Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar


1.6.3       Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar


Menurut Gagne dan Briggs seperti yang dikutip Gredler dalam Aisyah dkk (2007: 1.3), pembelajaran sebagai ”upaya orang yang tujuannya adalah membantu orang belajar”. Secara lebih rinci Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai ”seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal” (Gredler dalam Aisyah dkk 2007: 1.3). Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga professional yang dipersiapkan untuk itu.
Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey, seperti yang dikutip Miarso dkk dalam Aisyah dkk (2007: 1.3), pembelajaran adalah ”suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Pembelajaran merupakan sub-set khusus pendidikan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pembelajaran merupakan kata benda yang diartikan sebagai ”proses, cara, menjadikan orang atau makluk hidup belajar”. Kata ini berasal dari kata kerja belajar yang berarti ”berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman” (Suharso dan Retnoningsih 2005: 21).
Dari keempat pengertian pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berpusat pada kegiatan siswa belajar dan bukan berpusat pada kegiatan guru mengajar. Oleh karena itu pada hakikatnya pembelajaran Matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan memungkinkan seseorang (sipelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika, dan proses tersebut berpusat pada guru mengajar matematika. Pembelajaran Matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika. Selanjutnya menurut Davis (Thom dan Pirie 2002: 1-28) mengungkapkan bahwa, “mathematics involves students’ invented methods for solving a problem, their mathematical verbalizations and actions, their theories or principles that are generated from such inquiries, as well as the mental representations they construct”. Artinya, Matematika melibatkan siswa menemukan metode untuk memecahkan suatu masalah, masalah verbal dan tindakan matematika mereka, teori-teori atau prinsip-prinsip yang mereka miliki yang dihasilkan dari pertanyaan tersebut serta representasi mereka yang mereka bangun.
Adapun tujuan matematika sekolah, khusus di sekolah dasar (SD) atau Madrasah Ibtidiyah (MI) yaitu agar siswa memiliki kemampuan (Aisyah dkk 2007: 1.4) yaitu sebagai berikut:
(1)    Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah,
(2)    Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, serta menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,
(3)    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh,
(4)    Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
(5)    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Post a Comment for "Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar"