Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Fungsi Orang Tua Dalam Pembinaan Anak


BAB II
FUNGSI ORANG TUA DALAM PEMBINAAN ANAK


A.    Hakikat Orang Tua Bagi Anak 
Orangtua adalah orang yang bertanggung jawab dalam satu keluarga atau rumah tangga yang biasa disebut ibu/bapak.[1]Orangtua yaitu orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anak.[2]Menurut Hery Noor Aly orangtua adalah �ibu dan ayah dan masing-masing mempunyai tanggung jawab yang sama dalam pendidikan anak�.[3]Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa peran orangtua merupakan suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab dalam satu keluarga, dalam hal ini khususnya peran terhadap anaknya dalam hal pendidikan, keteladanan, kreatif sehingga timbul dalam diri anak semangat hidup dalam pencapaian keselarasan hidup di dunia ini.
Sehingga sebagai orangtua mempunyai kewajiban memelihara keselamatan kehidupan keluarga, baik moral maupun material, denagn keteladanan, kreatif sehingga timbul dalam diri anak semangat hidup dalam pencapaian keselarasan hidup di dunia ini. Sebagaimana firman Allah surat At-Tahrim ayat 6 sebagai berikut:
??? ???????? ????????? ??????? ???? ??????????? ????????????? ?????? ?????????? ???????? ?????????????? ????????? ??????????? ??????? ??????? ??? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ??? ?????????? ?)??????? ? ? (
Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Qs. At-tahrim:6).
Kepribadian orangtua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Hal ini dikarenakan posisi orang tua memiliki hubungan terdekat dengan anak-anaknya. Anak belajar mengenal makna cinta kasih, simpati, ideologi dan tingkah laku lainnya secara langsung kepada orang tuanya, sehingga perilaku orang tua memiliki pengaruh yang sangat signifikan bagi pembentukan karakter anak.        
Orangtua merupakan lingkungan terdekat anak, selain orang-orang sekitarnya. Orangtua dan anak yang berada dalam suatu kondisi lingkungan adalah keluarga inti. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak-anak didik pertama kali oleh lingkungan pertamanya yaitu keluarga, labih khusus orang tuanya. Hal ini yang menjadi perhatian karena anak tersebut merupakan produk dari keluarga.[4]
Lingkungan kedua yang berfungsi juga sebagai tempat pendidikan di luar adalah masyarakat. Dalam masyarakat tersebut anak akan berinteraksi dengan orang lain sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi pembentukan pribadi anak. Jika orang tua sabar secara intensif mendukung serta bisa menjadi teladan, maka hal itu jelas masukan yang sangat berartidalam proses pembentukan anak seperti Rasulullah Saw. katakan bahwa anak memiliki fitrah, tauhid yang secara potensial dapat dikembangkan.
Peran orang tua merupakan kegiatan untuk mengembangkan segala potensi anak. Kegiatan tersebutlah yang akan mempengaruhi anak, termasuk dari sisi emosinya. Peran orang tua sebenarnya tidak hanya sekedar mengembangkan emosi bagi anak tetapi juga ada aspek-aspek lain yang mutlak dilakukan oleh orang tua, yaitu aspek afektif kognitif dan psikomotor. Orangtua memberikan perhatian dan rangsangan mental pada anak sedini mungkin. Karena hal ini akan mengembangkan potensi anak secara optimal karena pendidikan anak balitapenting sekali. Artinya dengan menyerahkan pendidikan anak balita kepada perawat atau pembantu adalah tindaakan yang kurang bijaksana.
Menyediakan sarana yang cukup, merupakan juga peran yang dilakukan oleh orang tua untuk pengutaran potensi anak baik secaara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Karena tanpa adanya sarana sebagai alat realisasi, maka potensi anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada perannya juga, orangtua sedapat mungkin mendukung perkembangan anak dalam memenuhi kebutuhan gizi dan materi. Orangtua yang mampu memenuhi kebutuhan emosi anak berarti sudah memenuhi salah satu kebutuhan anak, yaitu kebutuhan emosi. Kebutuhan emosi ini meliputi kebutuhan kasih sayang, keamanan, pengalaman akan hal-hal baru pujian dan tanggung jawab.

B.    Fungsi Orang Tua Terhadap Anak
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari mereka anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Corak pendidikan dalam rumah tangga secara umum tidak berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situsi atau iklim pendidikan.
Membicarakan fungsi orang tua terhadap anak tidak terlepas dengan membicarakan keluarga. Keluarga dibentuk untuk reproduksi, keturunan, ini merupakan tugas suci agama yang dibebankan kepada manusia-transmisi pertama melalui fisik. Keluarga adalah sebuah tatanan fitrah yang Allah tetapkan bagii jenis manusia. Bahkan para Rasul dan Nabi Allah pun menjalani hidup berkeluarga. Hal itu membuktikan bahwa keluarga adalah sebuah institusi suci, mengandung hikmah dan memiliki misi Ilahiah secara abadi. Seperti  termaktub pada surat Al-A�raf ayat 189 sebagai berikut:
???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????? ???????? ??????? ????????? ?????????? ????????? ???????? ??????????? ???????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????? ????????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ?????????? ???????? ????????????? ???? ?????????????) ???????: ???(
Artinya:  Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.(Qs. Al-A�raf: 189)
Perjalanan keluarga selanjutnya mengharuskan ia bertanggung jawab, dalam bentuk pemeliharaan yang harus diselenggarakan demi kesejahteraan keluarga, anak-anak perlu pakaian yang baik, kebersihan, permainan yang sehat, makanan yang bergizi.
Lebih jauh keluarga berjalan mengharuskan ia menyelenggarakan sosialisasi, memberikan arah pendidikan, pengisian jiwa yang baik dan bimbingan kejiwaan. Pewarisan nilai kemanusiaan, yang minimal dikemudian hari dapat menciptakan manusia damai, anak shaleh yang suka mendoakan orang tua secara teratur, yang mengembangkan kesejahteraan sosial dan ekonomi umat manusia yang mampu menjaga dan melaksanakan hak azasi kemanusiaan yang adil dan beradab dan yang mampu menjaga kualitas dan moralitas lingkungan hidup.[5]
Keluarga memiliki tujuan dan fungsi utama dan suci sepanjang masa. Diantara tujuan dan fungsinya itu adalah:
Pertama, Pemeliharaan dan kesinambungan suku bangsa. Kedua,Perlindungan moral. Ketiga, Stabilitas psiko-emosional (cinta dan kebijakan). Keempat, Sosialisasi dan orientasi nilai. Kelima, Keterjaminan sosial dan ekonomi. Keenam, Memperluas ikatan keluarga dan membantuk kesatuan sosial dalam masyarakat. Ketujuh, Dorongan untuk berusaha dan berkorban.[6]
Fungsi orang tua menurut Zakiah Daradjat dkk, adalah:
Pertama, Pendidik yang harus memberikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan terhadap anggota keluarga yang lain di dalam kehidupannya. Kedua, Pemimpin keluarga yang harus mengatur kehidupan anggota. Ketiga, Contoh yang merupakan tipe ideal di dalam kehidupan dunia. Keempat, Penanggung jawab di dalam kehidupan baik yang bersifat fisik dan materiel maupun mental spiritual keseluruhan anggota keluarga.[7]
Secara umum dapat dikatakan, bahwa bagaimana pengaruh orang tua terhadap perkembangan perilaku kepribadian anaknya ditentukan oleh sikap, perilaku dan kepribadian orangtua.[8]Sehingga fungsi orang tua sangat dominan pada diri anak. Diantaranya sebagai pendorong kemajuan.
Contoh perilaku orang tua yang menerima anak: Pertama, Menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Kedua, Berperan serta dalam kegiatan anak. Ketiga, Perhatian terhadap prestasi sekolah anak. Keempat, Percaya pada anak. Kelima, Tidak mengharapkan terlalu dari anak. Keenam, Memberi dorongan dan nasehat kebijaksanaan pada anak.[9]
Dengan demikian yang dihasilkan oleh anak-anak dari orangtuanya bukan hanya berupa harta benda semata tetapi juga nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan yang dinamis dan kreatif.
C.    Peran Orang Tua Terhadap Anak
Peranan orangtua sangat strategis, sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi saat ini di mana pengaruh teknologi informasi yang semakin kental. Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting sebab kondisi dasar dari sebuah generasi dimulai dari sebuah keluarga. Menurut Zakiah Daradjat keluarga adalah �suatu sistem kehidupan masyarakat yang terkecil dibatasi oleh adanya keturunan atau disebut juga umat, akibat adanya kesamaan agama�.[10]
Sebagaimana orang tua atau pendidik, kita harus sadar bahwa lingkungan yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak adalah keluarga, di samping sekolah. Berhasil tidaknya peningkatan prestasi juga sangat bergantung pada lingkungan yang menumbuhkan dan mengembangkan anak-anak. �Sebab keteladanan lebih efektif dibandingkan nasehat berupa ucapan atau indoktrinasi. Tanpa keteladanan, rasanya sulit menjadi generasi qur�ani yang kelak akan meneruskan cita-cita Islam�.[11]
Posisi orang tua sangat berarti bagi pembinaan subjek didik, karena dituntut untuk mengedepankan sosok anak yang muslim. Islam juga menuntut agar orang tua benar memberikan pengawasan yang intensive terhadap segala aktifitas yang dilakukan anak untuk menentang kemungkinan berprilaku yang negatif, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat at-Tahrim ayat 6 sebagai berikut:
??? ???????? ????????? ??????? ???? ??????????? ????????????? ??????...(???????: ?)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q. S. at-Tahrim: 6).

Seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. Ibu merupakan guru pertama dan utama dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Selain ibu, ayahpun mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam memberikan pendidikan kepada anak.
Dari uraian di atas, penulis memahami bahwa di dalam keluarga harus dilakukan kerjasama yang baik untuk mencapai anggota keluarga yang serasi dan terpadu saling isi mengisi sehingga menimbulkan keakraban di dalam keluarga. Dengan modal tersebut peningkatan prestasi anak akan lebih mudah dilakukan.
Bahkan, secara kongkrit manusia sebagai makhluk biologis, sosiologis dan makhluk psikologis. Sebagai makhluk psikologis manusia memerlukan pemenuhan dari keseluruhan kebutuhan psikologisnya, antara lain manusia punya kebutuhan akan rasa ingin tahu. Pemenuhan akan kebutuhan psikologis itu adalah sebagai salah satu tujuan dari hidup manusia. Guna terpenuhi tujuan hidup dimaksud perlu adanya usaha-usaha ke arah itu. Usaha tersebut senantiasa dilandasi oleh suatu kekuatan yang dinamakan dengan motivasi.
Dalam kaitannya dengan pengembangan minat dan bakat anak, maka peranan orang tua sangat menentukan. Oleh karena itu, suatu hal yang tidak dapat diabaikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya. Tanpa adanya motivasi dari orang tua minat dan  bakat yang telah dimiliki oleh seorang anak tidak akan berkembang dengan baik sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya. Untuk itu orang tua perlu mengupayakan berbagai usaha untuk dapat membantu anak dalam mengembangkan bakat dan minatnya.
Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orangtua terhadap anaknya adalah: �Memelihara, membesarkan, melindungi, menjamin kesehatannya dan mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya serta membahagiakan  anak hidup di dunia dan di akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir kehidupan muslimin�.[12] Kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina anak  secara kontinue perlu di kembangkan kepada setiap orang tua, sehingga pendidikan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan yang dilihat  dari orang tua, akan tetapi telah didasari oleh teori-teori pendidikan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang cenderung selalu berubah.
Secara umum orang tua mempunyai tiga peranan terhadap anak: Pertama, Merawat fisik anak, agar anak tumbuh kembang dengan sehat. Kedua, Proses sosialisasi anak, agar anak belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (keluarga, masyarakat, kebudayaan). Ketiga,Kesejahteraan psikologis dan emosional dari anak.[13]
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini terlihat adanya orang tua yang terjadi begitu memperhatikan perannya masing-masing. Dengan meningkatnya pendidikan dan perkembangan iptek membuka luas kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan profesi seperti juga kaum lelaki. Sehingga banyak terbukti istri/ibu yang bekerja penuh di luar rumah. Ini berpengaruh terhadap peran-peran yang lain yang jelas bahwa jika peran dari salah seorang anggota keluarga dalam hal ini ayah/ibu berubah, maka akan berubah pula peran dari masing-masing.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah. Sehingga orangtua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah.
Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupkan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.
Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orangtua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Ahmad Tafsir, �bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah�.[14]                             
D.    Kewajiban Orang Tua Dalam Mendidik Anak                         
Setiap ada sesuatu hal yang dirasakan janggal pada diri anak baik di rumah ataupun di sekolah, baik orangtua ataupun guru harus sesegera mungkin untuk menanganinya dengan cara saling menginformasikan diantara orangtua dan guru, mungkin lebih lanjutnya mendiskusikannya supaya bisa lebih cepat tertangani masalah yang dihadapai oleh anak dan tidak berlarut-larut.
Usia dini merupakan periode subur bagi perkembangan otak. Segala stimulasi akan merangsang perkembangan otaknya. Bahkan setelah mengadakan penelitian terhadap perkembangan anak, Manrique melihat nilai kecerdasan anak yang menerima stimulasi hingga enam tahun, terus semakin mengalami peningkatan. Sehingga semakin memperlebar kesenjangan kecerdasannya dibandingkan teman-teman sebayanya.[15]Oleh karena itu, untuk dapat berkembang secara optimal otak anak perlu mendapatkan rangsangan dari lingkungannya.
Djalaluddin dan Ramayulis dalam bukunya Pengantar Ilmu Jiwa Agama menjelaskan bahwa:
Dan bahwa anak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan dan baru berfungsi setelah mencapai tahap kematangan. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi yang dibawa ini hanya memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada tahun-tahun pemulaan.[16]
Disinilah peran orangtua sangat dibutuhkan, yaitu bagaimana orang tua memotivasi dan memacu potensi anaknya agar dapat berkembang dengan baik, karena setiap anak mempunyai potensi yang dapat berkembang menjadi anak yang cerdas dan kreatif. Orang tua dituntut memahami perkembangan dan cara belajar anak. Semakin optimal dan luas orang tua mengembangkan otak anak, akan membuatnya semakin tertantang untuk belajar dan mencari pengalaman baru. Dengan demikian sikap dan perilaku orangtua sangat menentukan perubahan pada perilaku dan sikap anak. �Sikap positif dalam mendidik dan membesarkan anak haruslah dimiliki oleh para orangtua. Sebaiknya orangtua berhati-hati bersikap dan bertingkah laku didepan anak. Karena anak memiliki sifat meniru yang sangat bagus�.[17]
Dari berbagai pengalaman para ahli maupun litelatur telah membuktikan bahwa peran ayah dalam membentuk kepribadian anak sangat besar artinya. Sejak Sigmud Freud mencanangkan teori Psikoanalisis  untuk pertama kalinya pada abad ke-20 ini, ia sudah menyatakan bahwa perkembangan kepribadian anak, khususnya sewaktu balita, sangat ditentukan oleh tokoh ayah.[18]
Menurut Irawati Istadi peran orangtua dalam proses belajar anak meliputi dua hal yaitu:
1.     Melengkapi fasilitas pendidikan;
Selain perabot rumah tangga, fasilitas rumah tangga yang harus diprioritaskan adalah fasilitas penunjang pendidikan anak. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
a).   Tempat belajar yang menyenangkan
Semakin baik dan menarik keberadaan fasilitas pendidikan yang diberikan, anak akan merasakan bahwa kegiatan belajar adalah kegaitan yang istimewa dan menyenagkan dalam keluarga. Selanjutnya, ini akan semakin memacu motivasi belajarnya.
b).   Media informasi
Ilmu pengetahuan tak bisa dilepaskan kaitannya dengan media informasi. Karena dari sinilah sebagian besar ilmu pengetahuan akan diperoleh. Maka untuk mengakrabkan anak dengan bidang pendidikan, tak bisa tidak harus pula terlebih dahulu mengakrabkan mereka dengan media informasi ini.
c).   Perpustakaan Keluarga
Untuk menumbuhkan motivasi pendidikan kepada anak, buku adalah sarana paling tepat. Kecintaan anak terhadap buku mutlak harus ditumbuhkan sedini mungkin. Dan rumah adalah tempat yang paling cocok untuk kepeluan itu, yaitu dengan menyediakan fasilitas yang berupa perpustakaan rumah.[19]
2.     Mengembangkan budaya ilmiyah dalam keluarga
Setelah fasilitas tersedia, yang diperlukan berikutnya adalah pembentukan budaya ilmiah dalam rumah. Maksudnya, pembentukan perilaku dan pembiasaan dari anggota keluarga yang menunjang visi pendidikan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
a).   Budaya Islami
Satu-satunya cara terbaik untuk memberikan pendidikan keimanan, nilai-nilai moral, adalah dengan teladan langsung. Ajaran tentang dzikir kalimat tayyibah, shalat, kejujuran, hingga mencintai Al-Qur�an sangat mudah diajarkan jika orangtua langsung mempraktekkannya. Maka tanpa harus banyak memberi nasehat dan mengingatkan, anak akan secara langsung mencontoh.
b).   Budaya Belajar
Orang tua harus menunjukkan kepada anak-anak, bahwa mereka pun gemar belajar. Harus diluangkan waktu walaupun hanya sebentar bagi orangtua untuk belajar ini. Gairah orang tua untuk terus belajar inilah yang akan dicontoh anak. Sehingga, tanpa disuruh pun, anak akan senang mencontoh untuk belajar.
c).   Budaya Membaca
Membudayakan jam baca pun sangat baik untuk dilakukan. Konsekwensinya, harus ada fasilitas buku-buku yang memadai untuk dibaca. Jangan sampai anak menjadi bosan dan terpaksa membaca apa yang tak ia butuhkan dan tidak ia sukai.
d).   Gairah Cerita
Kegiatan bercerita memiliki manfaat yang sangat besar, yaitu sebagai wahana memperluas cakrawala berfikir anak, sebagai media bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai moral, mengingatkan anak kecintaannya terhadap buku, dan memelihara rasa keingintahuan mereka.
e).   Gairah Rasa Ingin Tahu.
Sebenarnya setiap bayi terlahir dengan berbekal rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya mereka berkembang menjadi anak-anak yang selalu serba ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu yang mereka temui seakan takpernah berhenti mengalir. Fitrah ini penting untuk dipelihara dan diarahkan. Dengan kesabaran orang tua untuk terus menjawab pertanyaan anak, memancingnya dengan pertanyaan baru, inilah akan mempertinggi gairah rasa ingi tahu anak.[20]
Anak adalah amanah Allah yang diberikan kepada setiap orang tua. Anak juga merupakan buah hati, tumpuan harapan serta kebanggaan keluarga. Anak-anak merupakan generasi mendatang yang mewarnai masa kini dan diharapkan membawa kemajuan di masa mendatang. Dalam litelatur lain mengatakan bahwa Anak-anak yang dilahirkan merupakan satu ujian Allah Swt. kepada kita. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Qur�an surat Al-Anfal ayat 28 yang berbunyi :
???????????? ???????? ????????????? ??????????????? ???????? ??????? ?????? ??????? ?????? ???????)?????? ? ??(
Artinya:  Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.(Qs. Al-Anfal:28).
Allah Swt. telah menjelaskan kepada kita dalam ayat ini bahawa harta benda dan anak-anak yang kita sayangi ini merupakan satu ujian kepada kita. Jika harta benda yang kita perolehi dengan secara yang halal dan menggunakan ke jalan yang halal maka beroleh ganjaran yang besar daripada Allah Swt. Dalam ayat ini juga Allah Swt. telah menyebut anak-anak juga merupakan ujian kepada orang yang beriman. Jika anak-anak yang kita didik mengikut acuan Islam, maka kita akan beroleh ganjaran yang besar hasil ketaatan mereka.
Semakin dini pendidikan yang diberikan kepada anak, akan semakin berarti bagi kematangan dan kesiapannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedang dan akan dihadapinya. Tentu, pembinaan pendidikan sejak dini yang dimaksud tidak dilakukan begitu saja atau dipaksakan secara cepat kepada anak. Pembekalan harus disampaikan dengan penuh kasih sayang, rasa hormat, menyenangkan, penuh kesabaran, ketekunan, serta penuh keuletan. Selain itu harus pula disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak sehingga segala perlakuan, cara atau pendekatan yang diterapkan tidak membuat anak stress dan frustasi, merenggut keceriaannya atau mengekang ekspresi dan dinamikanya.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad).[21]

Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah. Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal Islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak. Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan.                 



               [1]Thamrin Nasution dan Nurhalijah Nasution, Peranan Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, (Yogyakarta: Kanisius, 1985), hal. 1.
              
               [2]Departemen Agama RI., Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Proyek Pemgbinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1982), hal. 34.

               [3]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 88.
               [4]Soegeng Santoso, Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: Citra Pendidikan, 2001), hal. 77-78.
               [5]Ramayulis, dkk., Pendidikan Islam dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal. 5.
              
               [6] Muhammad Thalib, Ensiklopedi Keluarga Sakinah XIII, (Praktik Rasulullah Mendidik Anak), (Yogyakarta: Pro-U Media, 2008), hal. 6.

               [7] Zakiah Daradjat dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hal. 183.
              
               [8] Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya : Terbit Terang, t.th), hal. 80.
              
               [9] Ibid,hal. 80-81.

[10]Endang Saefuddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, (Jakarta: Rajawali, 1986), hal. 185.

[11]Abdul Mustaqim, Menjadi Orang Tua Bijak, (Bandung: Mizan, 2005), hal. 22-23.
[12] Fuad Ikhsan, Dasar-Dasar Pendidikan, Cet.  IV, (Jakarta: Rineka Cipta 2005 ), hal. 64.

               [13]Lubis Salam, Keluarga...., hal. 76.
               [14]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), hal. 12.
               [15] Ibid., hal. 3.
              
               [16]Djalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Cet. IV, (Jakarta: Kalam Mulia, 1998), hal. 31-32.
               [17] Nugroho,  Serba Serbi...., hal. 3.
              
               [18] Alex Sobur, Komunkasi Orang Tua Dengan Anak, Cet. I, (Bandung: Angkasa, 1991), hal. 21.
               [19] Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak (Seri Psikologi Anak 2), (Jakarta: Pustaka Inti, 2004), hal.151.
               [20] Ibid,hal. 169-175.
[21]Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, Cet. II, Terj. Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992 ), hal. 8.