Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kendala-kendala yang diHadapi Guru dalam Pembelajaran Aceh


A.    Kendala-kendala yang diHadapi Guru dalam Pembelajaran Aceh di MTsN Bireuen


Dalam menyukseskan proses belajar mengajar secara terus menerus suatu lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan umum maupun lembaga pendidikan agama, tentu saja menghadapi berbagai hambatan dan tantangan. Adapun yang menjadi faktor penghambat yang dialami guru dan siswa MTsN Bireuen menurut penjelasan pimpinannya adalah kurangnya tenaga pengajar yang professional dan kurangnya persediaan sarana dan prasarana yang memadai.[1]
Adapun kendala dalam yang dihadapi guru dalam pembelajaran Bahasa Aceh diSMP Negeri 1 Peudada Kabupaten Bireuen adalah sebagai berikut:
    a.  Guru.
Ada dua persoalan yang berkaitan dengan guru dalam hubungannya dengan kendala pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam mata pelajaran Bahasa Aceh di lapangan. Pertama, minimnya fasilitas yang dimiliki guru terutama sangat terbatasnya literatur guru dalam menunjang proses pembelajaran. Guru juga harus banyak membangkitkan semangat membaca. Sementara itu jika diharapkan dari guru untuk membeli sendiri buku-buku yang berhubungan dengan materi pembelajaran tidak mungkin, karena gaji yang diterima oleh seorang guru rata-rata tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kedua, sangat sedikit pelatihan, seminar dan in-servise training pendidikan bagi Guru Bahasa Aceh terutama dalam kaitanya dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  tersebut. Sehingga gur sangat sulit menerapkan KTSP dalam pembelajaran Bahasa Aceh [2]. 
   b.          Siswa
Belum siap mengikuti proses belajar mengajar dengan pendekatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  bersifat student sentris sehingga siswa yang biasanya pasif merasa terbebani karena guru hanya melaksanakan fungsinya sebagai fasilitator dalam membimbing siswa. Disamping itu tidak semua siswa mampu mencapai ketuntasan belajar yang dituntut dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan karena kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh siswa tidak sama. Perubahan kurikulum membuat siswa sulit menyesuaikan diri sedangkan guru kurang memberikan motivasi. Siswa belum terbiasa dengan model baru ini dan masih dituntut keaktifan mereka dalam memahami semua topik yang diajarkan[3].
Guru kesulitan menghadapi anak-anak yang tidak aktif dan tidak mencapai ketuntasan belajar, karena kemanpuan siswa itu berbeda-beda. Disamping guru harus membuat remedial, juga dituntut tetap melanjutkan materi kepada siswa lain yang telah tuntas, bentuk remedial yang diberikan kepada siswa juga harus bervariasi sesuai dengan tingkat ketidaktuntasan belajar dan kemampuan siswa yang tidak sama[4].
    c.    Sarana
MTsN Bireuen memiliki 1 ruang perpustakaan, namun isinya lebih banyak didominasi oleh buku-buku umum dan sangat sedikit buku-buku yang bernuansa Bahasa Aceh[5].
   d.          Media pembelajaran
Media pembelajran yang terdapat di MTsN Bireuen belum mampu menunjang pembelajaran siswa untuk mata Pendidikan Agama Islam. Karena belum tersedianya mushalla, Alat peraga, dan sebagainya. sehingga belum sepenuhnya menunjang pembelajaran Bahasa Aceh, karena belum tersedia beberapa media pembelajaran yang diperlukan seperti: Laboratorium dakwah, Alat peraga ibadah, CD pembelajaran Bahasa, dan sebagainya[6].
    e.          Orang tua dan masyarakat
Orang tua dan masyarakat belum sepenuhnya melaksanakan fungsinya secara baik, padahal peran orang tua dan masyarakat sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan sebuah kurikulum. Hasil belajar siswa dari aspek afektif dalam penelitian ini kurang menggembirakan. Kegagalan ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemampuan guru dan siswa sendiri, tetapi juga karena orang tua dan masyarakat tidak melakukan fungsi pengawasan (controling) dan kerjasama (cooperatif) dengan baik dalam proses pendidikan anak, padahal nilai-nilai yang diperoleh siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam lebih banyak diaplikasikan di lingkungan keluarga dan masyarakat dimana siswa berada.[7]
Terlepas dari berbagai kendala yang muncul, perlu juga dicatat bahwa pihak sekolah dan dewan guru pada umumnya menyambut baik dan serius dalam menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sebagai indikatornya guru aktif dalam mempelajari dan memahami dengan baik esensi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Hanya saja dibutuhkan konsistensi dari pemerintah sendiri untuk tidak melakukan perubahan kurikulum secara terus menerus dengan tujuan proyek tanpa melakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya dan uji kelayakan sebelum sebuah kurikulum baru akan diterapkan.[8].


[1]Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 20 Juli 2011.
[2] Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 20 Juli 2011.

[3] Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 19 Juli 2011.

[4] Hasil Wawancara dengan  Ibu Fitriana, S.Pd Guru Bahasa Aceh pada MTsN Bireuen Tanggal 18 Juli 2011.

[5] Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 19 Juli 2011.

[6] Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 20 Juli 2011.

[7] Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Rusydi Kepala MTsN Bireuen pada Tanggal 20 Juli 2011.


[8] Hasil Wawancara dengan  Ibu Dra. Adilah Husen Guru Bahasa Aceh pada MTsN Bireuen Tanggal 19 Juli 2011.


Post a Comment for "Kendala-kendala yang diHadapi Guru dalam Pembelajaran Aceh"