Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi
BAB I
PENDAHULUAN
Tasawuf merupakan bentuk
kebajikan spiritual dalam Islam yang
dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian
tertentu berdasarkan syariat Islam. Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf
dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau
persatuan rahasia dengan yang Satu. Di sini jelas bahwa landasan tasawuf ialah
tauhid. Menurut keyakinan para sufi, apabila kalbu seseorang telah tercerahkan dan penglihatan batinnya terang
terhadap yang hakiki, maka ia
berpeluang mendapat persatuan rahasia (fana’) dengan yang Hakiki. Apabila demikian maka dia
akan dapat merasakan pengalaman paling indah, yaitu hidupnya kembali jiwa dalam
suasana baqa` (kekal). Ia lantas tahu cara-cara membebaskan
diri dari kesementaraan alam zawahir (fenomenal) yang melingkungi hidupnya,
serta merasakan kedamaian yang langgeng sifatnya.
Ikhtiar untuk mencapai keadaan
rohani (ahwal, kata jamak
dari hal) semacam
itu dimulai dengan mujahadah,
yaitu perjuangan batin melawan kecendrungan nafsu rendah yang dapat membawa
kepada pengingkaran terhadap yang Haqq. Ujung perjalanan melalui mujahadah disebut musyahadah, yaitu penyaksian secara batin bahwa
Tuhan benar-benar satu, tiada kesyakan lagi terhadap-Nya. Jadi yang terbit dari
keadaan musyahadah ialah haqq al-yaqin. Jiwa yang menerima keadaan rohani
semacam itu disebut faqir, yaitu kesadaran tidak memiliki apa pun
selain cinta kepada-Nya dan karenanya bebas dari kecendrungan selain Dia.
Salah satu jalan jalan
kerohanian dalam ilmu Tasawuf ditempuh melalui cinta Misalnya ketika seseorang
memasuki lembah pencarian. Cintalah
sebenarnya yang mendorong seseorang melakukan pencarian. Adapun kepuasan hati,
perasaan atau keyakinan akan
keesaan Tuhan, serta ketakjuban dan persatuan mistik merupakan tahapan keadaan
berikutnya yang dicapai dalam jalan cinta. Dalam ilmu
tasawuf cinta merupakan penghubung atau pengikat antara manusia dengan
Tuhan-Nya. Jadi cinta ialah pengikat, penghubung, laluan, tangga naik menuju
Tauhid. Di mana saja cinta menjelaskan bahwa tujuan hanya satu, yaitu
kemutlakan dan kebenaran yang Haqq.
Sebagai bentuk spiritualitas
Islam, Tasawuf pada mulanya muncul sebagai gerakan zuhud, yaitu sikap mengingkari gejala
kemewahan dan materialisme yang berlebihan dengan memperbanyak ibadah. Gejala
materialisme dan kecendrungan akan kemewahan melanda masyarakat kelas atas dan
menengah muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Sebagai gerakan zuhud tasawuf
menekankan kepada sikap tawadduk dan tawakkal.
Pada akhir abad ke-8 M gerakan ini mengubah diri menjadi jalan
Cinta, yang dipelopori oleh Rabi`ah al-Adawiyah, Dhun Nun al-Misri, Harits
al-Muhasibi dan lain-lain. Istilah yang digunakan untuk cinta ialah mahabbah dan penggunaan istilah ini didasarkan
pada ayat al-Qur`an surat Al-Maidah :54,
öNåk:Ïtä ÿ¼çmtRq6Ïtäur
“yuhibbuhum wa
yuhibunahu” (Dia mencintai mereka dan/ sebagaimana mereka mencintai-Nya. Dalam pembahasan
makalah ini, penulis lebih cendrung membahas tentang konsep cinta Rabi’ah Al-adawiyah,
karena dialah yang pertama sekali mempelopori tentang konsep Mahbbah
kepada Allah.
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas, penulis mencoba membahas tentang “Pencapaian Kebenaran dalam
wacana Cinta dan Gnosis dalam Tasawuf”
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi
Makna cinta (mahabbah)
adalah kecendrungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu kelezatan
padanya. Sedangkan kebencian adalah sebaliknya, yaitu ketidakpuasan jiwa karena
keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok baginya.[1]
Dalam pandangan Rumi, cinta
sebagai dimensi pengalaman rohani, bukan dalam pengertian teoritis sepenuhnya
“mengendalikan” keadaan batin dan “Psikologis” sufi. Ia tidak dapat diterangkan
dengan kata-kata, tapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman. Sebagaimana
halnya seseorang yang ingin mengungkapkan cinta kepada kekasihnya, kata-kata
tak dapat mewakili apa yang ada dihati melalui selembar kertas. Apalagi cinta
seorang sufi pada kekasihnya yang tidak hanya melampaui dunia, tapi juga dunia
dunia yang akan datang dan segala sesuatu yang terjangkau oleh imajinasi. Rumi
sering menegaskan bahwa cinta tak terungkapkan. Meskipun demikian, dalam
sebagian syair-syairnya, dia memberikan gambaran: orang dapat membicarakannya
kapan saja dan tiada habis-habisnya. Tapi tetap pada suatu kesimpulan: cinta
benar-benar tak terungkapkan lewat kata-kata. Ia adalah pengalaman yang berada
di seberang pemikiran tapi sebuah pengalaman yang lebih nyata dari pada dunia
dan segala yang ada di dalamnya.[2]
Membahas pengertian cinta yang
diterima secara umum di kalangan ahli tasawuf. Ada dua katagori cinta yang
dibahas para sufi, khususnya oleh kalangan wujudiyah, yaitu: (1) Cinta Ilahi
itu sendiri, dan (2) Cinta
mistikal atau kesufian. Cinta mistikal mengandung jalan menuju persatuan
mistikal dan makrifat, dan ia merupakan bentuk pengalaman religius yang tinggi dengan
beberapa keadaan rohani yang menyertainya.
Cinta ilahi yang dimaksud para
sufi ialah Wujud-Nya ketika turun dari alam Dzat-Nya yang tak dikenal, yaitu alam lahut, menuju alam
ketuhanan (alam lahut) di mana Dia mulai memunculkan diri sebagai Khaliq
atau Pencipta, dan selanjutnya dikenal sebagai Rabb al-`Alamin, Penguasa
sekalian alam. Para sufi
merujukkan konsep mereka tentang Tuhan sebagai wujud tunggal, yaitu Sifat-sifat-Nya
dan Pengetahuan-Nya yang meliputi alam semesta.
Cinta Tuhan yang pertama
disebut rahmat esensial oleh sebab dilimpahkan kepada semua makhluq-Nya dan
seluruh umat manusia tanpa mengenal ras, bangsa, kaum dan agama. Sedang rahmat
wajib, yaitu kasih atau rahim-Nya, hanya dilimpahkan pada orang-orang tertentu
yang dipilih-Nya, yaitu mereka yang tawakkal, beriman dan berbuat kebajikan di
muka bumi. Dengan demikian Cinta ilahi ialah wujud-Nya, dan Wujud-Nya ialah
Sifat-sifat-Nya yang diringkas dalam al-rahman dan al-rahim,
juga Pengetahuan-Nya dan Nur-Nya, yang meliputi alam semesta. Cinta ilahi juga
merupakan rahasia penciptaan (sirr al-khalq) atau sebab penciptaan (illah
al-khalq). Ayat lain yang dijadikan
rujukan ialah al-Qur`an, surat At-Thalaq ayat 12 yang berbunyi:
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿx z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨t\tGt âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ÖÏs% ¨br&ur ©!$# ôs% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ
Artinya: Allah-lah
yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku
padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
B.
Cinta Sebagai Pencapaian Kebenaran dalam Tasawuf
Pengembaraan di jalan menuju
Taman Kebenaran memerlukan bukan hanya pencapaian dan perwujudan pengetahuan
pemersatu, melainkan juga keterbenaman di dalam cinta dan ketertarikan pada
keindahan di tingkat tertingginya. Allah telah menjadikan mungkin bagi manusia
untuk dapat meraih-Nya tidak hanya melalui pengetahuan tetapi juga melalui
cinta dan keindahan. Taman itu adalah Taman Kebenaran, sekaligus juga Taman
Cinta, yang Keindahannya melebihi dan melampaui semua yang dapat dibayangkan
atau telah dialami sebagai sesuatu yang menyenangkan dan indah di bumi ini.
Jalan menuju Kebenaran
menghasilkan penemuan Kebenaran, yang berarti pengetahuan mengenai-Nya. Lebih
jauh lagi, Kebenaran itu sedemikian sehingga orang tidak dapat mengetahui-Nya
tanpa mencintai-Nya. Dan cinta itu akhirnya mengantarkan ke dalam rengkuhan
Allah, yang pada gilirannya mencintai orang-orang di antara hamba-hamba-Nya
yang mencintai Dia. Akan tetapi, dalam pengertian metafisik, cinta Allah
mendahulu cinta manusia.[3]
Mengenai cinta pada manusia ada
dua macam, yaitu cinta mistikal/rohani dan cinta alami/kodrati. Cinta mistikal
tertuju kepada Tuhan, cinta kodrati tertuju kepada sesama manusia dan
lingkungan sekitar. Cinta jenis kedua ini dapat dijadikan tangga naik menuju
cinta mistikal, dan sebaliknya cinta mistikal dapat mengubah bentuk-bentuk
cinta yang kedua menjadi lebih tinggi. Pelaksanaan cinta kedua ini dirumuskan
oleh al-Qur`an dengan istilah amar
makruf nahi mungkar atau
solidarits sosial yang bertujuan membentuk lingkungan masyarakat yang diridhai
Tuhan, berkeadilan, beradab dan berperikemanusiaan.
Cinta mistikal merupakan
kecendrungan yang tumbuh dalam jiwa manusia terhadap sesuatu yang lebih tinggi
dan lebih sempurna dari dirinya, baik keindahan, kebenaran maupun kebaikan yang
dikandungnya. Para sufi menyebut perjalanan mendaki dari syariat kepada yang
hakiki atau makrifat sebagai taraqqi.
Istilah ini ada kaitannya dengan sebutan tariqat. Perjalanan mendaki tersebut oleh Rumi
disebut sebagai ‘perjalanan dari diri ke diri’,
yakni dari diri dalam kedudukan rendah menuju diri dalam kedudukan
mulia/tinggi. Ayat al-Qur’an yang dirujuk dalam melukiskan perlunya jalan cinta
dalam tasawuf antara lain ialah, Qur’an surat Ad-Dzariyaat ayat 56 yang
berbunyi:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya:
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.
Di dalam ayat ini tersirat
pengertian bahwa dalam jalan cinta terdapat pengabdian kepada yang Dicintai.
Selain itu para sufi juga menghubungkan pencapaian di jalan cinta dan peroleh
pengetahuan yang mendalam tentang yang Hakiki. Ibnu Abbas misalnya menafsir
perkataan “supaya beribadah kepada-Ku” dalam ayat di atas sebagai “supaya
mencapai pengetahuan-Ku (melalui jalan cinta)”
Cinta mengantarkan manusia
sehingga mampu hingga mampu mencapai fana dan baqa, ia melampaui akal, karena
ketika seseorang telah mencapai fana, akal yang ada dalam dirinya juga
mengalami fana, atau bahkan akalpun ditinggalkan, dan ketika telah samapai pada
maqam “akulah tuhan” hanya di yang ada, tiada lagi akal. Oleh karena itu
melaluinya manusia mengenal tuhan, sebab tiada lagi kemanusiaannya hanya
keesaan yang mutlak. Penyejajaran cinta dan akal, mengambil peranan penting
dalam literature sufi. Cinta menjadi penuntun bagi manusia menuju pintu gerbang
pelataran Tuhan.[4]
Jenis cinta mistikal yang lain
ialah berupa cinta yang terbit dari kerinduan manusia kampung halamannya yang
sejati yang didiaminya pada Hari
Alastu dulu, yakni sebelum
dia diturunkan ke dunia dan masih berupa roh yang bersujud di hadapan Tuhan. Pada
hari itu manusia masih dekat dan bersatu dengan Tuhannya, dan berikrar tidak
mengakui Rabb yang lain kecuali Kekasihnya yang Haqq, sebagaimana dinyatakan
dalam al-Qur`an “Alastu bi
rabbikum? Qawlu bala syahidna” (Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku
bersaksi!” Perkataan Alastu diambil dari perkataan pertama dalam
kalimah pengakuan tersebut. Ia disebut juga sebagai Hari Mitaq atau Hari
Perjanjian, dan merupakan pengalaman azali manusia paling indah karena masih
bersatu dengan-Nya, belum terbuang dan berpisah dari-Nya.
C.
Konsep Cinta/Mahabbah Rabi’ah
al-Adawiyyah
Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti
Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah. Ia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M, lalu
hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Ia berasal dari keluarga miskin dan
dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya yaitu Bashrah. Di kota ini namanya
sangat harum sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang
saleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H/801 M.
Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota Jurussalem.[5]
Rabi’ah hidup dalam kemiskinan dan menolak segala
bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Dalam sebuah riwayat tasawuf,
disebutkan bahwa rumah Rabi’ah pernah dimasuki pencuri ketika dia sedang qiyâm al-lail. Karena tidak mendapati sesuatu barang
bergarga pun di rumahnya, maling itu berusaha mengambil bejana tempat wudhu
Rabi’ah. Namun anehnya dia tidak bisa keluar dari rumah itu sampai akhirnya
meminta maaf kepada Rabi’ah. Kala itu Rabi’ah mengatakan bahwa dia boleh
membawa apa saja di rumah itu selain bejana tersebut, karena menurutnya, itulah
satu-satunya benda berharga miliknya yang digunakannya untuk bersuci.
Rabi’ah Adawiyah merupakan seorang zahid perempuan yang
dapat menghias lembaran sejarah sufi dalam abad ke-2 H. Kemasyurannya ialah
dalam kehidupan kerohanian, dimana tingkat zuhud yang dikembangkan Hasan
Al-Basri yang bersifat Khauf dan raja’ ditingkatkannya ke tingkat yang bersifat
cinta. Cinta yang suci murni lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan,
karena yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa. Sifat zuhud berdasarkan
cinta menyelinap dalam lubuk hati Rabi’ah Adawiyah, menyebabkan dia
mengorbankan hidupnya untuk mencintai (Allah). Hidupnya tenggelam dalam zikir,
tilawah dan witir. Kehidupannya merupakan gambaran dan ayat-ayat Al-Qur’an yang
jelas-jelas melukiskan hubungan cinta antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya.[6]
Sebagaimana ungkapan Rabi’ah al-Adawiyah dalam larik sya’irnya:
“Kujadikan kau teman berbincang dalam kalbu
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu
Dalam kalbu terpancang selalu kekasih cintaku”[7]
Melihat penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa
Rabi’ah al-Adawiyah merupakan seorang tokoh zuhud yang begitu cinta kepada
Tuhan. Cintanya kepada Allah membuat ia tidak cinta kepada sesama
makhluk.lainnya. hidupnya hanya di penuhi dengan zikir kepada Allah SWT.,
dengan tidak memperdulikan segala urusan
duniawi.
Konsep mahabbah
Rabi’ah disifati
sebagai maqâm seorang hamba di hadirat Tuhan,
yang karenanya tidak memberikan peluang bagi kecintaan terhadap yang selain
Allah SWT, termasuk terhadap Rasulullah saw sekalipun. Penghayatan terhadap tingkatan
rohani yang cukup mendalam semacam ini dapat disebut bagian nyata dari pola
pikir irfani (pola pikir yang mementingkan
pengenalan intuitif terhadap hakikat Ketuhanan).
Pokok pendirian tasawuf Rabî’ah adalah tentang cinta
sejati, di mana dia mengabdi atau beramal saleh semata-mata karena kecintaan
tulus dan bulat terhadap Allah SWT. Bahkan, lantaran seluruh lorong hatinya
telah dipenuhi cinta Ilahi maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai
ataupun membenci yang lain[8]
BAB III
KESIMPULAN
Makna cinta (mahabbah)
adalah kecendrungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu kelezatan
padanya. Sedangkan kebencian adalah sebaliknya, yaitu ketidakpuasan jiwa karena
keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok baginya. Dalam pandangan Rumi,
cinta sebagai dimensi pengalaman rohani, bukan dalam pengertian teoritis
sepenuhnya “mengendalikan” keadaan batin dan “Psikologis” sufi. Ia tidak dapat
diterangkan dengan kata-kata, tapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman.
Di kalangan ahli tasawuf ada dua
katagori cinta yang dibahas para sufi, khususnya oleh kalangan wujudiyah,
yaitu: (1) Cinta Ilahi itu sendiri, dan (2)
Cinta mistikal atau kesufian. Cinta mistikal mengandung jalan menuju persatuan
mistikal dan makrifat, dan ia merupakan bentuk pengalaman religius yang tinggi dengan
beberapa keadaan rohani yang menyertainya. Cinta ilahi yang dimaksud para sufi
ialah Wujud-Nya ketika turun dari alam Dzat-Nya yang tak dikenal, yaitu alam lahut, menuju alam
ketuhanan (alam lahut) di mana Dia mulai memunculkan diri sebagai Khaliq
atau Pencipta, dan selanjutnya dikenal sebagai Rabb al-`Alamin, Penguasa
sekalian alam. Para sufi
merujukkan konsep mereka tentang Tuhan sebagai wujud tunggal, yaitu
Sifat-sifat-Nya dan Pengetahuan-Nya yang meliputi alam semesta.
Dalam pandangan sufi cinta merupakan
salah satu jalan penacapaian kebenaran, karena dengan cinta manusia akan
mencapai kebenaran. Seseorang tidak akan mengatahui Tuhan tanpa mencintai-Nya.
Salah seorang tokoh pelopor
tentang cinta dalam tasawuf adalah Rabi’ah adawiyah. Dia menyerahkan seluruh
dirinya kepada Dzat yang sangat dikasihinya, sehingga dia tidak mau “berbagi
kasih” kepada sesama makhluk. Hati Rabi’ah kosong dari segala-galanya kecuali
Allah SWT semata, di mana dia tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk mencintai
selain Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Mutiara Ihya’ Ihya ‘Ulumuddin, Ter.
Irwan Kurniawan, Bandung Mizan Pustaka, 1997.
Asmaran As. Pengantar Studi Taswuf, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1994.
M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi,
Yogyakarta: Pustaka Qalam, 2001.
Muhammad Siregar, Pengantar
Ilmu Tasawuf, Medan: Proyek PPTA,
1982.
Seyyed Hossein Nasr, Peran Cinta dan Keindahan Dalam Kehidupan Spiritual, di Akses 2
Januari 2010.
[1] Al-Ghazali, Mutiara Ihya’ Ihya ‘Ulumuddin, Ter. Irwan
Kurniawan, (Bandung Mizan Pustaka, 1997), hal. 366.
[2] M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi,
(Yogyakarta: Pustaka Qalam, 2001), hal. 291.
[3] Seyyed Hossein Nasr, Peran Cinta dan Keindahan Dalam Kehidupan Spiritual, di Akses 2
Januari 2010
[4] M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi, hal. 335.
[5] Asmaran As. Pengantar Studi Taswuf, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1994), hal. 274.
[6] Muhammad Siregar, Pengantar
Ilmu Tasawuf, (Medan: Proyek PPTA,
1982), hal.
61.
[8] Ibid., hal. 278.

Pjanic senang bermain di Barca dari pada Madrid Simak Beritanya Disini!!!
ReplyDelete