Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Aceh
A.
Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Aceh di MTsN Bireuen
Banyaknya Bahasa
Daerah yang muncul di Indonesia merupakan salah satu imbas dari banyaknya suku
dan etnis yang terdapat di Indonesia. Sebagian besar suku-suku tersebut memiliki
bahasa sendiri yang digunakan untuk berinteraksi sehari-hari di dalam kehidupan
masyarakat. Apalagi suku-suku besar seperti Jawa, Sunda, Batak, Minang, Aceh dan sebagainya, pasti memiliki bahasa sendiri.
Bahasa tersebut menjadi identitas, ciri khas, dan kebanggaan suku mereka. Akan
tetapi, Bahasa Daerah bukan hanya sekedar simbol atau lambang identitas, ciri
khas, dan kebanggaan saja, melainkan juga sebagai alat pemersatu bagi pemilik
bahasa itu. Misalnya Bahasa Aceh yang merupakan bahasa daerah masyarakat Aceh
merupakan alat pemersatu bagi seluruh orang Aceh, baik yang terdapat di Aceh,
maupun orang Aceh yang terdapat di perantauan. Oleh karena pentingnya
keberadaan Bahasa Daerah itulah, perlu diadakan usaha-usaha untuk
merevitalisasi Bahasa Daerah yang akhir-akhir ini mulai “tersisihkan”. Jangan
sampai bahasa daerah musnah karena ditinggalkan oleh penuturnya, karena
musnahnya bahasa daerah tersebut juga mengindikasikan musnahnya pula satu
peradaban manusia di dunia ini.
Dalam proses pembelajaran Bahasa Daerah seorang guru
haruslah aktif, sehingga interaksi antara guru dengan siswa terjalin dengan
baik, sehingga dengan mudah seorang guru memberi pelajaran pada anak didik, dan
dengan demikian suasana bisa kondusif, dikarenakan guru aktif dan mampu
mengelola siswa yang mencapai 30-35 siswa dalam sitiap ruang[1].
Menurut ibu Dra. Adilah Husen, salah seorang tenaga pengajar Pendidikan
Agama di sekolah tersebut, seoarang guru (subjek) haruslah menjalin komunikasi
dan keakraban dengan baik terhadap siswa
(objek) karena sangat mempengaruhi daya
minat belajar dan ingin tahu anak terhadap materi yang kita berikan.
Kalaulah hubungan tersebut tidak di jaga, siswa akan merasa jenuh terhadap kita
(sang guru). Jadi dengan tegas, guru yang berlatar belakang pendidikannya di
IAIN Ar-Raniry itu menegaskan bahwasannya kita seorang guru haruslah ulet dan
bijaksana dalam mengelola anak didik, karena yang kita didik ini manusia,
dimana manusia mempunyai beragam watak dan sifat, yang harus mampu kita (guru)
menguasainya. Hal ini kusus beliau terapkan kusus pada mata pelajaran yang
beliau pegang yakni Pendidikan Agama, dan beliau berharap hal ini tidak cuman
berlaku di pelajarn beliau saja, akan tetapi semua guru mau menerapkan sistem
yang demikian pada pelajaran-pelajaran lain. Karena cara ini dipandang sangat efektif
dalam upaya pendekatan yang di lakukan guru terhadap anak
didik, dalam rangka menarik minat peserta didik untuk giat belajar[2].
[2] Hasil Wawancara dengan Dra. Adilah Husen Guru Bahasa Aceh pada MTsN Bireuen pada Tanggal 13 Juli 2011.

Post a Comment for " Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Aceh"