Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kedudukan Dan Fungsi Bahasa Arab


BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.  Kedudukan Dan Fungsi Bahasa Arab
1.  Kedudukan Bahasa Arab
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang dikenal oleh manusia dan satu-satunya bahasa yang paling berkembang dan cepat penyebarannya. Sekalipun tata bahasanya demikian lengkap namun  sangat mudah dipelajari. Karakternya unik yang khusus yang dimilikinya menjadi bahasa Arab sebagai bahasa pilihan bagi kitab suci yang paling mulia. bahasa adalah wasilah untuk berkomunikasi, demikian pula bahasa Arab, hanyalah sebuah wasilah untuk komunikasi sosial tetapi ada satu Keistimewaan tambahan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, yaitu nilai ibadah. Maka berkomunikasi dengan bahasa Arab adalah ibadah, demikian juga mempelajarinya, mengerjakannya, dan menelaah kitab-kitab  Arabiah. Sebab bertaammul (berinteraksi) dengan bahasa ini dianggap telah menghidupkan dan menjaga fondasi terpenting Islam yaitu Al-Qur’an.[1]
Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana Firman Allah SWT:
!$¯RÃŽ) çm»oYø9tRr& $ºRºuäöÃ¨% $wŠÃŽ/ttã öNä3¯=yè©9 šcqè=É)÷ès?
Artinya: “Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yusuf ayat: 2).
Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengenai lagi cocok untuk jiwa manusia.[2]  Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang paling mulia (yaitu Rasulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia di atas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.[3]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam iqtidha shirathal mustaqim berfatwa: “sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-kitab dan As-sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab.[4] Hal ini sesuai dengan kaidah apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib. Beliau juga berkata: “sesungguhnya ketika Allah menurunkan Kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-kitab) dan Al-hikmah (As-sunnah), serta menjadi generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.[5]
Sesungguhnya bahasa Arab merupakan bahasa yang dipilih oleh Allah untuk agama Islam dan tidak seorangpun yang meragukan jika peranan bahasa Arab bagi ilmu Islam sebagaimana peran lisan bagi segenap anggota badan, bahkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa sesungguhnya kedudukan bahasa Arab itu ibarat jantung bagi tubuh manusia. Sebab itu merupakan bahasa agama Islam yang paling luhur dan dengan bahasa inilah Al-Qur’an diturunkan. Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih, bahasa yang paling gambling dalam hal pemaparan, bahasa yang paling luas cakupannya, dan bahasa yang paling banyak menyentuh berbagai makna yang dirasakan di dalam jiwa. Oleh karena itulah kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia pula.[6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “sesungguhnya Allah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, Allah mengangkat Rasul-Nya sebagai penyampai Al-kitab dan Al-hikmah dari-Nya melalui lisan beliau yang berbahasa Arab, dan Allah menjadikan orang-orang yang terdahulu membela agama ini dalam keadaan bertutur kata dengan bahasa itu juga, dan terlebih lagi tidak ada cara lain untuk memelihara keutuhan ajaran agama dan memahaminya kecuali dengan menjaga bahasa ini. Allah pun telah mencirikan kitab-Nya sebagai sebuah kitab yang berbahasa Arab dan tidak mengandung kebengkokan. Allah mensifati Al-Qur’an sebagai sesuatu yang lurus, selain itu Allah juga mensifati Al-Qur’an dengan sesuatu yang jelas.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa bahasa arab memiliki kedudukan yang sangat luar biasa dalam pandangan Islam. Di samping ia merupakan bahasa Al-Quran, bahasa arab juga merupakan suatu bahasa yang sangat indah dan memiliki keistimewaan-keistimewaan  bila dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. Dengan demikian, mempelajari bahasa arab merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh setiap pribadi muslim.
2.   Fungsi Bahasa Arab
Urgensitas suatu bahasa dapat dilihat dari fungsinya yang mempunyai peran penting bagi kehidupan manusia. Menurut Holliday ada tiga fungsi, yaitu ideational, interpersonal social dan tekstual.[7] Dari fungsi ini, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari bahasa, bahasa dan manusia bagaikan dua sisi mata uang yang apabila hilang salah satunya maka kehidupan ini tidak banyak memberi makna bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu penciptaan manusia seiring dengan penciptaan kemampuan berbahasa dan hanya manusialah yang memiliki bahasa sebenarnya.
Di sini dapat kita lihat bahwa bahasa memberi pengaruh yang sangat kuat kepada masyarakat, karena urgensinya bukan hanya media komunikasi, tetapi juga menjadi modal hajat hidup manusia.
a.  Fungsi Tekstual
Hubungan bahasa Arab dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW sebagai sumber utama agama Islam tidak bisa dipisahkan. Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab dan tidak pernah ada Al-Qur’an dengan bahasa lainnya. oleh sebab itu, hampir dapat dikatakan bahwa seseorang akan mengalami kesulitan dalam memahami Al-Qur’an secara mendalam tanpa menguasai bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur’an, seseorang tidak akan menjadi ulama atau ustadz yang profesional jika tidak menguasai bahasa Arab.[8] Jadi fungsi tekstual di sini sangat mempengaruhi kaum beragama (Islam dan lainnya) dalam ibadah, pola pikirnya, cara pandang dan pilihan teologinya.
b.  Fungsi Sosial
Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa setidaknya berhubungan dengan empat hal:
1.     Bahasa mempengaruhi masyarakat.
2.     Masyarakat mempengaruhi bahasa.
3.     Masyarakat dan bahasa saling mempengaruhi.
4.     Bahasa dan masyarakat tidak saling mempengaruhi.           
Sebagai contoh, orang-orang yang hebat bahasa Arabnya diperlukan masyarakat secara terhormat karena memiliki kemampuan yang berlebih dari kebanyakan orang, maka ia memiliki status sosial yang lebih baik, dianggap Ustad, Ulama, pandai mengaji, memiliki pengetahuan agama Islam yang cukup, karena memiliki ciri tersendiri dan tampil beda dengan orang lain.
c.   Bahasa Arab sebagai bahasa politik
Dari segi politik, bahasa Arab telah berkembang dan mempengaruhi dunia bagian Timur dan Barat. Di bagian Timur, masyarakat tutur bahasa Arab sangat banyak jumlahnya, mulai dari Marokko, Aljazair, Libia, Republik Persatuan Arab, Sudan, Lebanon, Saudi Arabia, Yordania, Irak, Iran, Afganistan, Turki, Mesir, sebagian wilayah Afrika Utara. Negara-negara ini adalah negara yang tingkat perekonomiannya stabil, kaya dan peradaban maju. Kebutuhan negara-negara tersebut terhadap tenaga kerja Indonesia hampir tidak terpenuhi, karena faktor kemampuan berbahasa Arab pada anak-anak bangsa ini lemah.
Masuknya agama Islam ke Eropa Barat, sejak abad XI, sebagian masyarakat Eropa telah mempelajari bahasa Arab, karena buku-buku ilmiah, seperti kedokteran, IPA, Matematika, dan lain-lain, yang ada di Toledo, Seville, dan Cordova, banyak ber tulisan bahasa Arab, maka para raja, misalnya Frederick II dan Alfonso X, menyuruh semua rakyatnya mempelajari bahasa Arab, karena mampu berbahasa Arab pada saat itu, merupakan gengsi dan kebanggaan bagi sebagian masyarakat Eropa. Dalam organisasi dunia, bahasa Arab sejak tahun 1973 menjadi bahasa ke enam yang resmi dipakai untuk bahasa persidangan PBB dan menjadi bahasa utama yang dipakai untuk berkomunikasi dalam OKI (Organisasi Konferensi Dunia Islam).[9]
d.  Bahasa Arab sebagai Bahasa Ekonomi Islam, Perbankan, dan Hukum Islam
Krisis ekonomi yang melanda dunia akhir-akhir ini membuat perhatian masyarakat ekonomi melirik pengembangan ekonomi dan perbankan dengan sistem syari’ah, yang diharapkan lebih mempunyai daya tahan dari krisis. Bahkan di Indonesia, hampir-hampir tidak ada bank yang membuka bank syari’ah.
Hal ini, memberi efek kepada perkembangan dan pertumbuhan kosa kata Arab (mufradat) baru yang berhubungan dengan perekonomian dan perbankan. Maka populer lah istilah muamalah, zakat, infaq, waqaf dan sebagainya. Semua kosa kata ini berbahasa Arab yang harus dipahami maksud dan konteks pemakaiannya oleh para pelajar/mahasiswa, agar tidak ketinggalan zaman dan buta makna. Dengan demikian gengsi bahasa Arab terus berkembang ke arah yang positif dan modern, karena menjadi bahasa pergaulan antar masyarakat, kaum terpelajar, dan sebagainya.[10] 
e.  Bahasa Arab sebagai bahasa budaya
Peranan bahasa Arab dalam kebudayaan dunia dan nasional telah mengambil bagian penting sejak berkembangnya agama Islam di nusantara pada abad XIII dan sampai saat ini masih dirasakan peranannya secara leksikal maupun semantik. Hal ini terlihat pada berbagai bidang dalam upacara sekaten di kraton Surakarta dan Yogyakarta, misalnya upacara perkawinan, khataman, khitanan, kata sakral atau mantera-mantera yang dipakai oleh masyarakat Indonesia yang menggunakan huruf atau kata Arab. Bahkan ungkapan-ungkapan tertentu yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia secara meluas dan merakyat dengan menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab mempunyai keanehan bisa sakti dan bisa mujarab, karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit manusia. dengan sarana air, seorang yang shaleh membaca do’a yang berbahasa Arab lalu dihembuskan ke dalam air, dan air berisi energi do’a, kemudian diberikan kepada orang yang sakit. Insya Allah dengan izin-Nya, orang yang sakit akan sembuh. Bahasa Arab juga sangat berperan karya-karya tulis anak-anak bangsa Indonesia. Banyak buku yang dikarang oleh ustadz atau ulama di Indonesia dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, seperti buku Perukunan, Sifat Dua Puluh, Buku-Buku yang Berkaitan dengan Ibadah, Hikayat, Sejarah Nabi Muhammad Saw, Tasawuf dan sebagainya.[11]
Dalam bidang kesusasteraan Indonesia pada zaman pujangga lama banyak ditulis dengan huruf Arab-Melayu yang banyak menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab, maka mempelajari bahasa Arab bagi pelajar Indonesia, terutama jurusan sastra Indonesia merupakan kunci untuk menggali kesusasteraan Indonesia lama, karena banyaknya kata-kata Arab yang digunakan atau yang diambil menjadi kata-kata bahasa Indonesia sekarang.[12]
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa bahasa arab memiliki fungsi yang sangat penting dalam pandangan Islam, di mana Al-Quran yang merupakan sumber pertama hukum Islam telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam bahasa arab. Demikian pula Hadits yang merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran juga dalam bahasa arab, jadi untuk memahami makna dan maksud serta penafsiran ayat-ayat Al-Quran dan Hadits tersebut seseorang perlu menguasai ilmu dan kaidah-kaidah bahasa arab secara mendeti dan mendalaml. Disamping itu, fungsi bahasa arab adalah: bahasa Arab sebagai bahasa politik, bahasa Arab sebagai Bahasa Ekonomi Islam, Perbankan, dan hukum Islam, Bahasa Arab sebagai bahasa budaya.

B.   Dasar dan Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab
a.   Dasar pembelajaran bahasa Arab
Berbicara masalah dasar pembelajaran bahasa arab, di mana mempelajari bahasa arab merupakan sutau kewajiban bagi setiap pribadi muslim. hal yang mewajibkannya adalah, karena untuk memahami dan mengetahui seluk beluk Al-Quran seseorang harus mengetahui bahasa arab secara mendetil dan mendalam. Tanpa mengusai bahasa arab beserta kaidah-kaidah yang ada di dalamnya seseorang tidak mungkin dapat mengetahui dan memahami maksud dan penafsiran ayat-ayat suci Al-Quran secara baik dan benar.
Demikian pula, bila kita melihat sumber-sumber hukum Islam yang lain seperti kitab-kitab Hadits dan kitab-kitab fiqih yang telah ditulis oleh para ulama pada zaman dahulu juga dalam bahasa arab. sedangkan untuk mengkaji kitab-kitab tersebut perlu menguasai bahasa arab beserta kaidah-kaidah yang ada di dalamnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa mempelajari bahasa arab merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap pribadi muslim di manapun ia berada.
Pembelajaran bahasa Arab yang efektif memerlukan paradigma baru dalam merancang materi ajar dan pembelajarannya. Materi ajar yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa serta pembelajaran yang tidak komunikatif dan pragmatik akan membuang-buang waktu saja, namun ini semua juga ada hubungannya dengan minat dan motivasi siswa dan lembaga pendidikan dalam memenuhi sarana dan prasarana yang mendukung pembelajarannya. Teori-teori yang berkaitan tentang pembelajaran membicarakan dua hal, yaitu pembelajaran sebagai suatu sistem yang terdiri atas sejumlah subsistem yang saling berkait dan mempunyai fungsi masing-masingnya. Di sini pembelajaran bahasa Arab harus dapat merumuskan tujuan, pendekatan, metode, teknik, evaluasi dan tenaga pengajar yang tepat. Pembelajaran bahasa Arab juga memerlukan seleksi, gradasi, teliti, penguatan dan unsur hiburan untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang maksimal. Hal ini berarti, materi ajar dan pembelajaran harus didesain untuk mencapai hasil maksimal, efektif dan efisien dalam waktu relatif singkat dapat mencapai hasil yang maksimal pula.[13]
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dasar mempelajari bahasa arab merupakan suatu kewajiban atas setiap muslim, karena bahasa arab merupakan bahasa Al-Quran dan Hadits. Sedangkan dalam hal mempelajarinya seorang guru harus menggunakan metode yang tepat dan materi yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik itu sendiri.
b.   Tujuan Pembelajaran bahasa Arab
Tujuan pembelajaran bahasa Arab di sini adalah dapat membentuk siswa trampil mendengar, berbicara dengan topik-topik yang komunikatif, kontekstual, trampil membaca dan menulis bahasa Arab yaitu membaca teks topik-topik tentang sosial keagamaan serta menulis yang melambangkan huruf/kata-kata bahasa Arab dengan baik dan benar.
Sesuai dengan tujuan di atas, pendekatan pembelajaran yang efektif  mencakup empat pendekatan yaitu:
1.  Pendekatan humanistik adalah pembelajaran bahasa Arab memerlukan keaktifan siswanya bukan pengajar. Siswalah yang aktif belajar bahasa dan pengajar berfungsi sebagai motivator, dinamisator, administrator, evaluator dan sebagainya. Pengajar haru memanfaatkan semua potensi yang dimiliki siswa
2.  Pendekatan komunikatif melihat bahwa fungsi utama bahasa adalah komunikasi, namun hal ini berarti materi ajar bahasa Arab harus materi yang praktis dan pragmatis yaitu materi ajar yang terpakai dan dapat dikomunikasikan oleh siswa secara lisan maupun tulisan. Materi ajar yang tidak komunikatif akan kurang efektif dan membuang waktu saja.
3. pendekatan kontekstual melihat bahasa sebagai suatu makna yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Di sini rancangan materi ajar harus berdasarkan kebutuhan lembaga.
4. pendekatan struktural melihat bahwa pembelajaran bahasa sebagai hal yang formal. Oleh sebab itu, struktur bahasa harus mendapat perhatian dalam merancang materi saja. Namun struktur harus fungsional agar komunikatif dan praktis.

C.  Kurikulum Bahasa Arab dan Pengembangannya
Perkataan kurikulum telah lama dikenal dalam dunia pendidikan sebagai suatu istilah yang tidak asing lagi. Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curiryang artinya pelari dan curure yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.[14]
Dalam bahasa Arab kurikulum bisa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan.[15] Sedangkan arti ”manhaj”/kurikulum dalam pendidikan Islam sebagaimana terdapat dalam qanus at-Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[16]
Pengertian-pengertian kurikulum juga telah banyak dirumuskan oleh para ahli pendidikan. Diantaranya pengertian yang dikemukakan oleh H. M. Arifin yang memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.[17] Nampak pengertian ini masih terlalu sederhana dan lebih menitikberatkan pada materi pelajaran semata. Sementara itu, Zakiah Daradjat memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.[18] Pengertian kurikulum ini nampak lebih luas dari yang awal, karena di sini kurikulum tidak hanya dipandang dalam artian materi pelajaran, namun juga mencakup seluruh program di dalam kegiatan pendidikan. Nampaknya pengertian kedua ini mempunyai kesamaan pandangan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil yang disetir oleh asy-Syaibani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.[19]
Namun demikian, jika dilihat dari segi fungsinya, maka kurikulum memiliki fungsi sebagai berikut:
1.     Kurikulum sebagai program studi
Maksudnya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh anak didik di sekolah atau dinstansi pendidikan lainnya.
2.     Kurikulum sebagai konten
Maksudnya adalah data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya pelajaran.
3.     Kurikulum sebagai kegiatan berencana
Maksudnya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
4.     Kurikulum sebagai hasil belajar
Maksudnya adalah seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
5.     Kurikulum sebagai reproduksi kultural
Maksudnya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
6.     Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Maksudnya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
7.     Kurikulum sebagai produksi
Maksudnya adalah seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.[20]
Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan kurikulum sebagai salah satu komponen, namun kurikulum itu sendiri juga mempunyai beberapa komponen. Hasan Langgulung memandang kurikulum mempunyai empat komponen utama, yaitu:
1.      Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin dibentuk dengan kurikulum tersebut.
2.      Pengetahuan (Knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu.
3.      Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum.
4.      Metode dan cara-cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.[21]

Berdasarkan gambaran tersebut di atas, maka dapat dipahami, bahwa kurikulum mempunyai empat fungsi utama dalam proses belajar mengajar. Dengan menjalankan seluruh tersebut, maka proses belajar mengajar akan dapat mencapai hasil ke arah yang lebih baik, sehingga murid mampu menerima sekaligus menyerap materi pelajaran yang diajarkan secara sempurna.
Kurikulum merupakan salah satu pijakan dalam proses pembelajaran, sebab tanpa kurikulum, maka guru tidak mungkin dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran. Namun demikian, dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran tersebut, maka guru harus menyaji materi pelajaran yang terdapat dalam kurikulum, sehingga pencapaian kurikulum sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Di samping itu, kurikulum juga merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dengan pandangan hidup suatu bangsa atau negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan diri dengan berbagai perkembangan yang terjadi.
Pada dasarnya kurikulum mempunyai aspek utama yang menjadi cirinya sebagaimana diungkapkan oleh Hasan Langgulung bahwa:
1.     Tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum.
2.     Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum
3.     Metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
4.     Metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancangkan dalam kurikulum.[22]

Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami, bahwa untuk mencapai kurikulum dalam sebuah pengajaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti tujuan pendidikan, materi pelajaran yang diberikan, metode mengajar, dan cara penilaian. Berangkat dari keempat aspek tersebut, maka jika dikaitkan dengan pencapaian kurikulum dapat dikembangkan oleh semua jenjang pendidikan akan menyatu dan terpadu dengan ajaran Islam itu sendiri. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum dalam pendidikan adalah sejalan dengan tujuan falsafah pendidikan dan juga sama dengan tujuan pendidikan, yaitu membentuk keperibadian manusia dalam kaitannya dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Namun demikian, kurikulum pemakaian kurikulum dibatasi oleh tempat dan waktu, selain itu hanya memberikan seperangkat paket untuk kehidupan manusia di dunia saja. Kurikulum yang seperti tidak sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang bertuhan, di mana ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Tuhan di akhirat kelak.
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam pengembangan kurikulum bahasa arab, guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.      Seorang guru harus memulai pembelajaran bahasa arab secara lisan
Pembelajaran bahasa merupakan suatu hal yang berhubungan dengan lisan, bibir dan telinga. Untuk menguasainya diperlukan usaha yang serius dan tidak hanya berputar pada masalah tulisan dan pengamatan saja, tetapi harus mengetahui seluruh media dan penggunaannya bukan dengan mengetahui buku dan menunjukkan daftar kalimat. Metode pertama merupakan metode pengajaran bahasa yang dnamis, progresif dan aplikatif.
Adapun metode kedua, merupakan metode pengajaran klasik yang pasif, statis dan non aplikatif. Berbagai riset dan eksperimen masa kini yang dilakukan dalam pengajaran berbagai bahasa telah membuktikan kebenaran dan pentingnya penggunaan metode yang pertama. Metode ini pada awalnya dipakai pada masa lalu, yang kemudian tenggelam dalam kurun waktu yang lama hingga kemunculan seseorang yang bernama Govin salah seorang peneliti berkebangsaan Perancis yang mengembangkan metode ini untuk kedua kalinya dan pada akhirnya, namanya dinisbatkan menjadi nama metode tersebut yaitu Metode Govin.
b.     Pemberian kosakata harus disertai makna dalam bahasa aslinya
Seorang guru tidak boleh menyebutkan arti kosakata bahasa yang diajarkannya dalam bahasa lain. Contoh: kosakata bahasa arab tidak boleh diartikan dalam bahasa indonesia atau yang lainnya, melainkan jika dalam keadaan mendesak. Sehingga dalam penulisan kosakata dan berkomunikasi, peserta didik tidak perlu berpikir tentang arti kosakata tersebut dalam bahasa indonesia atau bahasa yang lain lalu memberikan terjemahannya kedalam bahasa arab menurut pikiran mereka. Metode ini biasa disebut dengan metode langsung La Methode Directe. Dinamakan demikian karena dalam metode ini seorang guru mengguankan bahasa arab secara langsung tanpa perantara bahasa asli (bahasa indonesia atau bahasa daerah). Metode ini disebut juga dengan metode modern, oral method, natural method, correctional method, metode Govin atau metode Berlits. Metode inilah yang harus dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa arab atau bahasa asing lainnya.
c.      Memberikan banyak ungkapan bukan sekedar kata-kata
Ini merupakan medan yang akan dilalui oleh seorang guru dalam mengajarkan bahasa. Maka seorang guru harus mengetahui asal-usul setiap kosakata baru dari segi strukturnya sehingga memungkinkan bagi peserta didik untuk terbiasa dengan penggunaan kosakata tersebut pada tempat yang cocok sesuai dengan maknanya dan terhindar dari kesalahan penggunaan.
d.     Tidak dibenarkan mengajarkan sesuatu bahasa asing kepada peserta didik kecuali setelah mereka mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bahasa ibu (bahasa asalnya)
Kebanyakan pakar pendidikan sepakat dengan permulaan pengajaran bahasa baru (asing) pada usia sepuluh tahun, dan tidak memulainya sebelum usia tersebut dengan tujuan menghindari ketidakoptimalan hasil pembelajarannya. Adapun hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum bahasa arab adalah:
1.     Memperhatikan materi muhadasah (percakapan), karena materi ini merupakan modal terbaik bagi seorang guru untuk bisa berhasil dalam pengajaran kaidah bahasa.
2.     Memperbanyak materi muthala'ah (bahan bacaan), muhadasah (percakapan) dan hafalan pesera didik ungkapan-ungkapan singkat dan mudah sebelum memulai pelajaran kaidah bahasa sehingga guru mampu mengajar dengan menggunakan metode ilmiah yang didasarkan pada ungkapan yang tepat.
3.     Mengggunakan metode deduktif. Dalam pengajarannya seorang guru memulai materi dengan memberikan contoh-contoh yang diambil dari guru dan peserta didik kemudian secara perlahan peserta didik dibimbing dan diarahkan kepada pengambilan suatu definisi atau kaidah tertentu.
4.     Contoh-contoh yang diberikan harus dalam bentuk kalimat sempurna (jumlah tammah), karena arti dan maksud setiap kata hanya bisa dipahami ketika diletakkan pada kalimat sempurna (jumlah tammah).
5.     Memotivasi peserta didik untuk tidak menghafal definisi dan contoh-contoh yang terdapat dalam buku pegangan secara letter leg (text book), karena hal itu bisa mematikan kreatifitas berpikir dan menyebabkan terbuangnya waktu secara percuma.
6.     Memberikan contoh-contoh kontemporer dan memiliki makan mendasar yang jelas, terang dan mencakup tiap-tiap definisi kaidah.
7.     Menugaskan peserta didik untuk memberikan contoh dari mereka sendiri yang mengacu keapda kaidah atau definisi yang telah diketahui dan dipahami.
8.     Memberikan latihan kepada peserta didik dalam buku latihan mereka yang dikoreksi langsung oleh guru yang bersangkutan. Hal ini penting diadakan mengingat beberapa kegunaaan:
a.      menumbuh kembangkan kebebasan berpikir dan berbuat bagi peserta didik.
b.     Peserta didik terbiasa untuk menggunakan waktunya untuk kegiatan-kegiatan positif.
c.      Membantu peserta didik dalam mengulang materi pelajaran yang telah diberikan.
d.     Guru mampu membuat skala prioritas dari setiap kegaitan hariannya.
e.      Wali murid memiliki kesempatan untuk mengawasi kegiatan dan perkembangan anaknya.
f.      Memperluas khazanah keilmuan peserta didik.
9.     Tidak dibenarkan mengajarkan seluruh materi yang bersangkutan dengan suatu bahasan tertentu pada satu waktu, karena hal ini akan menyebabkan terbuangnya waktu peserta didik secara percuma.[23]
Sejalan dengan uraian sebelumnya maka terbentuklah Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dan Tujuan Instruksional Umum (TIU).[24] Adapun Tujuan Instruksional Khusus dari pengajaran bahasa arab adalah:
a.      Mengajari peserta didik cara berbicara dengan menggunakan bahasa yang benar dan terhindar dari kesalahan.
b.     Mengajari peserta didik cara menulis dengan pengawasan guru dan ungkapan-ungkapan yang tepat.[25]
Sedangkan Tujuan Instruksional Umum dari pengajaran bahasa adalah:
a.      Peserta didik berada dalam status sosial para pengguna bahasa di wilayah tempat dia tinggal.
b.      Peserta didik mengetahu jenis-jenis sastra pilihan.
c.      Menumbukkan kepekaan pengamatan dan memupuk tingkat kemampuan global dalam perbandingan, hokum persamaan dan pertentangan.
d.      Menumbuhkan kemampuan berargumen dan berdebat.[26]
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa dalam mengembangkan kurikulum bahasa arab, seorang guru harus memperhatikan tingkat kepintaran dan kebutuhan subjek didik serta langkah-langkah yang harus di lalui demi tercapainya tujuan pengejaran bahasa arab. Sehingga para subjek didik akan dalam memahami dan mempelajari bahasa arab dengan baik dan benar.

C. Strategi dan Media Pembelajaran Bahasa Arab Yang Efektif
            Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi antara pihak guru atau pendidik dengan peserta didik untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Proses komunikasi (proses penyampaian pesan) harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dan peserta didik, pesan atau informasi dapat berupa ide, fakta, arti dan data. Melalui proses komunikasi, pesan atau informasi dapat diserap dan dihayati orang lain agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi. Untuk itu perlu digunakan sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media. Dalam proses belajar mengajar media yang digunakan untuk mempermudah komunikasi belajar mengajar disebut media pembelajaran.
            Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil instruksional secara efektif dan efisien, serta tujuan instruksional dapat dicapai dengan mudah.
            Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kehadirannya mempunyai arti yang sangat penting, karena pada dasarnya setiap materi pembelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi pelajaran yang tidak memerlukan media, namun di sisi lain ada materi pelajaran yang sangat memerlukan media. Materi pelajaran bahasa Arab misalnya, menurut anggapan sebagian siswa memiliki tingkat kesukaran lebih tinggi dibandingkan dengan pelajaran dan bahasa lainnya. Dalam hal ini kehadiran media sangat dibutuhkan untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut. Kesulitan materi disampaikan oleh guru kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Melalui media keabstrakan bahan dapat dikonkretkan. Dengan demikian, siswa lebih mudah mencerna bahan dengan adanya bantuan media. Media pengajaran mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi indera manusia dan lebih dapat menjamin pemahaman seseorang. Orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat sekaligus mendengarkan.
            Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[27]
            Di sekolah guru digalakkan untuk menggunakan berbagai strategi pengajaran dan pembelajaran untuk mengoptimalkan pembelajaran. Strategi yang dicadangkan berazaskan pada suatu  komitmen dari pemusatan guru dan pemusatan pelajar. Strategi  yang dipilih untuk pengajaran dan pembelajaran efektif mesti memenuhi keperluan pelajar dan sesuai dengan iklim sekolah.
            Adapun jenis-jenis Strategi pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Strategi direktif
Pelajar belajar melalui penerangan tentang konsep/kemahiran oleh guru dan diikuti oleh ujian kepahaman dan latihan dengan bimbingan guru.
  1. Strategi pemerhatian
Pelajar belajar dengan memperhatikan perbuatan orang lain atau perlakuan suatu kemahiran. 
  1. Strategi mediatif
Pelajar belajar melalui interaksi yang dirancang oleh guru untuk menolong pelajar yang meliputi:
a.      Belajar mengaplikasikan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah
b.     Membuat keputusan
c.      Mengenal pasti andaian
d.     Menilai kebenaran andaian, keputusan dan hipotesis.
  1. Strategi generative
Siswa digalakkan untuk menyampaikan ide kritis dan kreatif. Strategi ini membantu siswa untuk menyelesaikan masalah secara kreatif dengan menggunakan ide asli atau unik.
  1. Strategi kolaboratif
Siswa bekerja sama dalam kumpulan untuk menyelesaikan masalah.
  1. Strategi outside
Siswa belajar melalui aktiviti yang berfokus dan intensif dalam satu tempo masa.
  1. Strategi metakognitif
Siswa memikirkan tentang proses pembelajaran, rancangan pembelajaran, pemantau dan penilaian mandiri.[28]
            Dari wacana pembelajaran yang telah dikemukakan tersebut dikembangkan ke dalam peran dan fungsi strategi pembelajaran. Abin Syamsuddin makmun mengemukakan empat peran penggunaan strategi pembelajaran, yaitu:
1.     Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan saran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.     Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.     Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.     Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.[29] 
Berdasarkan keempat peran strategi pembelajaran tersebut, maka lahirkan beberapa fungsi strategi pembelajaran sebagai berikut:
1.     Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan propil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.     Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.     Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.     Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.[30]
Untuk menghindari pemakaian bahasa ibu (bahasa daerah atau Indonesia) dalam proses pengajaran bahasa arab maka diperlukan alat peraga yang akan membantu  guru dalam menerangkan arti setiap kalimat baru yang belum diketahui oleh peserta didik.
            Yang dimaksud dengan alat peraga (wasail idhah) dalam pembahasan ini adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk membantunya dalam memahamkan peserta didik akan hal-hal baru yang terkadang mereka mengalami kesulitan dalam memahaminya, maka adakalanya guru mengambil alat peraga ini dari sesuatu yang pernah dan sudah diketahui oleh peserta didik atau yang berhubungan dengan panca indra dan mudah untuk dipahami.[31]
            Oleh karenanya penggunaan alat peraga (wasail idhah) ini merupakan implementasi dari prinsip-prinsip pokok pengajaran yaitu pengajaran secara bertahap dari sesuatu yang diketahui menuju kepada yang belum diketahui, dari pengamatan menuju kepad pemikiran dan seterusnya.
            Dalam suatu proses belajar  mengajar ada dua unsur  yang amat penting yaitu metode pembelajaran dan media pengajaran. Kedua unsur ini saling berkaitan. Pemilihan suatu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai.
Media  pengajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, motivasi dan rangsangan pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pembelajaran pada saat itu.[32] Adapun manfaat alat peraga (wasail idhah):
1.   Alat peraga merupakan media sukses paling penting dalam mengatasi berbagai kesulitan dan menjelaskan berbagai persoalan pembelajaran, yang mana media ini mengatur dan membatasi pemikiran peserta didik agar tidak berpikir tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan akalnya, juga memberikan gambaran yang jelas tentang materi yang diajarkan.
  1. Media penolong guru dalam mempermudah proses pembelajaran dan menjadikannya sebagai sesuatu yang hidup dan menarik di samping keberadaannya juga membuat proses belajar lebih jelas, bermutu dan terarah.
  2. Memberikan impuls kepada peserta didik untuk belajar dan menumbuhkan instink cinta menelaah dan mempelajari berbagai hal, dengan demikian alat peraga ini tidak hanya memperkuat konsentrasi peserta didik semata tetapi lebih jauh lagi ia menjadi landasan utama terciptanya konsentrasi.
  3. Optimalisasi penggunaan alat peraga ini akan sangat membantu guru dalam membentuk kebiasaan peserta didik untuk mengekspresikan pendapat, pemikiran dan pengamatan.
  4. Memungkinkan guru untuk menjadikan alat peraga ini sebagai media untuk menumbukan kekuatan perhatian, mempertahankan kepekaan dan membiasakannya serta ketelitian dan ketanggapan.[33]
Jenis-jenis alat peraga (wasail idhah) dan kelebihannya masing-masing:
  1. Indrawi (hissiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan akal dengan menggunakan indra sebagai medianya dengan menampilkannya atau sesuatu yang semisalnya atau gambar atau sejenisnya.
  2. Orally (lughawiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan akal dengan menggunakan kata-kata (ungkapan) sebagai medianya dengan menyebutkan contoh atau definisi atau penjelasannya.[34]
Dalam penggunaannya dua jenis alat peraga (wasail idhah) tersebut memiliki kelebihan satu atas lainnya, diantara kelebihan disini adalah:
1.     Kelebihan alat peraga indrawi (hissiyah)
a.      Memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indra untuk memahami sesuatu objek, contoh: seorang peserta didik yang melakukan eksperimen tentang sesuatu materi, maka ia akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam daripada mempelajarinya dalam bentuk teori saja, atau seseorang yang mengunjungi suatu daerah dimana ia menyaksikan pemandangan alam yang indah dengan hamparan sawah yang menghijau, sungai yang mengalir jernih, disertai dengan udara yang sejuk, kemudian ia berinteraksi dengan penduduknya maka terciptalah komunikasi verbal antara mereka sehingga pengetahuan tentang adat istiadat daerah tersebut dengan letak geografisnya lebih dalam dibandingkan dengan hanya mendengar, begitu pula seseorang yang berkunjung ke situs-situs bersejarah dia akan menemukan keterangan yang lebih lengkap dibandingkan dengan orang yang hanya membaca buku sejarahnya, ataupun seseorang yang tahu arti kata asad (singa), setelah ia menyaksikan bentuk aslinya dia akan mendapatkan pengertian sempurna dari kata itu, sehingga dikatakan dalam sebuah ungkapan "maka tidaklah sama (pengetahua) orang yang melihat langsung dengan orang yang hanya mendengar".
b.     Merupakan media terbaik bagi seorang guru untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta didik terhadap inti pelajaran, karena seorang pelajar ketika ditanya tentang apa yang dia pahami dari apa yang dia saksikan contohnya atau gambarnya dan menjawab dengan menggunakan ungkapannya sendiri menunjukkan tingkat pemahamannya yang sempurna, tetapi manakala seorang guru hanya menerangkan saja dengan bahasa lisan terkadang peserta didik menghafal apa yang ia dengar, sehingga manakala ia ditanyai ia akan menjawab dengan apa yang ia hafalkan tak ubahnya seekor boe yang berceloteh tanpa mengetahui arti celotehannya itu, hal ini menyulitkan seorang guru untuk mengukur kemampuan peserta didik.
2.     Kelebihan alat peraga orally (lughawiyah)
a.      Akselerasi tinggi, karena mengucapkan suatu kata memerlukan waktu yang lebih singkatdaripada memberikan contoh dalam bentuk gambar atau menirukan gambarnya, dan bercerita tentang sesuatu lebih cepat dibandingkan dengan harus menyaksikannya secara langsung.
b.     Faktor kemudahan, penggunaan bahasa sebagai media penerangan tidak memerlukan banyak usaha melainkan hanya dengan menggerakkan lidah dan bibir.
c.      Menunjukkan pengertian secara universal, contoh: kata asad (singa) menunjukkan arti setiap jenis dari kelompok hewan buas yang diketahui. Berbeda dengan alat peraga (wasail idhah) hissiyah yang hanya menunjukkan arti parsial, maka asad (singa) atau gambarnya atau tiruan gambarnya yang ditunjukkan pada peserta didik hanya terfokus pada apa yang ada di depan mata.
Adapun jenis alat peraga (wasail idhah) lughawiyah adalah: contoh-contoh, perumpamaan, perbandingan, penjelasan, deskripsi, dan cerita. Adapun strategi pengajaran kaidah bahasa arab:
  1. Sebelum memulai pelajaran, guru mempersiapkan sejumlah contoh yang berhubungan dengan materi yang hendak diajarkan.
  2. Guru menuliskan contoh-contoh itu di atas papan tulis dan peserta didik memperhatikannya.
  3. Guru menulis contoh-contoh lain yang menjadi perbandingan dari contoh pertama dan mendekati pada pengertian kaidah.
  4. Guru meminta peserta didik untuk menerangkan kata-kata di dalam contoh yang tertulis, seandainya tidak memungkinkan guru membimbingnya dengan pertanyaan.
  5. Guru menulis kaidah yang disimpulkan dari contoh-contoh itu di papan tulis.
  6. Guru meminta peserta didik untuk memberikan contoh dari mereka sendiri sesuai dengan kaidah yang telah didapatkan.
  7. Guru memberikan peserta didik kata-kata untuk diletakkan dalam kalimat sempurna sesuai dengan kaidah.Guru memberikan kalimat-kalimat sempurna dan meminta peserta didik untuk menerangkan kaidahnya sesuai dengan yang telah dipelajari.

            Memilih strategi belajar mengajar sama pentingnya dengan memilih bahan yang dapat memotivasi siswa. Media belajar tidak hanya dipahami sebagai sejumlah benda mati, namun juga berupa makhluk hidup, termasuk manusia. karena itu, upaya pengelompokan media belajar oleh guru BAHASA ARAB akan sangat membantu dalam pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan belajar dari setiap pertemuan jam pelajaran. Pengelompokan media belajar bidang studi BAHASA ARAB antara lain dapat dilihat sebagai berikut ini.
  1. Lingkungan alam
Media belajar ini berupa benda-benda alami yang ada di sekitar madrasah, seperti batu, tumbuhan, sawah, sungai, dan sebagainya. Jenis media belajar ini dapat dimanfaatkan  untuk mengasah semua jenis kecerdasan peserta didik, misalnya linguistic, spasial, musical, kinestesis-jasmani, interpersonal, dan natural.
  1. Perpustakaan
Media belajar jenis ini berupa barang cetakan yang tersedia di perpustakaan, seperti buku, majalah, jurnal, dan laporan-laporan penelitian.
  1. Media cetak
Media cetak yang dimaksud di sini tidak dalam pengertian yang sudah tersedia  di perpustakaan, namun media cetak yang ada di luar, misalnya koran, majalah, dan buku.
  1. Karya peserta didik
Media belajar ini adalah sejumlah media yang diciptakan oleh peserta didik, misalnya lukisan, peta, dan alat peraga lain.
  1. Media elektronik
Media belajar ini berupa alat elektronik, baik dibuat sendiri maupun yang sudah tersedia, misalnya radio, televise, computer, internet, dan antena para bola.
            Media yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran ialah buku ajaran, buku acuan, majalah, dan sebagainya. Kegagalan memakai media untuk memperbaiki mengajar biasanya disebabkan oleh rancangan program yang belum tepat. Oleh sebab itu seorang guru diharapkan dapat memilih metode yang sesuai dengan materi yang akan diuraikan karena metode ini merupakan pangkalan utama dalam menentukan media yang akan digunakan.
            Penggunaan media pengajaran oleh guru sangat berperan dalam proses pembelajaran. Hubungan guru dan siswa tetap merupakan elemen penting dalam sistem pendidikan pada saat ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan siswa. Beberapa manfaat praktis dari penggunaan media dalam proses belajar mengajar, adalah sebagai berikut:
  1. Media pengajaran dapat memperjelas penyediaan pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan hasil belajar.
  2. Media pengajar dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungan siswa untuk belajar sendirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
  3. Media dapat mengatasi keterbatasan indra luang dan waktu.
  4. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru masyarakat dan lingkungan.[35]
            Penggunaan media pembelajaran adalah bertujuan untuk mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa dan dapat mengarahkan, mempengaruhi proses belajar melalui bimbingan dari waktu ke waktu yang terjadi pada lingkungan sekolah, dalam hal ini guru sangatlah berperan aktif dalam merangkai pesannya untuk satu kelompok khusus dan kebutuhan belajar kelompok siswa sehingga dapat termotivasi dan tertarik untuk belajar yang memberikan pengalaman belajar sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.
            Dengan uraian di atas sebaliknya siswa di ajak untuk menggunakan semua alat inderanya, guru berupaya menampilkan rangsangan yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan. Dengan demikian siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik, pesan-pesan dalam masalah yang disajikan. Salah satu gambaran yang sering dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar. Hasil belajar seseorang dapat diperoleh mulai dari pengalaman langsung, kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang, kemudian melalui benda tiruan sampai kepada lambing verbal (abstrak), semakin ke atas puncak kerucut semakin abstrak penyampaian pesan disebut.
            Dasar pengembangan di atas bahwa pengalaman langsung akan memberikan kesan yang paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu. Oleh karena itu melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, dan peraba, yang semuanya memberikan dampak langsung terhadap pemerolehan  dan pertumbuhan pengetahuan, ketrampilan dan sikap.[36]
            Guna memudahkan pemahaman mengenai media tersebut dapat kita lihat dari variasi media yaitu media pandang. Penggunaan media pandang dapat di artikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah-majalah, globe, peta, film, tv, radio, gambar, grafik, novel, dan lain-lain.
Dari kutipan di atas, variasi media juga dapat membantu secara konkret konsep berpikir dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat, dapat menarik perhatian siswa dengan hasil belajar yang lebih permanen dan juga dapat mengembangkan cara berpikir berkesinambungan seperti halnya dalam film. Dengan demikian seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam menggunakan media yang disajikan, demi menghasilkan pemahaman siswa sebagai mana tujuan yang diharapkan.




[1] Badar, Kedudukan Bahasa Arab di Mata Islam, http://alghaits. Wordpress. Com, Diakses 05 Februari 2010.
[2]Ibnu Katsir , Tafsir Ibnu Katsir, Jilid IV, (Beirut: Dar al-Kutb, 1956), hal.117.  

[3] Badar, Kedudukan Bahasa Arab di Mata Islam, http://alghaits. Wordpress.com, Diakses 05 Februari 2010.

[4] Ibnu Taimiyah, Majmu’atul fatwa, (Mesir: dar al-maktabah,t.t.), hal. 471.
[5] Ibid., hal. 472.

[6] Arif kirjutas, Bahasa Arab Kunci Ilmu-Ilmu Islam, http://et-ee.facebook.com, Diakses 05 Februari 2010.
[7] Husni mubarak, Urgensi Bahasa Arab dan Pembelajarannya, http://moefie.blogspot.com, Diakses 05 Februari 2010.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10]Ibid.
[11] Ibnu Taimiyah, Majmu’atul…, hal. 477.

[12] Husni mubarak, Urgensi Bahasa Arab dan Pembelajarannya, http://moefie.blogspot.com, Diakses 05 Februari 2010.
[13] Ibid.  
[14]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 2000), hal. 176.

[15]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), hal. 61.

[16]Ibid., hal. 61.

[17]Muhammad Ali al-Khuli, Dictionary of Education English, (Beirut: Dar El-Ilm Lil Malayin, t.t.), hal. 105.

[18]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal. 183.

[19]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 122.
[20]Muhain dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hal. 185.

[21]Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1998). hal. 303.
[22]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 117.
[23]Ibid., hal. 43-45.

[24]Ibid., hal. 46.
              
[25]Ibid. hal. 47.

[26] Ibid. 48.

[27] Djamarah dan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 5.  
[28] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Grasindo, 2005), hal. 117.

[29] Abin Syamsuddin  Makmun, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003), hal. 229.

[30] Ibid., hal. 312.
[31]Mahmud Yunus, dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah Wa At Ta'lim, (Surabaya: Darussalam Press, 1999), hal. 41.

[32] Azhar Arsyad, media pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15.
[33]Ibid., hal. 42.   

[34]Ibid, hal. 43-46.
[35] Ibid., hal. 88.

[36] Azhar Arsyad, media pembelajaran, hal. 10.


Post a Comment for "Kedudukan Dan Fungsi Bahasa Arab"