Guru Bekerja Sama dengan Orang Tua
A. Bekerja Sama dengan Orang Tua
Setiap orang ingin memberikan pelajaran dan
pendidikan akhlak kepada anaknya, supaya anaknya tersebut memperoleh kehidupan
yang lebih baik. Karena moral itulah yang akan membentuk tingkah laku dalam
kehidupannya. Sikap seperti itu secara alami di miliki oleh semua orang tua di
dunia ini. “Syariat islam tidak membiarkan seorang anak tumbutanpa pengasuhan dan
pemeliharaan. Sebaliknya, syariat Islam berupaya mengasuh dan menjaga hak-hak
anak dalam semua masa perkembangan hidupnya, mulai dari awal pertumbuhan dan
pembentukannya di dalam perut ibu, kehidupan setelah keluar kedunia, sampai
mencapai usia kedewasaan dan mampu hidup mandiri”.[1]
Berdasarkan Wawancara dengan Ibu Cut Putri,
S.Pd.I Guru PAI SD Negeri 1 Dewantara bahwa guru yang mengajar dari kelas I-VI,
ketika pengambilan rapor, selalu memberikan pengarahan kepada orang tua peserta
didik agar selalu meningkatkan pengawasan kepada para peserta didik berkenaan
dengan tingkah lakunya sehari-hari dan menyuruh peserta didik agar selalu giat
belajar, mengurangi jam bermain, agar meminimalkan pergaulan peserta didik
dengan dunia luar yang lebih banyak memberikan dampak negatif bagi peserta
didik.[2]
Orang yang pertama dan utama yang bertanggung
jawab tentang pendidikan akhlak terhadap anak-anaknya adalah orang tua. Hal ini
pun diakui dunia pendidikan. Kedua orang tualah yang meletakkan dasar-dasar
akhlak pada si anak yang belum mengetahui tentang akhlak ini. Keteladanan
menduduki posisi strategis dalam pendidikan anak. Faktor keteladanan mempunyai
pengaruh besar pada perilaku dan mental anak, sebab biasanya anak akan meniru
kedua orang tuanya, bahkan kedua orang tuanya akan mencetak perilaku paling
kuat bagi perkembangan perilaku dan mental anak.
Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka guru
SD Negeri 1 Dewantara, meminta dukungan orang tua dalam upaya-upaya mengatasi
hambatan dalam menggunakan metode keteladanan. Setiap ada acara yang
diselenggarakan oleh pihak sekolah, seperti rapat, adalah momen penting yang
digunakan pendidik untuk meminta dukungan pada orang tua peserta didik, agar
lebih meningkatkan lagi pengawasan terhadap peserta didik di rumah. Bahwa orang
tua harus benar-benar memberikan pendidikan akhlak pada anaknya. Jangan sampai
orang tua membiarkan anaknya melakukan sesuatu dengan semaunya sendiri, dan
orang tua tidak mengawasinya. Membiarkan peserta didik tumbuh sendiri, tanpa
ada orang yang mengawasinya dan memberikan pengarahan sekaligus nasihat tentang
semua perbuatan yang dilakukannya. Jika hal itu terjadi, peserta didik akan
tumbuh menjadi anak yang liar dan tidak tahu mana yang salah dan mana yang
benar.[3]
Menurut pengakuan Ibu Rosmiati, S.Pd Kepala SD
Negeri 1 Dewantara bahwa biasanya sifat yang dimiliki oleh seorang anak itu
karena memang orang tuanya memiliki sifat tersebut. Contohnya, seorang anak
yang pembohong, pemberani, suka menindas orang yang lemah, pasti orang tuanya
juga memiliki sifat tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat aliran nativisme
yang mengatakan, bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh
faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu
semata-mata tergantung kepada dasar. Lain halnya dengan pendapat aliran
empirisme yang mengatakan bahwa perkembangan itu semata-mata tergantung kepada
faktor lingkungan, sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali.[4]
Tetapi penulis lebih setuju dengan pendapat
aliran konvergensi yang mengatakan bahwa di dalam perkembangan individu itu
baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat
sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat
yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat
berkembang.

Post a Comment for "Guru Bekerja Sama dengan Orang Tua"