Kebebasan Mengembangkan Potensi
A.
Kebebasan Mengembangkan Potensi
Pendidikan
Islam menempatkan posisi manusia secara proposional inilah hakekat demokrasi
pendidikan Islam. Berhubungan nilai-nilai demokrasi merupakan prinsip dasar
ajaran Islam, maka demokratisasi dalam pendidikan Islam merupakan suatu
keniscayaan untuk ditegakkan. Apalagi dilihat dari sisi historis perkembangan
Islam pada masa kejayaan, praktek pendidikan sudah sangat akrab dengan suasana
yang demokrasi. Ajaran Islam sangat memberikan kebebasan kepada
peserta didik dalam mengembangkan nilai fitrah yang ada pada dirinya untuk
menyelaraskan dengan perkembangan zaman.
Dalam
istilah tasawuf peserta didik disebut dengan “murid” atau “thalib”. Secara
etimologi murid berarti orang yang menghendaki. Sedangkan menurut arti
terminologi, murid adalah pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang
pembimbing spiritual (mursyid). Sedangkan istilah thalib secara bahasa adalah
orang yang mencari. Sedang menurut istilah tasawuf adalah penempuh jalan
spiritual, di mana ia berusaha keras menempuh dirinya untuk mencapai derajat
sufi.[1]
Sama
halnya dengan teori barat, peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu
sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan
religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Definisi
tersebut memberi arti bahwa peserta didik merupakan individu yang belum dewasa,
yang karenanya memerlukan orang lain untuk menjadikan dirinya dewasa. Anak
kandung adalah peserta didik dalam keluarga, murid adalah peserta didik di
sekolah, dan umat beragama menjadi peserta didik masyarakat sekitarnya, dan
umat beragama menjadi peserta didik ruhaniawan dalam suatu agama.[2]
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali
dengan berbagai potensi atau fitrah yang memiliki makna kesucian.[3]
Potensi istimewa ini dimaksudkan agar mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai
khalifah di muka bumi dan juga untuk beribadah kepada Allah Swt. Manusia dengan
berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa
yang akan diembannya dapat terwujud.
Pendidikan islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkrebadian muslim
baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya
untuk mencari keriddhaan Allah Swt. Pendidikan Islam harus menggunakan Alquran
sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam.
Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat Alquran yang
penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perubahan
dan pembaharuan.
Dengan demikian, hakikat cita-cita Pendidikan Islam
adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu
sama lain saling menunjang. Fitrah adalah potensi diri manusia untuk lebih
baik. Itulah sebabnya potensi untuk menjadi lebih baik pada diri kita
senantiasa dodorong dan dibangkitkan. Banyak sekali orang selalu optimis,
sehingga berbagai masalah dan rintangan mampu dihadapi dengan gembira yang
akhirnya mampu membuat orang-orang disekitarnya termotivasi untuk meningkatkan
kualitas hidup. Fitrah erat kaitannya dengan citra manusia yang merupakan
gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli
manusiawi. Kualitas tersebut merupakan sunnah Allah yang ada pada manusia sejak
ia dilahirkan.
Pendidikan Islam adalah usaha untuk mengembangkan
seseorang agar terbentuik perkembangan yang maksimal dan positif.[4]
Dan Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang dilakukan seorang
dewasa kepada anak didiknya untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dan
memiliki kepribadian muslim yang mengimplemantasikan syari’at Islam dalam
kehidupan sehari, serta hidup bahagia didunia dan akhirat.
Dari beberapa defenisi tersebut, Pendidikan Islam, yakni
pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan didalam diri manusia,
tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan
yang tepat didalam tatanan wujud dan kepribadian.
Dilihat dari penjelasan diatas, maka diperlukan pendidikan
islam yang harus didasarkan pada konsep dasar manusia yang berhubungan dengan
kualitas-kulitas atau potensi manusia, potensi yang memerlukan proses pembinaan
yang mengacu ke arah yang realisasi dan pengembangan individu yang berwawasan
kepada Islam. Dalam hal ini dengan berpandu kepada Al-quran dan Hadist sebagai
sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan
menciptakan insane Kamil bahagia di dunia dan akhirat. Ada pun tujuan yang
tertinggi dapat dirumuskan dalam istilah “insane kamil” (manusia
paripurna).[[6] ]Dalam tujuan pendidikan islam tujuan tertinggi atau terakhir
ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai
mahkluk ciptaan Allah.
Dengan demikian indikator dari insan kamil tersebut adalah:
menjadi hamba Allah, mengantarkan subjek didik menjadi khalifah Allah fi
al-Ardh,yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi,
mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan
sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup, dan untuk
memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup didunia sampai akhira, baik individu
maupun masyarakat.
Allah SWT menciptakan manusia didunia kecuali bertugas
pokok untuk menyembah Khalik-Nya, juga bertugas untuk mengelola dan
memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar mereka dapat hidup sejahtera
dan makmur lahir batin. Manusia diciptakan Allah selain menjadi Hamba-Nya, juga
menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan “khalifah”, manusia
telah diberi kelengkapan kemampuan jasmaniah (fisiologis) dan rohaniah (mental
psikologis) yang dapat dikembangkan. Begitu kompleks fitrah manusia, sehingga
manusia pantas menerima amanah Tuhan untuk menjadi khalifah dan hamba-Nya.
Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik dan ditumbuhkan
seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar
kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupannya didunia. baik
diantara makhluk Allah yang lain.
Penentuan struktur kepribadian merupakan upaya tersulit
dalam perumusan teori kepribadian.[5] Struktur
manusia terdiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah atau unsur psiologis. Untuk
mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut,
pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai dimana titik optimal
kemampuan tersebut dapat dicapai. Namun, proses pengembangan kemampuan manusia
melalui pendidikan tidaklah menjamin akan terbentuknya watak dan bakat
seseorang untuk menjadi baik menjadi baik menurut kehendak-Nya, mengingat Allah
sendiri telah menggariskan bahwa di dalam diri manusia terdapat kecenderungan
dua arah, yaitu arah perbuatan fasik (menyimpang dari peraturan) dan ke arah
ketakwaan (menaati peraturan/perintah).
Kepribadian merupakan produk interaksi antara aspek-aspek
kepribadian dengan faktor-faktor pembentuknya.[6] Pola
dasar ini mengandung potensi psikologis yang kompleks, karena di dalamnya
terdapat aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat dikembangkan secara
dialektis-interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi) untuk terbentuknya
kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan kependidikan. Salah
satu aspek potensial dari apa yang
disebut “fitrah” adalah kemampuan
berfikir manusia dimana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat
perkembangannya. Para pendidik muslim sejak dahulu menganggap bahwa kemampuan
berpikir inilah yang menjadi kriterium (pembeda) yang esensial antara manusia
dan mahkluk-makhluk lainnya. Disamping itu, kemampuan ini memiliki kapabilitas
untuk berkembang seoptimal mungkin yang banyak bergantung pada daya guna proses
kependidikan.

Post a Comment for "Kebebasan Mengembangkan Potensi "