Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mendidik Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam


A.    Mendidik Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam    
       
Mendidik Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Islam memandang pendidikan adalah suatu yang penting yang harus diberikan kepada anak sejak dini. Hal ini disebabkan karena pada fase ini anak-anak mudah menerima sesuatu yang baik dan begitu pula dengan hal-hal yang buruk. Pendidikan sejak dini akan menentukan kehidupan di masa yang akan datang. Apabila anak-anak dibiasakan dan diajarkan dengan sifat-sifat yang baik, maka ia akan tumbuh dengan sifat yang baik dan begitu pula sebaliknya, apabila anak dibiasakan tumbuh dengan hal-hal yang dilarang agama, maka ia terbiasa dengan keadaan tersebut.
Menurut Islam, pendidikan anak adalah kegiatan pendidikan yang diberikan kepada anak yang dijalankan sesuai dengan landasan agama Islam yaitu Alquran dan hadits sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka semua pihak hendaknya bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya. Dimanapun anak berada, keberadaan orang dewasa sangat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan, di antaranya pendidik (guru), orang tua dan masyarakat.
Lingkungan keluarga merupakan fondasi awal, dan yang paling kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lingkungan pertama seorang anak melakukan interaksi. Dalam hal ini orang tualah yang berperan utama dalam memberi pendidikan kepada anak, keteladanan orang tua akan menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak. Berkenaan dengan ini Rasulullah Saw. Bersabda sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.  (رواه  البخاري)
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: Tiap-tiap anak yang baru lahir dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari)[1]

Oleh karena itu kedudukan orang tua sangat berperan dalam membentuk pribadi anak, baik dan buruknya seorang anak tergantung dibawah kendali orang tuanya.
Dalam Alquran surat At-Tahrim ayat 6 Allah juga menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: ٦)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. At-Tahrim: 6).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa orang tua memegang tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab tersebut bukan saja dari segi materi, tetapi lebih dari itu adalah pendidikan agama, sebab pemeliharaan diri yang dimaksud dalam ayat di atas adalah masalah pendidikan agama. Pendidikan tersebut haruslah diamati dari keluarga dimana orang tualah yang mempunyai peran penting dalam pembentukan pribadi anak.
Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di sekolah guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Dalam hal ini, Zakiah Daradjat menegaskan “bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang yang pertama sesudah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik.[2]

Apa saja yang dilakukan oieh guru dinilai baik oleh anak dan sebaliknya apa saja yang tidak balk menurut guru juga tidak baik menurut anak. Jadi guru memegang tanggung jawab dan peranan yang amat penting terhadap pendidikan agama anak dalam rangka pembentukan kepribadiannya menjadi seorang muslim yang bertaqwa dan berintelektual.
Sedangkan lingkungan yang ketiga, setelah keluarga dan sekolah adalah masyarakat. Di lingkungan inilah seorang anak lebih banyak menggunakan waktunya dibandingkan di rumah dan di sekolah. Di dalam masyarakat anak mulai belajar dan memahami orang lain. Anak tersebut terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan dan adat yang ada di lingkungan. Adat dan kebiasaan tersebut akan ikut mewarnai sikap dan prilaku anak.
Oleh karena itu, masyarakat juga ikut serta memikul tanggung jawab dan ini merupakan tanggung jawab moral dari setiap individu muslim. Tanggung jawab ini hendaknya dilaksanakan secara sukarela dan dengan penuh kesadaran bahwa pendidikan anak sebagai generasi penerus ada di tangan orang tua dalam kelompok besar yakni masyarakat, karena sudah menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai kecenderungan berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga perlu dibangun masyarakat muslim yang madani, berakhlak dan berintelektual, seperti yang tertera dalam Alquran sebagai berikut:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. (ال عمران: ١١٠)
Artinya: Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
(Qs. Ali Imran: 110).

Ayat di atas menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat terbaik yang diutus Allah. Masyarakat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika lingkungan ini dapat diwujudkan maka akan terbentuk masyarakat yang dijadikan teladan bagi anak dan hal ini merupakan tanggung jawab kita semua.
Dan uraian di atas dapat dipahami, bahwa pendidikan anak menurut konsep Islam adalah pendidikan yang dijalankan atas dasar Alquran dan Hadits untuk mencapai tujuan akhir yaitu generasi yang bertaqwa dan berintelektual.




[1] Imam Bukhari, Shaheh Bukhari, juz. II, (Cairo: Darul Ma’taban, Asya’biah, t.t), hal. 125.
[2] Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, Cet. II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 18.