Metodelogi Pendidikan Islam
A. Metodelogi Pendidikan Islam.
Islam
diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan
perbaikan akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna
dari semua agama yang ada dan memuat semua tata aturan kehidupan secara
paripurna. Islam menjelaskan aturan mulai dari masuk kamar mandi hingga masuk
parlemen, mulai dari menegakkan sholat hingga menegakkan Negara Islam. Demikian
pula, Islam menjelaskan secara total bagaimana kaidah pendidikan sesuai dengan
Khitab As-Syaari’. Jadi sangat disayangkan jika kaum muslimin berpaling dari
Islam malah meniru total pendidikan ala Barat karena silau dengan kemajuannya
sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat Al-baqarah ayat 208.
ياأيهاالذين أمنوا
ادخلوا فى السلم كافة ولاتتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدومبين )البقرة : ٢٠٨(
Artinya:
Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs.
Al-Baqarah : 208)
Perlu kita ketahui bahwa Sebelum Islam muncul, tak ada sumber yang mencatat
akan adanya buku bahasa Arab di semenanjung Arabia. Sebenarnya Al-Qur’an
merupakan buku pertama berbahasa Arab di mana iqra’ (berarti: bacalah!)
merupakan pembuka kata yang diwahyukan. Dengan silabe ungkapan itu menandai
bahwa pencarian ilmu telah menjadi satu kemestian: menghafal sekurang-kurangnya
beberapa surah terlepas apakah ia orang Arab atau bukan guna melaksanakan
shalat sehari semalam. Sejarah juga mencatat, saat Rasulullah sampai di
Madinah, beliau segera memenuhi keperluan ini mengatur persekolahan3 dan minta
setiap yang berilmu walau masih minim (ballighu `anni walaw ayah) agar
menyampaikan pada yang lain. Enam puluh penulis wahyu yang bekerja di bawah
pengawasan Nabi Muhammad saw. dijadikan upeti dalam memerangi kejahilan.”[1]
Oleh karena itu islam merupakan solusi yang allah perintahkan untuk
diamalkan. Karena agama islam merupakan agama yang memberantas buta huruf dan
menggalakkan pendidikan. Karena Pendidikan dalam islam merupakan
kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan
pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini
pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai
dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan
fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.
Pendidikan Islam memiliki fungsi
yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian muslem. Para pakar seperti, Oemar
Muhammad Al-Syaibani dalam buku ”Filsafat Pendidikan” mengemukakan bahwa
”Pendidikan” adalah usaha-usaha untuk
membina pribadi muslim yang terdapat pada pengembangan dari segi spiritual,
jasmani, emosi, intelektual dan sosial.”[2]
Pendidikan dapat merubah masyarakat
jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan.
Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh,
pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang
diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan
membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak
beramal.
Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah,
fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan
dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada
pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan
kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang
kehidupan.
Sepanjang sejarah dunia, Islam telah
terbukti mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah
serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya
+13 abad lamanya. Factor paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun
peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan ataupun
dikotomi atas kedua factor tersebut dalam pola pendidikan yang diterapkan.
Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan kehandalannya hingga
kini.
MajalahHidayatullah, Edisi 02, XXII, Juni 2009, halaman 85.
dikemukakan bahwa banyak
tokoh islam yang terkenal diantaranya Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal
peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama
dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting
dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum
muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika),
Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika),
Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar
al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak
sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di
bidang ilmu diniyyah. Ulama yang lainnya dari spanyol seperti ibnu hazm
yang pakar dibidang ilmu agama yang keilmuannya diakui oleh seluruh rakyat
eropa.”[3]
Kalau begitu pola pendidikan seperti apa yang
mampu mencetak generasi islam berkualitas sekaliber tokoh-tokoh dunia tersebut.?
Penting kiranya menyatukan persepsi
tentang pendidikan sesuai kaidah Syara’. Hakekat pendidikan adalah proses
manusia untuk menjadi sempurna yang diridhoi Allah SWT. Hakikat tersebut
menunjukkan pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukannya puncak
kesempurnaan, sebab puncak kesempurnaan itu hanyalah ada pada Allah dan
kemaksuman Rasulullah SAW. Karena itu, keberhasilan pendidikan hanya bisa
dinilai dengan standar pencapaian kesempurnaan manusia pada tingkat yang paling
maksimal. Setelah diketahui hakikat pendidikan maka berikutnya bisa dirumuskan
tujuan dari pendidikan Islam yang diinginkan yaitu :
- Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola piker dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Karenanya harus disusun dan dilaksanakan kurikulum oleh Negara.
Mempersiapkan generasi Islam untuk menjadi orang ‘alim
dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh,
Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika,
kedokteran, dll). Sehingga output yang didapatkan mampu menjawab setiap
perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang baik diniyah
maupun madiyah-nya.
- tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari keluarga , masyarakat dan negara.
[1] Sayed Ali Asghar Razwy, Muhammad Rasulullah (Terjemahan),
cet: I, ( Jakarta: Madani Grafika, 2004 ),hal: 34.
[2]Ibid, hal.44.
[3] MajalahHidayatullah, Edisi 02, XXII, Juni 2009, hal: 85.

Post a Comment for "Metodelogi Pendidikan Islam"