Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penerapan Uswatun Hasanah Dalam PAI


A.    Penerapan Uswatun Hasanah Dalam PAI

Dalam dunia  pendidikan banyak ditemukan keragaman bagaimana cara mendidik atau membimbing anak, siswa dalam proses pembelajaran formal maupun non formal (masyarakat). Namun yang terpenting adalah bagaimana orang tua, guru, ataupun pemimpin untuk menanamkan rasa iman, rasa cinta pada Allah, rasa nikmatnya beribadah shalat, puasa, rasa hormat dan patuh kepada orang tua, saling menghormati atau menghargai sesama dan lain sebagainya. Hal ini agak sulit jika di tempuh dengan cara pendekatan empiris atau logis.
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan, seorang pendidik dapat saja menyusun sistem pendidikan yang lengkap, dengan menggunakan seperangkat metode atau strategi sebagai pedoman atau acuan dalam bertindak serta mencapai tujuan dalam pendidikan.[1] Namun keteladanan seorang pendidik sangatlah penting dalam interaksinya dengan anak didik. Karena pendidikan tidak hanya sekedar menangkap atau memperoleh makna dari sesuatu dari ucapan pendidiknya, akan tetapi justru melalui keseluruhan kepribadian yang tergambar pada sikap dan tingkah laku para pendidiknya.[2]
Dalam pendidikan Islam konsep keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cermin dan model dalam pembentukan kepribadian seorang muslim adalah ketauladanan yang di contohkan oleh Rasulullah. Rasulullah mampu mengekspresikan kebenaran, kebajikan, kelurusan, dan ketinggian pada akhlaknya. Dalam keadaan seperti sedih, gembira, dan lain-lain yang bersifat fisik, beliau senantiasa menahan diri. Bila ada hal yang menyenangkan beliau hanya tersenyum. Bila tertawa, beliau  tidak terbahak-bahak. Diceritakan dari Jabir bin Samurah: "beliau tidak tertawa, kecuali tersenyum." Jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan, beliau menyembunyikannya serta menahan amarah. Jika kesedihannya  terus bertambah beliau pun tidak mengubah tabiatnya, yang penuh kemuliaan dan kebajikan.[3]
Berkaitan dengan makna keteladanan, Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa keteladanan mengandung nilai pendidikan yang teraplikasikan, sehingga keteladanan memiliki azas pendidikan sebagai berikut:
Pertama, Pendidikan Islam merupakan konsep yang senantiasa menyeru pada jalan Alloh. Dengan demikian, seorang pendidik dituntut untuk menjadi teladan dihadapan anak didiknya. Karena sedikit banyak anak didik akan meniru apa yang dilakukan pendidiknya (guru) sebagaimana pepatah jawa “guru adalah orang yang digugu dan ditiru”. Sehingga prilaku ideal yang diharapkan dari setiap anak didik merupakan tuntutan realistis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang bersumber dari al-Qur’an dan As-sunnah.
Kedua, Sesungguhnya Islam telah menjadikan kepribadian Rasulullah SAW sebagai teladan abadi dan aktual bagi pendidikan. Islam tidak menyajikan keteladanan ini untuk menunjukkan kekaguman yang negatif atau perenungan imajinasi belaka, melainkan Islam menyajikannya agar manusia menerapkannya pada dirinya. Demikianlah, keteladanan dalam Islam senantiasa terlihat dan tergambar jelas sehingga tidak beralih menjadi imajinasi kecintaan spiritual tanpa dampak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Dapat disimpulkan bahwa, dalam penerapan pendidikan Islam, hendaknya mencontoh pribadi Rasulullah SAW dan beliau-beliau yang dianggap representatif. Sebagaimana telah difirmankan dalam al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21. Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa keteladanan itu selalu dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan tak terkecuali dalam pendidikan.



[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif  Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992),hal. 142.

[2] Hadhari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1993),hal. 216.

[3] Ahmad Umar Hasyim, Menjadi Muslim Kaffah: Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW, (Jogjakarta: Mitra Pustaka,2004), hal. 29.
[4] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah Dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996),hal.  263.


Post a Comment for " Penerapan Uswatun Hasanah Dalam PAI "