Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi


BAB I
P E N D A H U L U A N

A.    Latar Belakang  Masalah
            Bukti dan tanda kekuasaan Allah begitu banyak menuntut untuk di pahami dan di ambil pelajaran ('ibrah). Allah SWT. memaparkannya dalam berbagai bentuk dan cara, dimaksudkan agar manusia tidak bosan, sadar dan segera mengakui kewahdaniyahan (keesaan)-Nya dalam segala hal. Ashhabul Kahfi  adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. yang dipaparkan dalam bentuk kisah yang menarik dan patut pahami.
Adalah Rasulullah SAW. dengan turunnya surat alkahfi (makkiyah ) mendapatkan siraman Ilahi sekaligus penyejuk hati bagi para sahabatnya untuk tetap teguh, kokoh dan tabah dengan keimanan dalam menghadapi ibtila' dan fitnah dari kaum musyrikin Quraisy. Kisah ini memang sarat dengan nilai-nilai, secara umum berupa tauhidullah (mengesakan Allah), keimanan, tadhiyah (pengorbanan), ukhuwah aqidiyyah (persaudaraan aqidah), dan keteladanan serta keyakinan hari kebangkitan .”[1]
 Nilai-nilai ini muncul atas hidayah Allah SWT. sebagai pemberi segalanya bagi siapa yang dikehendakinya. Sebelum penulis jauh menjelaskan nilai satu persatu diatas, ada baiknya kita ingat bersama bahwa kondisi Ashabul Kahfi sebelumnya hidup ditengah masyarakat yang kondisi sosial dan politiknya bernidhamkan (bersistimkan) kekufuran dengan segala macam bentuknya, mulai dari penguasa dzalim sampai rakyat yang bodoh dan dibodoh-bodohi. Tak jauh beda dengan kisah Fir'aun terhadap kaumnya yang oleh Al-qur'an disinyalir "maka fir'aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya .
Barangkali kita harus berkata bahwa terkadang sejarah manusia akan terulang meskipun perbedaan kapan, dimana, dan siapa pelakonnya. Namun substansinya tetap sama. Karena pentingnya memahami dan menyadari substansi ini, Allah sendiri dalam meletakkan kisah ini tidak menyebutkan siapa nama pelaku-pelakunya, dimana dan kapan terjadinya secara pasti. Yang jelas tujuannya agar manusia mengambil pelajaran, kemudian menjalani kehidupan dengan hidayahNya. Tujuan seperti ini juga yang melatar belakangi sebagian besar mufassirin dalam menyikapi kisah ini, semisal Ibnu Katsir, At-Thabari dll.  Nilai ini jelas dari sikap Ashhabul Kahfi, dengan lantang penuh keberanian mendeklarasikan sikap. Mereka mampu menguasai diri, sebab mereka memiliki keoptimisan yang dibingkai ruh Mas'uliyah (tanggung jawab), ruh isti'la (merasa tinggi) dan sosok kepemimpinan. Ruh mas'uliyah timbul ketika melihat rakyat dipaksa untuk menyembah penguasa dan mempertuhankan ideologi. Ruh itu juga lahir dari sebuah ma'rifat bahwa Allah SWT. satu-satunya yang berhak disembah.
Adapun ruh isti'la ada, dikarenakan sikap penguasa yang mempromosikan diri sebagai pengatur segalanya, bahkan hitam putih seseorang ada ditangannya dan selamat atau tidaknya seorang rakyat tergantung pada kebijaksanaannya. Padahal semua ini justru satu kehinaan dan tindakan kriminal dihadapan Allah SWT yang pantas mendapatkan azab. Sementara sosok kepemimpinan secara otomatis muncul, karena keinginan menyelamatkan umat dari jurang kekufuran . Andai kata jumlah Ashhabul Kahfi  di zaman itu mencukupi, niscaya akan lahir sebuah reformasi murni berlandaskan tauhidullah. Namun kehendak Allah menginginkan lain.
Ketika Allah SWT mempredikatkan mereka dengan firman-Nya "Innnahum Fityatun Aamanu Birabbihhim Wazidnaahum Hudan", aliran iman telah merasuk dan menjadi darah daging mereka, menempati lubuk hati dan menyebar keseluruh bagian tubuh kemudian melahirkan sikap yang matang sesuai dengan keimanan dihati. Sehingga dengan mudah mereka menerima kebenaran, mempertahankan dan menda'wahkannya. Sebaliknya terhadap kebatilan mereka semakin jelas menolaknya sekaligus menentang. Dalam kondisi jiwa seperti ini, Allah SWT memberi petunjuk dalam bentuk plus "wazidnahum Hudan". Petunjuk untuk tetap teguh menjaga keimanan dan hidayah untuk beramal shaleh. Dengan pijakan iman yang kokoh mereka terhindar dari tipuan duniawi yang digelar oleh penguasa saat itu .
Syeikh Abdul Karim Al-Khatib dalam tafsirnya -Tafsirul Quran Bil Quran- mengomentari penggalan ayat ini : " Disini tersirat bahwa Ashhabul Kahfi  benar-benar telah menghadapkan diri kepada Allah SWT semata untuk meniti jalan-Nya. Tak heran kalau Allah SWT menyambutnya dengan hidayah. Ini berarti setiap manusia dituntut bergerak menuju tujuan akhir kehidupan. Andaikan orientasi gerakannya lurus niscaya Allah akan membantunya. Sebaliknya jika arah geraknya menuju kesesatan dan kerusakan, niscaya hawa nafsu dan syetan sebagai pembimbing nya (Na'uzubillah). Sejalan dengan hal ini Imam Al-Banna pernah berkata: " Mengetahui dan memahami sebuah prinsip, mengimani serta menghargainya akan menyelamatkan seseorang dari kesalahan, penyelewengan dan godaan tipu duniawi.
Dalam setiap perjuangan (jihad) diperlukan pengorbanan, berupa harta, keluarga, tanah air bahkan jiwa raga sekalipun. Apalagi jihad dalam rangka mempertahankan aqidah., menegakkan kalimatullah dimuka bumi ini. Bagi mukmin, syurga dan ridha Allah SWT merupakan transaksi termulia didunia ini. Demikian nilai pengorbanan (tadhiyah) tergambar dalam sikap Ashabul Kahfi  terhadap komunitas manusia yang sesat, tenggelam dalam kekufuran dan kesyirikan. Mereka rela meninggalkan keluarga, harta dan tanah air demi menyelamatkan aqidah serta khawatir akan fitnah. Untuk itu bukan tidak mungkin kisah ini, menjadi inspirasi bagi hijrah Rasulullah SAW. Bersama Abu Bakar ra ke Madinah dan Hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah.
Dari uraian diatas, jelaslah adanya bahwa bagi sang Da'i pengorbanan adalah segalanya. Sebab yang menenangkan hatinya ialah apa yang ia korbankan demi tercapainya pahala dari Allah SWT. Seperti yang Allah sebutkan di dalam Al-qur’an surat At – taubah ayat 120-121:
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ الأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ اللّهِ وَلاَ يَرْغَبُواْ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئاً يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ, وَلاَ يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً وَلاَ يَقْطَعُونَ وَادِياً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ (التوبه:ُ ١٢١ -  .١٢ (                
Artinya:          Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri       mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah Karena     mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan    Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan         amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana             kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang     demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-            nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal   saleh pula) Karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang   lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. (Qs. At-Taubah : 120-121)
Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Ashhabul Kahfi  tersebut mulanya tidak saling kenal. Hanya satu pengikat hati mereka, yaitu keimanan kepada Allah SWT dan kekufuran terhadap thaghut. Ikatan hati ini bukanlah semata-mata datang dari usaha mereka, melainkan atas kehendak Allah SWT. Hal ini jelas menandakan bahwa kekuatan ukhuwah adalah kekuatan kedua setelah iman.[2] Dengan ukhuwah ini mereka berani dan yakin mengatakan "Tuhan kami adalah pencipta langit dan bumi, kapanpun juga kami tidak akan menyembah selain Allah SWT. Ucapan ini diucapkan dihadapan sang penguasa dzalim.
Pengaruh dari nilai ukhuwah yang dirasakan, terlihat ketika salah seorang diantara mereka diminta untuk membeli makanan sambil berkata kepada saudaranya : "hendaklah berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan keadaan kita kepada siapapun. Sebab jika mereka tahu tempat ini , niscaya mereka akan melempari kita batu atau memaksa kita untuk kembali keagama lama". Ini sikap seorang saudara yang khawatir akan keselamatan saudaranya yang lain, sebab apa yang menimpa dirinya juga akan dirasakan oleh yang lain . Dalam hal ini sirah Rasulullah SAW dan para sahabat banyak diwarnai dengan nilai ini.
Kata al futuwah oleh An-Nasafi dalam tafsirnya didefenisikan sebagai bentuk pencurahan segala kebaikan, menahan atau menghindari hal-hal yang menyakiti dan meninggalkan pengaduan kepada selain Allah SWT. Ditambah meninggalkan hal-hal yang haram dan menyambut segera hal-hal yang mulia. Dari definisi ini kandungan ma'nawi lebih nampak dari lahiriah. Pemuda yang lahiriah (material) dan ma`nawiyahnya (spritual) seimbang, merekalah yang paling siap dan interest menerima kebenaran, dibandingkan golongan tua yang hanyut terbuai kebatilan agama nenek moyang.
Bahkan bukan sebatas menerima kebenaran saja, tetapi umpan baliknya adalah sikap menentang segala penghalang al-haq dengan gerakan ishlah (perbaikan). Fenomena ini banyak mewarnai sirah awal da'wah Rasul SAW. Tercatat bahwa hampir semua sahabat Rasulullah SAW yang pernah membai'at beliau di rumah Al-Arqom bin Arqom, baitul aqobah dan ridwan adalah pemuda.
Yang pasti pemuda mampu membuktikan bahwa mereka unsur pertama dalam setiap perubahan. Allah menyebutkan didalam Al-qur’an surat Al – kahfi ayat 9-13:
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَباً, إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً, فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً, ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَداً, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ( الكهف :   ١٣-٩(
Artinya:  Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang  mempunyai) raqim  itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?  (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."  Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (Qs. Al-kahfi : 9-13)
Mengapa harus pemuda dan mengapa harus pemuda muslim yang menjadi sentral perhatian? Menjawab dua pertanyaan ini Ustazd Fathi Yakan dalam bukunya Al-Syabab wa Al-Taghyir menjelaskan bahwa," Pemuda adalah pemilik cita-cita tinggi, semangat yang menggebu dan juga masa puncak untuk menerima dan memberi." Namun semua ini tidak bernilai apa-apa jika tidak memiliki loyalitas kepada Islam. Karena pemuda merupakan satu wujud bentuk kontribusi Ilahi sekaligus kekuatan yang di fungsikan untuk memakmurkan bumi. Sebaliknya pemuda tanpa Islam akan menjadi bencana yang mengerikan.
Mengikuti kronologi kisah Ashhabul Kahfi  mengantar kita kepada satu titik tujuan utama kisah tersebut yaitu meyakinkan kepada umat manusia terhadap keimanan kepada hari kiamat, hari berbangkit dan alam mahsyar. Seperti dalam firman-Nya  dalam surat Al-kahfi ayat 21 Allah menjelaskan:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِداً( الكهف :  ٢١ )          
Artinya:          Dan demikian (pula) kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. ketika orang-       orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata:         "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih          mengetahui tentang mereka". orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata:"Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah           peribadatan di atasnya(Qs. Al-Kahfi : 21)
Dalam satu riwayat, pada saat sebelum di bangkitkan Ashhabul Kahfi , masyarakat setempat terpecah kepada dua kubu. Ada yang meyakini hari berbangkit di akhirat nanti dan ada yang tidak percaya sama sekali. Bagi seorang mukmin aqidah ini merupakan sebuah aksiomatis yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Karena keimanan terhadap keduanya ini memacu kita untuk berbuat kebajikan selama di dunia dan menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi dihadapan mahkamah Allah SWT.
Kisah ini adalah bagian pertama dari empat kisah lainnya yang terdapat dalam surah Al-kahfi. Semoga dengan kisah Ashhabul Kahfi  ini mendorong kita untuk mendalami dan mengkaji kisah-kisah selanjutnya yang terdapat dalam surah ini dan tentunya yang teramat penting adalah transformasi nilai kedalam diri kita lewat skenario kisah ini agar kita menjadi pemuda yang mendapat legalisasi keimanan yang benar dari Allah SWT.
B.    Rumusan Masalah
               Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1.     Bagaimana riwayat hidup Ashhabul Kahfi ?
2.     Bagaimana perjalanan dakwah Ashhabul Kahfi ?
3.     Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi ?
C.    Tujuan Pembahasan
               Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1.     Untuk mengetahui riwayat hidup Ashhabul Kahfi !
2.     Untuk mengetahui perjalanan dakwah Ashhabul Kahfi!
3.     Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi!
D.    Kegunaan Pembahasan
               Adapun yang menjadi kegunaan pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah Secara teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai nilai – nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi . Selain itu  hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang study pendidikan.
               Sedangkan secara praktis, hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam memperbaiki dan mengaplikasikan nilai – nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi  ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.
E.    Penjelasan Istilah
               Adapun istilah – istilah yang penulis anggap perlu jelaskan adalah sebagai berikut:
1.     Nilai
         Daryanto,SS, dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia mengartikan kata Nilai adalah “ Harga, ukuran, angka yang mewakili prestasi, sifat-sifat penting yang berguna bagi manusia, dalam menjalani hidupnya.”[3]
         Dalam buku “Mengartikulasikan Pendidikan Nilai” disebutkan bahwa: “ Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan”.[4]
         Menurut Poerwadarminta, nilai adalah “Harga atau sifat-sifat (halaman-halaman) yang sangat berharga bagi manusia, karena ia dapat membawa kebahagian hidup dunia dan akhirat.[5]
         Nilai yang penulis maksudkan dalam judul skripsil ini adalah segala tindakan atau perbuatan yang mempunyai ukuran dan harga tersendiri dalam menjalani kehidupannya.

2.     Pendidikan
               Dalam Kamus Besar Indonesia dijelaskan bahwa:”Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan”.[6]
               Menurut Ahmad Tafsir, Pendidikan adalah “ Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.[7]
               Adapun yang dimaksudkan pendidikan di dalam skripsi ini adalah suatu usaha yang dilakukan manusia di dalam pembentukan kepribadian manusia yang dapat memperhitungkan perbuatannya.
3.     Kisah
               Dalam Kamus Bahasa Indonesia pengertian kisah adalah: “ cerita, dongeng, hikayat.”[8]
               Daryanto,SS, memberikan pengertian cerita adalah:” kisah, dongeng, sebuah tutur yang melukiskan suatu proses terjadinya peristiwa secara panjang lebar; karangan yang menyajikan jalannya kejadian-kejadian; lakon yang diwujudkan dalam pertunjukan tentang drama dan film.[9]
               Kisah yang penulis maksudkan disini adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dialami dalam kehidupan para Ashhabul Kahfi yang terkandung nilai-nilai pendidikan.
4.     Ashhabul Kahfi
               Yang penulis maksudkan dengan Ashhabul Kahfi dalam skripsi ini adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah SWT sehinnga mereka beriman dan mengenal Tuhan mereka. Selama 309 tahun mereka tertidur dengan perlindungan dan pengawasan dari Allah SWT. Seperti yang Allah firmankan di dalam Al-qur’an surat Al-kahfi ayat 25-26:
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً, قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَداً(الكهف:٢٦- ٢٥)                         
Artinya: Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.(Qs. Al-kahfi : 25-26)

F.     Metode Pembahasan
            Pembahasan ini memusatkan perhatian pada kepustakaan  yaitu membaca, menganalisa bahan – bahan yang ada di perpustakaan, baik dari Al – qur’an, kitab – kitab, hadist, kitab tauhid, kitab akhlak maupun buku – buku ilmiah lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang penulis bahas. Dengan menggunakan metode historis yang ditujukan kepada peristiwa yang terjadi pada masa lampau secara sistematis dan objektif memahami peristiwa – peristiwa masa lampau tersebut.
            Pembahasan ini juga menggunakan metode tafsir maudhui’ ( tematik ) yang objek pembahasan skripsi ini adalah kisah Ashhabul Kahfi , sejalan dengan itu, maka metode pembahasan yang digunakan adalah metode tafsir Al – qur’anul karim.
G. Sistematika Penulisan
           Adapun sisitematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
           Pada bab satu terdapat pendahuluan pembahasannya meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, manfaat pembahasan, penjelasan istilah, metode pembahasan dan sistematika penulisan.
           Pada bab dua terdapat profil Ashhabul Kahfi  pembahasannya meliputi : pengertian Ashhabul Kahfi , perjalanan Dakwah Ashhabul Kahfi  dan pelajaran Penting Dalam Kisah Ashhabul Kahfi .
           Pada bab tiga terdapat nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi  pembahasannya meliputi nilai pendidikan ketauhidan, nilai pendidikan ketakwaan, nilai pendidikan keimanan, nilai pendidikan ihsan dan nilai pendidikan ukhwah islamiah.
           Pada empat lima terdapat penutup termasuk di dalamnya kesimpulan dan saran-saran
           Sedangkan dalam penulisan skripsi ini untuk adanya keseragaman dan kesamaan dalam penulisan pengetikan penulis berpedoman pada buku ” Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen tahun 2009.




[1] Hadiyah Salim, Kisah Ashhabul Kahfi, (Bandung : PT. Alma’arif, 2008), hal. 95

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Al-qur’anul ‘Adhim, terjemahan, Farizal Tarmizi, Cet 1, ( Jakarta Selatan: Pustaka Azzam,2004 ),hal. 504

                   [3]Daryanto,SS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apollo, 1998), hal. 412
[4]Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Al Fabeta, 2004), hal. 11
                   [5] Poerwadarminta, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, ,( Surabaya: Apollo, 1998), hal. 412 )

                   [6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 204
                   [7]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 24
                   [8] Daryanto,SS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apollo, 1998), hal. 341
                   [9]Ibid, hal. 130.

Post a Comment for "Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Ashhabul Kahfi "