Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Terbentuknya Masyarakat Maju Dengan Sifat Fathanah


D. Terbentuknya Masyarakat Maju Dengan Sifat Fathanah
Terbentuknya Masyarakat Maju Dengan Sifat Fathanah

               Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kecerdasan manusia dalam mewujudkan kemajuan sains dan teknologinya. Buktinya dapat kita lihat, negara-negara yang dikatakan maju (developed countries) seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa, ialah negara-negara yang sains dan teknologinya maju. Di negara-negara maju tersebut, sains dan teknologi benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Begitu juga pemahaman sainsnya yang tinggi. Karena mereka sangat cerdas dan selalu berfikir untuk lebih maju.
               Pemahaman sains yang tinggi ini tidak dipengaruhi tingkat pendidikan formal mereka. Di Jepang, kalau kita bicara enzim (bahasa Jepangnya kousou), orang  yang hanya lulusan SMU pun bisa mengerti. Begitu juga kalau kita bicara 
"virus" dan "bakteri", mereka memahami dan mengetahui perbedaannya, sehingga 
bisa membedakan antara vaksin dan obat antibiotik. Mereka juga mengerti apa 
itu "DNA" dan apa itu "gen". Hal yang sama dapat dilihat pada petani-petani mereka. Mereka benar-benar memahami apa itu pupuk kimia dan apa itu kompos, termasuk kebaikan dan keburukannya. Mereka juga memahami siklus hidup tanaman serta ancaman-ancaman yang akan terjadi, sehingga bias mengantisipasinya. Pendek  kata, tingkat kecerdasan dan pengetahuan masyarakat di negara maju, termasuk Jepang, adalah tinggi.
               Sebaliknya, di negara berkembang, termasuk Negara kita Indonesia, tidak demikian halnya. Sains dan teknologi hanya dimiliki dan dirasakan sebagian kecil masyarakat. Apalagi kalau dispesifikasi lagi masalah sains, keadaannya akan lebih parah. Sains hanya dimiliki orang-orang yang berpendidikan tinggi, yang jumlahnya sangat sedikit.
               Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya perbedaan minat dan perhatian masyarakat terhadap sains. Kurangnya minat masyarakat di 
negara berkembang terhadap sains sangat dipengaruhi oleh kurangnya tulisan sains yang disampaikan secara popular, yang mudah dimengerti masyarakat banyak. Ini dapat kita lihat seberapa banyak tulisan sains popular yang bisa ditemukan, baik di buku maupun di media masa. Tentu saja permasalahannya bukan pada media masanya, tetapi pada penulis sains yang jumlahnya masih sangat terbatas.
               Karena itu, upaya untuk meningkatkan kecerdasan dalam belajar dan pengetahuan masyarakat Indonesia, khususnya tentang sains, diperlukan science writer (penulis ilmiah) yang bisa menerjemahkan bahasa sains ke dalam bahasa masyarakat. Science writer tersebut bisa dari kalangan ilmuwan (saintis) dan kalangan non ilmuwan.
               Kita harus mengakui tingkat pengetahuan bangsa Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya informasi mengenai sains yang mudah didapatkan, baik berupa buku, majalah, media masa cetak, ataupun informasi yang disajikan media elektronik seperti TV. 
               Kekurangan ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya science writer yang bisa menyajikan informasi tersebut dalam bentuk popular sehingga mudah dimengerti orang banyak.
               Tidak heran jika masyarakat lebih senang menonton acara yang sifat nya fiktif dan tidak ilmiyah bahkan acara penampakan yang sama sekali tidak ilmiah ketimbang menonton uraian ilmiah dari pakar yang disiarkan di TV. Kurangnya minat masyarakat terhadap sains juga mengakibatkan jarangnya tayangan dan siaran TV yang berisikan sains. Ini lingkaran setan yang akan menurunkan tingkat 
pengetahuan bangsa Indonesia di bidang sains.
               Karena itu sudah saatnya kita menyadari kekurangan ini. Untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia, pemerintah perlu melakukan usaha-usaha konkret untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia. Hal ini penting karena akan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Usaha-usaha konkret yang bisa dilakukan: 
1.     Membuat stasiun TV khusus menyiarkan masalah sains.
2.     Meningkatkan mutu peneliti/saintis melalui peningkatan dana penelitian.
3.          Memperbanyak jumlah dan melakukan training terhadap science writer.    baik dari kalangan saintis/peneliti maupun kalangan nonsaintis seperti wartawan.
4.     Memperkenalkan sains mulai dari tingkat SD.13
 
Oleh karena itu sifat fathanah atau kecerdasan sangatlah penting untuk kita pacu kepada generasi penerus bangsa kita sehingga menjadi generasi yang maju didunia ini baik dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam bidang spiritual sehingga menjadi banga yang beradap dan memiliki peradaban yang tinggi.





               13 Rafli Kosasi,. Profesi Keguruan, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2004 ).hal. 33