankan pada pengertian interaksi yaitu hubungan aktif dua arah (timbal balik) antara guru dan murid. “Hubungan aktif antara guru dan murid harus diikuti oleh tujuan pendidikan agama. Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan penghayatan”[4], pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaanya berbangsa dan bernegara. Usaha guru dalam membantu murid untuk mencapai tujuan adalah guru harus memilih bahan ajar atau meteri pendidikan agama yang sesuai dengna tujuan yang akan dicapai. Di samping memilih bahan yang sesuai, guru selanjutnya memilih dan menetapkan metode dan sasaran yang paling tepat dan sesuai dalam penyampaian bahan dengan mempertimbangkan faktor situasi serta diperkirakan dapat memperlancar jalannya proses belajar mengajar pendidikan agama. Setelah proses belajar mengajar dilaksanakan, maka komponen lain yang harus disertakan adalah evaluasi.




               [1] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2004), hal. 145-156.

               [2] Nana Sudjana,  Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar,  (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hal. 152-153.
               [3] Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 28.

               [4] Muhaimin,  Paradigma Pendidikan IslamUpaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2004), hal. 145.