Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konsep zuhud dalam Pendidikan Islam


Konsep zuhud dalam Pendidikan Islam

Konsep zuhud dalam pendidikan Islam bersumber dari Al-Quran dan Hadits,  serta pola hidup sahabat-sahabatnya yang zuhud terhadap dunia. Dalam pandangan Islam, kezuhudan bukanlah sesuatu yang diwajibkan, akan tetapi konsep zuhud dalam Islam menganjurkan manusia agar tidak di perbudak oleh kenikmatan duniawi dan tenggelam di dalamnya. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Takasur yang berbunyi:
ãNä39ygø9r& ãèO%s3­G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ  žxx. šôqy tbqßJn=÷ès? ÇÌÈ       

Artinya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)[1] (Q.S. At-Takasur: 1,2,3)
Melihat ayat di atas, penulis dapat memahami bahwa bermegah-megah dalam persoalan banyak harta, anak, dapat menyebabkan manusia lalai dalam mengingat Allah sampai manusia tersebut masuk ke dalam kubur. Maka apabila hal ini terjadi sudah pasti manusia akan rugi pada hari akhirat nanti. Namun demikian secara natural hati manusia mempunyai fitrah cinta terhadap hal-hal yang dapat memberikan manfaat, dan benci terhadap hal-hal yang mendatangkan mudharat. Dengan fitrah ini seharusnya seorang hamba dapat mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan perkara-perkara yang memberikan manfaat baginya, sebagaimana ia benci dan menghindar dari segala sesuatu yang menimbulkan mudharat. Inilah kondisi hati orang yang beriman, cinta terhadap manfaat dan segala sesuatu yang dihalalkan secara baik. Ia menghendakinya, lalu ia berusaha mendapatkannya, sebagaimana ia benci terhadap hal-hal yang diharamkan lalu ia menghindar darinya.[2] Maka dengan demikian manusia harus mampu mengimbangi antara kehidupan dunia dan Akhirat. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam surat Al-Qashash ayat 77, yang berbunyi:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ( سورة القصص: 77)

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.[3]

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat mengerti bahwa konsep zuhud dalam pendidikan Islam merupakan suatu konsep yang menganjurkan manusia untuk mengimbangi kehidupan dunia dan akhirat yang sesuai dengan anjuran Al-Quran dan hadits, bahkan kehidupan di dunia menjadi jembatan untuk menuju akhirat. karena itu konsep zuhud yang ditawarkan Islam kepada manusia adalah berupaya mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
b. Tujuan zuhud dalam Pendidikan Islam
Dalam Pendidikan Islam hidup zuhud dapat mendorong manusia untuk beribadah kepada Allah, dan  berbuat baik dengan sesamanya. Selain itu, zuhud juga mempunyai tujuan untuk mendorong manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Tujuan tersebut seperti yang penulis paparkan di bawah ini:
a.    Mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat kelak
Kebahagiaan  dunia tidak hanya terbatas pada harta, wanita, kedudukan, tempat tinggal dan kehormatan serta hal-hal lainnya yang menjadi perhiasan duniawi. Seseorang mungkin mencari tujuan yang sama dengan manusia lainnya, yaitu ketenangan dan ketentraman jiwa. Realita ini sering di temukan dalam dalam hasrat dan keinginan manusia dalam hidupnya. Tujuan utama yang diharapkan manusia adalah dapat mengusir kegelisahan. Namun yang mereka harapkan itu kadang kala menyimpang dari pola hidupnya. Ketenangan dan ketenteraman jiwa yang diharapkan manusia itu baru dapat tercapai ketika manusia menghadap kepada Allah Azza wa Jalla dengan beramal saleh sebagai bekal hidup di akhirat kelak. Kebahagiaan akhirat tidak lain adalah surga yang dibentangkan seluas langit dan bumi yang disediakan khusus bagi orang yang bertaqwa. Sebagian manusia beranggapan bahwa sangatlah sukar untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus dalam satu waktu. Yang menjadi sebab, mengapa tidak terbayangkan dalam pandangan manusia bahwa kebaikan dunia sesungguhnya adalah perasaan jiwa yang tenang.
Konsep kezuhudan dalam pendidikan telah mengatakan “kerjakanlah apa yang kamu benci namun dicintai Allah, tinggalkan pekerjaan yang kamu cintai bila itu dibenci Allah”.[4] Bila manusia berhasil menguasai nafsunya dan mereka tidak pernah rela menjadi budak nafsu, maka mereka akan mencapai kebaikan di dunia dan akhira secara sempurna.
b.   Mencintai Allah dan merasakan kebersamaan-Nya
Seorang hamba jika menunaikan kewajiban yang diamanatkan kepadanya, kemudian menambah pendekatan dirinya kepada Allah melalui ibadah-ibadah sunnah, serta berjihad melawan hawa nafsunya sekaligus mendidiknya, sesungguhnya manusia seperti itu telah mencapai tingkat kecintaan yang tinggi kepada Allah SWT, bersama dengan-Nya, dan mendapatkan perlindungan-Nya dari ketergelinciran ke dalam dosa yang akan merugikannya.[5]
c.    Diterima di kalangan Manusia dan mendapat tempat di hatinya
Tidak ada manusia, yang tidak ingin mendapatkan tempat di mata manusia lainnya dan dicintai oleh mereka. Bahkan, inilah yang banyak diinginkan oleh sebagian besar penguasa, mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk diterima di kalangan masyarakat dan mendapat perhatian dari mereka. Sebagian besar manusia mengira bahwa salah satu cara untuk meraihnya adalah membeli hati mereka dengan perhiasan dunia yang terdiri dari harta dan wanita, serta kedudukan. Tidak pernah terlintas dalam hati mereka bahwa semua itu terkait dengan hubungan antara hamba dan Tuhannya. Urusan ini merupakan timbangan keimanan yang tidak diperhatikan, kecuali oleh mereka yang berhati mulia seperti tabi’in Abu Hazim Salamah bin Dinar ketika mengatakan,”seorang hamba tidaklah akan baik hubungan antara dia dengan Allah, kecuali baik pula hubungan dengan hamba-Nya yang lain. Sebaliknya, tidaklah akan buruk hubungannya dengan Allah, kecuali buruk hubungan dengan sesamanya. Upaya  memelihara hubungan baik dengan Allah SWT., adalah lebih mudah dibanding memelihara hubungan semua arah dengan banyak manusia. Sesungguhnya ketika kamu memelihara dengan baik hubungan dengan-Nya, maka akan berpalinglah semua wajah (pandangan manusia) menghadapmu, sebaliknya tatkala rusak hubungan baikmu dengan-Nya, semua wajah seketika itu akan menghindar darimu”.[6]
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa tujuan zuhud dalam pendidikan Islam adalah dapat mendorong manusia dalam beribadah kepada Allah dan terciptanya hubungan baik dengan sesama manusia. Orang yang hidupnya dalam keadaan zuhud akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Di dunia ia akan dicintai oleh manusia dan di akhirat ia akan mendapatkan lindungan Allah SWT.


[1] Departemen Agama RI, Mushaf Al-Quran Terjemah, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2002), hal. 601.

[2] Muhammad As-Syyid Al Galind, Tasawuf dalam Pandangan Quran dan Sunnah, (Jakarta: maktabah Az-Zahra, 2003), hal. 33.

[3] Departemen Agama RI, Mushaf Al-Quran Terjemah..., hal. 395.
[4] Abdul Hamid Al-Balali, Madrasah Pendidikan Jiwa, (Jakarta: Gema Insani, 2003), hal.152.
[5] Ibid., hal. 153.
[6] Ahmad Hasan Kanzun, Waktu Luang Bagi Remaja Muslim, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002), hal. 63.

Post a Comment for "Konsep zuhud dalam Pendidikan Islam"