Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Riwayat Hidup dan Pendidikan Abu Hamid al-Ghazali


A.    Riwayat Hidup dan Pendidikannya
Gaya bicaranya yang santun, lugas dengan bahasa yang mudah dicerna. Bahasa rakyat yang digunakannya menjadikan ceramah dan dakwahnya mudah ditangkap kaum muslimin, tak hanya di negeri leluhurnya, Mesir, tetapi juga di Negara-negera belahan dunia lainnya. Melalui buku-bukunya, yang hingga meninggal menulis sedikitnya 60 lebih buku, dia disampaikan risalah dakwah kepada kaum muslimin di berbagai tempat.
Siapa sebenarnya ulama dan pakar tafsir yang memiliki pemikiran moderat dan banyak menjadi rujukan para pemikir muslim modern ini? Melihat kiprahnya, berbagai kalangan pemerhati gerakan Islam dan perjalanan umat pada abad ke-14 Hijrah mencatat Syeikh Muhammad al-Ghazali sebagai pilar utama pembaharuan Islam kontemporer. Sekalipun tidak ada hubungan kekeluargaan, nama besarnya mengingatkan kita kepada sosok hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin.
Jika Abu Hamid al-Ghazali dikenal sebagai faqih, mutakallimin, dan filosof yang telah menggemparkan dunia intelektual di Barat maupun Timur, maka sosok yang disebut pertama adalah figure da’I, mufakkir dan mujaddin yang menghidupkan dan memperbarui pemahaman keagamaan, menularkan kesadaran dalam diri umat Islam yang tengah lelap. Tak heran jika Yusuf Qardhawi, ulama tersohor yang menetap di Qatar, menyebutnya sebagai pembawa roh al-Ghazali abad ke V Hijrah.[1]
Kiprah Syeikh Muhammad al-Ghazali bukan hanya di Mesir, negeri yang pertama menikmati pemikiran dan perhatiannya. Lebih dari itu peran dan aktiftas dakwahnya juga mencakup berbagai kawasan, dari berbagai Negara dan benua, Amerika hingga Asia Tenggara dan Australia. Perhatian Syeikh al-Ghazali terhadap situasi dan kondisi buruk yang menimpa umat Islam di kawasan Arab, Afrika sampai Asia, tidak diragukan lagi. Seluruh hidupnya, bahkan dia abdikan untuk kepentingan bagaimana memberikan jalan terbaik dan memperbaharui berbagai kerusakan umat Islam; dari kerusakan pemikiran, akhlak, hingga masalah materi dan spirit yang salah arah, baik pada tingkat individu maupun kelompok.[2]
Ulama yang disebut banyak kalangan sebagai salah satu tokoh Ikhwan al-Muslimin moderat ini dilahirkan di desa Nakhla al-‘Inab, al-Bahirah, Mesir pada tanggal 22 September 1917 M. Figur Kharismatik yang sangat disegani ini meniti pendidikan dasar hingga perguruan tingginya di lingkungan pendidikan al-Azhar, di Alexandria Kairo. Pada tahun 1941 M Syeikh Muhammad al-Ghazali berhasil meraih gelar syahadah ‘Alimiyah (doctor) dari Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Kairo.[3]
Semasa kuliah, dia direkrut oleh Imam Hasan al-Banna hingga menjadi salah seorang anggota, tokoh, dan juru bicara Ikhwan al-Muslimin yang paling jujur. Semasa hayatnya pernah menjadi penasehat dan pembimbing di kementerian wakaf, Ketua Dewan Kontrol Mesjid, Ketua Dewan Dakwah, dan terakhir menjadi wakil kementerian Waqaf dan Urusan Dakwah Mesir. Selain itu, Syeikh Muhammad al-Ghazali juga menjadi guru besar diberbagai Negara Islam, seperti Universitas al-Azhar (Mesir), Ummul Qura (Mekah), King Abdul Aziz (Jedah), Qathar, dan Aljazair. Karya tulis yang dihasilkannya lebih dari 60 buku, yang berisi pencerahan Nur Ilahi yang memoles kehidupan dari sudut pemikiran, syari'at, dan akhlak.[4]
Sebagai seorang ulama Al-Azhar yang sangat berkompeten dengan ilmu-ilmu keagamaan, Syeikh Muhammad al-Ghazali mengukuhkan semua proyek pemikirannya untuk menggugah dan menyadarkan umat dari terlelap dalam kejumudan, keterbelakangan dan ketertindasan. Semua proyek pemikirannya diikat dalam bingkai “rasionalisme” dan kesadaran akan hukum sunnatullah, baik sunah yang berkaitan dengan tatanan kemasyaratan, hegemini kekuasaan, kausalitas, sampai sunah jatuh bangunnya suatu peradaban.
Pemikiran-pemikiran segar dan jernih dituangkannya dalam buku-buku, makalah, khutbah-khutbah dan ceramahnya di berbagai forum, baik local maupun internasional. Beberapa pemikirannya, bahkan terasa up to date dan cocok untuk iklim dan situasi keindonesiaan. Di antara pemikirannya tersebut adalah mengenai pensucian jiwa (tazkiyyah al-nafs) sebagai basic segenap aktivitas, perlawanan terhadap kezaliman social-politik, rasionalisasi hadits nabawiah, pembebasan wanita dan lain-lain.[5]
Sayang, pengabdian panjangnya di jalan dakwah Islam ini berakhir pada tahun 1998, ketika Sang Khalik memanggilnya kembali. Penulis sendiri menyaksikan langsung puluhan ribu kaum muslimin mengantarkan Syeikh ke peristirahatan terakhir, membuktikan peran dan kiprahnya Syeikh Muhammad al-Ghazali sangat membekas di hati kaum muslimin. Betapapun, Syeikh al-Ghazali meninggalkan jejak berharga, yang terpenting adalah warisan intelektualisme melalui karya-karyanya.[6]


[1]Herry Sucipto, Ensiklopedi Tokoh-Tokoh Islam, Bandung: Mizan, 2003, hal. 338

[2]Ibid., hal. 339
[3]Hasan Shadily, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1983, hal. 1017

[4]Ibid., hal. 1018
[5]Syeikh Muhammad al-Ghazali, Bukan Dari Ajaran, Surabaya: Bina Ilmu, 1982, hal. 9
[6]Ibid., hal. 10

Post a Comment for "Riwayat Hidup dan Pendidikan Abu Hamid al-Ghazali"