Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk
A. Dampak
Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk
Mustafa Kamal telah
menjalankan pembaharuannya yang dilandasi dengan konsep Liberalis yang menyebabkan
terjadi perubahan yang radikal dalam seluruh aspek kehidupan bangsa Turki, dan
juga menimbulkan berbagai polemik di kalangan intelektual Turki. Di satu sisi
para intelektual menganggap revolusi yang diprakarsai oleh Kamal sebagai upaya merubah tatanan bangsa Turki ke
arah yang modern dengan tidak bermaksud menghilangkan jejak Islam di bumi
Tukri. Sementara kelompok lainnya berprinsip bahwa revolusi yang dilaksanakan Kamal
sebagai upaya menyingkirkan Islam serta memutuskan hubungan peradaban dengan
masa lalu. Adanya polemik tersebut memberikan pertimbangan kepada pemimpin
Turki yang menggantikan Kamal untuk menerapkan berbagai kebijaksanaan dalam
upaya menjaga integritas bangsa Turki.
Dalam beberapa
decade tersebut, politik liberalis merupakan sebuah ideologi dominan di Turki. Hal
ini dikarenakan keteguhan penguasa yang mendapat dukungan militer. Kenyataan liberalis
dan westernisasi memang tidak terpisahkan dengan tentara hingga Kamal memulai gerakannya juga dari kalangan tentara.
Ketika peranan
tentara mulai berkurang dalam politik dan tatkala Turki berambisi menjadi Negara
demokrasi sebagai persyaratan agar diterima di kalangan masyarakat Eropa,
tekanan mulai berkurang kemudian Islam yang berakar panjang ratusan tahun
silam, perlahan-lahan bersemi kembali.[1]
Setelah Kamal meninggal
dunia pada tahun 1938, secara bertahap terjadilah berbagai perubahan di Turki.
Pengganti Kamal , Ismet Inonu, mengambil langkah-langkah yang memberi peluang
ke arah tumbuhnya demokrasi di negeri itu. Partai tunggal dihapuskan dan
pemerintah memberi kesempatan berdirinya partai-partai baru. Termasuk
mengizinkan adanya partai yang memperjuangkan kepentingan Islam. Partai
Demokrat (Democratic Party) tercatat sebagai partai pertama yang memperjuangkan
Islam sekalipun programnya menyatakan sepakat untuk memelihara dasar-dasar
ajaran dari Kamal.
Kelonggaran yang
diberikan pemerintah Inonu dimanfaatkan oleh partai demokrat untuk mengkritik
dan mengecam kebijaksanaan yang terlalu jauh dalam menerapkan liberalis dan
menyerukan kembali semangat memperhatikan agama. Pemerintahan Inonu mulai
merosot popularitasnya yang disebabkan persoalan ekonomi Negara akhirnya
mengizinkan kembali mata pelajaran agama dalam program pendidikan sekolah
dasar.
Politik liberalis
yang dilaksanakan Kamal di Negara Turki yang hampir seluruh penduduknya
beragama Islam ternyata tidak sepenuh
berhasil dan tidak sanggup mempertahankan keutuhannya. Pemimpin-pemimpin
Turki pasca Kamal terpaksa harus mengambil berbagai kebijaksanaan politik yang
bersifat korektif terhadap tindakan yang telah diambil sebagai implementasi
dari faham liberalis, terutama seusai perang dunia II.
Sebagai contoh adalah
liberalis dalam bidang pendidikan yakni dihapuskannya
lembaga pendidikan agama dan penghilangan pelajaran agama di
sekolah-sekolah. Tindakan yang dilakukan Kamal secara drastis ternyata
menimbulkan masalah yang sangat serius. Dengan dihapuskannya pelajaran agama
dan ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan iman dan khatib bermunculanlah secara
liar lembaga-lembaga pendidikan iman dan khatib dan juga madrasah-madrasah
swasta. Selain itu, politik yang tidak memperhatikan kehidupan keagamaan rakyat
berakibat timbulnya kevakuman agama dan budaya pada masyarakat sehingga memberikan
peluang masuknya gerakan-gerakan esktrem untuk mengisi kekosongan itu. Dalam
hubungan ini dapat dikemukakan bahwa meskipun dengan gigih berusaha menyisihkan
Islam dalam kehidupan politik, tetapi Kamal tidak memperkenalkan ideologi lain sebagai
alternatif. Sementara itu dengan telah terhapuskannya Islam dan tidak adanya
sebuah iedologi alternatif, maka muncullah kerawanan akan bahaya infiltrasi
faham komunis.[2]
Adanya
kekhawatiran akan bangkitnya faham ekstrem dan komunisme mengharuskan para
intelektual dan pengusaha Turki mempertimbangkan
kembali ideologi liberalis. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikannya nilai-nilai
religius sebenarnya. Walaupun pada dasarnya rasa keagamaan yang mendalam tidak
menjadi lemah dengan libralisme yang dicanangkan Kamal. Islam telah mempunyai
akar sejarah yang panjang pada masyarakat Turki, sehingga tidak mengherankan
pasca Kamal gerakan kembali kepada agama muncul di Turki.
Gagalnya kebijakan
pemerintah dengan politik liberalisnya telah mengakibatkan penurunan tajam
dalam jumlah pemimpin agama yang bermutu. Namun di sisi lain mempunyai akibat
tak disengaja, yakni memajukan orang dusun yang beragama. Mereka yang bernaung
dengan aman di daerah pedalaman tak pernah diusik dengan politik liberalis,
sehingga dari sinilah dengan cepat mencuat kembali gerakan keagamaan.
Menurut Maryam
Jameelah, seandainya ajaran Mustafa Kamal benar-benar kreatif sebagaimana dinyatakan
oleh para orientalis, maka berbagai pembaharuan ini tentunya menimbulkan
semacam renaisans dan bangsa Turki seharusnya memberikan konstribusi besar
kepada umat manusia. Namun sayang sekali impian-impian ini tidak pernah
terlaksana secara nyata, Turki tetap saja beku secara kultural maupun
intelektual sama sebagaimana Negara-negara Islam lainnya, bahkan 50 %
penduduknya yang berusia dewasa buta huruf.[3]
Eksperimen Turki
dengan politik liberalitasnya sangat menarik bentuk dicermati. Sebab andaikata Islam
tidak gagal akan menimbulkan sejarah baru dalam duni Islam. Kegagalan liberalis
Turki lebih bersifat struktural. Turki terlalu cepat melangkah ke Barat,
sementara struktur sosial ekonomi masyarakatnya tidak berpijak pada dasar-dasar
yang kuat. Namun demikian gerakan liberalis di Turki lebih merupakan gerakan
pembaratan dari pengislaman, bahkan dalam prakteknya yang terjadi adalah proses
de-Islamisasi sistem sosial, politik dan kultur masyarakat Turki. Bahwa
kemudian revolusi itu tidak mencapai hasil yang nyata maka hal itu juga
disebabkan oleh persoalan struktral. Redikalisasi gerakan liberal Turki akan
kembali terjebak ke dalam struktur global yang diciptakan Barat.[4]
Semangat
orang-orang Turki untuk menjadi suatu bangsa yang modern dan demokratis selalu
disertai dengan kesadaran yang mendalam tentang watak dan ideal keturkian dan
keislaman. Reformasi-reformasi Kamal telah menciptakan kekosongan dalam berbagai
aspek kehidupan bangsa Turki. Manakala sikap ekstrem ini terbukti tidak
realistic maka pengendoran kebijakan selalu dilakukan.
Semenjak tahun
1946 terjadilah perubahan-perubahan yang cukup mendasar dalam sikap pemerintah
Turki terhadap agama Islam. Pemerintah menerapkan kebijakan politik yang
memberikan konsensi kepada semangat keislaman rakyat Turki. Pada tahun 1948
terjadi perubahan sikap pendidikan agama di sekolah-sekolaj. Pada tahun itu di
Universitas Ankara
dibuka Fakultas Teologi diikuti dengan pembukaan kembali delapan lembaga tinggi
Islam, tempat mendidik ulama-ulama Sunni.[5] Di tahun
1949 pendidikan agama memasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah selama dua
jam seminggu, setahun kemudian pendidikan itu dijadikan kurikulum wajib. Dalam
tahun 1950 orang-orang Turki telah dibolehkan naik haji ke Mekah.[6]
Pada tanggal 14
Mei 1950 umat Islam mulai sadar akan nasibnya dan bersatu di bawah panji-panji
partai demokrasi sehingga berhasil meraih kemenangan dengan mendapatkan 408
kursi di antara 478 kursi parlemen. Kemenangan ini disambut oleh rakyat Turki
dengan mengumandangkan kembali azan dalam bahasa Arab secara serentak di
mesjid-mesjid yang ada di Turki.[7]
Dalam
perkembangan selanjutnya di masa pemerintahan partai demokrat, kebangkitan
Islam kembali tampak dalam kehidupan politik dan sosial rakyat Turki. Itu tidak
hanya berarti peningkatan secara lahiriyah dalam kegiatan keagamaan di antara
rakyat Turki, tetapi kebijaksanaan partai demokrat cocok dengan perkembangan
yang baru dalam studi dalam dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Turki.
Makin
meningkatnya perhatian kepada agama menunjukkan bahwa Islam memberikan
tanggapan terhadap kebutuhan rohani dan moral seluruh rakyat Turki. Liberalis
warisan Kamal telah kehilangan daya
tariknya di antara kaum intelektual karena sebagian besar dari mereka telah
kecewa dengan hasil-hasil yang dicapai dengan politik liberalis tersebut,
khususnya dalam bidang pendidikan.
Menurut Lerner
yang melakukan penelitian tentang masyarakat tradisional di Turki mengungkapkan
bahwa reformasi dilakukan Kamal mempunyai dampak positifnya. Sambil memuji
upaya Kamal yang dikatakannya berhasil
memerangi “mentalias Tikur” yang menghalangi perkembangan republik Turki.
Lerner melihat penghapusan aksara Arab dan pemakaian aksara Latin justeru
merupakan “revolusi komunikasi” yang berhasil menyebarluaskan dan meningkatkan
kemampuan membaca dan menulis yang merupakan syarat penting dari cara hidup
modern.[8]
Kebanyakan
intelektual Turki terutama kaum Kamal is umumnya setuju dengan pendapat Lerner
tersebut. Menurut mereka jika Kamal tidak melakukan revolusi pergantian alfabhet
Arab ke alfabhet Latin, Turki akan tetap menjadi bangsa yang tradisional dan
tidak bisa berkembang menjadi Negara yang modern.
Di sisi lain
tidak dapat dipungkiri pergantian alfabhet Arab telah mengakibatkan
keterputusan bangsa Turki dengan masa lampaunya yakni warisan budaya bangsa
Turki Utsmani, karena warisan tersebut sebagain besar tertulis dalam huruf
Arab. Ini tentunya menyebabkan bangsa Turki tidak mengalami stagnasi dalam
mencari keterkaitan jiwa modernitas dengan latar belakang budaya nasional
mereka. Hal ini mengakibatkan upaya Kamal untuk membawa modernisasi di Turki dirasakan
sebagai sesuatu yang sangat asing bagi warganya.
Dalam pandangan Edward
Mortimer, adanya berbagai polemic politik di Turki pasca Kamal , merupakan
salah satu bias yang ditimbulkan oleh politik radikal yang dijalankan oleh Kamal.
Caranya yang tidak kenal kompromi dan sedikit kasar dalam merenggut Turki dari
nilai-niali relegius jelas merupakan penyebab timbulnya sebagian masalah yang
dihadapi oleh masyarakat dan sistem perpolitikan yang ada di Turki.[9]
Adanya berbagai
perubahan dalam perkembangan di Turki selain mencerminkan pengakuan bahwa Islam
adalah sesuatu realitas dan kekuatan yang tidak dapat disisikan, di sisi lain
juga merupakan upaya memanfaatkan Islam untuk memperkokoh Negara nasional
Turki. Dengan demikian, liberalis yang dijalankan Kamal tidak membawa dampak hilangnya Islam dan Kamal
sendiri memang tidak bermaksud demikian,
ia hanya menginginkan agar hilangnya kekuasaan agama dibidang politik dan
pemerintahan.
Pembaharuan bagi
modernitas yang dilancarkan Kamal hanya
memberikan sedikit kebaikan untuk Turki dan hanya mengembangkan perasaan salah
jalan di kalangan masyarakat Turki. Bagi rakyat Turki jelas hanya ada satu
peradaban saja dan bukan perdaban Barat.[10] Di
kalangan rakyat Turki pemahaman yang jelas tentang prinsip-prinsip pemBaratan
belum jelas, di sana
hanya ada satu pandangan bahwa sains atau teknologi Barat harus diambil
sedangkan liberalis tidak mempunyai tempat bagi mereka, kecuali hanya di antara
kaum westernis yang mewakili mayoritas kecil dari rakyat Turki. Bahkan banyak
intelektual yang mengkritik kebijaksanaan imitasi peradaban Barat secara membabi
buta dan bersikap apriori terhadap nilai-nilai Islam.
Dalam pandangan
sebagian besar rakyat Turki identitas negaranya terletak pada kebudayaan yang
asli bukan kebudayaan Barat. Kecenderungan dalam memberikan perhatian utama
untuk memelihara kebudayaan Turki menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam sedang
memperoleh perhatian, karena Islam merupakan landasan yang asasi bagi
kebudayaan Turki.
Dengan
menggambarkan sketsa sejarah liberalis tersebut dapat difahami bahwa liberalis
yang terjadi di Turki sangat berbeda dengan yang pernah terjadi di dunia Barat.
Liberalisme telah dipaksakan sebagai peraturan politik di bawah kekuasaan yang
cenderung diktator. Adanya liberalis merupakan hasil dari serentetan
pilihan-pilihan politik yang sulit dalam rangka menegakkan keutuhan Turki yang
porakporanda akibat perang dunia I.
Walaupun
kediktatoran pemerintahan Kamal telah
dijalankan setelah beban-beban perang selesai tetapi akhirnya adanya
normalisasi dalam kehidupan rakyat, yang pada akhirnya demokrasi yang
menakjubkan, terutama antara tahun 1945-1950. Sedikit banyak angan-angan
konstitusional yang telah ikut terimpor dalam proses westernisasi tidak dapat
dielakkan lagi. Adanya penjiplakan demokrasi versi Barat oleh pemerintahan Kamal
akhirnya menghasilkan eksperimen-eksperimen demokrasi yang realisasinya baru
terwujud pasca Mustafa Kamal. Begitu juga dengan ajaran liberalis yang
dilakukan Kamal telah menjelma beberapa
ekses moral dan spiritual di kalangan rakyat Turki sehingga membuat mereka
sadar akan urgensitas agama dalam segala aspek kehidupan manusia.
[1]Potret Dunia yang Berimpit, Majalah
Gatra, Jakarta :
1995, hal. 50
[2]H. Munawir Sjadzali, Op.
cit, hal. 226-227
[3]Maryam Jameelah, Islam dan
Orientasime, Terj. Machnun Husein, Jakarta :
Raja Grafinso Persada, 1994, hal. 126
[4]Fachry Ali, Islam Ideologi
Dunia dan Dominasi Struktural, Bandung :
Mizan, 1991, hal. 123
[5]Munawir Sjazali, Op. cit,
hal. 227
[6]Harun Nasution, Op. cit,
hal. 154
[7]Firdaus AN., Op. cit,
hal. 42
[8]Daniel Lerner, Memudarnya
Masyarakat Tradisional, (terj.), Yokyakarta: Gadjah Mada Press, 1983, hal.
92
[9]Edward Mortimer, Islam dan
kekuasaan, Terj. Enna Hadi dan Rahmani Astuti, BAndung : MIzan, 1984, hal. 144
[10]Ziauddin Sardar, Rekayasa
Masa Depan Peradaban Muslim, Terj. Rahmani Astuti, Bandung : Mizan, 1991, hal. 81

Post a Comment for "Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk"