Peran Masyarakat Dalam Pendidikan Akhlak Remaja
BAB I
P E N D A H U L U A N
A.
Latar Belakang Masalah
Dewasa ini dengan terjadinya
perkembangan global disegala bidang kehidupan selain mengindikasikan kemajuan
umat manusia disatu pihak, juga mengindikasikan kemunduran akhlak di pihak
lain. Di samping itu, era informasi yang berkembang pesat pada saat ini dengan
segala dampak positif dan negatifnya telah mendorong adanya pergeseran nilai di
kalangan remaja.
Kemajuan kebudayaan melalui
pengembangan IPTEK oleh manusia yang tidak seimbang dengan kemajuan moral
akhlak, telah memunculkan gejala baru berupa krisis akhlak terutama terjadi
dikalangan remaja yang memiliki kondisi jiwa yang labil, penuh gejolak dan
gelombang serta emosi yang meledak-ledak ini cenderung mengalami peningkatan
karena mudah dipengaruhi.
Berbicara pada tatanan akhlak tentu tidak dapat dipisahkan
dengan manusia sebagai sosok ciptaan Allah yang sangat sempurna. Akhlak adalah
mutiara hidup yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk hewan. Manusia
tanpa akhlak akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai makhluk Allah yang
paling mulia, menjadi turun ke mertabat hewani. Manusia yang telah lari dari
sifat insaniyahnya adalah sangat berbahaya dari binatang buas.
Di dalam surat at-Tin ayat 4-6 mengajarkan bahwa:
لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم، ثم
رددنه أسفل سافلين، إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات فلهم اجر غير ممنون (التين:
٤-٦)
Artinya: “Sesunguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya; kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, amal
bagi mereka pahala yang tidak putus-putus (Q.
S. at-Tin: 4-6)
Keterangan ayat di atas menggambarkan bahwa manusia dapat
saja rendah derajatnya melebihi binatang apabila tidak berakhlak. Akhlak
merupakan salah satu jalan manifestasi dari keimanan, serta usaha untuk
mengaplikasi iman dan Islam secara langusung
Dikatakan Imam al-Ghazali dalam kitabnya Muqasyafatul
Qulub, bahwa Allah telah menciptakan makhluk-Nya manusia atas tiga
katagori, yaitu:
1. Allah
menciptakan malaikat dan kepadanya diberikan akal tidak diberikan nafsu
2. Allah
menjadikan hewan tidak lengkap dengan akal, tetapi diberikan nafsu syahwat.
3. Allah
menjadikan manusia lengkap dengan akal dan nafsu.[1]
Gejala akhlak remaja yang cenderung
kurang hormat terhadap orang tua, melawan orang tua, terjerumus dalam perilaku
sex bebas, kurang disiplin dalam beribadah, mudah terpengaruh aliran sesat,
pendendam, menjadi pemakai obat-obatan, berkata tidak sopan, pendusta, tidak
bertanggungjawab dan perilaku lainnya yang menyimpang telah melanda sebagian
besar kalangan remaja.
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Sahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia Foundation pada Tahun
2007 sedikitnya ada 38.288 remaja di Kabupetan Bandung diduga pernah melakukan
hubungan intim di luar nikah atau melakukan seks bebas. Hasil penelitian PLAN
Internasional mengemukakan bahwa dari 300 responden yang berdomisili di 3
kelurahan di Surabaya ada 64% responden yang pernah melakukan seks bebas dan
mereka masih berstatus sebagai pelajar SLTP dan SLTA, yang lebih menggegerkan
di Kota Yogya hasil penelitian seks pra nikah yang dipublikasikan sebuah
lembaga bahwa diketahui 97,05% dari jumlah 1.660 responden yang berstatus
mahasiswi pernah melakukan sekls bebas.
Masa remaja sebagaimana yang dikemukakan di atas menurut
Hurlock adalah masa dimana seorang individu berada pada batasan umur 12-22
tahun. Karena masa remaja adalah masa-masa mencari identitas diri maka biasanya
para remaja cenderung menginginkan
kebebasan tanpa terikat oleh norma dan aturan.
Dalam masa pencarian identitas diri
yang penuh gejolak ini, penting kiranya orang tua sebagai orang terdekat dalam
lingkungan keluarga dengan remaja untuk mengenal dan memahami jiwa remaja
secara mendalam agar dapat mendidik, membimbing serta mengarahkan akhlaknya
menuju jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.
Sebagai pendidik pertama dan utama,
orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membina akhlak remaja.
Nilai-nilai akhlak karimah yang bersumberkan ajaran agama Islam harus
diberikan, ditanamkan dan dikembangkan oleh orang tua terhadap para remaja
dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman akhlak tersebut penting karena inti dari
keberagamaan seseorang akan termanifestasikan dalam akhlak karimah.
Akhlak karimah yang perlu ditanamkan
orang tua seperti ketaatan beribadah, berperilaku baik, hormat kepada orang
tua, memiliki sifat ikhlas tawadhu secara perlahan-lahan akan terinternalisasi
pada diri setiap remaja sehingga akhirnya berdampak positif bagi kehidupan
mental dan spiritualnya, sehingga dapat memberikan kekuatan yang positif bagi remaja
dalam menjalani proses hidup dan dapat menyikapi dampak negatif yang
diakibatkan oleh era globalisasi dan informasi.[2]
Agama Islam sebagai sumber nilai akhlak
harus dijadikan landasan oleh orang tua dalam membina akhlak remaja karena
agama merupakan pedoman hidup serta memberikan landasan yang kuat bagi diri
setiap remaja. Di samping itu pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan orang tua
sehari-hari seperti sholat, membaca Al-Qur’an, menjalankan puasa serta
berperilaku baik merupakan bagian penting dalam pembentukan dan pembinaan
akhlak remaja.[3]
Dalam pendidikan dan pembinaan akhlak
bagi para remaja, orang tua harus dapat berperan sebagai pembimbing spiritual
yang mampu mengarahkan dan memberikan contoh tauladan, menuntun, mengarahkan
dan memperhatikan akhlak remaja sehingga para remaja berada pada jalan yang
baik dan benar. Jika remaja melakukan kesalahan, maka orang tua dengan arif dan
bijaksana membetulkannya, begitu juga sebaliknya jika remaja melakukan suatu
perbuatan yang terpuji maka orang tua wajib memberikan dorongan dengan
perkataan atau pujian maupun dengan hadiah berbentuk benda.
Oleh karena itu peranan keluarga sangat
besar dalam membina akhlak remaja dan mengantarkan kearah kematangan dan
kedewasaan, sehingga remaja dapat mengendalikan dirinya, menyelesaikan
persoalannya dan menghadapi tantangan hidupnya. Untuk membina akhlak tersebut,
maka orang tua perlu menerapkan disiplin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Disiplin yang ditanamkan orang tua merupakan modal dasar yang sangat penting
bagi remaja untuk menghadapi berbagai macam pesoalan pada masa remaja.
Peranan masyarakat dalam membina akhlak
remaja antara lain dapat dilakukan dengan cara :
1. Meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan cara melaksanakan
kewajiban-kewajiban sebagaimana yang diperintahkan dalam ajaran agama Islam.
Dalam hal ini orang tua harus menjadi contoh yang baik dengan memberikan
bimbingan, arahan, serta pengawasan sehingga dengan kondisi seperti ini remaja
menjadi terbiasa berakhlak baik.
2. Meningkatkan
interaksi melalui komunikasi dua arah. Orang tua dalam hal ini dituntut untuk
dapat berperan sebagai motivator dalam mengembangkan kondisi-kondisi yang
positif yang dimiliki remaja sehingga perilaku atau akhlak remaja tidak
menyimpang dari norma-norma baik norma agama, norma hukum maupun norma
kesusilaan.
3. Meningkatkan
disiplin dalam berbagai bidang kehidupan. Orang tua dalam melaksanakan seluruh
fungsi keluarganya baik fungsi agama, fungsi pendidikan, fungsi keamanan,
fungsi ekonomi maupun fungsi sosial harus dilandasi dengan penanaman disiplin
yang terkendali agar dapat mengendalikan akhlak atau perilaku remaja.[4]
Bukti lain tentang kemerosotan akhlak
remaja dapat dilihat dari hasil temuan Tim Kelompok Kerja Penyalahgunaan
Narkotika Depdiknas Tahun 2004 yang mengemukakan bahwa dari 4 juta pecandu
nerkotika terdapat 20% pecandu narkotika yang berstatus anak sekolah usia 14-20
tahun. Menurut Badan Narkotika Nasional hingga saat ini pecandu narkotika bukan
hanya terjadi di kota-kota besar akan tetapi sudah meluas sampai ke
pelosok-pelosok daerah.
Fenomena-fenomena yang tampak seperti
yang dikemukakan diatas merupakan krisis moral atau permasalahan akhlak yang
dialami para remaja dewasa ini. Oleh karena itu pendidikan dalam semua aspek
kehidupan harus dilakukan dalam rangka membentuk kepribadian yang utama sesuai
dengan kaidah-kaidah Islam.
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka penulis mengambil judul dalam penulisan
proposal skripsi ini adalah PERAN
MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN AKHLAK REMAJA DI GAMPONG JULI COT MESJID KECAMATAN
JULI.
B.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagi berikut:
1.
Bagaimanakah peran masyarakat di Gampong Juli Cot Mesjid dalam pendidikan akhlak remaja?
2.
Apa saja usaha – usaha masyarakat di Gampong Juli Cot
Mesjid dalam pembinaan akhlak remaja?
C.
Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian
dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagi berikut:
1.
Untuk mengetahui bagaimanakah peran masyarakat di Gampong Juli Cot Mesjid
dalam pendidikan akhlak remaja.
2.
Untuk mengetahui apa saja usaha – usaha masyarakat di Gampong Juli Cot Mesjid dalam
pembinaan akhlak remaja.
D.
Kegunaan Penelitian
Adapun yang menjadi kegunaan penelitian
dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagi berikut:
Secara
teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum
dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai peran masyarakat dalam pendidikan akhlak remaja di Gampong Juli Cot
Mesjid Kecamatan Juli.. Selain itu hasil
pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang study pendidikan.
Secara
praktis, hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam
memperbaiki dan mengaplikasikan peran
masyarakat dalam pendidikan akhlak remaja di Gampong Juli Cot Mesjid Kecamatan
Juli ini dalam
pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi
tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan
Islam.
E.
Penjelasan Istilah
Adanya kesimpangsiuran dan kesalahpahaman
dalam pemakaian istilah merupakan salah satu hal yang sering terjadi, sehingga
mengakibatkan penafsiran yang berbeda. Maka untuk menghindari hal tersebut di
atas, penulis merasa perlu mengadakan pembatasan dari istilah-istilah yang
terdapat dalam judul proposal skripsi ini.
Adapun istilah yang penulis anggap perlu
dijelaskan adalah: Peran
, Masyarakat,
Pendidikan, Akhlak dan Remaja.
1.
Peran
Dessy Anwar dalam
bukunya Kamus lengkap Bahasa Indonesia
menjelaskan “Peranan adalah sesuatu yang jadi bagian atau yang memegang
pimpinan yang terutama dalam terjadinya sesuatu atau peristiwa.”[5]
Sedangkan
menurut penulis, peran adalah keikutsertaan masyarakat dalam pendidikan akhlak
remaja.
2.
Masyarakat
Dessy Anwar dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menjelaskan “Masyarakat adalah
pergaulan hidup manusia, juga berarti perhimpunan manusia yang hidup bersama
dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu dan juga bisa berarti
orang banyak”.[6]
Sedangkan menurut
penulis, masyarakat adalah perkumpulan keluarga yang tinggal di suatu tempat.
3.
Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata didik yang artinya ”Memelihara,
memberi latihan, dan pimpinan, kemudian kata didik itu mendapat awalan
pe-akhiran- an sehingga menjadi pendidikan yang artinya perbuatan mendidik.”[7]
Oemar Muhammad Al-Syaibani dalam
buku ”Filsafat Pendidikan” mengemukakan bahwa ”Pendidikan adalah usaha-usaha
untuk membina pribadi muslim yang terdapat pada pengembangan dari segi
spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial.”[8]
Dari pengertian di atas maka yang
penulis maksudkan dengan pendidikan
adalah suatu usaha membimbing dan membina pribadi muslim baik jasmani ataupun
rohani menuju terbentuknya akhlak yang mulia.
4.
Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab dengan kata dasarnya “خلق، يخلق، خلوقا, yang memiliki arti perbuatan baik. Namun secara terminologi
akhlak ialah segala suatu yang berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk.[9]
Namun demikian, banyak filosof Islam yang membicarakan
tentang akhlak, salah satunya adalah Ibnu Maskawaih memberikan definisi akhlak,
agar dapat dijadikan tolok ukur dalam kehidupan umat Islam. Menurut Ibnu
Maskawaih akhlak sebagai berikut:
Artinya:
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan fikiran lebih
dahulu”.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat difahami bahwa
akhlak merupakan keadaan jiwa yang dapat mendorong seseorang untuk melaksanakan
segala amal baik. Apalagi jiwa merupakan sebuah immateri yang ada di dalam
tubuh manusia telah dibersihkan dari noda dan dosa oleh Allah SWT.
5.
Remaja
Dessy Anwar dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menjelaskan remaja adalah mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin, muda.[11]
Sedangkan
menurut penulis, remaja adalah masa menjelang dewasa seorang manusia.
F.
Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan
dalam pembahasan proposal skripsi ini
adalah sebagai berikut :
Pada bab satu terdapat pendahuluan
meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan
penelitian, penjelasan istilah, dan sistematika penulisan.
DAFTAR PUSTAKA
Imam al-Ghazali, Muqasyafatul
Qulub, Dar al-Kutub: Mesir, 1961.
Ahmad Amin, Etika dalam Islam, Terj. Farid MA’aruf ,Jakarta: Bulan
Bintang, 1988.
Dessy Anwar, Kamus lengkap Bahasa Indonesia cet.I, Surabaya: Karya Abditama, 2001.
Hobby, Kamus Populer, Cet.15,Jakarta: Central, 1997.
Oemar Muhammad
At-Tomy Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan
Islam ,Terj. Hasan Langgulung, Cet. I, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Fachruddin HS., Berkenalan dengan Etika, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
Muhammad
Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok
Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
Zainal Abidin
Ahmad, Pendidikan Akhlak,Jakarta:
Bulan Bintang, 1976
[1]Imam al-Ghazali, Muqasyafatul
Qulub, (Dar al-Kutub: Mesir, 1961), hal. 246
[2] Muhammad Athiyah
al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,
1974), hal. 115
[7]Hobby, Kamus Populer, Cet.15,(Jakarta: Central, 1997 ), hal 28.
[8]Oemar Muhammad At-Tomy Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam ,Terj.
Hasan Langgulung, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979 ), hal.44.
[10]Ahmad Amin, Etika
(Ilmu Akhlak), Terj. Farid Ma’ruf, Cet. V, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988),
hal. 3

Post a Comment for "Peran Masyarakat Dalam Pendidikan Akhlak Remaja "