Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ciri-ciri Munafik Dalam Al-Qur’an


A.    Ciri-ciri Munafik Dalam Al-Qur’an
     
Ciri-ciri Munafik Dalam Al-Qur’an

Ciri-ciri orang munafik sangat banyak tersebut di dalam Alquran, dan hadist juga menyebutkan sebagian di antaranya guna memperingatkan umatnya dari ciri-ciri tersebut, jangan sampai mereka terjatuh ke dalamnya sehingga mereka akhirnya menjadi mirip seperti mereka. Padahal sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyatakan bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.
Di antara tanda-tanda kemunafikan adalah empat sifat yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Amr di atas: Khianat, Curang, Dusta, dan Fajir. Keempat sifat ini tidaklah terdapat pada seseorang kecuali dia adalah munafik tulen. Nabi Saw juga mengabarkan sebuah tanda lain dari tanda-tanda orang munafik, yaitu: Sangat berat dalam melaksanakan shalat isya dan subuh. Subhanallah, betapa miripnya kemarin dengan hari ini.
Hal ini sebagimana yang disinyalir oleh Allah Swt. dalam surat al-Baqarah ayat 14 sebagai berikut:
وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ) البقرة: ١٤ (
Artinya:  Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada Syaitan-syaitan (sekutu/pemimpin) mereka, mereka mengatkan: “Sesngguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya mengolok-olok”.(Qs. al-Baqarah: 14).

Dari ayat di atas, jelaslah orang-orang munafik ketika mereka berkumpul dengan orang-orang mukmin, mereka menampakkan dhohirnya seperti orang-orang beriman. Mereka melaksanakan segala aktifitas yang diamalkan orang-orang beriman. Akan tetapi didalam hati mereka tidak mengimani dengan apa yang mereka kerjakan. Hal ini terbukti ketika para munafikin ini kembali kepangkuan golongan asal mereka. Para munafikin mengatakan kepada golongannya, bahwa mereka tetap dengan pendirian semula. Apa yang mereka lakukan di hadapan orang-orang mukmin hanyalah sekedar kamuflase dan sebagai penghinaan terhadap  orang-orang mukmin. Ketika sifat yang tersebut di atas berhubungan dengan masalah iman, maka hal demikian telah mencerminkan hakikat kemunafikan seseorang sebagimana yang dimiliki oleh Abdullah bin Ubay bin Salul pada zaman Rasulullah[1].

Berangkat dari diri yang pecah antara perkataan/perbuatan dengan hati, melahirkan prilaku kongkrit mendiskripsikan kemunafikan itu dalam tingkah laku dan perkataan menjadi indikator dari kemunafikan.
Kamunafiakan zaman kita ini lebih parah dibandingkan pada zaman dahulu. Jika zaman dulu orang-orang munafik masih sembunyi-sembunyi dalam melawan islam, tetapi orang-orang munafik hari ini telah melawan islam dengan terang-terangan. Mereka bela Demokrasi, liberisasi, pornografi dan berbagai kemunkaran-kemunkaran di negeri ini. Sebaliknya, mereka lawan amar ma’ruf nahi munkar, para penyeru syari’at dan para da’I yang mengajak kebenaran. Mereka bukan lagi disebut munafik, tetapi lebih pantas disebut zindiq. Yaitu seseorang yang mangaku islam, tetapi bersamaan dengan itu, ia serang dan ia hancurkan islam dengan lesan dan perbuatannya. Mereka lebih parah dan lebih bahaya dibandingkan munafikin.
Di masa sekarang ini segala urusan dikendalikan oleh mereka (orang-orang munafik). Sehingga kita menyaksikan bahwa mereka berpakaian sebagaimana orang-orang yang mengadakan perbaikan. Mereka layaknya seorang ulama atau penasihat yang penuh belas kasihan, bahkan mereka memakai pakaian seperti halnya seorang ahli ibadah atau orang shalih. Telah dipersiapkan bagi mereka mimbar-mimbar dan markas-markas ilmu agar berbicara tentang Islam. Telah dipersiapkan lembaran-lembaran kitab dan majalah serta media masa untuk mereka tulis dan sampaikan pada ummat dengan mengatasnamakan Islam. Namun, kenyataannya mereka sangatlah jauh dari Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Jika ditelusur dalam Alquran, sikap menolak syariah merupakan ciri dari kaum Munafik. Cukup banyak ayat Alquran yang menggambarkan sikap demikian. Di antaranya adalah friman Allah Ta’ala:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُوداً) النساء :٦١(
Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (Qs. An-Nisa’: 61).

Ini juga menjadi penyebab lainnya sikap mereka. Mereka amat takut jika keputusan syariah itu merugikan kepentingan mereka. Sebagai orang kafir, tentu saja banyak sekali selera mereka yang bertentangan dengan syariah. Riba, zina, miras, korupsi, dan berbagai larangan syariah amat mungkin menjadi kegemaran mereka. Sebaliknya, shalat, zakat, puasa, dakwah, jihad, dan berbagai kewajiban syariah lainnnya dirasakan mereka amat memberatkan. Mereka pun menuduh semua ketetapan hukum itu mendzalimi mereka; dan oleh karenanya mereka pun menolak ketentuan itu.



               [1] Abd. Wahid Syarkani, Orang-orang Munafik, (Jakarta:  al-Muslimun, 1988), hal. 51.