Metode Pembelajaran Bahasa Arab
BAB II
LANDASAN TEORETIS
A. Metode Pembelajaran Bahasa Arab
Bahasa
arab sebagai bahasa asing dan bahasa internasional kedua setelah bahasa inggris
dalam pembelajarannya menggunakan metode yang sama dengan metode pembelajaran
bahasa asing lainnya. Empat unsur utama dalam pembelajaran bahasa arab terdiri
dari muhadatsah (speaking), qira'at (reading), istima'
(listening), dan kitabah (writing) mutlak diperlukan dan
merupakan faktor utama tercapainya tujuan pembelajaran bahasa arab dengan baik.
Namun tentunya semua itu haruslah didukung oleh materi yang disampaikan dan
teknik penyampaian itu sendiri.[1]
Perbedaannya dengan pembelajaran asing lainnya hanya pada materi atau bahan
yang diajarkan.
1.
Pembelajaran
Bahasa Arab dan Kaidahnya
Metode
pengajaran bahasa modern diciptakan untuk merombak metode klasik yang telah
dipakai sebelumnya. Metode ini mengkritisi dengan keras proses penggunaan
metode klasik dengan mengungkap berbagai macam kekeliruan dan kekurangannya
serta menunjukkan bahwa ketiadaan korelasi ilmu mantiq dengan ilmu
psikologi merupakan bahaya yang serius bagi peserta didik yang menyebabkan
terbuangnya waktu mereka secara sia-sia.[2]
Meskipun demikian sampai saat ini kita masih mendapatkan pengajaran bahasa arab
dengan menggunakan metode yang jauh dari kebenaran.
Sesungguhnya
metode yang tepat dan akuran untuk proses belajar dan mengajar setiap bahasa
harus mempunyai korelasi yang sesuai dengan kemampuan akal ketika mempelajari
bahasa ibu, dimana ia biasa berkomunikasi langsung dengan komunitasnya. Atas
dasar itu maka seorang peserta didik wajib berbicara dengan bahasa yang akan
guru ajarkan kepadanya sebelum guru mencoba untuk mengajarinya membaca dan
menulis, kemudian guru mengajarinya kaidah bahasa arab dan berbagai
perbendaharaan istilah bahasa dan yang lainnya. Maka tidak dibenarkan seorang
guru dalam mengajarkan bahasa memulainya dengan mengajarkan kaidah-kaidah
bahasa seperti Nahwu, Sharaf, I'rab dan yang lainnya dengan mengabaikan
bahasa itu sendiri yang mana ia merupakan media berbicara dan berkomunikasi.
Hal ini di luar kemampuan dan pengalaman peserta didik karena ia tidak mampu
untuk menjangkaunya secara penuh juga menyalahi konsep dasar metode pengajaran
bahasa, yaitu belajar secara perlahan-lahan dari sesuatu yang diketahui menuju
hal yang belum diketahui. Riset membuktikan bahwa para peserta didik yang
mempelajari bahasa arab di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren yang
menggunakan metode klasik tidak mampu mengungkapkan apa yang ada dalam
pikirannya baik secara lisan ataupun tulisan, padahal mereka mengetahui banyak
kaidah bahasa, juga telah menghabiskan waktu yang lama untuk mempelajarinya.
Hal ini menunjukkan adanya kesalahan pada metode pembelajaran bahasa arab di
lembaga-lembaga tersebut.
Untuk
mencapai tujuan yang diharapkan dari pembelajaran bahasa arab, guru harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Seorang guru harus memulai
pembelajaran bahasa arab secara lisan
Pembelajaran
bahasa merupakan suatu hal yang berhubungan dengan lisan, bibir dan telinga.
Untuk menguasainya diperlukan usaha yang serius dan tidak hanya berputar pada
masalah tulisan dan pengamatan saja, tetapi harus mengetahui seluruh media dan
penggunaannya bukan dengan mengetahui buku dan menunjukkan daftar kalimat.
Metode pertama merupakan metode pengajaran bahasa yang dnamis, progresif dan
aplikatif.
Adapun
metode kedua, merupakan metode pengajaran klasik yang pasif, statis dan non
aplikatif. Berbagai riset dan eksperimen masa kini yang dilakukan dalam
pengajaran berbagai bahasa telah membuktikan kebenaran dan pentingnya penggunaan
metode yang pertama. Metode ini pada awalnya dipakai pada masa lalu, yang
kemudian tenggelam dalam kurun waktu yang lama hingga kemunculan seseorang yang
bernama Govin salah seorang peneliti berkebangsaan Perancis yang
mengembangkan metode ini untuk kedua kalinya dan pada akhirnya, namanya
dinisbatkan menjadi nama metode tersebut yaitu Metode Govin.
b.
Pemberian kosakata harus disertai
makna dalam bahasa aslinya
Seorang
guru tidak boleh menyebutkan arti kosakata bahasa yang diajarkannya dalam
bahasa lain. Contoh: kosakata bahasa arab tidak boleh diartikan dalam bahasa
indonesia atau yang lainnya, melainkan jika dalam keadaan mendesak. Sehingga
dalam penulisan kosakata dan berkomunikasi, peserta didik tidak perlu berpikir
tentang arti kosakata tersebut dalam bahasa indonesia atau bahasa yang lain
lalu memberikan terjemahannya kedalam bahasa arab menurut pikiran mereka.
Metode ini biasa disebut dengan metode langsung La Methode Directe.
Dinamakan demikian karena dalam metode ini seorang guru mengguankan bahasa arab
secara langsung tanpa perantara bahasa asli (bahasa indonesia atau bahasa
daerah). Metode ini disebut juga dengan metode modern, oral method, natural
method, correctional method, metode Govin atau metode Berlits. Metode
inilah yang harus dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan
bahasa arab atau bahasa asing lainnya.
c.
Memberikan banyak ungkapan bukan
sekedar kata-kata
Ini
merupakan medan yang akan dilalui oleh seorang guru dalam mengajarkan bahasa.
Maka seorang guru harus mengetahui asal-usul setiap kosakata baru dari segi
strukturnya sehingga memungkinkan bagi peserta didik untuk terbiasa dengan
penggunaan kosakata tersebut pada tempat yang cocok sesuai dengan maknanya dan
terhindar dari kesalahan penggunaan.
d.
Tidak dibenarkan mengajarkan
sesuatu bahasa asing kepada peserta didik kecuali setelah mereka mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang bahasa ibu (bahasa asalnya)
Kebanyakan
pakar pendidikan sepakat dengan permulaan pengajaran bahasa baru (asing) pada
usia sepuluh tahun, dan tidak memulainya sebelum usia tersebut dengan tujuan
menghindari ketidakoptimalan hasil pembelajarannya.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pengajaran kaidah bahasa arab:
1. Memperhatikan
materi muhadasah (percakapan), karena materi ini merupakan modal terbaik bagi
seorang guru untuk bisa berhasil dalam pengajaran kaidah bahasa.
2. Memperbanyak
materi muthala'ah (bahan bacaan), muhadasah (percakapan) dan hafalan pesera
didik ungkapan-ungkapan singkat dan mudah sebelum memulai pelajaran kaidah
bahasa sehingga guru mampu mengajar dengan menggunakan metode ilmiah yang
didasarkan pada ungkapan yang tepat.
3. Mengggunakan
metode deduktif. Dalam pengajarannya seorang guru memulai materi dengan
memberikan contoh-contoh yang diambil dari guru dan peserta didik kemudian secara
perlahan peserta didik dibimbing dan diarahkan kepada pengambilan suatu
definisi atau kaidah tertentu.
4. Contoh-contoh
yang diberikan harus dalam bentuk kalimat sempurna (jumlah tammah), karena arti
dan maksud setiap kata hanya bisa dipahami ketika diletakkan pada kalimat
sempurna (jumlah tammah).
5. Memotivasi
peserta didik untuk tidak menghafal definisi dan contoh-contoh yang terdapat
dalam buku pegangan secara letter leg (text book), karena hal itu bisa
mematikan kreatifitas berpikir dan menyebabkan terbuangnya waktu secara
percuma.
6. Memberikan
contoh-contoh kontemporer dan memiliki makan mendasar yang jelas, terang dan
mencakup tiap-tiap definisi kaidah.
7. Menugaskan
peserta didik untuk memberikan contoh dari mereka sendiri yang mengacu keapda
kaidah atau definisi yang telah diketahui dan dipahami.
8. Memberikan
latihan kepada peserta didik dalam buku latihan mereka yang dikoreksi langsung
oleh guru yang bersangkutan. Hal ini penting diadakan mengingat beberapa
kegunaaan:
a.
menumbuh kembangkan kebebasan
berpikir dan berbuat bagi peserta didik.
b. Peserta
didik terbiasa untuk menggunakan waktunya untuk kegiatan-kegiatan positif.
c.
Membantu peserta didik dalam
mengulang materi pelajaran yang telah diberikan.
d. Guru
mampu membuat skala prioritas dari setiap kegaitan hariannya.
e.
Wali murid memiliki kesempatan untuk
mengawasi kegiatan dan perkembangan anaknya.
f.
Memperluas khazanah keilmuan peserta
didik.
9. Tidak
dibenarkan mengajarkan seluruh materi yang bersangkutan dengan suatu bahasan
tertentu pada satu waktu, karena hal ini akan menyebabkan terbuangnya waktu
peserta didik secara percuma.[3]
Sejalan dengan
uraian sebelumnya maka terbentuklah Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dan
Tujuan Instruksional Umum (TIU).[4]
Adapun Tujuan Instruksional Khusus dari pengajaran bahasa arab adalah:
a.
Mengajari peserta didik cara
berbicara dengan menggunakan bahasa yang benar dan terhindar dari kesalahan.
b. Mengajari
peserta didik cara menulis dengan pengawasan guru dan ungkapan-ungkapan yang
tepat.[5]
Sedangkan
Tujuan Instruksional Umum dari pengajaran bahasa adalah:
a.
Peserta didik berada dalam status
sosial para pengguna bahasa di wilayah tempat dia tinggal.
b.
Peserta didik mengetahu jenis-jenis
sastra pilihan.
c.
Menumbukkan kepekaan pengamatan dan
memupuk tingkat kemampuan global dalam perbandingan, hokum persamaan dan
pertentangan.
d.
Menumbuhkan kemampuan berargumen dan
berdebat.[6]
Alat peraga dalam
pengajaran bahasa arab
Untuk menghindari pemakaian bahasa ibu (bahasa daerah
atau Indonesia )
dalam proses pengajaran bahasa arab maka diperlukan alat peraga yang akan
membantu guru dalam menerangkan arti
setiap kalimat baru yang belum diketahui oleh peserta didik.
Yang dimaksud dengan alat peraga (wasail idhah) dalam
pembahasan ini adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk membantunya
dalam memahamkan peserta didik akan hal-hal baru yang terkadang mereka
mengalami kesulitan dalam memahaminya, maka adakalanya guru mengambil alat
peraga ini dari sesuatu yang pernah dan sudah diketahui oleh peserta didik atau
yang berhubungan dengan panca indra dan mudah untuk dipahami.[7]
Oleh karenanya penggunaan alat peraga (wasail idhah) ini
merupakan implementasi dari prinsip-prinsip pokok pengajaran yaitu pengajaran
secara bertahap dari sesuatu yang diketahui menuju kepada yang belum diketahui,
dari pengamatan menuju kepad pemikiran dan seterusnya.
Manfaat alat peraga
(wasail idhah):
- Alat peraga merupakan media sukses paling penting dalam
mengatasi berbagai kesulitan dan menjelaskan berbagai persoalan
pembelajaran, yang mana media ini mengatur dan membatasi pemikiran peserta
didik agar tidak berpikir tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan
akalnya, juga memberikan gambaran yang jelas tentang materi yang
diajarkan.
- Media penolong guru dalam mempermudah proses
pembelajaran dan menjadikannya sebagai sesuatu yang hidup dan menarik di
samping keberadaannya juga membuat proses belajar lebih jelas, bermutu dan
terarah.
- Memberikan impuls kepada peserta didik untuk belajar dan
menumbuhkan instink cinta menelaah dan mempelajari berbagai hal, dengan
demikian alat peraga ini tidak hanya memperkuat konsentrasi peserta didik
semata tetapi lebih jauh lagi ia menjadi landasan utama terciptanya
konsentrasi.
- Optimalisasi penggunaan alat peraga ini akan sangat
membantu guru dalam membentuk kebiasaan peserta didik untuk
mengekspresikan pendapat, pemikiran dan pengamatan.
- Memungkinkan guru untuk menjadikan alat peraga ini
sebagai media untuk menumbukan kekuatan perhatian, mempertahankan kepekaan
dan membiasakannya serta ketelitian dan ketanggapan.[8]
Jenis-jenis alat peraga
(wasail idhah) dan kelebihannya masing-masing:
- Indrawi (hissiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan
akal dengan menggunakan indra sebagai medianya dengan menampilkannya atau
sesuatu yang semisalnya atau gambar atau sejenisnya.
- Orally (lughawiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan
akal dengan menggunakan kata-kata (ungkapan) sebagai medianya dengan
menyebutkan contoh atau definisi atau penjelasannya.[9]
Dalam
penggunaannya dua jenis alat peraga (wasail idhah) tersebut memiliki kelebihan
satu atas lainnya, diantara kelebihan disini adalah:
1. Kelebihan
alat peraga indrawi (hissiyah)
a.
Memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap indra untuk memahami sesuatu objek, contoh: seorang peserta didik yang
melakukan eksperimen tentang sesuatu materi, maka ia akan mendapatkan pemahaman
yang lebih dalam daripada mempelajarinya dalam bentuk teori saja, atau
seseorang yang mengunjungi suatu daerah dimana ia menyaksikan pemandangan alam
yang indah dengan hamparan sawah yang menghijau, sungai yang mengalir jernih,
disertai dengan udara yang sejuk, kemudian ia berinteraksi dengan penduduknya
maka terciptalah komunikasi verbal antara mereka sehingga pengetahuan tentang
adat istiadat daerah tersebut dengan letak geografisnya lebih dalam
dibandingkan dengan hanya mendengar, begitu pula seseorang yang berkunjung ke
situs-situs bersejarah dia akan menemukan keterangan yang lebih lengkap
dibandingkan dengan orang yang hanya membaca buku sejarahnya, ataupun seseorang
yang tahu arti kata asad (singa), setelah ia menyaksikan bentuk aslinya
dia akan mendapatkan pengertian sempurna dari kata itu, sehingga dikatakan
dalam sebuah ungkapan "maka tidaklah sama (pengetahua) orang yang melihat
langsung dengan orang yang hanya mendengar".
b. Merupakan
media terbaik bagi seorang guru untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta
didik terhadap inti pelajaran, karena seorang pelajar ketika ditanya tentang
apa yang dia pahami dari apa yang dia saksikan contohnya atau gambarnya dan
menjawab dengan menggunakan ungkapannya sendiri menunjukkan tingkat
pemahamannya yang sempurna, tetapi manakala seorang guru hanya menerangkan saja
dengan bahasa lisan terkadang peserta didik menghafal apa yang ia dengar,
sehingga manakala ia ditanyai ia akan menjawab dengan apa yang ia hafalkan tak
ubahnya seekor boe yang berceloteh tanpa mengetahui arti celotehannya itu, hal
ini menyulitkan seorang guru untuk mengukur kemampuan peserta didik.
2. Kelebihan
alat peraga orally (lughawiyah)
a.
Akselerasi tinggi, karena mengucapkan
suatu kata memerlukan waktu yang lebih singkatdaripada memberikan contoh dalam
bentuk gambar atau menirukan gambarnya, dan bercerita tentang sesuatu lebih
cepat dibandingkan dengan harus menyaksikannya secara langsung.
b. Faktor
kemudahan, penggunaan bahasa sebagai media penerangan tidak memerlukan banyak
usaha melainkan hanya dengan menggerakkan lidah dan bibir.
c.
Menunjukkan pengertian secara
universal, contoh: kata asad (singa) menunjukkan arti setiap jenis dari
kelompok hewan buas yang diketahui. Berbeda dengan alat peraga (wasail idhah)
hissiyah yang hanya menunjukkan arti parsial, maka asad (singa) atau gambarnya
atau tiruan gambarnya yang ditunjukkan pada peserta didik hanya terfokus pada
apa yang ada di depan mata.
Adapun jenis
alat peraga (wasail idhah) lughawiyah adalah: contoh-contoh, perumpamaan,
perbandingan, penjelasan, deskripsi, dan cerita.
Metode pengajaran kaidah
bahasa arab:
- Sebelum memulai pelajaran, guru mempersiapkan sejumlah
contoh yang berhubungan dengan materi yang hendak diajarkan.
- Guru menuliskan contoh-contoh itu di atas papan tulis
dan peserta didik memperhatikannya.
- Guru menulis contoh-contoh lain yang menjadi
perbandingan dari contoh pertama dan mendekati pada pengertian kaidah.
- Guru meminta peserta didik untuk menerangkan kata-kata
di dalam contoh yang tertulis, seandainya tidak memungkinkan guru
membimbingnya dengan pertanyaan.
- Guru menulis kaidah yang disimpulkan dari contoh-contoh
itu di papan tulis.
- Guru meminta peserta didik untuk memberikan contoh dari
mereka sendiri sesuai dengan kaidah yang telah didapatkan.
- Guru memberikan peserta didik kata-kata untuk diletakkan
dalam kalimat sempurna sesuai dengan kaidah.
Guru memberikan
kalimat-kalimat sempurna dan meminta peserta didik untuk menerangkan kaidahnya
sesuai dengan yang telah dipelajari.
B.
Pembelajaran
Bahasa Arab di MTsN Ulumuddin
Dalam
prakteknya bahasa arab di MTs. Ulumuddin dijadikan sebagai salah satu bahasa
wajib yang digunakan dalam percakapan sehari-hari antar santri juga santri
dengan guru, serta digunakan sebagai bahasa pengantar pelajaran (lughah
at-tadris) pada pelajaran-pelajaran berbahasa arab.
Pada permulaannya pembelajaran bahasa arab di MTs.
Ulumuddin mengutamakan metode langsung (direct method) dan menggunakan
metode-metode lain dalam tahap-tahap berikutnya. Metode langsung yang
dimaksudkan di sini adalah suatu metode mengajar dimana guru memperkenalkan
secara langsung objek yang diajarkan (bahasa arab) dengan bahasa aslinya
menggunakan alat peraga (wasail idhah) yang sesuai.[10]
Pembelajaran bahasa arab di Mts. Ulumuddin merupakan
perpaduan antara kurikulum pondok modern dengan kurikulum departemen agama
dengan perbandingan sebesar 9:1. hal ini sesuai dengan kondisi pendidikan yang
menggunakan sistem asrama (boarding school) yang mana semua kegiatan mengacu
kepada satu sistem pendidikan dan pengajaran (all in one system).[11]
Materi-materi pembelajaran bahasa arab yang ada di MTs.
Ulumuddin di samping diambil dari materi pokok bahasa arab itu sendiri juga
diambil dari materi-materi penunjang yang semuanya wajib untuk diajarkan
sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dan tak terpisahkan. Adapun materi
pokok bersumber dari buku Durus Al-Lughah Al-Arabiyah jilid satu dan dua
yang merupakan dasar dari penggunaan bahasa arab dan telah dapat dipergunakan
untuk praktek berbicara sehari-hari ditambah dengan buku pelajaran bahasa arab
departemen agama yang diberikan secara khusus untuk kelas tiga pada semester
kedua sebagai pengayaan materi, sedangkan untuk materi-materi penunjang yaitu Muthala'ah,
Al-Imla' (dikte), Muhadatsah, Mufradat, Mahfudhat, dan Al-Insya'
(mengarang). Keseluruhan materi yang diajarkan menggunakan kurikulum Pondok
Modern Gontor dengan menggunakan metode langsung (direct method) kecuali
pelajaran bahasa arab departemen agama.
Perlu penulis sampaikan bahwa salah satu tujuan
pembelajaran bahasa arab di MTs. Ulumuddin adalah menjadikan peserta didik
aktif berbicara dan berbicara aktif, disamping mampu membaca dan memahami
literatur-literatur berbahasa arab, maka dalam pelaksanaannya kegiatan
pembelajaran bahasa arab ditunjang oleh kegiatan ekstra kurikuler wajib bagi
seluruh peserta didik dalam bentuk Muhadharah (latihan berpidato) sekali dalam
seminggu, Muhadatsah (latihan percakapan) pagi dua kali dalam seminggu dan
Mufradat (pemberian kosakata) setiap pagi. Akumulasi dari seluruh kegiatan di
atas diimplementasikan dalam penggunaan bahasa arab sebagai bahasa percakapan
di dalam segala aspek kehidupan peserta didik, sehingga bahasa arab merupakan
nafas dan jantung kegiatan pendidikan.
Adapun langkah-langkah pembelajaran dari masing-masing
materi penunjang yang menurut hemat penulis perlu disampaikan secara global
adalah sebagai berikut:
1. Muthala'ah
Maksud dari
pembelajaran Muthala'ah adalah menjadikan peserta didik terbiasa untuk memahami
secara baik dan cepat setiap bahan bacaan dari buku atau sejenisnya tanpa
kesulitan yang berarti di samping menjadikan mereka fasih berbicara juga
terampil menyampaikan apa yang mereka pahami sehingga bisa diterima oleh setiap
orang yang mendengarnya.[12]
Langkah-langkah
pembelajaran dalam mempelajari Muthala'ah sebagai berikut:
a. Guru
menerangkan mufradat (kosakata) kepada peserta didik dengan terlebih dahulu
mengucapkannya yang diikuti oleh seluruh peserta didik, kemudian menuliskannya
di papan tulis dan menjelaskan arti serta maksudnya.
b. Peserta
didik meletakkan kata-kata sulit dalam kalimat sempurna untuk menambah
pemahaman akan arti kata-kata tersebut.
c. Guru
menjelaskan pelajaran atau judul yang akan dibahas dengan diselingi
pertanyaan-pertanyaan kemudian pengambilan kesimpulan dengan melibatkan peserta
didik (diskusi) bilamana perlu.
d. Guru
membaca bahan bacaan sebagai contoh kepada peserta didik.
e. Guru
menyuruh peserta didik untuk membaca bahan bacaan dan mengoreksi bacaan
tersebut.
f. Peserta
didik membaca bahan bacaan tanpa suara sambil mencari kata-kata dan kalimat
yang sulit untuk ditanyakan pada guru.
g. Pertanyaan
peserta didik kepada guru tentang arti kata-kata sulit dan bisa juga pertanyaan
dari guru atau sesama peserta didik.
h. Guru
membaca apa yang tertulis di papan tulis dan peserta didik memperahatikannya.
i. Peserta
didik menulis apa yang tertera di papan tulis dengan pengawasan dari guru.
j. Guru
menyuruh beberapa orang peserta didik untuk membaca tulisan mereka guna
meyakinkan kebenaran tulisan.
k. Peserta
didik membaca keseluruhan materi untuk persiapan menjawab pertanyaan dari guru.[13]
2. Muhadatsah
Muhadatsah
adalah percakapan yang dilakukan dalam bahasa arab antara dua orang atau lebih.[14]
Percakapan disini dimaksudkan untuk mempergunakan setiap mufradat yang telah
dihafal (diingat) untuk dapat dipraktekkan dalam kegiatan berkomunikasi.
Langkah-langkah
pembelajaran muhadatsah adalah sebagai berikuti:
a.
Sebelum Mengajarkan
-
Guru menentukan satu judul percakapan
dan menguasai sebaik-baiknya, baik tiap arti kata-kata maupun kalimatnya serta
ungkapan-ungkapan tertentu khususnya idiom (uslub).
-
Pengucapan dalam bahasa arab, khususnya
dalam percakapan sehari-hari, harakat terakhir dari suatu kata selalu dibaca
sukun (mati) atau dengan kata lain tidak diucapkan harakatnya.
Contoh: اَÙ„ْÙƒِتَابُ akan
terdengar اَÙ„ٌÙƒِتَابْ
اَÙ„ْÙƒِتَابَØ©ُ akan terdengar اَÙ„ْÙƒِتَابَØ©ْ
-
Untuk memperluas penggunaan struktur
kalimat guru mempersiapkan beberapa kata yang cocok sebagai pengganti untuk
latihan-latihan memperluas penggunaan struktur kalimat (drill). Hal ini sangat
dibutuhkan untuk menjadikan bahasa arab sebagai pengetahuan yang bisa diucapkan,
tanpa drill seseorang bisa saja memahami tulisan namun dia akan tetap bisu,
tidak bisa berbicara, karenanya drill dan hafalan harus selalu ditekankan dalam
belajar bahasa.
b. Ketika
mengajarkan
-
Guru berdiri di depan peserta didik
dengan membawa buku pegangan guru. Hal yang harus diingat bahwa guru harus
menguasai terlebih dahulu materi yang akan diajarkan.
-
Pastikan bahwa setiap peserta didik
membawa buku pegangan yang telah ditentukan.
-
Pertama-tama, guru meminta peserta
didik untuk menutup bukunya masing-masing, lalu memberikan contoh pengucapan
sebanyak empat kali. Pada kali pertama guru membaca teks percakapan dengan
benar dan tepat dan agak lambat. Saat ini peserta didik tidak boleh membuka
buku, mereka hanya mendengar dan tidak menirukan pengajar. Pada kali kedua guru
melakukan kegiatan ini sekali lagi. Pada kali ketiga guru meminta peserta didik
untuk membuka bukunya terlebih dahulu, lalu guru membacakan teks itu sekali
lagi sementara peserta didik memperhatikan tulisan yang ada pada buku
percakapannya tanpa mengikuti atau mengulangi ucapan guru. Pada kali keempat
guru memberi contoh bacaan dengan kecepatan normal dan diikuti oleh peserta
didik sambil melihat buku percakapan mereka. Guru boleh mengulangi langkah ini
sampai terdengar peserta didik lancar menirukan guru.
-
Guru memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengulangi sendiri membaca teks percakapan itu dengan suara
nyaring sambil berusaha menghafalnya kurang lebih enam menit. Setelah itu guru
meminta peserta didik menutup buku mereka lalu melakukan percakapan dengan
peserta didik. Guru berperan sebagai si A dan peserta didik berperan sebagai si
B, lalu bergantian. Guru juga bisa membagi mereka menjadi dua bagian dan mereka
bercakap-cakap antar kelompok.
3. Mufradat
(kosakata baru)
Mufradat yang
dimaksudkan disini adalah pemberian kosakata baru kepada para santri untuk
memperkaya kosakata yang telah ada.[15]
Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah:
a.
Sebelum mengajarkan
Guru
mempersiapkan sejumlah kosakata baru menurut kemampuan peserta didik, kemudian
meletakkannya dalam kalimat sempurna sebagai contoh.
b. Ketika
mengajarkan
-
Guru berdiri di depan peserta didik
untuk memulai kegiatan dengan bertanya tentang kosakata yang sudah dipelajari
sebelumnya.
-
Guru mengucapkan kosakata baru
diikuti oleh peserta didik sambil sesekali menunjuk beberapa orang untuk
mengulanginya.
-
Guru menulis kosakata baru tersebut
di papan tulis lalu menerangkan artinya dan memberikan contoh penggunaannya
dalam kalimat sempurna.
-
Guru meminta beberapa orang peserta
didik untuk membuat kalimat yang lain, kegiatan ini dilanjutkan dengan kosakata
selanjutnya.
-
Guru meminta peserta didik untuk
menulis kosakata baru tersebut dan meletakkan tiap-tiap kosakata itu dalam
beberapa kalimat.
4. Insya'
(Mengarang arab)
Yang dimaksud
dengan pelajaran insya' disini adalah mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran
(jiwa) dengan ungkapan yang tepat baik secara lisan ataupun tulisan. Adapun
tujuan pembelajaran materi ini adalah untuk membiasakan peserta didik
menggunakan ungkapan yang tepat untuk mengungkapkan apa yang menjadi
pemikirannya baik dengan bahasa dia sendiri ataupun dengan bahasa asing. Maka
materi ini merupakan salah satu seni memilih kata-kata yang baik (diksi) dan
ungkapan yang sesuai.[16]
Langkah-langkah
dalam pembelajaran Insya' adalah:
a.
Menentukan tema atau judul yang
sesuai dengan bahan dan bahasa.
b. Menggunakan
alat peraga (wasail idhah) yang diperlukan untuk membantu kelancaran
pembelajaran.
c.
Bagi peserta didik pemula diwajibkan
bagi guru untuk memberikan arahan dan bimbingan khusus dengan memberikan
contoh.
d. Bagi
peserta didik lanjutan guru memberikan pengarahan dan contoh kemudian meminta
peserta didik membuat hal serupa.
e.
Diakhir kegiatan belajar guru
memberikan pertanyaan tentang materi yang sudah diajarkan yang mengundang
peserta didik untuk menjawabnya dengan jawaban sempurna.
f.
Guru memeriksa lembaran kerja peserta
didik, karena inti pelajaran Insya' adalah pada koreksi guru.
g. Memberikan
koreksi dengan warna tulisan yang berbeda untuk membedakan ungkapan yang benar
dan yang salah.
h. Guru
tidak boleh merusak lembar kerja peserta didik dengan terlalu banyak memberikan
saran dan nasihat.
i.
Guru tidak boleh memberikan koreksi
kecuali pada hal yang dianggap perlu.
j.
Guru menyuruh peserta didik untuk
menulis koreksiannya dengan tulisan yang baik.
k. Guru
wajib mencantumkan tanggal, tanda tangan dan nilai peserta didik pada setiap
materi.
5. Mahfudhat
Mahfudhat
merupakan suatu materi yang didalamnya memuat berbagai falsafah hidup, baik
yang bersumber dari al-Qur'an, al-Hadits, maupun perkataan-perkataan ulama.
Sedangkan tujuan pembelajaran mahfudhat adalah menanamkan falsafah hidup pada
peserta didik sekaligus menjadikan mereka terampil dalam memahami kaidah bahasa
dari segi kesusteraannya.[17]
Langkah-langkah
dalam pembelajaran Mahfudhat adalah sebagai berikut:
a.
Guru menerangkan kosakata baru dengan
menggunakan metode modern.
b. Guru
menerangkan materi sesuai dengan urutan bait-bait mahfudhat disertai dengan
menanamkan falsafah hidup kemudian membacakannya yang diikuti oleh peserta
didik dan menuliskannya di papan tulis. Begitu seterusnya sampai akhir bait
diajarkan.
c.
Guru membaca yang ada di papan tulis
yang disimak oleh peserta didik.
d. Peserta
didik menulis apa yang ada di papan tulis.
e.
Guru menyuruh beberapa orang untuk
membaca tulisan mereka dan mengoreksinya.
f.
Guru menyuruh peserta didik membaca
tulisan mereka untuk persiapan menjawab pertanyaan guru.
g. Guru
menyuruh peserta didik untuk menutup buku tulis, lalu mengajukan beberapa
pertanyaan yang berhubungan dengan kosakata dan maksud dari tiap bait.[18]
6. Imla'
(dikte)
Imla' (dikte)
adalah menulis tanpa melihat teks bacaan atau menuliskan bacaan yang didengar
dari guru.[19]
Langkah-langkah pembelajaran dalam Imla' adalah sebagai berikut:
a.
Memilih petikan-petikan ungkapan yang
sesuai.
b. Menuliskannya
pada buku persiapan mengajar.
c.
Mengatur tempat duduk peserta didik
dengan jarak yang aman dan memungkinkan mereka untuk tidak saling membantu.
d. Guru
membalik papan tulis dan membaginya menjadi dua bagian, bagian untuk penulisan
materi dan bagian untuk koreksi.
e.
Guru memilih salah satu peserta didik
untuk menulis di papan tulis.
f.
Guru membacakan keseluruhan materi
yang sudah dipersiapkan.
g. Guru
membacakan materi persuku kata dan sesekali menyuruh beberapa peserta didik
untuk mengulangi bacaannya sebelum menulis dan begitu juga seterusnya sampai
akhir penulisan.
h. Guru
membaca ulang keseluruhan materi dengan kecepatan normal sehingga memungkinkan
peserta didik untuk memperbaiki tulisannya.
i.
Koreksi bersama dengan bertukar buku
tulis antar siswa.
j.
Guru mengumpulkan buku tulis untuk
dikoreksi oleh guru tersebut.
C. Metode Belajar Mengajar dalam Menerapkan Bahasa Arab dan Kitab Kuning
Metode
mengajar bahasa arab banyak sekali jenisnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,
yaitu:
- Tujuan yang berbeda dari setiap sub judul pelajaran
bahasa arab, sesuai dengan jenis, fungsi, maupun isi dari masing-masing
judul.
- Perbedaan latar belakang individu anak, baik dari segi
kehidupan atau keturunan, tingkat usia perkembangan, maupun tingkat
kemampuan berpikirnya.
- Perbedaan situasi dan kondisi dimana pelajaran bahasa
arab berlangsung baik berupa lembaga pendidikan yang berbeda, letak
geografis maupun sosial kultural.
- Perbedaan pribadi dan kemampuan guru masing-masing.
- Fasilitas yang berbeda baik kualitas maupun kuantitas.[20]
Metode yang
digunakan dalam pengajaran bahasa arab adalah:
1. Metode
Ceramah
Teknik ini
banyak dipakai hampir dalam segala kegiatan, baik di sekolah, kursus-kursus
bahasa atau penataran karena dianggap sebagai cara paling baik bagi seorang
guru bahasa untuk menyajikan secara lisan tentang informasi yang berhubungan
dengan judul yang selalu dibahas. Selain itu waktu yang bersamaan guru dapat
menggunakan alat-alat pembantu seperti gambar-gambar dan secara langsung dapat
menjawab setiap pertanyaan dari murid.[21]
Dalam metode ceramah sesuai dengan maksudnya sebagai penerangan dan penuturan
secara lisan oleh guru terhadap kelas, maka peranan peserta didik ialah
mendengarkan dengan teliti serta mencatat hal-hal penting secara garis besar
atau menanyakan hal-hal yang belum jelas yang diberikan oleh guru.
Metode ceramah
banyak digunakan guru pada pembelajaran bahasa arab diawal-awal memasuki sub
judul pelajaran baru, dengan pengenalan beberapa poin penting yang akan dibahas
pada pembelajaran.
2. Metode
Tanya Jawab
Metode ini
digunakan oleh guru dengan cara guru menyampaikan pertanyaan dan peserta didik
menjawab.[22]
Metode ini digunakan dalam pengajaran bahasa arab untuk meninjau pelajaran yang
telah lalu, agar para peserta didik memusatkan lagi perhatian tentang sejumlah
kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkan pelajaran selanjutnya
serta untuk merangsang perhatian peserta didik karena metode ini dapat
digunakan pula sebagai apersepsi, selingan dan evaluasi.
Di samping
metode tanya-jawab yang dilakukan saat awal pelajaran untuk meninjau pelajaran
yang telah lalu dengan maksud mengetahui penguasaan peserta didik terhadap
materi yang telah diajarkan, guru juga melakukan metode tanya-jawab disaat
pertengahan penjelasan pelajaran dengan maksud mengetahui kesulitan peserta
didik dalam memahami penjelasan pelajaran yang sedang diajarkan. Metode ini
juga dilakukan pada saat akhir pelajaran untuk mengetahui pemahaman peserta
didik terhadap keseluruhan materi.
3. Metode
Demonstrasi
Metode
demonstrasi paling banyak digunakan oleh setiap guru bahasa arab dalam
mengajarkan pelajarannya, karena metode ini adalah metode yang dilakukan oleh
guru untuk memperlihatkan kepada seluruh peserta didik dalam kelas tentang
suatu proses atau suatu cara melakukan sesuatu.[23]
Metode ini
juga diharapkan mampu membantu peserta didik dalam menghafalkan kosakata yang
digunakan dalam setiap percakapan diluar pelajarannya.
4. Metode
Resitasi
Metode ini
adalah metode penugasan dengan memberikan tugas atau PR bahasa arab kepada
peserta didik dengan harapan mereka memiliki kesempatan yang lebih luas untuk
bertanya kepada kakak kelas, membuka kamus, menghafalkan, memahami, dan
menghayati kosakata serta kaidah bahasa yang baru didapatkan.
5. Metode
Karyawisata
Metode ini
digunakan oleh guru pada pembelajaran bahasa arab ketika guru ingin menambah
kosakata baru kepada peserta didik yang terdapat di luar kelas dan buku.[24]
Dengan metode ini guru dapat mengetahui secara langsung kosakata-kosakata yang
belum diketahui oleh peserta didik berdasarkan pertanyaan yang diajukan oleh
peserta didik kepada guru.
6. Metode
Sosiodrama
Metode ini
digunakan untuk memudahkan guru dalam pengajaran dan pendidikan serta
mengenalkan secara langsung berbagai situasi sosial dalam bahasa arab.[25]
Dalam hal ini Dayah Ulumuddin menerapkan metode sosiodrama pada segi pembelajaran
bahasa arab dua kali dalam seminggu. Pada pertemuan pertama peserta didik
diminta untuk menghafalkan percakapan bersama-sama secara terpimpin. Dan pada
pertemuan kedua mereka memerankan secara silih-berganti dengan teman yang
menjadi pasangan dalam perannya ini untuk menghayati pelajaran yang sedang
diberikan.
7. Metode
Pemecahan Masalah
Pada metode
ini guru memberikan berbagai tugas dari segi kaidah bahasa arab yang
berhubungan dengan ilmu nahwu, sharaf, susunan kata, makna hakiki, dan makna
istilahi serta balaghah (seni merangkai kata).
Metode ini
digunakan untuk melatih peserta didik dalam menghadapi masalah untuk dipecahkan
sendiri atau bersama-sama.
Dengan
menghadapkan peserta didik dengan berbagai macam problema yang berhubungan
dengan ilmu bahasa arab, maka mereka berusaha mengerahkan segala kemampuan yang
dimiliki terutama pikiran, kemauan, perasaan serta semangat untuk mencari
pemecahannya sampai pada suatu kesimpulan yang diharapkan.
Metode yang digunakan pada
pengajaran kitab kuning
Literatur-literatur arab klasik atau yang lebih dikenal
dengan nama kitab kuning atau kitab gundul merupakan salah satu bahan ajar yang
bisa menunjang pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadap bahasa arab.
Namun pada kenyataannya tidak semua orang yang bisa mengajarkan kitab kuning
mampu berbicara bahasa arab secara aktif meskipun mereka memahami kaidah-kaidah
bahasa arab bahkan menghafalnya, hal ini berbeda dengan kenyataan bahwa orang
yang mengerti bahasa arab secara lisan dan tulisan ia mampu memahami literatur-literatur
tersebut, karenanya inti pembelajaran bahasa arab adalah mendapatkan kunci yang
bisa membuka setiap pintu keilmuan yang bersumber dari literatur-literatur
berbahasa arab.[26]
Yang dimaksud dengan kitab kuning atau kitab gundul dalam
pembahasan ini adalah kitab-kitab klasik tentang ajaran Islam yang digunakan di
pondok-pondok pesantren dan diistilahkan demikian karena kitab-kitab tersebut
biasanya menggunakan kertas berwarna kuning serta dinamakan gundul karena
ditulis tanpa menggunakan harkat atau baris.[27]
Pada dasarnya, tidak ada perbedaan dalam metode
pembelajaran kitab kuning di berbagai daerah di Indonesia dan sampai saat ini
penulis belum menemukan literatur khusus yang membahas metode pengajaran kitab
kuning secara universal dan komprehensif. Kajian-kajian yang ada hanya bersifat
parsial dan cenderung mengikuti kebiasaan suatu daerah yang merupakan
pengetahuan warisan orang-orang terdahulu.
Metode pengajaran kitab kuning yang secar umum digunakan
adalah metode bandungan dan sorongan. Metode bandungan adalah pendidikan kelas
ala pesantren salafiyah atau pendidikan pesantren dengan metode tradisional
yaitu suatu metode dimana pada saat pembelajaran seorang guru atau biasa
disebut teungku atau ustadz membacakan materi yang diajarkan dari buku
pegangannya dan peserta didik menyimak bacaan tersebut dan menulis makna yang
diberikan oleh teungku atau ustadz. Adapun arti yang diberikan dapat
disampaikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan penulisannya juga ada
yang ditulis dengan huruf latin dan ada juga yang menggunakan huruf arab melayu
lengkap dengan simbol-simbol yang mereka pahami sendiri. Setelah sesi pemberian
arti tiap-tiap kata selesai, pembelajaran dilanjutkan dengan penjelasan maksud
dari sebuah materi (hukum) oleh teungku atau ustadz. Pembelajaran ini biasanya
diakhiri dengan sesi tanya-jawab tentang hal-hal yang meragukan dan kurang
dipahami oleh peserta didik.[28]
Adapun metode sorongan merupakan suatu metode privat ala pesantren salafiyah
dimana seorang peserta didik akan membaca dan menerjemahkan serta menyampaikan
pemahamannya tentang kitab pengetahuan keislaman dihadapan teungku atau ustadz,
sementara teungku atau ustadz tersebut akan mendengar dan mengoreksi pemahaman
peserta didik.[29]
Adapun peserta didik yang lain menyimak atau memperhatikan dengan seksama
sembari menunggu giliran mereka.
Suatu hal yang perlu penulis sampaikan bahwa pemberian
arti atau makna perkata dalam pembelajaran kitab kuning ini disertai dengan
penjabaran kaidah bahasa arab meskipun hanya bersifat implicit dan terkadang
membingungkan bagi sebagian peserta didik, hal ini dikarenakan tidak
sistematisnya uraian tentang kaidah tersebut karena stressingnya ada pada
pemahaman isi dari tiap-tiap kajian, namun demikian seseorang yang berangkat
dari pemahaman dan kaidah yang benar dan tepat akan menemukan banyak hal
positif dari pembelajaran kitab kuning diantaranya bertambahnya kosakata baru
dan struktur kalimat yang mendukungnya untuk kemudahan berbicara. Sebaliknya
bagi para pemula ia memerlukan waktu yang lama untuk mampu menguasai setiap
materi yang diajarkan disebabkan oleh minimnya pengetahuan dasar tentang bahasa
arab.
Kajian-kajian dalam kitab kuning yang notabene-nya
menggunakan bahasa arab akan mudah dipahami apabila diserta pengetahuan tentang
bahasa arab, baik pengetahuan dasar maupun pengetahuan lanjutan. Atas dasar
itulah teungku atau ustadz yang mengajar kitab kuning akan memberikan
penjelasan secara gambling mengenai bacaan kitabnya hingga pengertian dari
kitab tersebut menjadi mudah dimengerti dan dipahami oleh peserta didik.[30]
Kemampuan untuk menguasai dan memahami kitab kuning atau
kitab gundul membutuhkan waktu yang lama dan proses yang panjang, karena
penekanannya ada pada bagaimana peserta didik membaca dan memahami isi atau
kandungan suatu kitab tertentu bukan bagaimana menguasai cara membaca dan
memahaminya. Sehingga peserta didik cenderung pasif dan hanya bersikap menerima
apa yang diberikan tanpa mengetahui hakikat pembelajarannya, lain daripada itu
ia pun memiliki keterbatasan kemampuan yaitu pemahaman pada buku-buku atau
kitab-kitab yang dipelajarinya saja. Maka muncullah istilah "santri bau
kencur" bagi peserta didik yang hanya mengenyam pendidikan pesantren
kurang dari sepuluh tahun.
Padahal jika
direnungkan peserta didik yang mengenyam pendidikan di pesantren tidak hanya
punya kewajiban belajar kitab kuning saja, karena pesantren saat ini tidak bisa
didakwa lagi sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi
lembaga sosial yang hidup terus merespon carut-marut persoalan masyarakat di
sekitarnya.[31]
[1]Hidayat, D, Pelajaran Bahasa Arab, (Semarang : Toha Putra, 2004), hal. 5.
[2]Mahmud Yunus dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah Wa At-Ta'lim,
(Surabaya: Darussalam Press, 1999), hal. 39.
[7]Mahmud Yunus, dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah Wa At Ta'lim,
(Surabaya: Darussalam Press, 1999), hal. 41.
[10]Imam Zarkasyi dan Imam Syubani, Durus Al-Lughah Al-Arabiyah,
(Surabaya :
Trimurti Press, 2001), hal. 168.
[11]Abdullah Syukri Zarkasyi, Serba-Serbi Singkat PM. Darussalam
Gontor, (Surabaya :
Darussalam Press, 2000), hal. 13.
[12]Mahmud Yunus dan Muh. Kasim Bakar,Tarbiyah Al-Amaliyah,
(Surabaya: Darussalam Press, 1997), hal. 9-12.
[14]Dhamiri Fadhil dan Khairi Habibullah, Hadits Kulli Yaumin, (Surabaya : Darussalam
Press, 2000), hal. 1.
[15]Mahmud Yunus dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah…, hal. 7.
[16]Mahmud Yunus dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah Wa
at-ta'lim, jilid 3 (Surabaya: Darussalam Press, 1999), hal. 51.
[17]Tim Silabus KMI Pondok Modern Gontor, Pegangan Mahfudhat Untuk
Guru, (Surabaya :
Darussalam Press, 2003), hal. 3.
[27]Anam Khairul Anam, Dzikir-Dzikir Cinta, (Yogyakarta :
Diva Press, 2007), hal. 386.
[31]Tim Penulis Depag, Intelektualisme Pesantren, (Jakarta : Diva Pustaka,
2003), hal. 1.

Post a Comment for "Metode Pembelajaran Bahasa Arab"