Kontribusi Masyarakat Dalam Pembinaan Anak Cacat Mental
1. Kontribusi
Masyarakat Dalam Pembinaan Anak Cacat Mental di SLB Juli Keude Dua
Berdasarkan hasil observasi penulis di SLB Juli Keude Dua
bahwa penerimaan masyarakat terhadap penyandang cacat belum menggembirakan.
Masyarakat masih memandang para penyandang cacat sebagai orang yang bermasalah
dan perlu mendapatkan belas kasihan. Dalam strata sosial, penyandang cacat
ditempatkan dalam status yang rendah, bahkan hampir tidak diberi atau tidak
memiliki peran yang berarti. Secara rasional, masyarakat berpersepsi bahwa
penyandang cacat adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dirubah kecuali Tuhan yang
memberinya mukjizat. Untuk itu, masyarakat memandang penyandang cacat lebih
tepat hidup di area teologis agar mendapat kekuatan, kesabaran, dan mukjizat.
Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan fisik sehari-hari maka penyandang cacat
selalu menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Perhatian masyarakat kepada
penyandang cacat kebanyakan hanya karena kasihan, dan itupun tidak rutin.
Masyarakat memandang penyandang cacat hanya secara fisik tetapi bukan pada
kemampuan personal secara proporsional. Hal ini berarti meskipun penyandang
cacat memiliki kemampuan lebih, masyarakat tetap saja memandang sebagai manusia
yang tidak layak mendapat perhatian utama.[1]
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ketua Yayasan
Al-Ikhlas bahwa:
Beberapa alternatif untuk membantu anak-anak berkebutuhan
khusus. "Keuchiek Gampong Juli Keude Dua terus mendukung dan melakukan
lobby kepada pemerintah. Pemerintah diharapkan menunjukkan tanggung jawab
sosialnya kepada anak-anak berkebutuhan khusus.[2]
Alternatif kontribusi lain yang dihimbau Keuchiek Juli
Keude Dua dalam pembinaan
anak cacat mental di SLB Juli
Keude Dua adalah sebagai
berikut:
Pengangkatan anak berkebutuhan khusus sebagai anak asuh.
Menurutnya, banyak anak berkebutuhan khusus yang berasal dari keluarga tidak
mampu. Para donatur diharapkan dapat berperan menjadi orangt ua asuh. Saya
telah menjadi orang pertama yang telah menempuh langkah tersebut. Saya yakin
bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang mampu untuk melakukannya[3].

Post a Comment for "Kontribusi Masyarakat Dalam Pembinaan Anak Cacat Mental"