Riwayat Hidup dan Pendidikan Abu Hamid al-Ghazali
A.
Riwayat Hidup dan Pendidikannya
Siapa
sebenarnya ulama dan pakar tafsir yang memiliki pemikiran moderat dan banyak
menjadi rujukan para pemikir muslim modern ini? Melihat kiprahnya, berbagai
kalangan pemerhati gerakan Islam dan perjalanan umat pada abad ke-14 Hijrah
mencatat Syeikh Muhammad al-Ghazali sebagai pilar utama pembaharuan Islam
kontemporer. Sekalipun tidak ada hubungan kekeluargaan, nama besarnya
mengingatkan kita kepada sosok hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali,
penulis kitab Ihya Ulumuddin.
Jika Abu
Hamid al-Ghazali dikenal sebagai faqih, mutakallimin, dan filosof yang telah
menggemparkan dunia intelektual di Barat maupun Timur, maka sosok yang disebut
pertama adalah figure da’I, mufakkir dan mujaddin yang menghidupkan dan
memperbarui pemahaman keagamaan, menularkan kesadaran dalam diri umat Islam
yang tengah lelap. Tak heran jika Yusuf Qardhawi, ulama tersohor yang menetap
di Qatar ,
menyebutnya sebagai pembawa roh al-Ghazali abad ke V Hijrah.[1]
Kiprah
Syeikh Muhammad al-Ghazali bukan hanya di Mesir, negeri yang pertama menikmati
pemikiran dan perhatiannya. Lebih dari itu peran dan aktiftas dakwahnya juga
mencakup berbagai kawasan, dari berbagai Negara dan benua, Amerika hingga Asia
Tenggara dan Australia .
Perhatian Syeikh al-Ghazali terhadap situasi dan kondisi buruk yang menimpa
umat Islam di kawasan Arab, Afrika sampai Asia ,
tidak diragukan lagi. Seluruh hidupnya, bahkan dia abdikan untuk kepentingan
bagaimana memberikan jalan terbaik dan memperbaharui berbagai kerusakan umat
Islam; dari kerusakan pemikiran, akhlak, hingga masalah materi dan spirit yang
salah arah, baik pada tingkat individu maupun kelompok.[2]
Ulama
yang disebut banyak kalangan sebagai salah satu tokoh Ikhwan al-Muslimin
moderat ini dilahirkan di desa Nakhla al-‘Inab, al-Bahirah, Mesir pada tanggal
22 September 1917 M. Figur Kharismatik yang sangat disegani ini meniti
pendidikan dasar hingga perguruan tingginya di lingkungan pendidikan al-Azhar,
di Alexandria Kairo. Pada tahun 1941 M Syeikh Muhammad al-Ghazali berhasil
meraih gelar syahadah ‘Alimiyah (doctor) dari Fakultas Ushuluddin,
Universitas al-Azhar Kairo.[3]
Semasa
kuliah, dia direkrut oleh Imam Hasan al-Banna hingga menjadi salah seorang
anggota, tokoh, dan juru bicara Ikhwan al-Muslimin yang paling jujur. Semasa
hayatnya pernah menjadi penasehat dan pembimbing di kementerian wakaf, Ketua
Dewan Kontrol Mesjid, Ketua Dewan Dakwah, dan terakhir menjadi wakil
kementerian Waqaf dan Urusan Dakwah Mesir. Selain itu, Syeikh Muhammad
al-Ghazali juga menjadi guru besar diberbagai Negara Islam, seperti Universitas
al-Azhar (Mesir), Ummul Qura (Mekah), King Abdul Aziz (Jedah), Qathar, dan
Aljazair. Karya tulis yang dihasilkannya lebih dari 60 buku, yang berisi
pencerahan Nur Ilahi yang memoles kehidupan dari sudut pemikiran, syari'at, dan
akhlak.[4]
Sebagai
seorang ulama Al-Azhar yang sangat berkompeten dengan ilmu-ilmu keagamaan,
Syeikh Muhammad al-Ghazali mengukuhkan semua proyek pemikirannya untuk
menggugah dan menyadarkan umat dari terlelap dalam kejumudan, keterbelakangan
dan ketertindasan. Semua proyek pemikirannya diikat dalam bingkai “rasionalisme”
dan kesadaran akan hukum sunnatullah, baik sunah yang berkaitan dengan
tatanan kemasyaratan, hegemini kekuasaan, kausalitas, sampai sunah jatuh
bangunnya suatu peradaban.
Pemikiran-pemikiran
segar dan jernih dituangkannya dalam buku-buku, makalah, khutbah-khutbah dan
ceramahnya di berbagai forum, baik local maupun internasional. Beberapa
pemikirannya, bahkan terasa up to date dan cocok untuk iklim dan situasi
keindonesiaan. Di antara pemikirannya tersebut adalah mengenai pensucian jiwa (tazkiyyah
al-nafs) sebagai basic segenap aktivitas, perlawanan terhadap
kezaliman social-politik, rasionalisasi hadits nabawiah, pembebasan wanita dan
lain-lain.[5]
Sayang,
pengabdian panjangnya di jalan dakwah Islam ini berakhir pada tahun 1998,
ketika Sang Khalik memanggilnya kembali. Penulis sendiri menyaksikan langsung
puluhan ribu kaum muslimin mengantarkan Syeikh ke peristirahatan terakhir,
membuktikan peran dan kiprahnya Syeikh Muhammad al-Ghazali sangat membekas di
hati kaum muslimin. Betapapun, Syeikh al-Ghazali meninggalkan jejak berharga,
yang terpenting adalah warisan intelektualisme melalui karya-karyanya.[6]
[1]Herry Sucipto, Ensiklopedi
Tokoh-Tokoh Islam, Bandung: Mizan, 2003, hal. 338
[3]Hasan Shadily, Ensiklopedi
Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1983, hal. 1017
[5]Syeikh Muhammad
al-Ghazali, Bukan Dari Ajaran, Surabaya: Bina Ilmu, 1982, hal. 9

Post a Comment for "Riwayat Hidup dan Pendidikan Abu Hamid al-Ghazali"