Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial
BAB I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang manusia tidak akan
pernah habis dan selalu menarik, asumsi ini cukup rasional mengingat manusia
sebagai ciptaan yang unik dan dalam bahasa agama sering diungkap sebagai
ciptaan yang sempurna. Kesempurnaan itu bukan saja pada dimensi fisik dimana
struktur tubuh dan anatomi manusia, secara psikis manusia diberi kelebihan ruh
dengan akal sebagai given untuk hidup dan kehidupan manusia.
Proses penciptaan manusia yang
sempurna ini tentu sangat berbeda dengan penciptaaan lain, seperti binatang.
Keistimewaan yang dimiliki manusia dengan beragam bentuk, warna kulit,
karakterstik, minat, bakat dan lain sebagiannya membawa kesadaran tentang
keadilan sang pencipta yang telah menciptakan sosok ciptaan yang sempurna.
Selain kestimewaan di atas, mengapa
dipandang perlu untuk membicarakan tentang dimensi manusia dari berbagai sudut
pandang yang berbeda, apakah selama ini timbul persoalan mendasar mengapa terma
manusia tidak akan habis dibicarakan sepanjang manusia hidup dalam jagad raya
ini. Selain itu apa hubungannya manusia dengan alam, binatang dan bahkan sesame
manusia itu sendiri. Ada beberapa persoalan mendasar mengapa terma manusia
selalu menjadi diskurses tanpa batas.
BAB II
P E M B A H A S A N
A.
Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Menurut kodratnya manusia adalah
makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang
berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan.[1]
Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup
bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir
akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan
sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk
sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk
berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup
sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.[2] Tanpa
bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan
bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau
bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia
dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:
1.
Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
2.
Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
3.
Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
4.
Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah
manusia.
B.
Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Telah berabad-abad konsep manusia
sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat
yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis,
yang terdiri dari:
1.
Dorongan untuk makan
2.
Dorongan untuk mempertahankan diri
3.
Dorongan untuk melangsungkan jenis[3]
Dari tahapan diatas menggambarkan
bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana
antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan
membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh
manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam perkembangannya manusia juga
mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan
melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
1.
Penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima
bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia
terbentuk sebuah pengetahuan.
2.
Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru
untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja
mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Pada umumnya hasrat meniru itu kita
lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam
kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia
itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk
dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu
sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.
Yang menjadi ciri manusia dapat
dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial
didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan
manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal
yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
1.
Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia
berinteraksi satu sama lain.
2.
Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam
kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk
berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang
direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk
membentuk kondisi seperti semula.
3.
Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi
dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang
harmonis.[4]
BAB III
P E N U T U P
Berdasarkan uraian-uraian yang
penulis kemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab terakhir ini penulis
dapat mengambil beberapa kesimpulan serta mengajukan beberapa saran.
A.
Kesimpulan
1.
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk
bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang
berkembang serta dapat dikembangkan.
2.
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada
yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu.
Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari: dorongan
untuk makan, dorongan untuk mempertahankan diri, dorongan untuk melangsungkan
jenis
B.
Saran - Saran
1.
Disaran Bagi umat islam yang hendak melakukan pengkajian yang
sangat mendalam tentang ilmu sosial.
2.
Disarankan kepada pihak Perguruan Tinggi Islam untuk dapat
menyediakan Dosen yang ahli dalam ilmu sosial.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ali, Mukti. Agama.
KB dan Kependudukan. Jakarta : BKKBN. 1974
Amsari. Amo dan
Djaka Ardi Winangun. Ilmu Sosial Dasar, Bahan
Perkuliahan Program D III. Bandung
1978
Berger. Peter L. Humanisme Sosiologi. Jakarta
: Inti Sarana Aksara, 1985
Gerungan. W. A.
, Psikology Sosial. Jakarta : PT. Eresco. 1977
[1]
Gerungan. W. A. , Psikology Sosial. (Jakarta : PT. Eresco. 1977), hal.
34
[2]
Gerungan. W. A. , Psikology........................ hal. 35
[3]Gerungan.
W. A. , Psikology........................ hal. 34
[4]
Berger. Peter L. Humanisme Sosiologi. (Jakarta : Inti Sarana Aksara,
1985), hal. 19

Post a Comment for "Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial"