Pengaruh Budaya Asing Bagi Masyarakat
Pengaruh Budaya Asing Bagi
Masyarakat Meureubo
Budaya asing adalah
budaya luar yang datang dari suatu daerah ke daerah lain, yang memuat
nilai-nilai yang sedikit berbeda dengan nilai-nilai yang selama ini di anut
oleh masyarakat Meureubo, yang masuk melalui berbagai media, pergaulan, wisata
dan lain sebagainya. Budaya asing tidak saja bersifat negatif namun dengan
kemajuan tekhnologinya juga membawa pengaruh positif terhadap wawasan dan
kemajuan suatu bangsa. Selama beberapa tahun terakhir ini, bangsa Indonesia, Aceh
dan Meureubo khususnya tengah dilanda arus globalisasi dan modernisasi dimana
berbagai sendi-sendi kehidupan sedikit banyaknya telah dirasuki oleh budaya-budaya
luar.
Nilai-nilai budaya islam yang telah di
pengaruhi oleh budaya asing berupa bidang ibadah/pendidikan agama, sosial
kemasyarakatan, seperti manipisnya silaturrahmi dan gotong royong, pergaulan
bebas antara muda-mudi semakin meningkat dan lain sebagaianya. Dalam skripsi
ini penulis membahas beberapa bidang budaya dan nilai-nilai agama dalam
masyarakat Meureubo yang telah di rasuki oleh budaya-budaya asing.
1.Bidang ibadah dan pendidikan agama
Selanjutnya masyarakat kecamatan
Meureubo taat beribadah kepada Allah SWT, hal ini di sebabkan memang sudah
keturunan dari nenek moyangnya orang-orang Aceh secara umum, mengikuti apa yang
telah di jadikan suatu kebiasaan apalagi mengikuti perihal yang menyangkut dengan
ibadah. Salah satu ibadah yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Meureubo
adalah ibadah shalat lima waktu secara berjamaah. Selama ini praktek shalat
berjamaah dalam masyarakat Meureubo sudah sering ditinggalkan dan sudah
berkurang untuk mengerjakan secara berjamaah. Disamping itu kegiatan-kegiatan
kegamaan sekarang ini terlihat kurang diminati di bandingkan masa-masa sebelumnya,
seperti shalat berjamaah, pengajian-pengajian, dakwah (ceramah-ceramah) dan
lain sebagainya.[1]
Disamping itu juga pengajian pada
malam hari merupakan salah satu budaya yang tujuannya menanamkan nilai-nilai
agama dalam pribadi seseorang, hal ini telah menjadi suatu tradisi dalam masyarakat
Meureubo. Budaya tersebut pada saat ini telah kurang dilestarikan, buktinya
pengajian pada malam hari tidak ada lagi karena telah dilalaikan dengan tontonan
senetron-senetron sehingga minat untuk mengaji atau mengikuti pembelajaran
agama sudah kurang diperhatikan.[2]
2.
Bidang sosial kemasyarakatan
Masyarakat Meureubo terkesan dengan
rasa sosialisasi yang tinggi, hal ini juga merupakan suatu tabiat yang sudah pernah
menjadi kebiasaan secara turun-temurun dalam budaya dan adat masyarakat
Meureubo. Kekompakan, kekeluargaan dan kesatuan juga terlihat pada prilaku
masyarakat Meureubo, seperti kebersamaan dalam manjenguk rekan atau tatangganya
yang sedang sakit, mareka mendatangi/mengunjunginya dengan tujuan untuk
menghibur dan berdo’a agar rekan atau tetangga yang sedang sakit akan segera disembuhkan
oleh Allah SWT, begitu juga apabila salah seorang diantara mareka ditimpa
musibah, secara rombongan mareka mendatanginya dan memberi bantuan dalam bentuk
apa saja yang dibutuhkan saat itu. Selain itu sifat kegotongroyongan, kegiatan
yang dilakukan misalnya membersihkan tempat-tempat ibadah, Meunasah,
jalan-jalan, lorong-lorong yang ada di desa, yang menjadi sarana transportasi
bagi mareka. Hal ini sudah kurang menjadi perhatian karena mareka telah sibuk
dengan pekerjaan sehari-hari sehinggga mengakibatkan menipisnya hubungan
silaturrahmi dalam masyarakat.[3] Untuk
lebih jelas mengenai pola hidup Islam yang telah dipengaruhi oleh budaya asing
dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.5 Pola hidup yang di pengaruhi
budaya asing
No Alternatif jawaban F %
a. Materialistis 20 50
b. Individualis 6 15
c. Budaya
serba bebas 14 35
Jumlah 40 100
Berdasarkan data dalam tabel di atas
menunjukkan bahwa 20 responden atau 50% menjawab pola hidu materialistis atau
pola hidup yang mementingkan harta benda, 14 orang responden atau 35% menjawab
budaya serba bebas, dan hanya 6 orang responden atau 15 % yang menjawab pola
hidup Individualisti atau mementingkan diri sendiri.
Di segi lain, sosial budaya yang pernah
dilestarikan dalam masyarakat Meureubo yaitu rasa
kekeluargaan, tolong menolong, dan ramah tamah.
Keramah-tamahan masyarakat Aceh dalam hidupnya sesuai dengan ajaran agama
Islam. Hal ini tercermin dalam ucapan dan arti assalamu’alaikum wr wb ”.
Dalam hal ini peribahasa Aceh mengatakan “Mulia wareueh ranup Lempuan, mulia
rakan mameh suara”, maksudnya mulia atau hormati saudara minimal memberikan
tempat sirih, dan menghormati teman minimal suara yang lemah lembut. Budaya tersebut sekarang ini telah terjadi
penurunan karena akibat dari kesibukan dalam berbagai aktifitas sehari-harai
mengakibatkan terhadap menipisnya silaturrahmi, sehingga kepedulian terehadap
sesama sudah sangat kurang. kemudian budaya Assalamu’alakum wr wb juga sudah
jarang dilestarikan oleh generasi muda sekarang ini, padahal dalam kalimat Assalamu’alaikum
tersebut terdapat sebuah do’a keselamatan bagi orang yang mengucapkan dan
menjawabkannya.[4]
3.
Bidang akhlak dan tata cara berpakaian
Manutup aurat baik laki-laki maupun
perempuan disamping peraturan dalam agama Islam juga sudah menjadi tradisi dalam
kehidupan masyarakat Meureubo atau Aceh secara umum, rasa malu yang dimiliki
oleh masyarakat Meureubo sangat tinggi sehingga membuat muda-mudi merasa malu
dan senantiasa menjaga aurat mareka sesuai dengan perintah/ajaran agama dan
tradisi umat Islam. Ini merupakan salah satu akhlak baik yang di ajarkan Islam
pada penganutnya. [5]
Pada saat ini setelah masuknya
budaya-budaya asing yang senantiasa memamerkan aurat akibat para muda-mudi mencoba
mencontohkan apa yang dipamerkan tersebut, sihingga timbul rasa ketertarikan
atau minat untuk mecoba berpakaian seperti mode pakaian asing tersebut, salah
seorang tokoh masyarakat juga mengemukakan bahwa dengan masuknya budaya-budaya
luar khususnya yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, akan membawa dampak
negatif terhadap keutuhan nilai-nilai agama dan budaya setempat.[6]
walaupun tidak semua akhlak dan
nilai-nilai agama remaja telah dipengaruhi, namun sedikit banyaknya telah kita
lihat perbedaannya, salah satunya pria sudah berani memakai celana pendek dan
wanita tidak memakai jilbab berjalan didepan umum. Hal ini membuktikan bahwa
pengaruh dari budaya luar yang masuk ke Aceh dan kecamatan Meureubo, sedikit
banyaknya telah membawa pengaruhnya terhadap budaya dan nilai-nilai agama
masyarakat. Ini di sebabkan akibat kurangnya penanaman akhlak dan pemahaman
agama pada muda-mudi sekarang ini serta kuatnya pengaruh budaya-budaya asing
sehingga dengan mudah menerima apa adanya tanpa menfilter terlebih dahulu,
padahal yang demikian bertentngan dengan mode pakaian/ busana yang Islami.[7]
Untuk mengetahui nilai-nilai keagamaan
yang telah di pengaruhi oleh budaya asing, terhadap masyarakat Meureubo, dapat dilihat
pada tabel berikut ini.
Tabel 3.6 Nilai-nilai keagamaan
yang telah dipengaruhi oleh budaya asing.
No Alternatif jawaban F %
a.
Shalat 10 25
b.
Tata cara berbusana 15 37.5
c.
Akhlak/moral 14 35
d.
Semuanya (a, b dan c) 1 2.5
Jumlah 40 100
Data
pada tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar atau 15 orang (37.5%)
responden memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang penulis ajukan adalah
tata cara berbusana, dan 14 orang (35%) responden menjawab akhlak/moral, dan
responden yang menjawab shalat sebanyak 10 orang (25%), dan hanya sebagian
kecil 1 orang responden (2.5%) yang menjawab semuanya.
Jawaban tersebut sesuai dengan hasil pengamatan (observasi) penulis terhadap kondisi
yang ada di lapangan penelitian serta hasil dari wawancara penulis dengan bapak
Junaidi salah seorang tokoh masyarakat di desa Peunaga Rayeuk, dia mengatakan
bahwa pakaian muda-mudi sekarang ini telah banyak yang mengikuti mode pakaian modern,
buktinya banyak muda-mudi yang berpakain ketat sehingga menampakkan bentuk
tubuh mareka sedangkan kaum laki-laki memakai celana pendek yang bisa
menampakkan aurat.[8]
4.
Bidang pergaulan
Perubahan yang di akibatkan karena akulturasi
antara budaya lokal dengan budaya baru (asing) sekarang ini telah banyak
budaya-budaya luar dengan tidak kita sadari telah masuk dan bercampur dengan
budaya–budaya masyarakat Aceh atau Meureubo khususnya, budaya yang serba bebas
baik pada pakaian maupun pergaulan muda-mudi telah banyak kita dapati dalam masyarakat
kita sekarang ini. Hal ini sudah pasti dapat membawa pengaruh negatif terhadap pergaulan,
akhlak serta etika generasi Islam kedepan.
Selanjutnya untuk mengetahui sejauh
mana pengaruh budaya asing terhadap etika atau tingkah laku muda-mudi sekarang
ini, maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 7 Pengaruh budaya asing
terhadap pergaulan muda-mudi.
No Alternatif
jawaban F %
a.
Sangat berpengaruh 5 12.5
b.
Tetap menurut ajaran Islam 12 30
c.
Ada yang terpengaruh dan ada yang tidak 20 50
d.
Dan lain-lain 3 7.5
Jumlah 40 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa 20
orang respondent (50%) yang menjawab pergaulan muda-mudi sebagian terpengaruh
dan sebagian tidak, 12 orang responden (30 %) menjawab pergaulan muda-mudi
tetap menurut ajaran Islam, sedangkan yang menjawab pergaulan muda-mudi diluar
ketentuan ajaran Islam hanya ada 5 orang responden (12.5 %), dan Cuma 3 orang
responden (7.5%) yang mempergunakan jawaban bebas.
Dalam mengantisipasi maraknya budaya-budaya
luar yang bersifat negatif terhadap kemurnian nilai-nilai pendidikan Islam. Maka
kita dapat melihat sejauh mana peran atau perhatian masyarakat terhadap agama
dan budaya di kecamatan Meureubo. Oleh karena itu untuk mengatahui ada tidaknya
peran atau perhatian orang tua dan masyarakat di kecamatan Meureubo, maka dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.8 Perhatian orang tua dan masyarakat terhadap pengaruh budaya luar.
No alternatif jawaban F %
a.
Ada ` 37 92.5
b.
Tidak ada - -
c.
Kadang-kadang ada 3 7.5
d. Dan
lain-lain - -
Jawaban 40 100
Dari
tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar atau 37 orang responden (92.5%)
yang menjawab ada perhatian orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan agama
anak, dan hanya 2 orang responden (7.5%) yang menjawab kadang-kadang ada
perhatian orang tua terhadap pendidikan agama anak. Untuk mengetahui bagaimana
atau upaya saja yang dilakukan mareka terhadap anak-anaknya. Maka dapat kita
lihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.9 Upaya yang
telah dilakukan untuk mengantisipasi budaya yang bertentangan dengan syari’at agama.
No Alternatif jawaban F ` %
a.
Memberikan bimbingan atau pendidikan agama 28 70
b.
Bebas tapi terkontrol 12 30
c.
Memberi kebebasan kepada anak - -
d.
Dan lain-lain - -
Jumlah 40 100
Dari tabel diatas
dapat kita lihat bahwa kepedulian masyarakat kecamatan Meureubo dalam
mengantisipasi budaya-budaya luar khususnya budaya yang bertentangan dengan
ajaram Islam sangatlah tinggi. Buktinya bedasarkan jawaban yang diberikan 28 orang
responden (70 %) yang mejawab memberikan bimbingan atau didikan agama terhadap
anak-anak mareka hanya 1 orang responden (30%) yang memjawab melepaskan tetapi
mengontrol (membimbing) anak-anak dalam pergaulan mareka sehari-hari. Maka dari
itu kepedulian orang tua terhadap anak disana selalu ada.
Dengan demikian kebudayaan asing bukan hanya pergaulan
muda-mudi saja yang dapat dipengaruhi akan tetapi seluruh nilai-nilai keagamaan,
budaya serta adat istiadat akan membawa pengaruhnya. Maka dari itu partisipasi
orang tua, masyarakat serta tokoh-tokoh agama sangatlah diperlukan agar tatanan
budaya yang telah ada akan tetap terjaga keutuhannya. Hal ini dapat dibuktikan
berdasarkan data dalam penelitian serta hasil wawancara dan observasi yang
telah penulis lakukan di desa Langung dan desa Peunaga Rayeuk yang dapat
mewakili seluruh desa yang ada di kecamatan Maureubo. Karena itu perhatian dan
pencegahan harus dilaksanakan secara efektif agar tatanan budaya, agama dan
adat istiadat tetap terjaga keutuhannya.
Salah
satu upaya yang telah dilakukan untuk mengantisispasi rusaknya nilai-nilai
agama dan tatanan budaya pada remaja atau masyarakat Meureubo, adalah memperdalam ilmu-ilmu agama, karena agama
dapat manangkal yang tidak baik yang datang dari luar, dan yang bertentangan
dengan ajaran Islam.[9]
Dari
uraian beberapa tabel diatas menunjukkan bahwa masuknya budaya luar khususnya budaya
yang bertentangan dengan ajaran Islam akan membawa dampak negatif terhadap
kemurniannya nilai-nilai agama, adat serta budaya bangsa kita (Aceh) khususnya
di kecamatan Meureubo. Dengan demikian
antisipasi masayarakat terhadap terjaganya nilai-nilai agama, adat serta budaya
yang talah ada harus dilestarikan karena tanpa adanya keperdulian masyarakat, agama dan
budaya kita akan hilang dengan sendirinya.
[1] Hasil wawancara penulis dengan Tgk Ishak, tokoh masyarakat Desa
Langung Tanggal 23 Agustus 2007
[2] Hasil wawancara penulis dengan Tgk Ishak, tokoh masyarakat Desa
Langung tanggal 23 Agustus 2007
[3] Hasil wawancara penulis
dengan Bapak Wilis Rajab/Geuchik desa Langung, tanggal 22 Agustus 2007
[4] Hasil wawancara penulis dengan Tgk Ishak, tokoh masyarakat Desa
Langung Tanggal 23 Agustus 2007
[5] Hasil wawancara penulis
dengan Tgk Ishak …, Tanggal 25 Agustus 2007
[6] Hasil wawancara penulis
dengan Tgk Ishak…, Tanggal 25 Agustus 2007
[7] Hasil wawancara penulis
dengan Bapak Muhammad Daud tokoh masyarakat Peunaga Rayeuk Tanggal 26 Agustus
2007
[8] Hasil wawancara penulis dengan Bapak Junaidi, Tokoh masyarakat Desa
Peunaga Rayeuk tanggal 26 Agustus 2007
[9] Hasil wawancara penulis dengan Bapak Wilis Rajab/Geuchik desa
Langung, tanggal 22 Agustus 2007.

Post a Comment for "Pengaruh Budaya Asing Bagi Masyarakat"