Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Materi Pendidikan Tauhid Bagi Anak


A.    Materi Pendidikan Tauhid Bagi Anak

Menurut ulama salafiyah, pembahasan materi ketauhidan terbagi menjadi dua bagian yakni tentang tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah.[1] Dari kedua ketauhidan tersebut melahirkan ketauhidan ketiga yakni tauhid Ubudiyah.[2] Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan bahwa:
Anak harus diajarkan ketauhidan sejak dini, sejak anak mulai dapat memahami lingkungannya. Ketauhidan yang dimaksud ialah meliputi dasar-dasar ketauhidan merupakan segala sesuatu yang ditetapkan dengan jalan berita (khabar) yang diperoleh secara benar, berupa hakekat ketauhidan, masalah-masalah gaib, beriman kepada Malaikat, Kitab-kitab Samawi, Nabi dan Rasul Allah, siksa kubur, surga, neraka, dan seluruh perkara gaib.[3]

Al Ghazali menjelaskan bahwa pembinaan ketauhidan diperlukan 4 hal pokok yakni: Pertama, Makrifat kepada dzat-Nya. Kedua, Makrifat kepada sifat-sifat-Nya. Ketiga, Makrifat kepada af’al-Nya. Keempat, Makrifat kepada syari’at-Nya.[4] Jika kita menggunakan pengertian yang sama antara ketauhidan, akidah, dengan keimanan, maka materi ketauhidan sama dengan materi keimanan. Konsep yang penyusun gunakan ialah konsep Yunahar Ilyas yang membagi materi ketauhidan menjadi empat, selain beliau juga membagi ruang lingkup ketauhidan kepada rukun iman, yang memiliki 6 unsur.[5]  Adapun materi pendidikan tauhid dalam keluarga terbagi menjadi empat yakni: Pertama, Ilahiyat. Kedua, Nubuwat. Ketiga,  Ruhaniyat. Keempat, Sam’iyyat.
Berikut ini adalah penjelasan keempat materi di atas :
1.     Ilahiyat
Pembahasan materi ini dibagi menjadi tiga hal yakni :
a).   Tauhid zat

Tauhid zat berarti bahwa zat Allah Swt. ialah satu, tidak ada sekutu dalam wujud-Nya, tidak ada kemajemukan, serta tidak ada tuhan lain di luar Diri-Nya.[6] Bersifat sederhana, tidak terdiri dari bagian-bagian  ataupun organ-organ, intinya Allah adalah satu dan tidak ada sekutu baginya, demikianlah pandangan para teolog dan filosof tentang tauhid zat Allah Swt.[7]
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. Dalam surat Ali Imran ayat 190 sebagai berikut:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ) آل عمران: ١٩٠(
Artinya:   Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(Qs. Ali-Imran:190).

Penyatuan dan perkara yang saling kontradiktif adalah sebuah kekeliruan, bahkan sebuah kemustahilan dan ketidakmungkinan. Karena kesamaran itulah, syaitan menerobos masuk ke dalam hati manusia sehingga mereka ragu tentang Allah. Pertanyaan itu pada hakikatnya menyamakan Allah (al-Khaliq) dengan makhluk, tanpa ada keraguan. Makhluk pasti ada yang menciptakannya. Akan tetapi pertanyaan tidak berhenti sampai di situ, bahkan dilanjutkan dengan pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Pencipta. Maka, jatuhlah ia dalam penyerupaan al-Khaliq dengan makhluk. Muhammad Taqi Mishbah Yadzi menjelaskan bahwa:
Tauhid zat merupakan tauhid tahap terakhir yang hanya mampu dicapai oleh orang-orang yang arif.[8] Dijelaskannya bahwa pada tahap ini mereka mempercayai bahwa yang hakiki terbatas pada Allah Swt. Saja. Alam adalah manifestasi dan cerminan dari Wujud-Nya. Mereka mengatakan bahwa Allah Swt. Adalah Zat yang bersifat nonmateri (immaterial).[9]
Menurut Masjfuk Zuhdi bahwa:

Kebenaran mutlak (absolut) tentang Zat Allah tidak memerlukan bukti, namun yang harus dipercaya adanya Zat-Nya itu mempunyai bekas-bekas, akibat-akibat, gejala-gejala yang dapat memperkuat bukti kebenaran adanya Zat-Nya itu. Sehingga adanya Tuhan adanya kebenaran mutlak yag tidak perlu dibuktikan adanya Zat Tuhan.[10]

                  Akal manusia tidak akan mampu menjangkau Zat Allah  disebabkan oleh keterbatasannya. Oleh sebab itu kita tidak boleh memikirkan Zat Allah , tetapi marilah memikirkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.[11]

b).   Tauhid asma
Tauhid asma adalah “mentauhidkan Allah dengan Nama-nama Allah Swt.”.[12] Nama-nama Allah yang sesuai dengan  keagungan keluhuran-Nya Ia gunakan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk, selain 99 nama Allah, juga terdapat nama-nama lain yang tersebut dalam hadis Rasul Saw. Seperti al-Hannan (yang Maha Pengasih), al-Mannan (Yang memberi nikmat), al-Kafiil (Yang Maha Pelindung/Penjamin), Dzu ath-Thaul (Yang Memiliki Keutamaan), Dzu al-Ma’arij (Yang memiliki Jalan-jalan Naik), Dzu al-Fadhl (Yang Memiliki Karunia), al-Khallaq (Yang Maha Pencipta). Nama-nama Allah haruslah merujuk kepada Syara’. Dari seluruh nama-nama itu yang merupakan lambang  ketuhanan ialah “Allah”. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. Dalam surat Al-A’raf ayat 180 sebagai berikut:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ )الأعراف: ١٨٠(
Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya . Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(Qs. Al-A’raf: 180).

Berdasarkan ayat di atas, bahwa tidak diragukan, bahwa sesuatu yang paling agung, paling mulia dan paling besar untuk diketahui adalah tentang Allah. Dzat yang tidak ada sesuatupun berhak diibadahi kecuali Dia, Rabb alam semesta, Pemelihara langit, Maha Raja yang Haq, yang disifati dengan semua sifat sempurna. Dzat yang Maha Suci dari segala kekurangan dan cela, maha Suci dari keserupaan serta kesamaan dalam kesempurnaanNya. Maka tidak diragukan bahwa mengilmui nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya merupakan pengetahuan paling agung dan paling utama.
c).   Tauhid sifat

Tauhid sifat-sifat Allah berarti kita menisbatkan sifat-sifat kepada Allah Swt. Yaitu sifat dari Zat-Nya sendiri.[13] Sifat-sifat itu bukan sesuatu yang ditambahkan atau hal-hal yang lain dari Diri-Nya. Mereka mengungkapkan bahwa Sifat-Sifat Tuhan tak lain adalah Zat Allah Swt. itu sendiri, mereka menyebutnya sebagai “Tauhid dalam sifat”. Karena Allah tidak memiliki sifat-sifat diluar Diri-Nya.[14]
Tauhid sifat merupakan tahap kedua dari pada tauhid. Pada tahap ini manusia memandang setiap sifat kesempurnaan pada asalnya adalah milik Allah Swt., sedangkan sifat kesempurnaan yang ada pada manusia serta makhluk hanyalah bayangan atau cerminan atau manifestasi dari Sifat-Sifat Tuhan. Bahwa Sifat-Sifat Allah Swt. bukanlah tambahan pada Zat-Nya.[15]

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat Al-An’am ayat 65 sebagai berikut:
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ) الأنعام: ٦٥(
Artinya: Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). ( Qs. Al-An’am: 65).

Muhammad Taqi Mishbah Yazdi sangat cenderung kepada tauhid yang dimiliki oleh orang-orang ahli ma’rifat, yang mampu mencapai taraf melihat, merasakan, mendengar  yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang awam, mereka malakukan riyadah ibadah untuk membersihkan hati serta jiwa mereka dan benar-benar mendekatkan diri mencari ridha Allah Swt.[16]

Yunahar, menjelaskan bahwa ada dua metode dalam tauhid Nama dan Sifat-Sifat Allah Swt. sebagai berikut: “Pertama, Itsbat, yakni mempercayai bahwa Nama dan Sifat yang dimiliki Allah merupakan menunjukkan ke-Maha Sempurnaan Allah Swt. Kedua, adalah Nafyu yakni menafikan atau menolak nama serta sifat yang menunjukkan ketidak sempurnaan Allah Swt.[17]
Selanjutnya beliau menyebutkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan Nama-Nama dan Sifat Allah Swt. antara lain:
Pertama, Nama-Nama Allah hanyalah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Sunnah. Oleh sebab itu tidak boleh memberi nama kepada Allah yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Kedua, Allah tidak bisa disamakan, atau mirip Zat-Nya, sifat-sifat serta perbuatan-Nya dengan makhluk. Ketiga, Percaya Nama dan Sifat Allah Swt. haruslah apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakannya. Keempat, Selain nama dan sifat-sifat Allah ada istilah “ismul-lah al-a’zham” yakni nama-nama Allah Swt. yang dirangkai di dalam do’a.[18]

Sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt ada dua puluh sifat yakni:
1.     Al Wujud (ﻭﺟﻮﺩ) artinya ada, sedangkan yang mustahil bagi Allah adalah al ‘Adam yang artinya tdak ada.
2.      Al Qidam (ﻗﺪﻡ) artinya yang tidak ada awal bagi wujud-Nya, lawannya adalah al-Huduts artinya yang ada awalnya.
3.     Al Baqa (ﺑﻘﺎﺀ) artinya kekal atau tidak ada akhir akan wujud-Nya, sedangkan mustahuil Allah bersifat al Fana artinya tidak kekal.
4.     Mukhalafatuhu lilhawadis (ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ) artinya tidak akan pernah sama dengan makhluk maksudnya Allah berbeda dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Sedangkan Allah mustahil bersifat menyerupai atau sama dengan makhluk.
5.     Qiyamuhu binafsih (ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ) artinya berdiri sendiri, maksudnya Allah Swt. Maha kaya dan tidak memerlukan bantuan siapapun, oleh sebab itu membutuhkan kepada sesuatu makhluk adalah kemustahilan bagi Allah.
6.     Wahdaniyat (ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ ) artinya esa, maksudnya Allah itu satu, tunggal dan mustahil bagi Allah Berbilang, lebih dari satu.
7.     Qudrat (ﻗﺪﺭﺓ) artinya maha Kuasa, Allah mustahil memiliki sifat lemah.
8.     Iradat  (ﺇﺭﺍﺩﺓ) artinya maha Berkehedak, mustahil Allah bersifat terpaksa.
9.     Ilmu (ﻋﻠﻢ) artinya maha Berilmu, mustahil bagi Allah memiliki sifat bodoh.
10.  Hayat (ﺣﻴﺎﺓ) artinya maha Hidup, Allah mustahil mati.
11.  Sam'un (ﺳﻤﻊ) artinya maha Mendengar, sehingga mustahil Allah bersifat tuli.
12.  Basar (ﺑﺼﺮ) artinya maha Melihat, Allah mustahil bersifat buta.
13.  Kalam (ﻛﻼ ﻡ) artinya maha berbicara, mustahil Allah bersifat bisu.
14.  Kaunuhu qaadiran (ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ) artinya yang Maha Kuasa, mustahil Allah bersifat yang keadaan-Nya lemah.
15.  Kaunuhu muriidan (ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ) artinya yang Maha Berkehendak,  Allah mustahil keadaan-Nya terpaksa.
16.  Kaunuhu 'aliman (ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ) artinya yang Maha Berilmu, mustahil Allah dalam keadaan bodoh.
17.  Kaunuhu hayyan (ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ) artinya yang Maha Hidup, Allah mustahil keadaan-Nya mati.
18.  Kaunuhu sami'an (ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ) artinya yang Maha Mendengar, mustahil keadaan Allah itu tuli.
19.  Kaunuhu bashiiran (ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ) artinya yang Maha Melihat, sehingga mustahil Allah dalam keadaan buta.
20.  Kaunuhu mutakalliman (ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ) artinya yang Maha berkata-kata, mustahil Allah dalam keadaan bisu.[19]

Lebih lanjut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi menjelaskan:

Pembagian tauhid kepada tauhid perbuatan. Tauhid perbuatan berarti  dalam melakukan perbuatan-perbuatan-Nya Allah tidak memerlukann bantuan siapapun. Jika perbuatan tersebut membutuhkan sarana, Dia menciptakan dan menggunakan sarana tersebut. Hal ini berbeda dengan Allah membutuhkan orang lain di luar Diri-Nya dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan-Nya.[20]
Para kaum arif memiliki konsep yang berbeda dengan para teolog dan filosof. Bagi para teolog dan filosof secara berurutan terlebih dahulu harus memulai tauhid pada Zat Allah, selanjutnya sifat-sifat, terakhir ialah tauhid perbuatan. Namun para kaum arif memulainya dengan tauhid perbuatan, lalu tahap kedua tauhid sifat dan tahap terakhir adalah tauhid Zat. Tauhid perbuatan berarti bahwa, setiap perbuatan yang ada adalah perbuatan Allah, yang lain hanyalah alat-alat dan sarana-sarana, inilah yang dilihat oleh orang-orang yang telah menyucikan jiwanya, yakni para kaum arif.[21]
2.     Nubuwat
Nubuwat menurut bahasa berasal dari bahasa Arab naba bermakna yang ditinggikan, atau dari kata nabaa yang berarti berita.[22] Jadi Nabi adalah seseorang yang derajatnya ditinggikan Allah Swt. dengan memberikan berita atau wahyu kepadanya.Sedangkan Rasul dari kata arsala berarti mengutus, namun setelah dijadikan kata Rasul artinya berubah menjadi yang diutus.[23]
Maka Rasul adalah orang yang diutus Allah Swt. untuk menyampaikan misi pesan (ar-risalah). Perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah ada tidaknya kewajiban untuk menyampaikan misi atau risalahnya kepada orang lain.Jika tidak ada kewajiban untuk menyampaikan maka disebut Nabi dan jika ada kewajiban untuk menyampaikan risalah yang diterima dari Allah kepada orang lain (umat) ia disebut Rasul.[24]

Jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat diketahui secara pasti, namun yang wajib diketahui ada 25 orang yang disebutkan di dalam Al-Quran yakni 18 orang disebutkan dalam surat Al-An’am ayat 83-86 dan 7 orang lagi disebutkan dalam ayat-ayat yang terpisah yakni: Pertama, Nabi Hud as. dalam surat Hud ayat 50. Kedua, Nabi Saleh as.  dalam surat Hud ayat 61. Ketiga, Nabi Syu’aib as. dalam surat Hud ayat 84. Keempat, Nabi Adam as. dalam surat Ali ‘Imran ayat 33. Kelima, Nabi Idris as. Dan Nabi Zulkifli as. dalam surat Al-Anbiya’ ayat 85. Keenam, dan Nabi Muhammad saw. Dalam surat Al-Fath ayat 29.
        Jika  nama-nama Nabi dan Rasul diurutkan secara kronologis  adalah sebagai berikut: Adam as, Idris as, Nuh as, Hud as, Shaleh as, Ibrahim as, Isma’il as, Ishaq as, Ya’qub as, Yusuf as, Luth as, Ayyub as, Syu’aib as, Musa as, Harun as, Zulkifli as, Daud as, Sulaiman as, Ilyas as, Ilyasa as, Yunus as, Zakaria as, Yahya as, Isa as, Muhammad Saw.[25].

Para Nabi dan Rasul ini diutus untuk kaum dan bangsa masing-masing seperti Nabi Hud as. dikirim untuk kaum ‘Ad, Nabi Shaleh kepada kaum Tsamud, Nabi Syu’aib kepada kaum Madyan. Namun Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat  tidak hanya untuk kaum Arab saja di mana Nabi Muhammad Lahir dan dibesarkan. Hal ini ditunjukkan dengan firman Allah Swt. Sebagai berikut:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً )الأحزاب: ٤٠(
Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al_Ahzab:40).

Sebagai seorang manusia pilihan Allah Swt. tentulah harus memiliki sifat-sifat yang mendukung agar terlaksananya tugas kenabian dan kerasulan. Sehingga Nabi dan Rasul pun memiliki sifat yang harus ada dalam dirinya (sifat wajib), serta sifat yang tidak mungkin dimiliki (sifat mustahil), dan sifat yang boleh dimiliki nya (sifat jaiz).
3.     Ruhaniyat.
Ruhaniyat ialah mempercayai keberadaan makhluk ghaib.[26] Ruhaniyat dapat ditempuh dengan dua cara: Pertama melalui informasi yang disampaikan Al-Quran dan Sunnah. Kedua, melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta.[27]
Makhluk secara garis besar dibagi dua yakni: Pertama, ghaib (al-ghaib)  yakni yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia. Kedua, nyata (as-syahadah) yakni makhluk yang dapat dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia.[28]
Pada masalah ruhaniyat ini yang menjadi materi pendidikan tauhid dalam keluarga ialah malaikat, Jin, Iblis dan syaitan, serta ruh. Agar sejak dini anak mempercayai adanya makhluk lain yang harus diyakini keberadaanya, namun hanya sebatas percaya akan adanya, tanpa perlu ada rasa takut dan khawatir, karena hanya Allah yang mampu mendatangkan kemanfaatan dan kemudaratan.
4.     Sam’iyyat
Assam’iyyat menurut bahasa berarti “sesuatu yang ghaib yang hanya bisa diketahui secara benar dengan cara ikhbari (berita yang didengar), yakni apa yang didengar dan diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah”[29]. Atau dalam arti lain suatau perkara yang tertera dalam Al-Qur’an dan disebut dalam hadits Nabi Saw. sedangkan perkara itu tidak bisa diterima oleh akal manusia biasa atau sesuatu yang ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia biasa tapi harus dipercayai oleh setiap muslim akil dan baligh. Adanya perkara ini demi untuk meyakinkan kepastian adanya risalah yang dibawa Rasulallah Saw.
Untuk mendukung ketauhidan materi tentang sam’iyat juga sangat diperlukan, sehingga masalah-masalah yang berada di luar pengalaman manusia haruslah berdasarkan sumber naqli yakni berdasarkan kepada Al-Quran dan Al- Hadits. Seperti masalah hidup setelah hidup di dunia ini yakni alam barzakh, surga dan neraka, kiamat dan lain sebagainya. Namun pendidikan tauhid dalam keluarga sebagai langkah awal dalam pendidikan anak sebelum anak menempuh pendidikan formal. Maka masalah adanya kehidupan setelah mati perlu ditanamkan kedalam diri anak. Bahwasanya ada balasan untuk setiap amal perbuatan yang dilakukan setiap manusia, tidak ada seorang pun yang dapat lari dari tanggung  jawab amal perbuatannya ketiaka hidup di dunia ini. Bagi yang baik ada surga yang berhiaskan kenikmatan dan limpahan karunia ridha Allah, dan ada neraka yang penuh dengan siksaan dan kemurkaan Allah untuk pada pendosa.
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ) البقرة: ٢٨(
Artinya:  Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(Qs. Al-Baqarah:28).


[1] Abdullah bin Abdul Muhsin, Kajian Komprehensif Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1995), hal. 98.

[2] Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 22.

[3] Hunainin, Pendidikan Keimanan Bagi Anak Menurut Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan, Dalam Kitab Tarbiyah Al-Aulad Fi Al Islam: Tujuan, Materi, dan Metode, (Yogyakarta: Skripsi Sarjana Pendidikan Islam Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga), hal. 37.

[4] Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal. 237.
[5] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: LPPI, 2004), hal. 6.

[6] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Terjemahan  M. Habib Wijaksana, Filsafat Tauhid Mengenal  Tuhan Melalui Nalar dan Firman, (Bandung: Arasyi, 2003), hal. 99.

[7] Ibid., hal. 99.
               [8] Ibid, hal. 110.

[9] Ibid, hal. 111.

[10] Masjfuk Zuhdi, Studi Islam Jilid I : Akidah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1993), hal. 13.

[11] Ali Abdul Halim Mahmud, Karakteristik Umat Terbaik Telaah Manhaj, Akidah Serta Harakah, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hal. 27.
[12] Yazdi,  Filsafat...., hal. 99-100.
               [13] Ibid., hal. 101.

[14] Ibid., hal. 101.

[15] Ibid, hal. 107-108.

               [16] Ibid, hal. 108.
              
               [17] Ilyas, Kuliah....., hal. 51-55.

[18] Ibid., hal. 52-55.
[19] Syeikh Muhammad Nawawi, Syarh Fath Al Majid, (Beirut: Dar Ihya al Kitab al Arabiyah, t. k., t.t), hal. 5-6.

[20] Ibid, hal. 110-111.

[21] Zuhdi, Studi..., hal. 13.

               [22] Ilyas, Kuliah....., hal. 129.

[23] Ibid., hal. 129.

[24] Ibid., hal. 129.

               [25] Ibid. hal. 131-133.
[26] Ilyas, Kuliah....., hal. 77.

[27] Ibid., hal. 78.
              
               [28] Ibid., hal. 78.
               [29] Zuhdi, Studi..., hal. 14.