Konsep Metode Dalam Pendidikan
BAB III
Konsep Metode Dalam Pendidikan
A. Pengertian Metode Pendidikan
Islam
Dalam pengertian, kata ‘metode” berasal
dari bahasa Greek yang terdiri dari “meta” yang berarti “melalui” dan
‘hodos” yang berarti “jalan” jadi metode berarti “jalan yang dilalui”.[1]
Metode pendidikan Islam terdiri atas tiga kata yang berlainan maknanya.
Dalam pengertian yang umum, metode adalah cara-cara penyampaian bahan pelajaran
kepada murid. Imamsyah Ali Pane mengemukakan metode atau metodik adalah cara
yang sistematis yang digunakan oleh guru dalam menyajikan bahan pelajaran untuk
mencapai tujuan.[2]
Pengertian metode juga dikemukakan oleh Abu Ahmadi yang menyatakan bahwa metode
adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan
guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.[3]
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa metode adalah
suatu cara sistematis yang digunakan oleh guru dalam menyajikan bahan pelajaran
untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan-tujuan yang diharapkan tercapai oleh siswa
dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, bahwa metode itu merupakan suatu cara
yang ditempuh dengan sistematis di mana dalam fungsinya terletak suatu tujuan
tertentu yang hendak dicapai.
Dari pengertian di atas dapat kita ambil pengertian bahwasanya arti metode
adalah jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu kita
harus berhati-hati untuk melalui jalan yang akan kita tempuh. Demikian juga
dengan orang tua, guru dan masyarakat dalam melaksanakan pendidikan, pendidikan
terhadap seseorang anak harus mempunyai metode yang tepat yang dapat
mempengaruhi anak, sehingga apa yang diharapkan akan terwujud.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. H.M Arifin, M.Ed:
Metode dapat juga diartikan
sebagai “cara” yang mengandung pengertian yang fleksibel (lentur) sesuai
kondisi dan situasi dan mengandung implakasi “mempengaruhi” serta saling
ketergantungan antara pendidikan dan anak didik. Disini antara pendidikan
berada dalam proses kebersamaan yang menuju ke arah tujuan tertentu.[4]
Pendidikan berasal dari kata “mendidik” yang berarti perihal mendidik,
segala sesuatu mengenai mendidik.[5]
Selanjutnya Darwis A. Sulaiman mengatakan pendidikan adalah merupakan bagian
dari pendidikan, yang merupakan satu proses interaksi antara guru dengan murid
dalam mencapai tujuan pendidikan.[6]
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendidikan adalah cara mendidik
ataupun apa saja yang dididik oleh guru kepada anak didiknya. Dalam suatu hal pendidikan
berarti mengorganisir komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar
mengajar, sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang dituntut dalam proses
tersebut, maka pendidikan berarti pemantapan pengembangan mengorganisir semua
komponen dalam situasi belajar mengajar, sehingga mencapai hasil sesuai dengan
yang ditetapkan dalam kurikulum.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
metode pendidikan Islam adalah suatu cara mendidik yang sistematis untuk
mengorganisir komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga
terjadi perubahan tingkah laku kearah yang benar dalam pandangan agama Islam.
Dengan demikian, metode pendidikan Islam itu merupakan suatu cara menciptakan
situasi yang merangsang anak didik mampu menyerap pelajaran demi tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan, justru itu metode pendidikan Islam merupakan
komponen yang tidak bisa dipisahkan dari mengajar, karena ia berfungsi untuk
menyampaikan materi pelajaran untuk mencapai tujuan.
B. Urgensi Metode Dalam Pendidikan
Islam
Metode
pendidikan Islam merupakan salah satu komponen dalam proses pendidikan, baik
berlangsung dalam kelas maupun di luar kelas, tanpa ada metode proses mendidik
tidak mungkin berhasil dengan efektif dan efisien. Penggunaan metode dalam proses pendidikan
tidak dapat dipisahkan dengan berbagai komponen lain yang terlibat dalam proses
tersebut. Pemakaian metode pendidikan dalam suatu bidang pendidikan tertentu
perlu dipertimbangkan dalam beberapa komponen yang terlibat dalam proses pendidikan
di antaranya adalah tujuan, materi, anak didik, situasi lingkungan dan guru
sebagai operator dalam pemakaian metode pendidikan. Pemakaian metode yang tepat
akan dapat meningkatkan motivasi belajar anak didik, sedangkan penggunaan
metode yang tidak tepat akan menjadi hambatan yang paling besar dalam proses
belajar mengajar.
Pendidikan Islam
hendaknya tidak fanatik pada satu metode
saja, karena setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kadang-kadang pendidik cukup menggunakan satu metode saja dalam menyampaikan
satu materi pelajaran, tetapi juga kadang-kadang perlu memadukan berbagai macam
metode.
Pendek kata,
sebelum menggunakan suatu metode, pendidik hendaknya mempertimbangkan secara
matang faktor-faktor yang terkait dengannya seperti tujuan setiap materi
pelajaran, latar belakang individual peserta didik serta situasi dan kondisi
berlangsung pendidikan. Pribadi pendidik memiliki peranan penting dalam memilih
metode pengajaran apapun, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Zarkasyi salah
seorang pendidik pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, yang dikutip Herry Noer
Ali menyatakan bahwa metode lebih penting dibandingkan materi; tetapi pribadi
guru lebih penting dibandingkan metode”.[7]
Kenyataannya,
penerapan metode pendidikan Islam di sekolah-sekolah terjadi perkembangan
tersendiri sesuai dengan kemampuan seorang guru dalam mengaplikasikan pada
waktu melakukan proses mendidik. Melakukan pengembangan ini bertujuan untuk
lebih sukses dalam mencapai keberhasilan belajar mengajar.
Pelaksanaan suatu pendidikan metodenya tidak jauh berbeda dengan
pendidikan lainnya. Tetapi metode mendidik tersebut harus dikembangkan sendiri
oleh guru-guru dalam batas kemampuannya sepanjang tidak bertentangan dengan
ajaran-ajaran dan nilai-nilai pendidikan Islam itu sendiri. Metode apapun dapat dipakai dengan ketentuan
tidak bertentangan dengan materi yang diajarkannya.
Metode pendidikan Islam perlu ditinjau kepada sifat materi dan bahan,
sehingga metode tersebut dapat dibagi sebagai berikut:
a.
Materi yang bersifat dogma;
ceramah, diskusi, indoktrinasi, Tanya jawab, karya wisata, dan problematika.
b. Materi yang bersifat
problem; problematika, diskusi dan Tanya jawab.
c.
Materi yang bersifat
fakta-fakta atau pngetahuan-pengetahuan; ceramah, karya wisata, eksperimen,
proyek, sosio drama dan demonstrasi.[8]
Bukan hanya
mempertimbangkan sifat bahan, tetapi dalam pemilihan atau penggunaan metode,
juga mempedomani tujuan yang ingin dijangkau. Setiap materi
atau bahan pelajaran itu tentunya mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Berhasil
tidaknya seorang guru dalam mendidik, tergantung pada tercapai tidaknya tujuan
tersebut. Karena banyak macam tujuan yang harus dicapai, banyak alat yang dapat
dipergunakan dan banyak metode yang telah dikembangkan oleh tokoh pendidikan
untuk dipilih.
Oleh karena
itu, dalam pelaksanaan pendidikan timbul bermacam-macam prinsip, antara lain:
a.
Memakai satu metode untuk satu
tujuan.
b. Memakai
satu metode untuk bermacam-macam tujuan.
c.
Memakai banyak metode untuk tujuan
tertentu.[9]
Dalam
pelaksanaan pendidikan dapat diakui bahwa sukar dilaksanakan dengan satu metode
yang paling tepat untuk satu materi atau bahan. Namun kebijaksanaan yang tepat
adalah setiap materi dipakai banyak metode yang sesuai dengan materi tersebut,
supaya tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik.
Maka dalam hal
ini pemakaian metode adalah sangat menentukan, salah pilih metode mungkin
hasilnya menyimpang dari tujuan. Dari itu dalam proses mengajar bidang pelajaran
agama Islam, perlu melakukan kombinasi metode yang satu dengan metode lainnya.
C. Macam-Macam Metode Dalam
Pendidikan Islam
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwasanya dalam menggunakan
metode haruslah digunakan metode yang tepat jika ingin mencapai tujuan. Disini
mencoba membahas tentang beberapa metode seperti metode contoh teladan, metode
bimbingan dan penyuluhan, metode hukuman, serta metode hadiah yang penulis
anggap penting dalam pelaksaan pembinaan pendidikan yang hampir bersamaan meski
nantinya perlu pemahaman di sana sini. Adapun metode-metode tersebut antara
lain:
1.
Metode hiwar
Hiwar
atau dalam bahasa indonesianya disebut dialog adalah percakapan yang dilakukan
secara silih berganti antara dua orang atau lebih mengenai suatu topik
pembicaraan dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki.[10]
Dalam pelaksanaan pengajaran yang menjadi pengarah adalah seorang guru. Untuk
mengefektifkan metode hiwar bahan pembicaraan tidak dibatasi atau malah
kadang-kadang dapat dipergunakan berbagai konsep.
Kadang
pembicaraan itu sampai pada satu kesimpulan dan kadang-kadang tidak ada
kesimpulan karena salah satu pihak tidak puas terhadap pendapat pihak yang
lain. Yang manapun ditemukan hasilnya dari segi pendidikan tidak jauh berbeda,
masing-masing pelajar mengambil pelajaran untuk menentukan sikap bagi dirinya.
Penggunaan metode hiwar akan mempunyai dampak terhadap pembicara dan juga bagi
pendengar yang mendengar pembicaraan itu.
Penggunaan
metode hiwar dalam pendidikan harus diatur agar sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai. Pengaturan ini dibutuhkan agar pembicaraan yang akan
didialogkan tidak melenceng, jika sudah melenceng dari tujuan sebenarnya yang
diinginkan maka guru selaku pengarah harus meluruskan kembali arah pembicaraan.
2.
Metode kisah
Dalam
pendidikan agama Islam penggunaan metode kisah sangat penting, yaitu disebabkan
oleh:
a.
Metode kisah selalu memikat
karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwa dan merenungkan
maknanya.
b.
Metode kisah dapat menyentuh hati
manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteks yang menyeluruh,
pembaca/pendengar dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah seolah-olah ia
sendiri yang menjadi tokoh.
c.
Metode kisah mendidikan perasaan
keimanan dengan cara: membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, ridha,
wara’; mengarahkan perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak kesimpulan
kisah; dan melibatkan pembaca/pendengar sehingga terlibat secara emosional.
3.
Metode amtsal
Tuhan
adakalanya mengajar umat manusia melalui perumpamaan, misalnya perumpamaan
sesembahan orang kafir dengan laba-laba (surat Al-Ankabut:41).
Cara
seperti itu juga dapat dipergunakan oleh guru untuk mengajar. Pelaksanaannya
sama dengan metode kisah yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Pemakaian
metode amtsal akan mengajak murid untuk mengambil pelajaran dari sesuatu yang
telah diperumpamakan ataupun dengan mengumpamakan hal yang dipelajari kepada
contoh yang lain yang lebih bermakna.
4.
Metode pembiasaan
Inti
dari pembiasaan adalah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan
salam, itu telah dapat diartikan dengan usaha membiasakan. Bila murid masuk
kelas tidak mengucapkan maka guru mengingatkan agar apabila setiap masuk
ruangan hendaklah mengucapkan salam. Dan ini juga satu cara membiasakan yang
dapat diterapkan pada siswa.
Pembiasaan
tidak hanya dapat dilakukan pada anak-anak, bahkan remaja dan orang tua/dewasa
pun perlu melakukan pembiasaan. Pembiasaan amat besar pengaruhnya untuk
membentuk pribadi seseorang. Pembiasaan tidak hanya dapat dilakukan pada
hal-hal yang bersifat batini, bahkan dapat juga dilakukan pada hal-hal lahiri.
Contoh kecil adalah orang yang biasa memegang stir mobil lebih baik dalam hal
menyetir ketimbang orang yang menguasai teorinya tetapi jarang mengemudi mobil.
Dan dapat dikatakan bahwa orang yang telah terbiasa dapat mengalahkan orang
yang lebih mengetahui tetapi kurang terbiasa.
5.
Metode contoh teladan
Setiap orang tertentu saja menginginkan anaknya menjadi orang yang baik dan
berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Orang tua yang baik adalah orang tua yang
mampu mengarahkan anaknya kepada tujuan yang diinginkannya. Tujuan tersebut
akan tercapai bila ia menerima semua yang baik-baik dari orang tuanya, mulai
dari makanan yang ia makan, pendidikan yang ia terima sampai sikap kedua orang
tua yang dijadikan sebagai panutan dalam menghadapi kehidupan di masa depan.
Di sini penulis sengaja meletakkan “contoh teladan” sebagai metode pertama
yang harus dilaksanakan oleh orang tua dalam membina akhlak anak. Hal ini
sengaja penulis angkat berdasarkan fakta dan realita yang terjadi dalam
masyarakat kita. Seorang anak akan cendrung bersikap seperti apa yang ia lihat
sekitarnya, sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin:
Metode untuk melatih anak adalah
salah satu dari hal-hal yang amat penting. Anak adalah yang terpercayakan
kepada orang tuanya. Hatinya masih murni laksanakan permata yang sangat
berharga, sederhana dan bersih dari ukiran yang digoreskan kepadanya dan ia
akan cenderung ke arah manapun dengan sifat-sifat yang baik pada dirinya dan
akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat[11].
Dari
uraian di atas dapat kita ketahui dengan jelas bahwasanya pribadi yang baik
maupun yang buruk yang terdapat pada si anak memang merupakan kodrat pada
manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, betapa bahayanya bila tidak baik, padahal
orang lain menirunya, terlebih lagi jika anak meniru perbuatan buruk orang
tuanya.
Sehubungan
dengan itu, Dr. Zakiah Drarajat menyatakan:
Tidak mungkin kita mengharap anak
kita menjadi orang yang taat bersama, seorang anak juga tidak akan mempunyai
moral yang baik, jika orang tuanya tidak memberi contoh yang baik, karena
anak-anak lebih mudah terpengaruh oleh tindakan-tindakan orang dewasa dari pada
nasehat-nasehat atau petunjuk-petunjuk.[12]
Dari
ungkapan di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa sanya sudah seharusnya kita
memberikan contoh yang baik kepada anak-anak kita, jika kita menginginkan
mereka tumbuh menjadi orang yang baik.
Berilah
contoh teladan terlebih dahulu sebelum ia disuruh dengan ajakan atau perintah,
terlebih lagi dalam hal perintah mengerjakan ibadah kepada Allah. Jika orang
tua tidak melakukan shalat, puasa, akan sulit menyuruh anak untuk
mengerjakannya. Akan tetapi, jika si anak sudah terlebih dahulu melihat contoh
yang baik dari orang tuanya, akan mudah bagi kita untuk membimbing dan
mengarahkan anak tersebut.
Sebagaimana
Rasulullah SAW, telah memberikan contoh teladan yang baik bagi ummatnya, mulai
dari budi pekerti yang mulia sampai pada cara-cara beribadah dan bersikap sabar
dalam menghadapi segala cobaan. Dengan mengikuti contoh-contoh yang diberikan
Rasulullah SAW. Insya Allah apa yang menjadi harapan bagi kita akan tercipta
kebahagiaan di dunia yang akan dirasakan oleh si anak dan orang tuanya sendiri.
Andai kata saja banyak orang tua yang mampu memberikan yang terbaik untuk
anak-anaknya pastilah masyarakat tidak mengalami keresahan kenakalan remaja.
6.
Metode bimbingan dan penyuluhan
Metode ini sering kita dengar dengan metode guidance and conselling,
karena di dalamnya terdapat tidak hanya nasehat tetapi juga arahan dan
bimbingan yang diberikan akan arti kasih sayang yang sebenarnya bagi seorang
anak.
Orang tua tidak hanya memberi contoh teladan saja kepada anaknya, tetapi di
samping itu juga anak perlu dibimbing dan diberi pengarahan. Contoh tanpa
bimbingan belum lengkap, begitu juga halnya seperti rumah tanpa atap atau
beratap tapi tanpa didinding. Menyuruh anak melakukan shalat, puasa, sedangkan
ayah dan ibu tidak pernah melakukannya akan sulit sekali, karena kemungkinan si
anak akan bertanya “kenapa hanya ia yang harus mengerjakan shalat, sementara
ayah dan ibu tidak”. Begitu juga kalau ayah dan ibu tidak peninggalkan shalat,
bahkan tidak pernah memberitahukan untuk apa shalat/puasa dilaksanakan. Hal
tersebut membuat si anak seperti orang buta yang pernah mendengar nama singa,
tetapi tidak tahu pasti seperti apa singa itu sebenarnya.
Jadi di samping contoh yang diberikan orang tua, bimbingan dan penyuluhan pun
perlu diberikan. Dr. Zakiah Drajat mengatakan:
Untuk membina anak agar mempunyai
sifat-sifat terpuji tindaklah mungkin dengan melakukan yang baik yang
diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat itu dan menjauhi sifat-sifat
tercela. Kebiasaan dan latihan itulah yang membuat dia cenderung untuk
melakukan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Demikian juga halnya
pendidikan agama, semakin kecil umur sianak hendaknya semakin banyak latihan
dan pembiasaan pada agama yang dilakukan pada anak. Dan semakin bertambah umur
sianak hendaknya semakin bertambah pula penjelasan dan pengertian tentang agama
itu diberikan sesuai dengan perkembangan kecerdasannya.[13]
7.
Metode hukuman
Perlu juga diperhatikan bahwa metode hukuman mempunyai jenis-jenis hukuman
yaitu positif dan negatif. Hukuman positif itu dilakukan dengan cara memberikan
peringatan yang bersifat mendidik dan mengerti oleh anak. Contohnya mengawasi
anak agar ia selalu waspada terhadap perbuatannya seperti menghukumnya dengan
memberikan tugas-tugas pekerjaan rumah atau dengan mengulangi
pelajaran-pelajaran di sekolah. Adapun jenis hukuman yang negatif itu dilakukan
dengan cara menakut-nakuti anak, cercaan, memukul dan membunuhnya, indakan itu
akan menyebabkan ia berdusta serta melakukan hal yang beruk, sifat-sifat itu
menjadi kebiasaan atau perangainya, maka akan mengakibatkan mental dan jiwa
anak akan rusak.
Namun tidak usah kita ragukan lagi bahwa hinggga sekarang masih banyak
orang tua beranggapan bahwa anak yang selalu tunduk dan melaksanakan dengan
tanpa pamrih dan tanpa membantah, mereka merupakan anak ideal yang patut untuk
ditonjolkan sebagai anak teladan. Harus diketahui bahwa anak-anak yang
mempunyai sikap demikian adalah suatu ketidakwajaran dan menyalahi naluri
bawaannya yang harus tumbuh dan berkembang secara bebas dan merdeka.
Metode hukuman ini Dewa Kutut Sukardi dalam bukunya Psikologi Populer
Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak mengatakan bahwa:
Ahli-ahli ilmu pendidikan modern
sepakat bahwa keputusan dan ketaatan yang berlebihan merupakan suatu hasil dari
pelaksanaan dan hasil dari sistem pendidikan yang menggunakan kekerasan dan
ancaman, akan tumbuh dan berkembang pribadi yang lemah dan gampang menyerah
pada nasib dan tidak memiliki inisiatif. Maka secara langsung mereka tidak
berani mengembangkan kepribadiaannya sendiri serta selalu dihantui oleh pola
berfikir orang lain. Tujuannya dalam segala gerak dan aktivitasnya adalah untuk
memuaskan orang lain walaupun untuk itu mereka mengorbankan idenya sendiri,
harga dirinya dan kepribadiannya.[14]
Sebagian
orang brpendapat, penanganan masalah ini bisa dilaksanakan dengan kekerasan,
disiplin yang ketat, bila perlu harus dikenakan sanksi hukuman. Kalau kita
teliti lebih mendalam lagi, hukum yang dilaksanakan dengan keras itu hanya
cocok apabila dikenakan bagi anak-anak yang memiliki sikap yang keras, berani
dan berandalan.
Dalam
masalah hukuman dilaksanakan dengan kekerasan ini Dewa Ketut Sukardi
menambahkan:
Ahli yang lain mengatakan
bagaimana juga tindakan kekerasan yang ditujukan pada anak-anak, apabila
nantinya akan menimbulkan kesakitan pada jasmani, merupakan suatu tuindakan
kejam yang menimbulkan efek negatif baik ditinjau secara fisik maupun mental.
Ada juga ahli yang menekankan bahwa menjatuhkan sanksi bagi anak yang berandal,
haruslah dicari sumbernya dari anak itu sendiri. Dengan kebijaksanaan orang
tualah keberandalan seorang anak dapat diatasi.[15]
Dalam
hal menghadapi yang demikian orang tua harus waspada, pengawasan harus
diperketat sebab apabila seorang anak sudah mulai bersekolah, maka secara
langsung dia sudah terpengaruh oleh dunia luar. Di sekolah mereka dengan bebas
akan bergaul dengan teman-teman yang terdiri dari lingkungan yang berbeda,
terdiri pula dari latar kehidupan yang beraneka ragam. Hal tersebut yang sering
membuat anak berubah dari baik menjadi anak yang susah diatur dan anak tersebut
sudah menjatuhkan martabat orang tuanya.
Menurut penulis, melaksanakan
hukuman dengan cara kekerasan bukanlah suatu pembinaan yang baik, tetapi justru
membawa efek yang negatif bagi anak. Jadi dalam memberikan hukuman haruslah
dilihat tingkatan ilmu anak dan sejauh mana kesalahan yang diperbuat sianak.
Melalui penelitian yang dilakakan oleh Brobrophi dan Ekerson terhadap usia
Sekolah Dasar, katanya: “Teguran yang sederhana itu bisa mencapai perubahan
tingkah laku yang efektif dari pada ancaman hukuman yang berat”.[16]
Kesimpulan yang dapat ditarik dari
uraian di atas adalah setiap orang tua, guru di sekolah dan anggota masyarakat
ingin menegakkan tata tertib, peraturan menyaksikan seseorang atau beberapa
orang anak yang melanggar peraturan, maka terhadapnya wajib memberikan sanksi
hukuman yang harus dipikirkan dengan matang apakah tindakan anda tersebut tidak
akan menimbulkan efek yang negatif terhadap anak. Maka dari itu, hukuman yang
diberikan haruslah bersifat mendidik dan dimengerti oleh anak.
8.
Metode pemberian hadiah
Dalam
melaksanakan pendidikan pada anak, sekali-kali waktu perlu juga diberikan
hadiah terhadap prestasi yang dicapai si anak maupun terhadap sikap dan
perbuatan baik yang dilakukannya. Hadiah yang diberikan tersebut tindakan harus
berupa suatu benda, tetapi dapat juga berupa pujian maupun yang membangkitkan
gairah belajar dan anak merasa dihargai.
Namun demikian, memberikan hadiah dan
pujian ini janganlah terlalu berlebihan, karena hal yang demikian itu akan
membuat anak besar kepala, sekali ia tidak diberikan hadiah maka ia akan
menuntut ataupun merajut. Jadi hendaknya orang tua dalam memberikan hal-hal
yang demikian tidak berlebihan, baik hadiah yang diberikan berupa benda ataupun
pujian, karena bisa jadi hadiah tersebut digunakan anak untuk memeras orang
tuanya. Begitu pula halnya dengan pujian, apabila si anak terlalu sering
dipuji, ia akan merasa paling the best.
[2]Imansyah Ali Pane, Didakdik Metodik
Pendidikan Umum, Cet. III, (Surabaya: Usaha Nasional, 1999), hal. 71.
[3]Abu Ahmadi, Sosiologi
Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1992), hal. 180.
[5]Ramli Maha, Perancang
Pembelajaran Sistem PAI, (Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry, 2000), hal. 2.
[6]Darwis A. Sulaiman,
Pengantar Kepada Teori dan Praktek Mengajar, (Semarang: IKIP, 1979),
hal. 16.
[7]Herry Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logis
Wacana Ilmu, 1999), hal. 207.
[8]Ramli Maha, Metode
Khusus Agama Islam, (Darussalam Banda Aceh: Fakultas Tarbiyah IAIN
Ar-Raniry, 1993), hal. 18.
[9]Abdurrahman Saleh, Didaktik Pendidikan
Agama, Cet. VII, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 20.
[10]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 136.
[14]Dewa Ketut Sukardi, Psikologi
Populer Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1987), hal. 91.
[16]Abdurrahman Shaleh, Teori-teori
Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hal. 220.

Post a Comment for "Konsep Metode Dalam Pendidikan"