Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendidikan Mental Dalam Perspektif Zakiah Darajat


BAB I
P E N D A H U L U A N


A. Latar Belakang Masalah
            Islam merupakan agama yang mempunyai sistem hidup yang lengkap dalam semua kegiatan dan tidak melepaskan diri dari peraturan-peraturannya itu. Islam adalah agama yang menuntun pemeluknya kepada kebahagiaan, baik hidup didunia maupun hidup di akhirat kelak.  Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada konsep penciptaan manusia dalam Islam, yaitu adanya fithrah atau potensi kebaikan sejak lahir. Manusia lahir membawa potensi percaya kepada Allah, cenderung kepada Al Haq, dan selalu ingin berbuat baik. Pendidikan Islam harus berusaha menggali dan mengembangkan potensi spiritual anak didiknya. Para psikolog membuat banyak pengertian mental sehat, dalam berbagai pengertian itu nampak adanya beragam penekanan pada masalah perilaku manusia sesuai perbedaan aliran dan sudut pandang yang dipilih oleh masing-masing psikolog. Meskipun demikian perbedaan yang mengemuka tetap bermuara pada satu poros yaitu pemahaman tentang mental sehat. Inti pembahasan mental sehat adalah kemampuan beradaptasi secara personal dan  sosial  sehingga individu hidup dengan perasaan senang dan bahagia.
Dalam Islam, individu  dapat dikatakan sehat tidak cukup hanya dilihat dari segi fisik, psikologis, dan sosial saja, tetapi juga perlu dilihat dari segi spiritual atau agama. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak cukup hanya terbatas pada pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauhmana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problema hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.[1] Dalam mendidik anak, Islam menerapkan program pendidikan yang bertujuan untuk merealisasikan keseimbangan antara dimensi material dan dimensi spritual dalam pribadi manusia. Karena hanya dengan keseimbangan inilah akan tercipta kepribadian yang mantap yang pada gilirannya akan menghasilkan kesehatan mental, berhubung banyak sekali manusia yang cenderung untuk meraih kebahagian akhirat yang lebih langgeng, maka orang tua harus memberikan pendidikan khusus dalam mendidik anaknya yaitu pendidikan mental.
Beberapa pakar psikologi mendefinisikan mental sehat sebagai suatu keadaan di mana individu terbebas dari penyimpangan, kekhawatiran, kegelisahan, kesalahan dan kekurangan. Individu yang sehat mentalnya adalah individu yang tidak menyimpang dari norma, tidak berperilaku salah, tidak menampakkan kekhawatiran dan kegelisahan, individu seperti inilah individu ideal yang terhindar dari kekurangan dan kelemahan.[2]
Pengertian di atas nampak sederhana tetapi maknanya sangat beragam dan menjadikannya tidak bisa diterima baik secara teoritis maupun praktis, beberapa pengertian tersebut adalah :
Pertama, Tidak ada individu yang terhindar dari penyimpangan, tidak akan pernah dijumpai individu yang terbebas dari kekhawatiran  dan kekurangan. Manusia bukanlah malaikat yang tidak pernah berbuat salah dan tidak pernah menyimpang, manusia bisa salah bisa benar, bisa menyimpang bisa lurus. Nabi memberikan petunjuk kepada manusia bahwa salah adalah watak atau tabiat yang dimiliki manusia.
Kedua, Terhindarnya individu dari penyimpangan bukan berarti individu tersebut sehat mentalnya, sebagaimana tubuh yang tidak sakit bukan berarti semua anggota tubuh mampu berfungsi dengan baik tanpa adanya kekurangan. Jiwa yang terbebas dari penyimpangan bukan berarti ia mampu menanggung semua beban
Dengan demikian, agar pengertian ini sesuai dengan pengertian mental sehat, maka idealnya definisi mental sehat adalah mental yang terhindar dari penyimpangan yang berat, kekhawatiran yang kuat dan kesalahan yang banyak. Individu yang sehat mentalnya adalah individu bisa meminimalisir kesalahan, sedikit penyimpangan  dan kekhawatiran. Pembentukan mental islam yang kuat akan menghindarkan anak didik dari penyakit hati seperti benci, dengki, buruk sangka, sombong, bohong, pesimis, dsb. Jika seseorang telah mampu mengeliminasi penyakit hati, maka orang tersebut berpotensi besar untuk sukses.  Allah SWT tidak pernah memerintahkan keimanan kecuali disertai dengan tindakan nyata. Maka berawal dari kenyataan ini, Rasulullah SWT melakukan penguatan pengetahuan teoritis dengan aplikasi praktis. Sebab akan bisa didapatkan manfaat hakiki yang lahir dari aplikasi praktis terhadap pengetahuan teoritis tersebut.
Pembentukan mental Islam yang kuat akan menghindarkan anak didik dari penyakit hati seperti benci, dengki, buruk sangka, sombong, bohong, pesimis, dsb. Jika seseorang telah mampu mengeliminasi penyakit hati, maka orang tersebut berpotensi besar untuk sukses.  Allah SWT tidak pernah memerintahkan keimanan kecuali disertai dengan tindakan nyata. Maka berawal dari kenyataan ini, Rasulullah SWT melakukan penguatan pengetahuan teoritis dengan aplikasi praktis. Sebab akan bisa didapatkan manfaat hakiki yang lahir dari aplikasi praktis terhadap pengetahuan teoritis tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-qur�an suratAr-ra�d ayat 29:
????????? ???????? ??????????? ????????????? ?????? ?????? ???????? ?????) ?????:??(

Artinya:   Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik(Qs.Ar-Ra�d : 29)[3]
Pembinaan kesehatan mental anak sangatlah penting untuk diperhatikan, pendidikan Islam menawarkan solusi konsep pembinaan kesehatan mental anak. Dalam pendidikan Islam mengarahkan anak didik untuk melakukan pembinaan dan pengembangan fitrah dengan segala potensinya yang baik dan mengeliminasi berkembangnya potensi-potensi negative secara wajar. Pembinaan dan pengembangan fitrah anak dengan segala potensinya diyakini akan menyehatkan jiwa anak, sedangkan model yang ditawarkan pendidikan Islam dalam hal ini adalah dengan penanaman nilai-nilai tauhid dan akhlak, penanaman kedua nilai tersebut akan memunculkan keharmonisan dalam diri anak, yang hal ini merupakan salah satu ciri mental yang sehat.
Berdasakan latar belakang masalah yang penulis bahas diatas, maka penulis tertarik untuk membuat kajian dengan judul �Pendidikan Mental Dalam Perspektif Zakiah Darajat
B. Rumusan Masalah
Adapun  yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan skripsi  ini adalah sebagai berikut : 
1.     Bagaimana tujuan pendidikan mental?                                                          
2.     Apa saja materi mental menurut Zakiah Darajat?                                         
3.     Bagaimana sanksi dan pujian dalam pendidikan?                             
4.     Bagaimana metode pengajaran pendidikan mental menurut konsep  Islam?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dalam penulisan skripsi  ini adalah sebagai berikut :
1.     Untuk mengetahui tujuan pendidikan mental.                                                           
2.     Untuk mengetahui materi mental menurut Zakiah Darajat.  
3.     Untuk mengetahui sanksi dan pujian dalam pendidikan.                              
4.     Untuk mengetahuimetode pengajaran pendidikan mental menurut konsep  Islam. 

D. Kegunaan Pembahasan
              Adapun yang menjadi kegunaan pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah:
Secara teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai pendidikan mental dalam perspektif Zakiah Darajat. Selain itu  hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang study pendidikan.[4]
Secara praktis, hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam memperbaiki dan mengaplikasikan pendidikan mental dalam perspektif Zakiah Darajat.  ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.[5]
E. Penjelasan Istilah
Agar terhindar darikesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam pemakaian istilah merupakan salah satu hal yang sering terjadi, sehingga mengakibatkan penafsiran yang berbeda. Maka untuk menghindari hal tersebut di atas, penulis merasa perlu mengadakan pembatasan dari istilah-istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini.

1.     Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata didik yang artinya �Memelihara, memberi latihan, dan pimpinan, kemudian kata didik itu mendapat awalan pe- akhiran- an sehingga menjadi pendidikan yang artinya perbuatan mendidik.�[6] Menurut  Soegarda Poerbakawatja pendidikan ialah semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untku mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, dan ketrampilannya kepada generasi muda.[7] Sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani�
Oemar Muhammad Al-Syaibani dalam buku �Filsafat Pendidikan� mengemukakan bahwa �Pendidikan adalah usaha-usaha untuk membina pribadi muslim yang terdapat pada pengembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial�.[8] Menurut H. M Arifin, pendidikan adalah usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal�.[9] Tarbiyah/pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Ibrahim Amini, diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya, kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya dengan dilandasi oleh nilai-nilai Islam.[10]. Dalam psikologi pendidikan disebutkan pendidikan adalah: �Proses pertumbuhan yang berlangsung berkat dilakukannya perbuatan belajar.�[11] Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan diartikan dengan bimbingan atau pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada si terdidik dalam perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.[12]
Istilah �pendidikan� dalam pendidikan Islam kadang-kadang disebut al�ta�lim. Al-ta�lim biasanya diterjemahkan dengan �pengajaran�. la kadang-�kadang disebut dengan ta�dib. At-ta�dib secara etimologi diterjemahkan dengan penjamuan makan malam atau pendidikan sopan santun.[13]Sedangkan Imam al-Ghazali menyebut �pendidikan� dengan sebutan al-riyadhah. Al-�riyadhah dalam arti bahasa diterjemahkan dengan olahraga atau pelatihan. Term ini dikhususkan untuk pendidikan masa kanak-kanak, sehingga al-�Ghazali menyebutnya dengan riyadhah al-shibyan.[14]
Dalam bahasa Arab pendidikan diistilahkan dengan tarbiyah, istilah ini berarti mengasuh, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang. Pernahaman yang lebih rinci mengenai tarbiyah ini harus mengacu kepada substansial yaitu pemberian pengetahuan, pengalaman dan kepribadian. Karena itu pendidikan Islam harus dibangun dari perpaduan istilah �ilm atau �allama (ilmu, pengajaran). 'adl (keadilan), 'amal (tindakan), haqq (kebenaran atau ketetapan hubungan dengan yang benar dan nyata, nuthq (nalar), nafs (jiwa), qalb (hati), 'aql (pikiran atau intelek), meratib dan darajat (tatanan hirarkhis), ayat (tanda-tanda atau symbol), tafsir dan ta'wil (penjelasan dan penerangan), yang secara keseluruhan terkandung dalam istilah adab.[15]
Lapangan pendidikan Islam identik dengan ruang lingkup pendidikan Islam, yaitu bukan sekedar proses pengajaran (face to face), tetapi mencakup  segala usaha penanaman (internalisasi) nilai-nilai Islam ke dalam diri subjek didik. Usaha tersebut dapat dilaksanakan dengan mempengaruhi, membimbing, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan kepribadian subjek didik. �Tujuannya adalah agar terwujudnya manusia  muslim yang berilmu, beriman dan beramal salih. Usaha-usaha  tersebut  dapat dilaksanakan  secara langsung ataupun  secara tidak langsung�.[16]     
Secara keseluruhan definisi yang bertemakan  pendidikan Islam itu mengacu kepada suatu pengertian bahwa  yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik  yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian  yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tujuan ini secara herarkhis bersifat ideal bahkan universal. Tujuan tersebut  dapat dijabarkan  pada tingkat yang lebih rendah lagi,  menjadi tujuan  yang bercorak nasional, institusional, terminal, klasikan, perbidang studi, berpokok ajaran, sampai dengan setiap kali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.[17]
Dalam hidup ini manusia tidak bisa terlepas dari pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan Agama, karena pendidikan itu sangat dibutuhkan dan menjadi perhatian orang dimana saja. Dalam pengertian yang luas pendidikan dapat diartikan �sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan�.[18]
Pendidikan dapat membawa pembaharuan kondisi hidup manusia lebih baik dari pada sebelumnya. Dengan demikian kita bisa mengangkat nama baik keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini sudah menjadi tugas dan kewajiban masyarakat, bangsa dan Negara untuk �melihat kelangsungan pendidikan itu sendiri demi terwujudnya bangsa yang terhormat�.[19]
            Meskipun pendidikan merupakan fenomena dan usaha manusiawi yang pasti terselenggara dimana pun manusia berada, namun fenomena dan usaha pendidikan memegang peranan sentral dalam perkembangan individu dan umat manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, pendidikan perlu didasarkan atas pemikiran yang matang, baik pikiran yang bersifat teoritis maupun yang mengarah kepada pertimbangan praktis dalam rangka mencapai hasil perkembangan dan pembudayaan manusia secara maksimal.
Pada dasarnya istilah pendidikan tersebut memiliki pengertian yang sangat luas, sehingga sampai saat ini belum ada keseragaman pengertian atau definisi pendidikan yang diberikan para ahli. Masing-masing ahli pendidikan masih sangat dipengaruhi oleh pola pikirnya masing-masing dalam memberikan pengertian pendidikan. Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, menyebutkan bahwa �pendidikan Islam adalah ilmu yang berdasarkan Islam yang berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia, dan ajaran tersebut didasarkan pada Al-Qur'an dan hadits�.[20]
Pendidikan merupakan kehidupan manusia itu sendiri dan menjadi tuntunan hidupnya, apabila hasil yang diperoleh dalam kehidupannya adalah produk pendidikan. Secara filosofis bahwa di dalam pendidikan itu mengandung nilai-nilai yang sangat berharga dalam kehidupannya. Bahkan dikatakan pendidikan itu mewariskan nilai-nilai kepada generasi. Di sinilah pentingnya kelestarian, nilai dalam pendidikan sangat diutamakan. Pewarisan nilai-nilai kepada generasi penerus tidak akan sampai kepada suatu tujuan pendidikan bila tidak didasarkan kepada falsafah hidup dan sumber pedoman  kehidupan.
            Berkenaan dengan masalah tersebut di atas Wens Tainlain mengemukakan bahwa "Istilah paedagogigiek(ilmu pendidikan) berasal dari kata yunani �pedagogues� dan dalam bahasa latin pedagogues yang berarti pemuda yang bertugas mengantar anak kesekolah serta menjaga anak itu agar ia bertingkah laku susila dan disiplin�.[21]
            Berdasarkan kutipan di atas dapatlah diketahui bahwa unsur membuat anak menjadi susila dan beriman serta bertindak disiplin merupakan unsur yang dominant dalam membatasi pengertian pendidikan. Sebab jika tidak menuju pada perbaikan susila dan peningkatan kedisiplinan, bukan pendidikan namanya. Selain itu, John Dewey dalam Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati lebih lanjut mengemukakan pengertian tentang pendidikan sebagai berikut: �Pendidikan (pedagogik) adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional.�[22]
            Ajaran Islam disyariatkan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang didasari dengan kasih sayang dan rasa kebersmaan. Rasulullah sendiri pernah menjelaskan bahwa dirinya diutuskan ke dunia ini untuk memperbaiki moral yang sudah rusak. Islam bukanlah agama yang mementingkan akhirat saja, tetapi ajaran Islam dapat mengembangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan keduanya. Bahkan ajaran Islam tidak membedakan antara bangsa yang satu dengan bangsa lain, antara satu manusia dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketaqwaan yang lebih tinggi.
            Bertolak dari kutipan di atas dapatlah diketahui bahwa pengertian pendidikan itu berkaitan erat dengan masalah proses pelaksanaan pendidikan secara praktis yang berlangsung sehari-hari untuk membentuk keahlian dengan proses belajar mengajar, yang membutuhkan intelektualitas.
            Selanjutnya dapatlah diketahui bahwa pendidikan itu adalah �upaya yang dilakukan secara terarah, terpadu,sistematis untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan dalam berfikir, bertindak serta berprilaku yang baik dalam kehidupan mereka sehari-hari sesuai dengan moral dan etika yang berlaku serta sesuai dengan kaeda-kaedah pendidikan itu sendiri�.[23] Pengertian pendidikan tersebut tidak terlepas dari maksud dan tujuan pendidikan itu sendiri yaitu untuk meningkatkan kualitas pribadi dan masyarakat untuk mencapai kecerdasan dan ketrampilan guna untuk meningkatkan harkat dan martabat serta untuk dapat membangun diri dan masa depannya yang lebih cerah.
Jadi,  pendidikan yang penulis maksudkan adalah adalah suatu usaha membimbing dan membina pribadi muslim baik jasmani ataupun rohani menuju terbentuknya akhlak yang mulia.
2.     Mental
Dessy Anwar dalam kamus lengkap bahasa Indonesia menjelaskan mental adalah batin, kejiwaan.�[24] Menurut Zakiah Darajat Mental anak adalah kemampuan anak untuk  menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.[25] Kata mental diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa Latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan[26].
Jadi, mental yang penulis maksudkan adalah kejiwaan seseorang yang berhubungan dengan cara penyesuaian diri.
3.     Zakiah Daradjat
Zakiah Daradjat dilahirkan di ranah Minang, tepatnya di Kampung Kotamerapak, Kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi pada tanggal 6 November 1929. Beliau adalah anak sulung dari sebelas bersaudara. Ayahnya bernama Daradjat Husein, bergelar Rajo Ameh dan ibunya bemama Rapiah binti Abdul Karim.[27]
Jadi Zakiah Daradjat yang penulis maksudkan dalam judul adalah tokoh pendidikan mental dalam Islam.
F. Metodelogi Pembahasan
            Adapun metodelogi dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1.     Jenis Penelitian
Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian kepustakaan (library research) karena data yang diteliti berupa naskah-naskah atau majalah-majalah yang bersumber dari khazanah kepustakaan.[28] Untuk itu, data yang akan diambil sepenuhnya barasal dari kepustakaan atau buku-buku.
2.     Pendekatan pembahasan
Dalam pembahasan ini penulis mempergunakan metode deskriptif analisisyaitu suatu metode pemecahan masalah yang meliputi pencatatan, penafsiran dan analisa terhadap data dalam pengkajian skripsi ini.[29]
Penelitian ini akan menjelaskan pendidikan mental dalam perspektif Zakiah Darajat.
3.     Ruang lingkup pembahasan
Adapun ruang lingkup pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah:
Tabel 1. 1 Ruang Lingkup Pembahasan
No
Ruang Lingkup
Hasil Yang Diharapkan
1
Tujuan pendidikan Mental
a).   Tujuan Psikolgis
b).   Tujuan Umum
2
Materi Pendidikan Mental Menut Zakiyah Darajat
a)     Ibadah
b)     Syariah
c)     Muamalat
3
Ruang lingkup Pendidikan Mental Menut Zakiyah Darajat
a)     Pengertian
b)     Tujuan

4.     Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)     Data primer
Data primer adalah sumber data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data dan penyelidik untuk tujuan penelitian.[30]. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Pokok-Pokok Keimanan, Jakarta: Gunung Agung, 1982, Zakiah Darajat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Jakarta, PT. Gunung Agung, 1976, Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992, Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta : PT. Gunung Agung, 1995.
2)     Data skunder
Data skunder yaitu sumber data yang mendukung dan melengkapi sumber data primer tersebut yaitu buku �Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat karya Abdurrahman An Nahlawi yang diterbitkan Gema Insani Press. 1996,Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, terj. Saifullah Kamalie dan Heri Noer Ali karya Abdullah Nashih Ulwan,, Cet. III, yang diterbitkan Asy- Syifa�, 1993. �Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak karya Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, Terj. Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim, Cetakan kedua yang diterbitkan Remaja Rosdakarya, 1992, Mendambakan Anak Shaleh karya Zakiah Daradjat yang diterbitkan Yogyakarta: Al-Bayan, 1991.


5.     Tehnik Pengumpulan Data
Adapun tehnik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah teknik Library Research yaitu menelaah buku-buku, teks dan literature-literature yang berkaitan dengan permasalahan di atas.[31]Suatu metode pengumpulan data atau bahan melalui perpustakaan yaitu dengan membaca dan menganalisa buku-buku, majalah-majalah yang ada kaitannya dengan masalah yang penulis teliti. Selain itu juga akan memanfaatkan fasilitas internet untuk memperoleh literatur-literatur yang berhubungan dengan skripsi ini.
6.     Tehnik Analisa Data
Teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Menurut Moleong, analisis data adalah yakni suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi dengan mengidentifikasi karakter khusus secara obyektif dan sistematik yang menghasilkan deskripsi yang obyektif, sistematik mengenai isi yang terungkap dalam komunikasi.[32]

G. Sistematika Penulisan
            Adapun sistematika dalam penulisan skripsi  ini adalah sebagai berikut : Bab satu, pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan pembahasan, penjelasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua, latar belakang pemikiran zakiah darajat meliputi: latar belakang internal, latar belakang eksternal dan metode (corak) berfikir zakiah darajat ttentang pendidikan mental.
Bab tiga, pendidikan mental dalam perspektif zakiah darajat meliputi: tujuan pendidikan mental, materi mental menurut zakiah darajat, sanksi dan pujian dalam pendidikan dan metode pengajaran pendidikan mental menurut konsep Islam.
Bab empat, penutup meliputi: kesimpulan dan saran-saran.
            Sedangkan dalam penulisan skripsi ini untuk adanya keseragaman dan kesamaan dalam penulisan pengetikan penulis berpedoman pada buku � Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen tahun 2009.




[1]Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Pokok-Pokok Keinianan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982 ),hal. 20

[2] Buseri, Kamrani, Pendidikan Kelvarga dalam Islam, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1990), hal. 19.
[3]Departemen Agama RI, Al-Qur�an dan Terjemahannya, (Jakarta : Yayasan Penterjemah al-Quran, 1991), hal. 369.

[4]Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Pokok-Pokok Keimanan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 43.

[5] Ibid, hal. 44.

[6]Hobby, Kamus Populer, Cet.XV, (Jakarta: Central,  2000), hal 28.

[7]Soegarda Poerbakawatja, et. al. Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung, 2001) hal. 257.

[8]Oemar Muhammad At-Tomy Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam ,terj. Hasan Langgulung, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang,  2003), hal. 44.

[9] HM. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 2000) hal. 12.

[10]Ibrahim Amini, Agar Tak Salah Mendidik, (Jakarta: Al- Huda, 2006),hal. 27.

[11]H.C.Whtherington,Psikologi Pendidikan, Terjemahan Bukhari, Cet IV, (Jakarta: Aksara Baru, 1984), hal. 12.

[12]Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma�arif, 1999), hal. 8.


[13] Ramayulis, llmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hal. 2.

[14] Ibid.,

[15] Khursyid Ahmad, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, terj. A.S Robith (Surabaya: Pustaka Progresif, 1992), hal. 14.

[16]M. Nasir Budiman, Pendidikan Dalam Persepektif Al-Qur'an, (Jakarta: Madani Press, 2001), hal. 1.

[17]Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2000), hal. 292.

[18]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Cet. VIII, (Jakarta: Rosda, 2003), 10.

[19] Ibid., hal. 12.
[20]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Islam, Cet.VI, (Bandung: Rosda Karya, 2004), hal. 13.

[21]Wens Tainlain, Dasar-dasar Pendidikan, (Jakarta:  Obor 1992), hal. 5.

[22]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan,  (Jakarta: Rineka Cipta 1991), hal. 69.

[23]Ibid., hal. 69.

[24] Dessy Anwar, Kamus lengkap Bahasa Indonesia cet.I (Surabaya: Karya Abditama, 2001) hal. 130.

               [25]Ibid, hal 39.

[26]Notosoedirjo, Moeljono & Latipun, Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan, Cet.2, (Malang: UMM Press, 2001), hal. 21.

[27]Imam Ma'ruf, Prof. Dr. Zcikiah Daradjat Mengembalikan Ketenangan Orang yang Susah Batnitiyah, (Hidayah II,Nopember 2002), hal. 42.

[28] M. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Ghalia Indonesia,1998), hal 54.

[29] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 243.
[30]Winarmo Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, ( Bandung: Angkasa, 1987 ), hal. 163.
[31]Kartini, Pengantar Metodologi Research Sosial, (Bandung: Alumni, 1980), hal. 28.

[32]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 44.

Post a Comment for "Pendidikan Mental Dalam Perspektif Zakiah Darajat"