Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sumber-sumber Pendidikan Islam


A.    Sumber-sumber Pendidikan Islam
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan anak sebagai usaha untuk membentuk manusia, harus mempunyai landasan ke mana kegiatan dan perumusan tujuan pendidikan anak itu dihubungkan.
Untuk memperjelas persoalan tersebut, maka ada baiknya penulis menguraikan dasar pendidikan anak menurut kategori masing-masing antara lain:
a.     Al-Qur’an
Al-Qur'an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an itu terdiri tiga prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut dengan aqidah, yang berhubungan dengan ibadah disebut syari’ah serta pergaulan yang disebut akhlaq.
Sesuai dengan hal ini Zakiah Daradjat mengemukakan :
Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan wahyu tidak banyak dibicarakan dalam Al-Qur'an, tidak sebanyak ajaran yang berkenaan dengan amal perbuatan. Ini menunjukkan bahwa amal itulah yang paling banyak dilaksanakan, sebab semua amal perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan manusia sesamanya (masyarakat), dengan alam dan lingkungannya, dengan makhluk lainnya, termasuk dalam ruang lingkup amal shaleh (syari’ah). Istilah-istilah yang biasa digunakan dalam membicarakan ilmu tentang syari’at ini ialah:
a.      Ibadah untuk perbuatan langsung berhubungan dengan Allah.
b.     Mu’amalah untuk perbuatan yang berhubungan dengan selain Allah.
c.      Akhlak untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti manusia, baik pribadi maupun masyarakat.[1]

Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup mua’amalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat.
Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu. Sebagai contoh dapat dibaca dalam kisah Luqman mengajari anaknya dalam surat Luqman ayat 12 sampai 19 sebagai berikut:
ولقد أتـينا لقمان الحكمة أن اشكر لله ومن يـشكر فإنما يشكر لـنفسه ومن كفر فان الله غني حميد  "  وإذ قال لقمان لإبـنه وهو  يـعظه  يابـنـي لا تـشرك بالله  إنّ الشرْك لظلمٌ عظيمٌ "  ووصّينا الإنـسان بـوالديه  حملته  أمه  وهن  على وهن وفصله فى عامـين أن اشكرلى ولـوالديـك إلـي المصير "  وإن جاهدك على أن تـشرك  بـى مالـيس لك به علم فلا تــطعمهـا وصاحبهمـا فى الـدنـيا معروفا واتبـع سبـيـل من أنـاب الـي ثم الـي مرْجعـكم فأنـبئـكم بما كـنـتم تـعـلمـون  "  يـبنـي إنـهـا إن تـك مثقال حبة  من خردل  فـتكن فـى صخرة  أوفـى السمـاوات                أو فى الأرض  يـأت بـهـا الله  إن  الله  لطيفٌ  الخبــيرٌ  "  يـبنـي أقم الصلاة وأمـر بـالـمعـروف وانه عن المنكر واصـبـر علـى ماأصابـك إن ذلك من عزم الامـور "  ولا تـصعر خدك للناس ولا تـمـش فى الأرض مرحا إن الله  لايحب  كل  مخـتالٍ  فخــور "  وقصد فى مشيك واغضض من  صـوتـك  إن  أنـكـر  الأصـوات لـصـوت الحمــير "  (لـقمـان: ١٢-١۹)

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Q. S. Luqman: 12-19)

Cerita ini menggariskan prinsip materi pendidikan yang terdiri dari masalah iman, akhlak ibadah, sosial dan ilmu pengetahuan. Ayat lain menceritakan tujuan hidup dan nilai tentang sesuatu kegiatan dan amal saleh. Itu berarti bahwa kegiatan pendidikan harus mendukung tujuan hidup tersebut. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengunakan Al-Qur'an sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai materi tentang pendidikan Islam.[2] Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman.

b.     Hadits
Hadits atau As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah SAW. Yang dimaksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. As-Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur'an. Seperti Al-Qur'an, As-Sunnah juga berisi tentang aqidah dan syari’ah.
Dalam hal ini Herry Noer Aly mengemukakan :
Sunnah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa. Untuk itu, Rasul menjadi guru dan pendidik utama. Beliau sendiri mendidik, pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca tulis, ketiga dengan mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masyarakat Islam.[3]

Sekalipun demikian pendidikan merupakan masalah yang selalu menarik untuk dibicarakan dan dibahas karena melalui pendidikan manusia dapat terwujud suatu cita-cita yang akan diinginkan demi masa depan untuk diri sendiri maupun bangsa dan negara. Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu proses yang dapat mengaktualisasikan semua potensi yang dibawa anak sejak lahir seperti dalam sebuah hadits Nabi SAW.
حديـثُ أبى هريـْرة رضى الله عنه، قـاَل الـنبـى صلّى الله عليه و سلّم "مـا من مولـوْدٍ    إلا  يـولـد على  اْلفطْرة  فأ بـواه  يـهـوّدانه أو ْينصّرانه أوْ يـمجسانـه. كمـا نـنـتـج البهيمة جمعـاءً. (رواه البخـاري)

Artinya  :  ”Abu Hurairah ra. Berkata: “Nabi SAW bersabda: “Tiada bayi yang dilahirkan melainkan lahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang akan menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagai lahirnya binatang yang lengkap dan sempurna.” (HR. Bukhari).[4]
Fitrah adalah mengakui ke-esa-an Allah. Manusia lahir dengan  membawa potensi, atau paling tidak, ia berkecenderungan untuk mengesakan Tuhan, dan berusaha secara terus menerus untuk mencari  dan mencapai ketauhidan.  Secara fitri manusia lahir cenderung berusaha mencari dan menerima kebenaran, walaupun pencarian itu masih tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam. Adakalanya manusia telah menemukan kebenaran itu, namun karena faktor eksternal yang mempengaruhinya, maka ia berpaling dari kebenaran itu.[5]
Oleh karena itu, Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim. Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunnah yang berkaitan dengan pendidikan.



[1]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. V, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004),  hal. 20.
[2]Ibid., hal. 20

[3]Herry Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 56.

[4]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: Darul Fikri, t.t), hal. 173.
[5]Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. K. Anshari Umar Sitanggal, dkk, Cet. Kedua, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1994), hal. 44.


Post a Comment for " Sumber-sumber Pendidikan Islam"