Metode Pendidikan Islam Yang Terkandung Dalam Surat Surat An-Nahlu Ayat 125
BAB III
Metode Pendidikan Islam Yang
Terkandung Dalam Surat Surat An-Nahlu Ayat 125
Metode berasal dari
dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta
berarti "melalui" dan thodos berarti "jalan" atau
"cara".[1] Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan
yang harus dilalui untuk mencapai satu tujuan. Selain itu ada pula yang
mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan
menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut.[2]
Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk
mencapai tujuan.[3]
Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai
cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi
pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran. Dengan
pengertian yang terakhir ini, metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk
mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan suatu teori
temuan. Dengan metode serupa itu, ilmu pengetahuan apapun dapat berkembang.
Dari pendekatan kebahasaan tersebut nampak bahwa metode lebih menunjukkan
kepada jalan dalam arti jalan yang bersifat non fisik. Yakni jalan dalam bentuk
ide-ide yang mengacu kepada cara yang mengantarkan seseorang untuk mencapai
tujuan yang ditentukan. Namun demikian, secara terminologis atau istilah kata
metode bisa membawa kepada pengertian yang bermacam-macam sesuai dengan
konteksnya. Hasan Langgulung mengatakan, karena pelajaran agama sebagaimana
diungkapkan di dalam Al-Qur’an itu bukan hanya satu segi saja, melainkan
bermacam-macam, yaitu ada kognitifnya seperti tentang fakta-fakta sejarah,
syarat-syarat syah sembahyang, ada aspek afektifnya, seperti penghayatan pada
nilai-nilai keimanan dan akhlak, dan ada aspek psikomotorik seperti
praktek-praktek shalat, haji, dan sebagainya, maka metode untuk mengajarkannya
pun bermacam-macam, sehingga metode tarbiyah Islamiah itu dapat
diartikan sebagai metode pengajaran yang disesuaikan dengan materi atau
pelajaran yang terdapat dalam Islam itu sendiri.[4]
Karena muatan ajaran Islam itu luas, maka metode tarbiyah Islamiah pun
luas cakupannya. Adapun metode-metode yang dalam Al-Qur’an yang penulis bahas
dalam skripsi ini adalah metode yang terkandung dalam surat An-Nahlu ayat 125
yaitu:
أدع إلى
سبيـل ربـك بـالحكـمة
والموعظـة الحسنـة وجـادلـهم
بـالـتى هي أحسن
إن ربـك هو
أعلم بمن ضل
عن سبـيله وهو
أعلم بـالمهتديــن (النحل : ۱۲۵)
Artinya: Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahlu: 125).
Berdasarkan ayat di
atas, maka dapat diambil beberapa metode yang terkandung di dalamnya, yaitu:
A. Metode Pendidikan al-Hikmah
Ayat di atas mengajarkan kepada manusia melalui Rasulullah
tentang cara melaksanakan dakwah dan pendidikan, atau seruan terhadap manusia
agar mereka berjalan di atas jalan Allah (Sabilillah). Sabilillah, atau
Shiratal Mustaqim, atau ad-Dinul Haqqu, agama yang benar. Nabi SAW memegang
tampuk pimpinan dalam melakukan pendidikan dan dakwah tersebut. Kepadanya
dituntunkan oleh Tuhan bahwa di dalam kegiatan pendidikan hendaklah memakai tiga cara atau tiga tingkat
cara hikmah (kebijaksanaan) yaitu dengan secara bijaksana, akal budi
yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang
kepada agama, atau kepada kepercayaan terhadap Tuhan.[5]
Kata ”Hikmat” itu kadang-kadang diartikan orang
dengan filsafat. Pada hal dia adalah inti yang lebih halus dari filsafat.
Filsafat hanya dapat difahamkan oleh orang-orang yang telah terlatih fikirannya
dan tinggi pendapat logikanya. Tetapi hikmat dapat menarik orang yang belum
maju kecerdasannya dan tidak dapat dibantah oleh orang yang lebih pintar.
Kebijaksanaan itu bukan saja dengan ucapan mulut, melainkan termasuk juga
dengan tindakan dan sikap hidup. Kadang-kadang lebih berhikmat ”diam” dari pada
”berkata”.[6]
Di sisi lain, dinyatakan
dengan tegas dalam ayat tersebut tentang titik tolak krida pendidikan bahwa krida
pendidikan dilakukan harus “bil hikmati”, dengan kebijaksanaan. Jelasnya:
Al-hikmah adalah syarat mutlak untuk suksesnya krida. Sukses
tidaknya suatu pendidikan diukur dan ditentukan, sama sekali tidak dengan soal
besar-kecilnya auditoria peserta didik. Melainkan ialah mutlak dengan soal
kwantitas tambahnya manusia yang kembali ke jalan Allah, sebagai hasil karya pendidikan
itu. Dari itu maka tiap pendidik, mutlak
“qabla kullisyai” harus memahami benar, apa dan bagaimana al-hikmah itu dan
menerapkannya dalam pendidikan.[7]
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan di atas,
dapat dipahami bahwa metode pendidikan Islam dalam bentuk hikmah merupakan
metode pendidikan yang menggunakan pendekatan kebijaksanaan, sehingga dengan
menggunakan metode tersebut peserta didik tidak merasa bosan dan jengkel
dengan materi dan pendidik yang dihadapinya dalam pengajaran. Oleh karena itu,
seyogyanyalah seorang guru lebih mengedepankan metode hikmah dalam memberikan
pelajaran kepada siswanya.
B.
Metode
Pendidikan Al-Mau’idzah Hasanah
Mau’idzatul Hasanah, yang diartikan pengajaran
yang baik, atau pesan-pesan yang baik, yang disampaikan sebagai nasehat.
Sebagai pendidikan dan tuntunan sejak kecil. Sebab itu termasuklah dalam bidang
”Al-Mau’idzatul Hasanah”, pendidikan ayah bunda dalam rumah tangga
kepada anak-anaknya, yang ditunjukkan contoh beragama dihadapan anak-anaknya,
sehingga kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam
perguruan-perguruan.[8]
Pengajaran-pengajaran yang baik lebih besar kepada kanak-kanak yang belum
ditumbuhi atau belum diisi lebih dahulu oleh ajaran-ajaran yang lain.
... إن
ربـّك هو أعلم
بمن ضل عن
سبـيله وهو أعلم
بـالمهتديــن (النحل : ۱۲۵)
Al-Maraghi menafsirkan:
Sesungguhnya Tuhanmu, hai Rasul, lebih mengetahui
tentang orang yang menyimpang dari jalan lurus di antara orang-orang yang
berselisih tentang hari Sabtu dan lainnya, serta lebih mengetahui tentang siapa
di antara mereka yang menempuh jalan lurus dan benar. Dia
akan memberi balasan kepada mereka semua ketika mereka kembali kepada-Nya,
sesuai dengan hak mereka masing-masing.[9]
Allah memerintahkan kepada Rasulullah, untuk
menyerukan orang-orang kepada syariat yang telah digariskan Allah kepada
makhluk-Nya melalui wahyu yang diberikan melalui Rasul, dan memberikan mereka
pelajaran dan peringatan yang diletakkan di dalam kitab-kitab-Nya sehingga
hujjah atas mereka, serta selalu diingatkan kepada mereka, seperti
diulang-ulang di dalam surat ini. Dan bantahlah mereka dengan bantahan yang
lebih baik dari pada bantahan lainnya, seperti memberi maaf kepada mereka jika
mereka mengotori kehormatanmu, serta bersikaplah lemah lembut terhadap mereka
dengan menyampaikan kata-kata yang baik, sebagaimana firman Allah di dalam ayat
lain :
و لا تجـادلـوآ أهل الكـتب
إلا بـالّتى هي
أحسن إلا الّذين
ظلموا منهم ... (العـنكبوت : ٤٦)
Artinya: "Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan
dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka..."
(Q. S. Al-’Ankabut: 46)
Dan firman-Nya kepada Musa dan Harun ketika diutus
kepada Fir'aun :
فـقـولا له
قولاً لـينـا لعله
يتذكر أو يخشى (طـه : ٤٤)
Artinya: "Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata
yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." (Q.S. Thaha : 44)
Dalam mengajak manusia kepada agama Allah, Islam
menganjurkan supaya dipakai cara kebijaksanaan, dengan ilmu dan hikmat serta
pengajaran yang baik. Jika terjadi perbedaan pendapat dengan mereka, kebijaksanaan
itu harus lebih ditingkatkan lagi dengan mengemukakan dalil-dalil yang
meyakinkan dengan penuh toleransi. Tidaklah benar tuduhan yang mengatakan bahwa
Muhammad menyiarkan Islam dengan pedang di tangan kanannya dan Al-Qur’an di
tangan kirinya.[10]
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dipahami
bahwa untuk mengajarkan seseorang kepada jalan kebaikan harus dilakukan pula
dengan pendekatan kebaikan, sebab siapapun orangnya apabila diajak dengan
menggunakan pendekatan kekerasan sudah barang pasti menolak kebaikan tersebut.
Hal itu disebabkan karena orang yang diajak itu merasa dirinya tidak dihargai.
Begitu pula dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, seorang guru harus
menuntun muridnya dengan menggunakan pendekatan lemah lembut, sehingga apa yang
diajarkan gurunya dapat dimengerti oleh siswanya.
C.
Metode Pendidikan Al-Mujadalah
Metode yang ketiga yang terdapat dalam surat
an-Nahlu ayat 125 adalah jadilhum billati hiya ahsan”, artinya bantahlah
mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau telah terpaksa timbul perbantahan
atau pertukaran pikiran, yang di zaman sekarang disebut polemik, ayat tersebut menyuruh
seorang pendidik agar hal demikian, kalau sudah tidak dapat dielakkan lagi,
pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. Di antaranya ialah memperbedakan pokok soal
yang tengah dibicarakan dengan perasaan benci atau sayang kepada pribadi orang
yang tengah diajak berbantah. Misalnya seseorang yang masih kufur, belum
mengerti ajaran Islam, lalu dengan sesuka hatinya saja mengeluarkan celaan
kepada Islam, karena bodohnya. Orang ini wajib dibantah dengan jalan yang
sebaik-baiknya, disadarkan dan diajak kepada jalan pikiran yang benar, sehingga
dia menerima. Tetapi kalau terlebih dahulu hatinya disakiti, karena cara kita
membantah yang salah, mungkin dia enggan menerima kebenaran, meskipun hati
kecilnya mengakui, karena hatinya telah disakiti.[11]
Menggunakan
metode terbaik di dalam mendidik dan berdebat, yaitu mendidik dengan cara yang
terbaik. Itulah kewajiban seorang manusia. Adapun
pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan atas keduanya, diserahkan
kepada-Nya semata bukan kepada selain-Nya. Sebab Dia lebih mengetahui tentang
keadaan orang yang tidak mau meninggalkan karena ikhtiarnya yang buruk, dan
tentang keadaan orang yang mengikuti petunjuk karena mempunyai kesiapan yang
baik. Apa yang digariskan oleh Allah untukmu di dalam berdakwah dan mengajar,
itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk
kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan uzur
orang-orang yang sesat.
Dalam ayat tersebut Allah SWT juga memberikan
pedoman-pedoman kepada Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia ke jalan Allah.
Yang dimaksud jalan Allah di sini ialah agama Allah yakni syariat Islam yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam ayat tersebut Allah SWT meletakkan
dasar-dasar pendidikan dan dakwah untuk dijadikan pegangan bagi umat Muhammad
SAW di kemudian hari.[12]
Dalam
kitab tafsirnya Al-Maraghi menjelaskan: "Allah SWT menjelaskan kepada manusia
melalui Rasul-Nya bahwa sesungguhnya pendidikan ini adalah pendidikan untuk
agama Allah sebagai jalan menuju ridha Ilahi. Rasul SAW diperintahkan untuk membawa manusia ke
jalan Allah dan untuk agama Allah semata-mata".[13]
Imam Bernadib mengemukakan :
Allah SWT menjelaskan kepada manusia melalui Rasul SAW agar pendidikan itu
dengan hikmah. Hikmah itu
mengandung beberapa arti :
a.
Berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah
segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu sesuatu dapat diyakini keadaannya.
b.
Berarti perkataan yang tepat dan benar yang
menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil
atau syubhat (meragukan).
c.
Arti yang lain ialah kenabian mengetahui
hukum-hukum Al-Qur'an, paham agama, takut kepada Allah, benar perkataan dan
perbuatan.[14]
Artinya yang paling tepat dan dekat kepada
kebenaran ialah arti yang pertama yaitu pengetahuan tentang rahasia dan faedah
sesuatu, yang mana pengetahuan itu memberi manfaat.
Metode pendidikan dengan hikmah adalah metode
pendidkan dengan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan rahasia, faedah dan
maksud dari wahyu Ilahi, suatu pengetahuan yang cukup dari guru, tentang
suasana dan keadaan yang meliputi mereka, pandai memilih bahan-bahan pelajaran
agama yang sesuai dengan kemampuan daya tangkap jiwa mereka sehingga mereka
tidak merasa berat dalam menerima ajaran agama, dan pandai pula memilih cara
dan gaya menyajikan bahan-bahan pengajaran itu, sehingga anak mudah
menerimanya.
Dalam hal ini Ramli A.M. mengemukakan "Allah
SWT menjelaskan bahwa pendidikan itu dilakukan dengan pengajaran yang baik,
yang diterima dengan lembut oleh hati manusia tapi berkenan di dalam hati
mereka."[15]
Tidaklah patut jika pengajaran dan pendidikan itu
selalu menimbulkan pada jiwa manusia rasa gelisah cemas dan ketakutan. Orang
yang jatuh karena dosa, disebabkan jahilnya atau tanpa kesadaran, tidaklah
wajar kesalahan-kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka sehingga menyakitkan
hatinya.
Pendidikan atau pengajaran yang disampaikan dengan
bahasa yang lemah lembut, sangat baik untuk menjinakkan hati yang liar dan
lebih banyak memberikan ketenteraman dari pada pendidikan dan pengajaran yang
isinya ancaman dan kutukan-kutukan yang mengerikan. Jika pada tempat dan
waktunya, tidaklah ada jeleknya memberikan pendidikan yang berisikan peringatan
yang keras atau tentang hukuman-hukuman dan azab-azab yang diancamkan Tuhan
kepada mereka yang sengaja berbuat dosa (tarhib).
Rasul SAW, untuk menghindari kebosanan dalam pendidikannya,
menyisipkan dan mengolah bahan pendidikan yang menyenangkan, dengan bahan yang
menimbulkan rasa takut. Dengan demikian tidak terjadi kebosanan yang disebabkan
urutan-urutan pengajian yang berisi perintah dan larangan tanpa memberikan
bahan pendidikan yang melapangkan dada atau yang merangsang hati untuk
melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Hilmi
Muhammadiyah berpendapat:
Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi
perbantahan atau perdebatan dengan kaum musyrikin ataupun ahli kitab, maka
hendaklah kita membantahnya dengan perbantahan yang baik. Suatu contoh yang
baik ialah perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang membawa mereka berfikir
untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri, sehingga mereka menemukan
kebenaran.[16]
Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat
dengan kata yang tajam, karena hal demikian menimbulkan suasana yang panas.
Sebaliknya hendaklah diciptakan suasana nyaman dan santai sehingga tujuan dalam
perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas.
Dalam hal berdebat, Al-Abrasyi menjelaskan :
Suatu perdebatan yang baik ialah perdebatan yang
dapat menghambat timbulnya sifat-sifat jiwa manusia yang negatif seperti
sombong, tinggi hati, dan tahan harga diri karena sifat-sifat tersebut sangat peka. Lawan
berdebat supaya dihadapi sedemikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga
dirinya dihormati, dan guru menunjukkan bahwa tujuan yang utama adalah
menemukan kebenaran kepada agama Allah SWT". [17]
Dalam Al-Qur'an dan Tafsirnya yang dikeluarkan
Departemen Agama R.I. dijelaskan :
Allah SWT menjelaskan kepada Rasul SAW bahwa
ketentuan akhir dari segala usaha dan
perjuangan itu, pada Allah SWT. Hanya Allah SWt sendiri yang menganugerahkan
iman kepada jiwa manusia, bukanlah orang lain ataupun da’i itu sendiri. Dialah
Tuhan yang Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang tidak dapat
mempertahankan fitrah insaniahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh
yang menyesatkan, sehingga dia menjadi sesat, dan siapa pula di antara hamba
yang fitrah insaniahnya tetap terpelihara sehingga dia terbuka menerima petunjuk
(hidayah) Allah SWT.[18]
Mengenai ayat 125 surat an-Nahlu, Ibnu Katsir
dalam kitab tafsirnya memaparkan:
Allah berfirman menyuruh Rasul-Nya untuk berseru
kepada manusia ke jalan Allah dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat serta
anjuran yang baik. Dan jika orang-orang itu mengajak berdebat, maka Nabi
dianjurkan untuk membantah mereka dengan cara yang baik. Allah lebih mengetahui
siapa yang durhaka, tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang bahagia berada di
dalam jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Allah. Dan di ujung ayat Allah
memberi semangat kepada nabi agar tidak berkecil hati bila ada orang-orang yang
tidak mau mengikuti nabi dan tetap berada dalam jalan yang sesat. Karena tugas
Nabi hanyalah menyampaikan apa yang
diwahyukan oleh Allah kepadanya dan memberi peringatan kepada mereka, sedang
Allah-lah yang akan menentukan dan memberi petunjuk serta Dia-lah yang akan
meminta pertanggungjawaban hamba-hamba-Nya kelak di hari kiamat.[19]
Diskusi (dialog) ialah
percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab
mengenai suatu topik mengarah pada suatu tujuan. Demikianlah kedua pihak saling
bertukar pendapat tentang suatu perkara tertentu. Kadang kala keduanya sampai
kepada suatu kesimpulan, atau mungkin pula salah satu pihak tidak merasa puas
dengan pembicaraan yang lain. Namun demikian ia masih dapat mengambil pelajaran
dan menentukan sikap baginya. Diskusi mempunyai pengaruh yang sangat dalam
terhadap jiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topik percakapan secara
seksama dan penuh perhatian. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal :
Pertama, permasalahannya disajikan secara dinamis,
karena kedua pihak langsung terlibat dalam pembicaraannya secara timbal balik,
sehingga tidak membosankan. Malahan dialog seperti itu mendorong kedua pihak
untuk saling memperhatikan dan terus mengikuti pola pikirannya, sehingga dapat
menyingkap sesuatu yang baru, mungkin pula salah satu pihak berhasil meyakinkan
rekan-rekannya dengan pandangan yang dikemukakannya itu. Kedua, metode ini
mendorong pendengar tertarik untuk terus mengikuti jalannya percakapan itu
dengan maksud dapat mengetahui kesimpulannya. Hal ini juga dapat menghindarkan
kebosanan dan memperbaharui semangat. Ketiga, metode ini dapat
membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa, yang membantu
mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya. Keempat, bila
diskusi dilakukan dengan baik, memenuhi akhlak tuntunan Islam, maka cara berdiskusi,
sikap orang yang terlibat itu akan mempengaruhi peserta sehingga menimbulkan
pengaruh berupa pendidikan akhlak, sikap dalam berbicara, menghargai pendapat
orang lain dan sebagainya.[20]
Berdasarkan keterangan yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dipahami
bahwa menggunakan metode mujadalah dalam pengajaran sangat diutamakan, karena
dalam metode tersebut guru menyampaikan materi pelajaran dengan tepat sasaran,
sehingga siswa atau anak didik tidak merasa jenuh dalam menerima pelajaran yang
disajikan tersebut dan anak didik merasa tertarik dengan metode mengajar yang
digunakan guru tersebut.
[1]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdesipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 82
[3]Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Bab IV, Pasal 9, hal. 5
[4]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi
dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995). hal. 65
[5]HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jil. XII, (Jakarta: Pustaka Panjimas,
1990), hal. 69
[6]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 122.
[7]Syeikh Abdul Karim, Dakwah bil Hikmah,
Terj. Salem Bahreisj, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,
1990), hal. 85
[8]Syeikh Abdul Karim, Dakwah…, hal. 45
[9]Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. K. Anshari
Umar Sitanggal, dkk, Cet. Kedua, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1994), hal.
289-291.
[11]Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Terj. Salim Bahreisy, Juz. IV, Cet. I, (Surabaya:
PT. Bina Ilmu, 1988), hal. 127.
[12]Romli, AM, Dakwah dan Siyasah, (Jakarta: Bina Rena
Parawira, 2003), hal. 7.
[13]Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir
al-Maraghi, Terj. K. Anshari Umar Sitanggal, dkk, Cet. Kedua, (Semarang:
Toha Putra Semarang, 1994), hal. 44.
[14]Imam
Bernadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta:
Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, 1990), hal.
85.
[15]Romli, AM, Dakwah dan Siyasah, (Jakarta: Bina Rena
Parawira, 2003), hal. 7.
[16]Hilmi Muhammadiyah, Dakwah dan Globalisasi,
(Jakarta: ELSA, 2000), hal. 3.
[17]Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Fjohar
Bahri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hal. 26.
[18]Departemen Agama Republik Indonesia , Al-Qur’an dan
Tafsirnya, Juz. IV, (Yogyakarta: UUI Press, 1991), hal. 500-503.
[19]Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Terj. Salim Bahreisy, Juz. IV, Cet. I,
(Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988), hal. 610.
[20]Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama
Islam, Cet. Ketiga,
(Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal. 117-118.

Post a Comment for "Metode Pendidikan Islam Yang Terkandung Dalam Surat Surat An-Nahlu Ayat 125"