Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ide-Ide Libralisme Mustafa Kemal


A.    Ide-Ide Libralisme Mustafa Kemal

Mustafa Kamal merupakan salah seorang pejuang Islam yang telah melakukan perubahan-perubahan terhadap peradaban Islam khususnya di Turki. Perubahan peradaban Islam tersebut, diwarnai dengan pemisahan antara agama dan Negara. Dan hal tersebut merupakan konsep dasar dari perjuangan yang dilakukannya. Walaupun kalau dilihat sepintas ide-ide yang dikembangkan oleh Mustafa tidak terlepas dari pengaruh kaum imperalis Barat.
Salah satu ide Mustafa Kamal yang mencuat kepermukaan adalah pria dan wanita mempunyai hak hal perkawinan dan perceraian, dan poligami dilarang, ini diundangkan 17 Pbruari 1926 dan berlaku efektif 4 Oktober 1826. huruf Arab diganti huruf Latin (3 November 1928) dan bahasa Arab dan Persia dihapus dari kurikulum. Usul agar shalat dilakukan dalam bahasa Turki ditolak dan hanya adzan dilakukan dalam bahasa itu (januari 1932). Pendidikan agama ditiadakan di seluruh sekolah (1933) dan pada tahun itu juga, Fakultas Teologi Universitas istambul ditutup dan diganti dengan Institut penelitian Islam. Hari Jum’at dihapus sebagai hari libur (1935). Pembaharuan sosial dengan tujuan menjadikan Turki sebagai bagian dari kebudayaan Barat dilakukan tahun 1925. Pakaian keagamaan hanya dibolehkan bagi mereka yang menjalankan tugas keagamaan, dan seluruh pegawai negeri diwajibkan memakai topi dan pakaian model Barat. Pemakaian topi itu, kemudian diwajibkan atas seluruh pria, dan pemakaian fez (topi khas Turki) dianggap tindakan criminal.[1]
Dalam pidato-pidatonya, Mustafa Kamal menyerang wanita-wanita yang memakai kerudung, tetapi tidak ada undang-undang yang berlaku Januari 1935 mewajibkan setiap orang Turki memakai nama keluarga (suname). Mustafa Kamal sendiri memilih nama at-Taturk, sementara pembantu utamanya, Ismet memilih Inonu, sebuah lembah di mana ia dulu memukul mundur pasukan Yunani. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan Mustafa Kamal mendapat tantangan bahkan dari sejumlah pendukung-pendukung yang dulu membantunya sewaktu melawan sekutu. Di antara mereka, Rauf Bey, Ali Fuad, dan jenderal Kazim Karabekir Pasha, mencoba melakukan kudeta tetapi segera digagalkan. Syeikh Sa’id pemimpin tarekat Naqsyahbandiah yang melakukan pemberontakan Pebruari 1925 tertangkap dan dihukum mati.
Penya’ir Mehmed Akif sendiri yang sya’ir ciptaannya menjadi lagu kebangsaan Turki, amat kecewa atas penghapusan khalifah. Ia secara sukarela menghabiskan sisa umurnya di Kairo. Musim panas 1926, satu komplotan yang hendak membunuh Mustafa Kamal terbongkar. Selain itu dari kaum reaksioner dan bekas pemimpin Turki Muda terdapat pula teman-temannya sendiri yang berbeda pendapat. Delapan orang dari mereka termasuk seorang wanita penya’ir kenamaan, Hailde Edib Hanum, beserta suaminya dibuang ke luar negeri selama 10 tahun. Tantangan tampak datang bukan saja dari ulama tradisional, tetapi juga malah dari mereka yang dulu sefaham dengannya, bagaimanapun ia tetap menjadi presiden sampai meninggal dunia tahun 1938. akan tetapi sepeninggalnya, tidak terdapat pemimpin yang setangguh dia dalam melestarikan prinsip-prinsip Kamalisme.[2]
Gerakan kembali kepada agama pun muncul dan kamalisme pudar. Kesadaran keagamaan masyarakat Turki menolak lahirnya faham yang bertentangan dengan ajaran Islam.[3]


[1]Ibid., hal. 25
[2]Muhammad Rashid Feroza, Op. cit, hal. 147

[3]Harun Nasution, Op. cit, hal. 123

Post a Comment for " Ide-Ide Libralisme Mustafa Kemal"