Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendidikan Tauhid Menurut Nurcholis Madjid


BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan Tauhid Menurut Nurcholis Madjid


A.    Latar Belakang Masalah

Dalam pandangan Islam, ajaran tauhid dan aqidah  ditempatkan sebagai inti dari ajaran Islam. Dalam sejarah pemikiran Islam, ajaran tauhid tersusun dalam ilmu tauhid yang juga dikenal dengan ilmu ushuluddin atau ilmu tentang pokok-pokok ajaran Islam. Ilmu tauhid inilah yang kemudian diletakkan sebagai bidang studi utama pembelajaran dalam sistem pendidikan Islam.
Pembelajaran bidang studi tauhid adalah dasar bagi pembelajaran semua bidang studi, baik bidang studi yang pada umumnya dimasukkan ke dalam ilmu agama Islam atau Islamic studies, ataupun bidang studi ilmu-ilmu umum. Tolak ukur keberhasilan bidang studi agama Islam tidak hanya dilihat dari hasil evaluasi ranah kognisi, melainkan seharusnya juga dilihat dari hasil evaluasi ranah afeksi dan psikomotor atau prilaku peserta didik. Hal ini berarti bahwa keberhasilan pembelajaran bidang studi tauhid menentukan keberhasilan pembelajaran semua bidang studi.[1]

Abuddin Nata dalam bukunya �Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia� menjelaskan bahwa:
Gagasan dan pemikiran Nurcholish Madjid bukan hanya mencakup satu bidang saja, melainkan dalam berbagai bidang, termasuk di dalamnya masalah doktrin, ilmu pengetahuan dan peradaban. Dari berbagai pemikirannya ini dapat ditelusuri dan dilacak gagasan dan konsep yang berkaitan dengan pendidikan. Uraian berikut ini akan mencoba melihat dan menjajagi pemikiran dan gagasan Nurcholish Madjid dalam bidang pendidikan Islam.[2]

Nurcholis Madjid menyebutkan bahwa, �kita harus menumbuhkan iman dalam diri kita sedemikian rupa, mungkin dari tingkat yang sederhana, kemudian berkembang dan terus berkembang menuju kesempurnaan, itu berarti iman menuntut perjuangan terus-menerus tanpa berhenti�.[3]Diskursus mengenai iman adalah erat kaitannya dengan keteguhan tauhid yang merupakan pondasi atau asas tunggal pertama yang harus bersemayam dalam qalbu orang yang beriman dan harus dikembangkan dan ditingkatkan. Diantara cara pengembangan dan peningkatan iman tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dengan menawarkan dan membangun kembali konsep tauhid uluhiyah, rububiyah, mulkiyah dan rahmaniyah sebagai landasan pendidikan Islam.
Siswanto dalam bukunya �Pendidikan Islam Kontekstual� menjelaskan bahwa:
Tidak ada gagasan yang berdiri sendiri di atas angin. Setiap gagasan baru lahir, ia senantiasa mengundang respon bahkan polemic. Demikian pula dalam dinamika pemikiran keagamaan, hal serupa senantiasa terjadi. Bahkan kemudian tak terhindarkan lahir ketegangan-keteengan dan konflik, yang muncul mengiringi perkembangan pemikiran itu. Inilah yang terjadi di sekitar gagasan-gagasan keagamaan Nurcholish Madjid.[4]

Nurcholis Madjid dalam bukunya, Islam Doktrin dan Peradaban, mengatakan bahwa �manusia menurut asal kejadiannya adalah makhluk fitrah yang suci dan baik, dan karenanya berpembawaan kesucian dan kebaikan. Karena kesucian dan kebaikan itu fitri, maka ia akan membawa rasa aman dan tentram padanya�[5].
Nurcholis Madjid adalah sosok pemikir Islam yang mempunyai pengaruh kuat dan luas dalam sejarah intelektualisme di Indonesia. Pemikirannya membawa dampak yang amat luas dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Dalam pendidikan Islam ada sebuah wacana untuk mencari formulasi ideal seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, metodologi dan permasalahan sosial-budaya yang perlu mendapat pencerahan dari dunia pendidikan Islam khususnya.  Konsep ini tentu akan menjumpai hambatan-hambatan karena peristilahan pendidikan Islam yang masih umum. Adanya tarik menarik antara aspek filsafat dan teologi yang sulit dilepaskan dari Pendidikan Islam. �Dimensi filsafat mungkin koheren dengan nilai-nilai Islam, sedangkan teologi lebih bersifat ekslusif, hanya menjustifikasikan hal-hal yang tekstual bersumber dari Alquran dan Hadits�.[6] Secara umum dasar filsafat membawa konsekuensi bahwa �rumusan pendidikan Islam harus beranjak dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang digali dari pemikiran manusia muslim dan sepenuhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai asasi ajaran Islam�.[7]
Sebagai seorang cendekiawan muslim terkemuka di Indonesia, Nurcholish Madjid banyak memberikan formulasi pemikirannya terhadap dunia Islam yang bersifat pembaruan. Dengan berkiblat kepada pemikiran Ibnu Taimiyah dan Fazlur Rahman sebagai tokoh yang mempengaruhi pola pemikiran Nurcholish Madjid bahwasannya Konsep pembaruan ini terdapat tiga hal dasar yang menjadi tolak ukur proses pembaruan Islam ke depan. Di antaranya konsep Modernisasi, Sekularisasi dan Inklusivisme. Ketiga hal tersebut menjadi pola pikir keIslaman yang membawa pada jalur pembaruan Islam di Indonesia.
Dalam konteks tauhid sebagai paradigma pendidikan Islam, pendidikan yang dimaksud adalah agar manusia (peserta didik) dapat memfungsikan instrumen-instrumen yang dipinjamkan Allah kepadanya seperti akal pikiran dapat menjadi brilian dalam memecahkan rahasia ciptaan-Nya, hati mampu menampilkan hakikat dari rahasia itu dan fisikpun menjadi indah penampilannya dengan menampakkan hak-hak-Nya. Oleh karena itu, dengan pendidikan tauhid ini, manusia akan menjadi manusia yang hamba, bukan manusia yang hewani. Timbul rasa saling mengasihi, tolong-menolong, selalu waspada terhadap tipu daya dunia dan manusia-manusia zalim, kemudian dapat berlaku sederhana (zuhud) dan hati-hati (wara�), dan lain sebagainya.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis mengambil judul dalam penelitian skripsi ini adalah Pendidikan Tauhid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban).
B.    Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagi berikut:
1.     Bagaimana biografi Nurcholish Madjid?
2.     Bagaimana hakikat pendidikan tauhid menurut Nurcholish Madjid?
3.     Bagaimana konsep pendidikan tauhid menurut Nurcholish Madjid?
C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dalam penulisan proposal skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.     Untuk mengetahui biografi Nurcholish Madjid.
2.     Untuk mengetahui hakikat pendidikan tauhid menurut Nurcholish Madjid.
3.     Untuk mengetahui konsep pendidikan tauhid menurut Nurcholish Madjid.
D.    Kegunaan Penelitian

Adapun yang menjadi kegunaan penelitiandalam skripsi ini adalah sebagi berikut:
              Secara teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi peneliti, secara umum dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban). Selain itu  hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang studi pendidikan.
              Secara praktis, hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan nilai tambah dalam memperbaiki dan mengaplikasikan Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban) ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.
E.    Penelitian Terdahulu

Diantara para peneliti sebelumnya, antara lain :
Nama: Zuriyati Nim: A. 201217/4171 Instititut Agama Islam Almuslim Aceh Pada tahun 2014 dengan judul skripsi pemikiran nurcholis madjid dalam pendidikan Islam metode yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode library reserch dengan kesimpulan sebagai berikut:
1.     biografi dan pendidikan Nurcholis Madjid dari kecil sampai dewasa dan latar belakang lingkungan keluarganya, membuat diri Nurcholis Madjid merasa terpanggil untuk memberikan sumbangsih dalam mengembangkan pemikirannya tentang keilmuan dan terhadap pembaruan di dunia keislaman dan pendidikan, serta keadaan masyarakat Islam di zaman Modern.
2.     Pemikirannya tentang sekularisasi, Nurcholis Madjid secara serta merta memiliki tujuan untuk memperbaiki keadaan masyarakat Islam kearah yang modern tetapi tidak menghilangkan nilai Islami. Karena, melihat pada masyarakat tradisional yang masih cenderung fanatik dan tidak menerima keadaan yang kontemporer atau kekinian dan juga apabila menerima pun mereka menjadi tidak terarah atau justru terhegemoni oleh moderenisasi kaum barat yang mengarah kepada liberal.
3.     Perubahan pemikiran Nurcholis yang modern, berawal dari pendidikannya di Amerika. Diintegrasikan dengan pola fikir Islami yang berakhir pada implementasi nilai-nilai Barat. Sementara asal usul gagasan sekularisasi dikerenakan evolusi agama Kristen yang bertransisi menuju rasionalisasi agama karena konflik tentang konsep Tuhan dan hidup mereka yang tidak jelas. Akhirnya nilai-nilai Islam dikesampingkan dalam kehidupan sosial melahirkan sekularisasi, inklusifisme dan pluralisme dalam Islam yang modern.
Selanjutnya adalah Nama: Fitriah Nim: A. 274675/3576 Sekolah Tinggi Agama Islam Almuslim Bireuen Provinsi Aceh Pada tahun 2013 dengan judul skripsi Konsep Pendidikan Tauhid Dalam Membentuk Ahlaq Anak. Metode yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode library reserch dengan kesimpulan sebagai berikut:
1.     Pendidikan Tauhid adalah model pendidikan yang berakar pada akidah ketauhidan dan melepaskan manusia dari kejumudan maupun kepada ikatan-ikatan berhala, disamping benda-benda lain, yang posisinya hanyalah sebagai makhluk Allah SWT. karena selama ini banyak sekali tontonan-tontonan yang kurang mendidik yang kurang memberikan tuntunan kepada anak didik, yang berdampak buruk pada mindset kejiwaan anak, malah sebuah upaya ''proses pembodohan'' yang menggiring kembali ke pola pikir masa lalu (back to traditional), mempercayai mitos, klenik, sihir dan menumbuh suburkan budaya khayal, berangan-angan, sehingga dapat mempengaruhi alam bawah sadar mereka, maka yang terjadi mereka bukan hanya mudah untuk putus asa karena kurang menghargai realitas mereka, juga berdampak pada kurang pekanya generasi muda kita terhadap tantangan dunia pasar bebas (ACFTA) di era globalisasi ini!
2.     Untuk mengimplementasikan konsep tauhid terhadap akhlaq anak didik adalah dimulai dari penerapan akhlaq dari lingkungan keluarga, karena bagaimanapun mainset anak didik dibentiuk dan dimulai dari pembentukan konsep keluarga sakinah, dengan cara menanamkan norma nilai-nilai yang baik dan berakhlakul karimah serta mengajarkan nilai-nilai yang baik, sopan-santun dalam bertuturkata, berbuat dan bertingkah laku, utamanyadalam hal memberikan keteladanan yang baikkepada anak serta menuntun ketauhidan mereka.
Selanjutnya adalah Nama: Sriwahyuni Nim: A. 274468/3348 Sekolah Tinggi Agama Islam Almuslim Bireuen Provinsi Aceh Pada tahun 2012 dengan judul skripsi Penanaman Tauhid Prioritas Utama Dalam Pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode library reserch dengan kesimpulan sebagai berikut:
1.     Konsep tauhid dan pendidikan yang diajarkan Al-qur�an harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan  berbagai disiplin ilmu lain. Akidah yang kuat, tauhid yang bener menjadi bekal seseorang dalam mengarungi bahtra kehidupannya. Mantapkan aqidah, ajarkan  bagaiman cara hormat kepada orang tua, tanamkan kecintaan akan kebaikan dan amal shalih, ajarkan praktek ibadah yang benar yaitu hanya untuk Allah dan tidak menyekutukan-Nya, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam, ahklak dan tingkah laku yang baik.
2.     Hubungan tauhid dan pendidikan sangat erat kaitannya. Bila menginginkan mempunyai generasi rabbani dan yang berakhlak qur�ani penetrasi tauhid dalam pendidikan usia dini mereka mutlak diajarkan. Penanaman tauhid menjadi prioritas utama dalam pendidikan sebelum memberika  berbagai disiplin ilmu lainnya. Inilah methode para Rasulullah dan para salafusshalih dalam berdakwah
Penelitian tersebut diatas belum menjelaskan secara rinci tentang pendidikan tauhid menurut Nurcholis Madjid, sehingga terlihat belum lengkap dalam sebuah penelitian. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian diatas adalah, dalam penelitian ini penulis mendiskripsikan konsep pendidikan tauhid menurut Nurcholis Madjid.
F.     Landasan Teori

Nurcholis Madjid memandang Islam sebagai agama yang terbuka (inklusif) dan harus menghentikan sikap tertutup (ekslusif) meskipun mereka punya alasan tersendiri akan hal itu. Tetapi, madjid menegaskan jika umat Islam tidak mau menerima apa saja yang baik dan positif, maka umat Islam akan tertinggal dan semestinya memandang sesuatu kepada makna dan fungsinya dengan berbagai jalan yang baik. Penulis menyadari bahwa umat Islam haruslah berfikir inklusif. Ilmu pengetahuan harus selalu diupdate, agar peran manusia sebagai khalifah Allah SWT dibumi bisa mencapai pada derajat tertinggi fitrah manusia.
Dasar pembaruan Nurcholish Madjid adalah berlandaskan tauhid yang dalam khazanah pembaruan pemikiran Islam di Indonesia pada masa itu  justru dianggap radikal. Namun kini pemikiran seperti itu tidak terlalu mengejutkan lagi karena kedewasaan intelektual umat Islam sudah amat baik dibandingkan masa lalu atau tahun 70-an. karenanya Nurcholish Madjid telah menambahkan khazanah pemikiran dalam Islam.[8]
Nurcholis mengganggap bahwa gagasan pembaharuannya adalah semacam daya gerak psikologis (psychological strikes force). Ia berpikkir kalau umat Islam akan memilih kemapanan, resikonya adalah terjadinnya kejumudan berkepanjangan, sedangkan apabila memilih pembaharuan, resikonya adalah intregasi umat dikorbankan.
Sebuah dilema segera dihadapkan pada umat  Islam: apakah akan memilih menempuh jalan pembaruan dalam dirinya, dengan  merugikan inntegrasi yang selama ini didambakan, atauka akan mempertahankan dilakukannya usaha-usaha kearah integrasi itu, sekalipun dengan akibat keharusan ditolerirnya kebekuan pemikiran dan hilangnnya kekuatan-kekuatan moral yang  ampuh? Tidak bisa dipersatukannya (inkompatibilitas) antara keharusan pembaruan telah diambil oleh sebagian umat, sebagian yang  lain akan mengadakan reaksi kepadanya.[9]
Pemikiran pembaruan Nurcholis Madjid mendorong M. Kamal Hasan di Malaysia untuk melakukan penelitian dalam studi disertasinya. Menurutnya, memang banyak generasi muda muslim yang sama-sama merasakan pentingnya pembaruan, tetapi perasaan itu pudar, khusus nya setelah Nurcholis tampil terlalu angkuh mempergunakan istilah-istilah �liberalisasi�, kebebasan intelektual, dan seterusnya yang mengandung konotasi-konotasi yang terlalu radikal untuk dimaafkan.[10]
Bisa dikatakan, munculnya gerakan pembaruan yang berporos pada Cak Nur telah menandai permulaan fase penyebaran ide pembaruan dalam komunitas umat Islam, juga penyebaran ide-ide pembaruan dan kecenderungan pemahaman liberal dalam Islam. Gagasan ini dalam perkembangannya diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia dan mampu mengubah sikap-sikap sosial yang cukup mendasar.[11]
G.   Metodologi Penelitian    

Bagian ini akan menguraikan tentang perangkat-perangkat penelitian mulai dari jenis penelitian, metode penelitian, ruang lingkup penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data yang sangat membantu dalam kelangsungan penelitian ini.
1.     Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini adalah jenis studi yang termasuk kedalam library research atau kepustakaan. �Penelitian kepustakaan merupakan bagian penting dalam sebuah penelitian yang kita lakukan. Kajian pustaka disebut juga kajian literature (literature review)�.[12]�Sebuah kajian pustaka merupakan sebuah uraian atau deskripsi tentang literature yang relevan dengan bidang atau topik tertentu serta memberikan tinjauan mengenai apa yang telah dibahas oleh peneliti atau penulis, teori dan hipotesis yang mendukung, permasalahan penelitian yang diajukan atau ditanyakan, metode dan metodelogi yang sesuai�.[13]
Adapun pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan kualitatif. �yakni pendekatan yang lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif, serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah�[14].
2.     Sumber Data
Sumber data dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
a.      Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara, pengisisan kuesioner, dan observasi�.[15] Dalam penelitian ini, kajian yang menjadi sentral sumber primernya adalah buku karangan Nurcholis Madjid yang berjudul:
1)     Nurcholis Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Paramadina, 2004.
2)     Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
b.     Sumber Sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Data sekunder disajikan antara lain dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-digram. Data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut, misalnya data kinerja perbankan nasional yang dikeluarkan suatu badan riset�.[16] Sebagai sumber yang sekunder penulis menggunakan buku tentang    pendidikan Islam:
1)     Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
2)     Ismail, Faisal. Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu Sekularisasi  Dalam Islam, Jakarta: Lasswell Visitama, 2010.
3)     Idrus, Junaidi. Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid :Membangun Visi Dan Misi Baru Islam Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka, 2004. 
Selain buku ini, digunakan juga buku-buku lain untuk melengkapi pembahasan maupun perbandingan dengan pemikiran Nurcholis Madjid.          

3.     Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah buku Nurcholis Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Paramadina, 2004 dan buku Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992. 
4.   Teknik Pengumpulan Data          

Sumber data yang digunakan dalam skripsi ini adalah berupa studi kepustakaan, maka teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah membaca bagian-bagian terpenting dari buku Islam doktrin dan Peradabanyang telah disiapkan berdasarkan sub bab yang ada relevansinya dengan pembahasan, kemudian diadakan analisis kembali dalam kerangka yang berfikir sistematis, selanjutnya peneliti tuangkan dalam bentuk konsep atau kesimpulan.   
5.   Teknik Analisa Data        

Teknik analisis data adalah suatu teknik penelitian untuk merangkum apa yang telah diperoleh, menilai apakah data tersebut berbasis kenyataan, teliti, jeli dan benar. Analisis data juga diperlukan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[17]        
Untuk menganalisis terhadap data yang sudah terkumpul, teknik yang di gunakan adalah �deskriptif analitik� yaitu dengan mengambarkan dan memaparkan Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban) kemudian dianalisa secara cermat dengan mengunakan berbagai metode sebagai berikut :         
a)     Metode Deduksi
Metode deduksi adalah �metode yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduksi yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduksi sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus�.[18]Dalam kaitannya dengan pembahasan kali ini, metode deduksi digunakan untuk memperoleh gambaran detail dari Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban).
b)     Metode Induksi
Metode induksi yaitu �menekankan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum�.[19]Dalam kaitanya dengan penelitian ini, metode ini di gunakan untuk memperoleh gambaran yang utuh terhadap Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban).
c)     Metode komparasi
Metode komparasi yaitu �penelitian yang bersifat membandingkan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang di teliti berdasarkan kerangka pemikiran tertentu�.[20]Dalam penelitian ini metode komparasi ini digunakan unuk membandingkan Konsep Pendidikan Tauhiid Menurut Nurcholis Madjid (Studi Naskah Islam Doktrin dan Peradaban).             
H.    Sistematika Penulisan
                                                           
Garis-garis besar isi skripsi ini terdiri dari lima bab, yaitu masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab yaitu: Bab satu, berisi tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, landasan teori, metodologi penelitian dan garis-garis besar isi skripsi.
Bab dua berisi tentang Biografi Nurcholis Madjid yang meliputi latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, karya yang dihasilkan, karir yang dicapai, kondisi sosial politik, kondisi sosial intelektual, tokoh yang mempengaruhinya, metode (corak) berfikir Nurcholis Madjid.                
Bab tiga berisi tentang hakikat pendidikan tauhiid menurut Nurcholis Madjid yang meliputi Pengertian pendidikan tauhid, dasar dan tujuan pendidikan tauhid, fungsi pendidikan tauhid dan tauhid sebagai pendidikan Islam.                             
Bab empat berisi tentang konsep pendidikan tauhiid menurut Nurcholis Madjid yang meliputi Ide Pemikiran Nurcholish Madjid, pembaruan Nurcholish Madjid tentang tauhid, tauhid sebagai paradigma pendidikan Islam, pendidikan tauhid dalam perspektif Nurcholish Madjid.
Bab lima berisi tentang penutup yang meliputi Kesimpulan dan saran-saran.

































               [1]Syikascience, Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan, diakses tanggal 31 Agustus 2016 di http://syikascience.blogspot.co.id.html.
               [2]Abuddin Nata, Tokoh-tokoh pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005), hal. 326.
               [3]Nurcholis Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, (Jakarta: Paramadina, 2004), hal. 7.
               [4]Siswanto, Pendidikan Islam Kontekstual, (Surabaya:  Pena Salsabila, 2013), hal. 151.
               [5] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), hal. 305.
               [6] Sembodo Ardi Widodo, Problematika Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Dari Aspek Epistemology) dalam buku Pendidikan Islam di Indonesia oleh Dr. Abdur Rahman Assegaf, MA., dkk. (Yogyakarta: SUKA Press, 2007), hal. 25.
               [7] Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis Dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 58.
               [8]Akhmad Taufik, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisasi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 155.
               [9]Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, (Jakarta: Grasindo, 2003), hal. 224.
               [10] Ibid.,hal. 224.
               [11]Zubaedi, Islam dan Benturan Antar Peradaban, (Jogjakarta:  Ar-Ruzz Media Group, 2007), hal. 172.
               [12]Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Jilid 1, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 72.
               [13] Ibid.,hal. 72.
               [14] Ibid., hal. 5.
               [15]Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 42.
               [16]Ibid.,
[17]Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), hal. 155.
               [18]Budiyanto, Metode Deduksi dan Induksi. Artikel diakses tanggal 31 Agustuus 2016 dari https://Ibud.Wordpress.Com.
               [19]Budiyanto, Metode Deduksi dan Induksi. Artikel diakses tanggal 31 Agustuus 2016 dari https://Ibud.Wordpress.Com.
               [20]Raden Sanopaputra, Analisis Komparatif, Artikel diakses tanggal 31 Agustuus 2016 dari http://.blogspot.co.id.html.