Gagasan Mustafa Kamal
BAB IV
Gagasan Mustafa Kamal
A. Gagasan
Liberal
1.
Bidang Agama
Dalam pemikiran
Islam isu terpenting yang masih hangat dibicarakan adalah persoalan hubungan
agama dengan negara, yang pada akhirnya memunculkan berbagai sudut pandang
mengenai masalah tersebut. Ketiga sudut pandang itu adalah: pertama, Aliran
yang berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang
mengatur segala aspek kehidupan termasuk masalah kenegaraan. Kedua, Aliran
yang berpendirian bahwa al-Qur'an tidak mengatur masalah politik atau kenegaraan.
Dan ketiga Aliran yang berpendirian bahwa dalam al-Qur'an tidak terdapat
sistem kenegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika tentang
kehidupan bernegara.[1]
Keterangan di
atas menggambarkan bahwa di antara ketiga pendapat tersebut, maka terlihat
dengan jelas bahwa kelompok ketiga merupakan kelompok yang mengambil tengah,
dengan menengahi kedua pendapat yang berbeda sudut pandang tersebut.
Akan tetapi
apabila dikaitkan dengan Mustafa Kamal, maka beliau dapat dimasukkan ke dalam golongan
kedua. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan-pernyataan Kamal yang tidak
mengaitkan antara agama dengan Negara, walaupun ia sendiri mengakui eksistensi
agama dalam kehidupannya yang rasional.
Pada sambutan
persidangan Majelis Agung Nasional yang dilaksanakan tahun 1923, Kamal memaparkan
bahwa: “agama kita adalah salah satu dari agama yang paling logis dan wajar,
dan karena itu menjadi agama yang paling terakhir. Untuk itu agama haruslah
sesuai dengan kearifan ilmu pengetahuan dan logika. Agama kita sesuai sekali
dengan semuanya itu”.[2]
Sebagai seorang nasionalis
dan pengangum peradaban Barat, Mustafa Kamal tidak menentang agama Islam. Sebab
agama Islam merupakan agama yang rasional dan diperlukan oleh umat manusia.
namun rasionalitas Islam telah dirusak oleh ulah tangan manusia. Karena itu, ia
melihat perlu diadakan pembaharuan dalam soal agama untuk disesuaikan dengan
bumi Turki.[3]
Menurut Kamal doktrin-doktrin tradisonal
perlu dihilangkan karena dapat menghambat kemajuan, hal ini dilakukan sebagai
usaha meletakkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berakal, namun demikian
dilakukan dengan menganalisa interpretasi-interpretasi ajaran yang tidak sesuai
lagi dengan kemajuan manusia.
Dalam hal ini Niyazi
Berkes berpedapat bahwa, Kamal sebenarnya sangat memahami arti dan peranan
agama dalam kehidupan masyarakat terutama pada saat perjuangan kemerdekaan. Namun
ia melihat agama sangat berperan sebagai perwujudan suatu ekspresi spontan
dalam menggalang usaha-usaha nasional. Tetapi di sisi yang lain iapun melihat
fanatisme agama sebagai bahaya yang mengakibatkan bencana nasional. Karena itu Kamal
membenci praktek-praktek penyimpangan agama yang dilakukan golongan kaum
ortodoks.[4]
Selanjutnya
Berkes mengemukakan pendapatnya sesungguhnya Kamal adalah seorang muslim, namun ia menghendaki
adanya perubahan, tetapi cara-cara yang digunakan tergolong radikal dan modern,
tidak seperti perkembangan Turki di masa Dinasti Utsmani. Baginya Islam adalah
agama yang natural dan rasional. Dengan gagasan menghapus kesultanan dan
kekhalifahan ia berharap akan terjadi pembaharuan bagi tumbuhnya tradisi dan
alam fikiran Islam yang rasional dan modern yang sejalan dengan tuntutan
sejarah.
Kamal dalam melihat kesultanan dan menghendaki
rasionalisasi dan liberalis di Turki dilakukan berdasarkan pengalaman sewaktu
memimpin peperangan bersama umat Islam lainnya. Bagitu tinggi semangat perang
suci, tidak mau mundur dan pantang menyerah disebabkan oleh fanatisme dan
militansi bahwa mereka berperang semata-mata membela agama Tuhan. Pengalaman tersebut
menimbulkan penilaian baru bagi Kamal , bahwa semangat Islam yang datang dari
pemahaman yang sempit, tidak rasional nantinya akan sangat berbahaya terhadap integrasi
Republik Turki karena mereka cenderung emosional dalam melihat persoalan
bangsa.[5]
Dasar kehidupan
rakyat Turki yang diliputi keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan, baik
yang disebabkan pengaruh ulama tradisonal maupun akibat kekalahan perang dunia
I, Kamal berusaha menjadikan Eropa
sebagai kiblat reformasinya.
Konsep Kamal tersebut,
di satu sisi merupakan sebuah dilema, namun di sisi lain inilah alternatif
untuk menegakkan cita-cita Turki modern. Kamal menginginkan agar masalah agama
menjadi urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan politik. Hal ini untuk membebaskan
rakyat dari belenggu-belenggu ortodoks. Namun demikian, Kamal tetap membentuk lembaga agama, agar pemerintah
bisa memantau serta mengawasi pengamalan ajaran seluruh rakyat Turki hingga
radikalisme dan fanatisme yang berlebihan bisa diredam.
2.
Bidang Pendidikan
Sebagai seorang
pembaharu Mustafa Kamal memunculkan ide-ide pendidikan yang didasari pada faktor
situasi sosial keagamaan dan situasi perkembangan pendidikan pada saat itu.
Kondisi sosial keagamaan yang menyangkut penafsiran dan pelaksanaan ajaran agama yang bersifat taqlid
dan jumud. Bahkan lembaga pendidikan hanya berkiprah untuk mengkaji ajaran-ajaran
tradisional semata, tanpa membuka diri terhadap masuknya ilmu pengetahuan
modern. Dipihak lain, sistem pendidikan
hanya bertumpu pada ajaran agama yang dikembangkan oleh syeikh-syeikh
yang mengembangkan pemikiran ortodoks yang mengakibatkan visi dan misi intelektual
rakyat Turki menjadi tumpul. Faktor inilah yang menyebabkan Kamal melihat
pentingnya dilakukan pembaharuan pendidikan yang berorientasi kepada
modernisasi yang diambil dari sistem Barat karena dengan sistem pendidikan Barat
akan membangkitkan Turki dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena itulah,
pada saat menyampaikan konferensi pendidikan di Ankara pada bulan Juli 1921, tentang penyusunan program pendidikan nasional. Kamal menyatakan bahwa:
Saya percaya bahwa prinsip-prinsip
pendidikan dan pengajaran yang diikuti selama ini merupakan faktor penting
dalam sejarah kemunduran kita. Karena itu berbicara tentang pendidikan nasional
yang saya maksudkan suatu kebudayaan yang sesuai dengan watak nasional dan
sejarah kita serta sama sekali bebas dari pengaruh-pengaruh timur dan Barat,
ide-ide asing yang tidak sesuai dengan sifat-sifat alami kita dan faham-faham
palsu dari masa lalu karena perkembangan watak nasional kita adalah mungkin
hanya dengan kebudayaan semacam ini. Suatu pendidikan yang sama sekali asing
akan membawa hasil-hasil yang merusak yang ditimbulkan oleh
kebudayaan-kebudayaan asing itu yang selama ini kita ikuti hingga sekarang.
Kebudayaan intelektual adalah cocok menurut dasarnya dan dasar itu adalah watak
bangsa.[6]
Dari rumusan tersebut
dapat dipahami bahwa konsep pendidikan yang diinginkan oleh Kamal adalah
tercapainya keselarasan antara aspek kebudayaan dan watak bangsa dengan
kemajuan yang sedang berkembang sehingga membuka intelektualitas demi kemajuan
Turki. Persoalan yang dapat dicermati di sini ialah Kamal tidak memfokuskan pemikirannya pada sistem
pendidikan Barat semata namun demikian memperbaiki warisan dari masa lalu dunia
timur, apa yang diinginkannya sesuai dengan jiwa dan watak bangsa Turki dan
sesuai pula dengan realitas kehidupan masyarakat dalam abad modern.
Dalam uraian
selanjutnya Kamal mengupas garis besar prinsip-prinsip kemajuan yang harus dijalankan
bangsa Turki adalah:
Kemajuan
bangsa-bangsa yang menekankan pada pemeliharaan beberapa adat kebiasaan dan
kepercayaan yang tidak berdasarkan pada alasan apapun yang logis adalah sulit,
ini bukan mustahil. Bangsa-bangsa yang tidak dapat melintasi rintangan-rintangan
dan halangan yang menuju ke arah kemajuan tidaklah menjalankan hidup ini secara
dapat diterima oleh akal dan praktik. Mereka pasti diperbudak dan dikuasai oleh
bangsa-bangsa yang mempunyai filsafat hidup yang luas.[7]
Jalan pemikiran tersebut
mendeskripsikan bahwa Kamal menginginkan
seluruh kebiasaan dan sistem lama yang tidak logis harus ditinggalkan, dengan berusaha
menguasai arah peradaban yang menunjukkan sistem pendidikan modern. Ia sangat percaya
pada kekuatan saintisme, menurutnya kemajuan
hanya dapat diperoleh melalui perantaraan sains dan filsafat hidup yang
realistis. Karena itulah Kamal memberikan konsep pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan Negara Turki. Apalagi Kamal punya keyakinan bila tradisi lama
bisa ditinggalkan dan aspek modernis dikembangkan, maka rakyat Turki akan
berpacu dengan Barat dalam menemukan ilmu pengetahuan baru yang mampu
mengimbangi mereka dalam pendidikan.
Sebagaimana
diketahui bahwa Turki yang diambil alih oleh Mustafa Kamal adalah suatu Negara yang terbelakang serta
tertimpa penyakit kebodohan (90 % rakyat buta huruf). Kamal segera memulai serangkaian pembaharuan yang
mencakup seluruh spectrum kehidupan Tukri. Di masa Turki Utsmani mempergunakan
abjad Arab dalam lembaga pendidikan, Kamal merasa bahwa huruf itu sulit dipelajari. Untuk
mendorong hapusnya buta huruf dan membawa negaranya lebih dekat ke Eropa, ia
berprinsip bahwa abjad Arab harus diganti dengan abjad Romawi.[8] Dengan
gagasan liberalis ini, ia berharap akan terbentuknya generasi-generasi baru
yang terputus dengan peradaban lama sehingga akan melahirkan gagasan-gagasan
yang modern dan rasional. Di samping mengganti abjad Arab dengan abjad Latin,
struktur-struktur pendidikan lama pun perlu diubah dan dipisahkan dengan agama,
namun demikian pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pengawasan
terhadap lembaga pendidikan agama.
Pengawasan
sekuler terhadap pendidikan agama terutama bukan ditujukan untuk menghilangkan Islam, tetapi
untuk memutuskan hubungan agama dan pendidikan agama dari nilai-nilai lembaga
tradisional.[9]
Kamal berharap dengan gagasan pembaharuan akan memberikan nilai lebih pada
Islam isi yang modern sehingga bisa melahirkan nuansa intelektual yang rasional
di kalangan rakyat Turki.
Hal Ini
menunjukkan gagasan Kamal sangat
kontradiksi dengan keinginan para ulama saat Turki yang mengharapkan lembaga
pendidikan tradisonal tetap dipertahankan walaupun dibangun lembaga-lembaga
pendidikan modern. Namun bagi Kamal, dengan dihapusnya lembaga pendidikan
tradisional akan membawa arah kemajuan bangsa Turki dalam melihat perkembangan
dunia, walaupun harus melupakan sejarah masa lalunya.
3.
Bidang Kebudayaan
Kamal memasukkan peradaban Barat sebagai tema
sentral yang dalam pandangannya pembaratan bahwa Turki harus menjadi bangsa Barat
dalam segala tindak dan kelakuannya. Sehingga harus meninggalkan segala sesuatu
yang tidak sesuai dengan tujuan tersebut. Ia menolak ide sintesis antara
peradaban Barat dengan peradaban Timur sejak dari permulaannya. Turki harus
menerima peradaban Barat secara keseluruhan. Kebijakan ini mengharuskan adanya
perubahan budaya secara paksa yang diprakarsai melalui reformasi-reformasinya.
Dalam hal ini orang mempunyai wawasan keilmuan harus dapat menciptakan
cita-cita yang dipaparkan di depan bangsanya. Cita-cita itu adalah berusaha
menjadikan peradaban Barat sebagai mata rantai untuk kemajuan dan memutuskan hubungan
dengan masa lalu, bahkan berusaha untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi
dari peradaban Barat.[10] Kamal yakin bahwa hanya melalui pembaratan total,
Turki bisa mengejar ketinggalannya dari Eropa. Posisi geografis Turki yang
strategis untuk kepentingan politik dan militer Eropa diharapkan menjadi bargaining
power untuk mendapatkan sumber-sumber ekonomi, keamanan, dan iptek dari
Eropa.[11]
Deskripsi di atas
menandakan bahwa Kamal secara jelas mengklaim Turki adalah bagian dari Eropa
dan tidak mengakui eksistensi ketimuran walaupun di masa jayanya wilayah Turki
sebagian besar di dunia Timur. Namun ia menganggap bangsa Timur sebagai bangsa
yang kolot terutama dalam peradaban dan ilmu pengetahuan. Dengan cara inilah, Kamal
berusaha mempersandingkan Turki dengan Barat
agar bisa membawa perubahan dalam pertumbuhan Turki sehingga situasi keamanan
pun dapat terkendali, karena bagaimanapun negara Barat saat itu memegang
kendali di wilayah tersebut dan berusaha memasukkan doktrin westernisasi bagi
rakyat Turki.
Namun demikian, peradaban
Barat bagi rakyat Turki merupakan satu-satunya peradaban alternatif di abad ke
20, karena mereka tidak yakin Islam dapat mengimbangi Barat atau secara lebih
khusus mereka tidak percaya bahwa Islam akan mampu memberikan peradaban orang
Turki untuk menuju ke tingkat kebudayaan kontemporer. Karena itulah, Turki
harus meninggalkan warisan budaya lamanya dan menyerap peradaban baru yang lebih
progresif. Akan tetapi gagasan Kamal yang
ingin menggunakan hukum Swiss di Turki merupakan sebuah upaya penekanan
suprastruktural kepada infrastruktur dengan tujuan agar bisa berubah kebiasaan
dan adat istiadat rakyat Turki.
Seorang pengikut Kamal
Ahmad Agauglu, menyatakan bahwa
ketinggian suatu peradaban terletak dalam keseluruhan bukan dalam
bahagaian-bahagian yang tertentu. Peradaban Barat akan mengalahkan
peradaban-peradaban lain, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya,
tetapi karena keseluruhan unsur-unsurnya. Peperangan antara Timur dan Barat
adalah peperangan antara dua peradaban yakni peradaban Islam dan peradaban Barat.
Di dalam peradaban Islam, agama mencakup segala-segalanya mulai dari pakaian
dan perkakas rumah tangga sampai ke lembaga pendidikan dan institusi. Turut
campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan membawa kepada kemunduran Islam sedangkan
di Barat sebaliknya. Liberalismelah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu.
Jika ingin terus mempunyai wujud rakyat Turki harus mengadakan liberalisasi
terhadap pandangan keagamaan, hubungan sosial, dan hukum.[12]
Karena itulah
dalam pidatonya Mustafa Kamal mengatakan
bahwa kelanjutan hidup di dunia peradaban modern menghendaki dari suatu
masyarakat supaya mengadakan perubahan dalam diri sendiri. Di zaman yang di
dalamnya ilmu pengetahuan membawa perubahan terus menerus, bangsa yang
berpegang teguh pada pemikiran dan tradisi lama, tidak akan dapat
mempertahankan wujudnya. Masyarakat Turki harus diubah menjadi masyarakat yang
mempunyai peradaban Barat dan segala kegiatan reaksioner harus dihancurkan.[13]
Lebih lanjut Kamal
mengatakan kepada rakyat bahwa:
Kita harus memakai pakaian
bangsa-bangsa beradab, kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah suatu
bangsa yang besar dan maju, tidak boleh kita biarkan bangsa-bangsa yang lain
yang tidak mengenal kita mengejek dan menertawakan kebobrokan kita di masa
lampau. Kita ingin maju dengan mengikuti topan dan aliran masa. Bagaimana pun
juga kita semua adalah bangsa Barat. Dengan peradaban kita yang tua yang
menguasai dunia lama kita akan berjalan sepanjang jalan yang dilalui oleh
peradaban modern, bukan hanya begitu saja, tetapi setelah memutuskan semua
belenggu, kita berusaha untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi lagi. Kita
akan mengeyahkan semua kepercayaan yang omong kosong. Dalam sains, ilmu
pengetahuan dan seni yang pada setiap hal yang baik orang-orang pandai akan
memimpin bangsa kita yang besar dan mulia ke arah tinjuan ini dengan
kepandaian, pengetahuan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang teguh. Sudah pasti
kita akan mencapai tujuan tersebut.[14]
Berdasarkan
keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa Kamal mencetuskan pandangan beragam yang mencerminkan
bahwa ia menginginkan agar Turki segera bangkit dari kejumudan dan kekolotan dalam
kebudayaan. Untuk itu Turki harus berbenah diri dalam menyongsong kemajuan
melalui penerapan kebudayaan Barat.
Pada masa Turki
Ustmani wanita Islam wajib mengenakan cadar jika keluar rumah. Kamal melarang kebiasaan ini karena ia melihat hal
itu merupakan kebudayaan kolot yang menghambat kemajuan. Kamal yakin bahwa kebodohan hanya dapat diperangi
dengan semangat persamaan antara pria dan wanita. Wanita mempunyai hak dan
kewajiban yang sama dalam mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Di samping itu
budaya masyarakat Turki yang mengenakan sorban penutup kepala dan tabush
(semacam kopiah) dalam perspektif Kamal perlu ditinjau kembali karena merupakan
warisan dari pemerintahan Utsmani yang bobrok. Sebagai penggantinya pria Turki
harus mengenakan topi ala Eropa.
Penggantian tarbush
dengan topi di Turki bukanlah persoalan yang sederhana. Kamal yakin tarbush merupakan bagian dari pemikiran kolot, yakni pemikiran duduk
mencangkung dan membuang-buang waktu dari orang-orang yang meracuni
kehidupan dengan menghisap candu, bersantai sepanjang waktu dengan gaya seorang sulthan. Kamal
memandang sebagai suatu keharusan
baginya untuk menghancurkan kebekuan dalam mimpi berabad-abad di pantai Bosporus itu, dan ia melihat bahwa topi merupakan dinamik
yang bisa menimbulkan pengaruh kuat dalam merubah dan meruntuhkan
zawiyah-zawiyah yang menjadi tempat pertemuan mereka.[15]
Ilustrasi di atas
bahwa reformasi kebudayaan yang Kamal cetuskan merupakan sikap pesimisnya terhadap
warisan masa lalu. Ia terpengaruh dengan kemajuan-kemajuan yang terjadi di Barat
dan berupaya mengadopsikannya ke dalam masyarakat Turki. Peradaban Barat modern
khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah terlihat sedemikian rupa
mempengaruhi harkat dan kemajuan bangsa Barat. Bagi Kamal hal tersebut harus dapat diwujudkan di bumi
Turki. Dalam hal ini tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa secara tidak sadar Kamal
telah dipengaruhi oleh doktrin
westernisasi walaupun di sisi lain ia menginginkan agar rakyatnya bangga
sebagai warga Turki kendati harus memutuskan hubungan dengan kebudayaan masa lalu yang menurut Kamal tidak sesuai lagi untuk membangun Negara
Turki di masa selanjutnya.
[1]Syahrin Harahap, Al-Qur'an
dan Liberalis; Kajian Kritis Terhadap Pemikiran Thaha Husein, Yokyakarta:
Tiara Wacana Yokya, 1994, hal. 107
[2]Syafi’i Anwar, Kamal isme
dan Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. I, Jakarta : 1989, hal. 86
[3]Harun Nasution, Ensiklopedi
Islam Indonesia, Jakarta :
Djambatan, 1992, hal. 153
[4]Niyazi Berkes, The
Development of Secularism in Turkey, Monthreal McGill University Press,
1964, hal. 283
[5]Kamaruddin Hidayat, Mengamati
Islam di Turki; Liberalis yang Terlambat, Jakarta : Pustaka Panjimas,1986, hal. 38
[6]H. A. Mukti Ali, Islam dan
Sekularosme di Turki Modern, Jakarta :
Djambatan, 1980, hal. 96
[8]Grolier International, Negara
dan Bangsa, Jil. I, Jakarta :
Widyadara, 1988, hal. 240-241
[9]Bryan S. Turner, Sosiologi
Islam; Suatu Telaah Analitis Atas Tesa Sosiologi Weber, Terj. G. A.
Ticoalu, Jakarta :
Rajawali, 1992, hal. 312
[10]Muhammad Rasyid Feroza, Islam
and Secularism in Post Kemalist Turkey, Islamabad : Islamic Turkey Research Institute,
1976, hal. 93
[11]Smith al-Hadar, Liberalisme
Versus Islam di Turki, Jakarta :
Pustaka Pajimas, 1998, hal. 52
[12]Niyazi Barkes, … hal.
465
[14]Irfan Orga Margaretta, ..,
hal. 260
[15]Malik bin Nabi, Membangun
Dunia Baru Islam, hal. 129

Post a Comment for "Gagasan Mustafa Kamal"