Tujuan Metode Kisah
A. Tujuan Metode
Kisah
Metode kisah disebut juga metode cerita yakni cara
mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan
menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakin Alquran dan Hadits. Dalam
proses belajar mengajar, salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan
pendidik dalam melaksanakan pembelajaran adalah keterampilan pendidik dalam
memilih metode yang tepat untuk menyampaikan materi pelajaran yang disampaikan.
Pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan
dengan perkembangan mental peserta didik, pendidik harus memberikan
pengalaman yang bervariasi dengan memperhatikan minat dan kemampuan
peserta didik, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif
dan efisien. Menurut
Abdullah Nashih Ulwan ‘metode kisah menpunyai pengaruh tersendiri bagi jiwa dan
akal, dengan mengemukakan argumentasi yang logis”[1]
Tujuan penerapan metode kisah di antaranya adalah untuk meningkatkan
pemahaman tentang materi pembelajaran pendidikan anak usia dini, baik dari segi teori maupun
dari segi penerapannya. Karena dalam metode tersebut guru dapat mengkorelasikan
antara materi yang ada dalam buku ajar dengan kisah-kisah dalam
Alquran
yang sarat pesan-pesan dan tauladan yang patut dicontoh untuk dijadikan
acuan dalam kehidupan mereka. Sesuai hasil wawancara dengan Rosmani, Kepala
Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen bahwa:
Selama ini para siswa kurang memahami tentang materi pendidikan
anak usia dini yang saya sampaikan, karena kurang adanya variasi metode dan
masih cenderung monoton, namun setelah saya coba menerapkan metode Kisah mereka
menjadi lebih antusias, lebih mudah faham, dan terlihat dari perubahan tingkah
laku mereka menjadi lebih baik, di samping itu saya juga dapat menambah variasi
metode yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran penddikan anak usia
dini.[2]
Dunia anak adalah dunia pasif ide, maka dalam menunjang kemampuan
penyesuaian diri seorang anak membutuhkan rangsangan yang cocok dengan jiwa
mereka. Secara kejiwaan anak-anak ialah manusia yang akrab dengan simbol-simbol
kasih sayang orang lain yang ada di sekitarnya, seperti melalui kata-kata sanjungan
atau pujian. Guru yang mampu memberikan cerita akan menimbulkan semangat dan
pemahaman kepada anak terhadap pelajaran yang diterima dari cerita tersebut.
Penerapan metode Kisah dalam pembelajaran di RA saya teliti
dengan bertujuan agar dapat diketahui seberapa jauh antusiasme siswa dalam
menerima pelajaran dan keberhasilan guru dalam menerapkan metode tersebut. Maka
hasil dari penelitian tersebut dapat diketahui berdasarkan kutipan hasil
wawancara yang disampaikan oleh Ibu Rahmah, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal
sebagai berikut:
Dengan penerapan metode kisah dapat menambah antusiame siswa, mereka menjadi lebih mudah dalam
memahami materi pelajaran karena dengan metode tersebut mereka dapat mengambil tauladan dan hikmah dari
kisah-kisah yang saya sampaikan dan lebih mengena di hati mereka sehingga hal itu akan tercermin dari tingkah laku atau akhlak mereka
sehari-hari.[3]
Penerapan metode Kisah ini diakui oleh guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal bukan merupakan sebuah pelaksanaan yang hanya memenuhi
tuntutan secara normatif belaka, namun penerapan metode ini dilakukan untuk
menambah perbendaharaan metode pembelajaran sesuai dengan karakter peserta
didik di jenjang PAUD. Tujuan dari penerapan metode Kisah dalam pembelajaran pendidikan
anak usia dini yaitu agar peserta didik dapat lebih mudah memahami pelajaran
tersebut dan menjadi lebih antusias serta bisa aktif selama proses
pembelajaran, sehingga mereka mampu menguasai materi pelajaran sekaligus bisa
mengamalkannya kehidupan sehari-hari.
Menurut pengakuan Ibu Lisnur, Guru Raudhatul Athfal Nurul
Hilal menurut beliau “dalam kegiatan bercerita siswa Raudhatul Athfal Nurul
Hilal dibimbing untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita dari
guru, dengan jelas metode kisah disajikan kepada anak didik bertujuan agar
mereka memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Alquran dalam
kehidupan sehari-hari dan menambahkan rasa cinta anakanakkepada Allah, Rasul
dan Alquran”.[4]
Dengan metode bercerita memungkinkan
anak mengembangkan kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotor masingmasing
anak. Dalam bercerita salah satunya ada yang menceritakan dongeng. Cerita
dongeng merupakan bentuk kesenian yang paling lama. Mendongeng merupakan cara
meneruskan warisan budaya dari generasi ke generasi. Dongeng dapat digunakan
untuk menyampaikan pesan moral ke anak.
Ketika Alquran memaparkan sebuah kisah pemaparannya
bersifat ringkas, maka ia hanya bertumpu pada kejadian-kejadian yang berkaitan langsung dengan tujuan dari
kisah tersebut. Oleh karenanya, jarang sekali kita menemukan Alquran memaparkan
sebuah kisah dengan menjelaskan kejadian sejarahnya secara terperinci, sesuai
dengan peristiwa yang terjadi. Sebab, hal itu bisa mengaburkan tujuan utama
dari kisah tersebut. Sebagai contoh, Alquran mengkisahkan tentang ashhabul
kahfi, dan firman Allah berkaitan dengan
kisah itu dimulai sebagai berikut:
نَحْنُ
نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ
وَزِدْنَاهُمْ هُدًى, وَرَبَطْنَا عَلَى
قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن
نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَهاً لَقَدْ قُلْنَا إِذاً شَطَطاً,
هَؤُلَاء قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم
بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً)
الكهف: ١٥- ١٣(
Artinya: Kami ceritakan kisah mereka kepadamu
(Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang
beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami
telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata,
‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Ilah
selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang
amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai
ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang
terang (tentang kepercayaan mereka) Siapakah yang lebih zalim daripada
orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah?’” (Qs. Al-Kahfi:13-15)
Pada ayat di atas, kita saksikan bahwasanya Allah memulai
kisah ini dengan menjelaskan sifat ashhabul kahfi; mereka adalah sekelompok
pemuda yang melarikan diri dari kaumnya dengan membawa keimanan kepada Allah,
berbeda dengan sikap kaumnya yang menyekutukan Allah dan mengingkari-Nya. Oleh
karena itu, mereka berniat untuk mengasingkan diri dan keluar dari rumah dan
desanya. Begitulah kisah itu dipaparkan. Akan tetapi, akan timbul
pertanyaan, siapakah mereka itu, di
negeri mana mereka tinggal, berapa jumlah mereka, dan siapakah namanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini sesuai dengan urutan sejarah yang harus dijawab oleh
kisah tersebut. Namun, seandainya semua pertanyaan itu dijelaskan secara
terperinci, maka kisah ini tidak akan memenuhi tujuan dari pemaparannya. Lebih dari itu, pembaca hanya akan
memperhatikan kejadian-kejadian sejarah semata dan melupakan nasehat serta
pelajaran-pelajaran yang untuknya kisah itu dijelaskan.
[1]
Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Jilid
2, (Bandung: As-Syifa, 1990), hal. 77.

Post a Comment for "Tujuan Metode Kisah "