Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Metode Pendidikan dalam Al-Qur'an


A.    Metode Pendidikan dalam Al-Qur'an
Metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti "melalui" dan thodos berarti "jalan" atau "cara".[1] Dengan demikian metode dapat berarti cara atau  jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Metode diartikan juga sebagai sarana untuk menemukan, menguji dan menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin sesuatu.[2] Metode pada  hakikatnya  adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan.[3] Dari pengertian-pengertian di atas metode adalah jalan untuk mencapai tujuan yang bermakna untuk ditempatkan pada posisi sebagai cara dalam menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau pemikiran secara sistematika.
Metode memiliki kaitan erat dengan pendidikan Islam, sehingga mengandung arti sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang agar menjadi pribadi yang Islami. Karena itu metode dalam pendidikan Islam diartikan sebagai suatu cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam Al-Qur'an metode indentik dengan Thariqah yang terdiri dari objek, fungsi, sifat, akibat dan sebagainya. 
Dalam bahasa Arab kata metode diungkapkan dalam berbagai kata, seperti  al-thariqah, manhaj dan al-wasilah. Al-tariqah berarti jalan, manhaj dan al-wasilah berarti perantara atau mediator. Kata al-Thariqah dalam Al-Qur'an  dihubungkan sebagai jalan menuju neraka (Q.S: 4:169), terkadang juga dihubungkan dengan sifat dari jalan lurus, seperti al-thariqah al-mustaqim yang berarti jalan yang lurus (Q.S: 46:30). Ada juga Al-thariqah fi-al-bahr yang berarti jalan (yang kering) di laut (Q. S: 20: 77). Di samping itu diartikan juga kepatuhan kepada jalan "Dan bahwasanya jikalau  mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami  akan memberikan  minum kepada  mereka  air yang segar" (rezeki yang banyak)  (Q.S:  72: 16).  Dan juga thariqah berarti tata surya atau langit. "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan  Kami" (Q.S: 23: 17).
Dalam ilmu pendidikan metode berfungsi sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional ilmu pendidikan terutama menyangkut nilai-nilai, khususnya yang terdapat dalam surat al-Waqi'ah.  Al-Qur'an  memiliki   metode  sebagai berikut :
1.     Metode  Teladan
Kata teladan dalam al-Qur'an indentik dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat hasanah di belakangnya yang berarti baik. Kata uswah dicontohkan pada Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim, "Dalam diri Rasulullah itu kamu dapat menemukan teladan yang baik."(Q.S. 33: 21). Metode teladan ini dianggap penting karena aspek agama yang mengandung akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk tingkah laku (behaviroral).[4] Tentang keteladan Nabi Ibrahim dijelaskan Allah;
قد كانت لكم أسوة حسنة  والذيـن  منه...(الممتحنة: ٤)

Artinya: "Sesungguhnya  pada mereka  itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan  yang baik bagimu…" (Q.S. 60: 4).





2.     Metode  Kisah-kisah
Dalam al-Qur'an menceritakan cerita-cerita atau kisah-kisah, bahkan secara  khusus  terdapat  nama surat al-Qashash.  Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat alamiyah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan.
Istilah ini dalam Al-Qur'an disebut Qasas berarti berita yang berurutan. Qasas Al-Qur'an adalah pemberitaan Qur'an tentang hal ikhwal  umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur'an banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.[5]
Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Menggunakan berbagai jenis cerita seperti, cerita sejarah faktual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar kehidupan manusia bisa seperti pelaku yang ditampilkan oleh contoh tersebut.
و لـو شئنـا  لرفعنـه بـهـا  و لكنّـه  أخلد  إلى  الأرض  واتـبـع  هـواه  فمثله  كمثل  الكلب  إن  تحمل  عليه  يـلهث  أو تــتـركه  يـلهث  ذلك  مثل  القـوم  الذيـن  كـذبـوا بـئـآيـتـنـا  فـقصص  القصص  لعلّهم  يـتفـكـرون  "  سـآء  مثلاً  القـوم  الذيـن  كذبـوا  بـئـآيـتنـا  و أنـفسهم  كانـوا  يـظلمـون "  (الأعراف : ۱۷۷-۱۷٦)

Artinya: Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Q.S. Al-A’raaf : 176-177).

3.     Metode Amtsal (Perumpamaan)
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat dalam bentuk amtsal (perumpamaan) dalam rangka mendidik umatnya. Demikian juga dalam proses pelaksanaan pendidikan sangat banyak perumpamaan-perumpamaan yang harus diberikan oleh seorang guru, misalnya seorang guru memberikan contoh secara langsung kepada siswa agar siswa dapat memahami apa yang dijelaskan oleh guru.[6]
Adakalanya Tuhan mengajari umat dengan membuat perumpamaan, misalnya dalam surat al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau tuhan orang kafir dengan sarang laba-laba :
مثـل  الّذيـن  اتـخــذوا من دون  الله  أو لـيـــآء  كمثــل  عنكبـوت  اتـخــذت  بـيـتـــاً ... (العنكبوت : ٤١)

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang berlindung kepada selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah; padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba …” (Q.S. Al-Ankabut: 41)

Cara seperti itu dapat juga digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Kebaikan metode ini antara lain dapat mempermudah siswa memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda konkrit seperti kelemahan tuhan orang kafir yang diumpamakan dengan sarang laba-laba.
4.     Metode Nasihat
Al-Qur'an juga menggunakan kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah yang kemudian dikenal dengan nasihat. Tetapi nasihat yang disampaikannya ini selalu disertai  dengan panutan atau teladan dari si pemberi atau penyampai nasihat itu. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode yakni nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini keteladanan bersifat saling melengkapi.
Dalam Al-Qur'an kata nasihat itu terkait dengan para Nabi kepada kaumnya. Sebagai contoh Nabi Shaleh ketika meninggalkan kaumnya berkata:
فـتـولى  عنهم  وقال  ياقـوم  لـقد ابـلـغتكم رسالة ربـي ونصحت  لكم ولكن  لا تحبّـون الـنّصحــين (الأعراف: ٧۹)

Artinya: Maka (Shaleh) meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu  amanah Tuhanku, dan  aku  telah memberi nasihat  kepadamu, tetapi  kamu tidak  menyukai  orang-orang yang memberi nasihat." (Q. S 7: 79). 

Demikian juga dengan Nabi Syu'aib kepada kaumnya;
فتولى عنهم وقال ياقوم لقد ابـلغتكم رسالت ربي ونصحت لكم فكيف اسى على قوم كافريـن (الأعراف: ۹۳)

Artinya: Maka (Syu'aib) meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanah-amanah Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir ?" (Q.S. 7: 93). 

Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa Al-Qur'an secara ekplisit  menggunakan nasihat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Al-Qur'an berbicara tentang penasihat, yang dinasihati, obyek nasihat, situasi nasihat dan latar belakang nasihat. Karena itu sebagai metode pengajaran nasihat dapat diakui kebenarannya.[7]


4.  Metode  Pembiasaan
Al-Qur'an juga memberikan materi pendidikan adalah melalui pembiasaan yang dilakukan secara bertahap.  Dalam  hal ini  termasuk  merubah kebiasaan-kebiasaan yang negatif. Al-Qur'an menjadikan pembiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Lalu ia mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Selain itu Al-Qur'an juga menciptakan agar tidak terjadinya kerutinan yang kaku dalam bertindak, dengan cara terus menerus mengingatkan tujuan yang ingin dicapai dengan kebiasaan itu, dan dengan menjalin hubungan yang dapat mengalirkan berkas cahaya ke dalam hati sehingga tidak gelap gulita.
Al-Qur'an juga menggunakan kebiasaan tidak terbatas yang baik dalam bentuk perbuatan melainkan juga dalam bentuk perasaan dan pikiran. Dengan kata lain pembiasan yang ditempuh Al-Qur'an juga menyangkut segi pasif dan aktif. Kedua segi ini tergantung pada kondisi sosial ekonomi, bukan menyangkut kondisi kejiwaan yang berhubungan erat dengan akidah atau etika. Sedangkan yang bersifat aktif atau menuntut pelaksanaan, ditemukan pembiasaan secara menyeluruh.[8]

5.  Metode  Hukuman dan Ganjaran
Bila teladan dan nasihat tidak mampu, maka pada waktu itu harus  diadakan tindakan tegas  yang dapat meletakkan  persoalan di tempat yang benar, tindakan tegas itu adalah hukuman.[9] Tahapan metode hukuman ini terdapat pro dan kontra, setuju dan menolak. Kecenderungan pendidikan modern memandang tabu terhadap hukuman itu, tetapi Islam memandang bahwa hukuman bukan sebagai tindakan yang pertama kali yang harus dilakukan oleh seorang pendidik, dan bukan pula cara yang didahulukan, akan tetapi nasehatlah yang paling didahulukan.
... فـإن تـطيعـوا  يـؤتـكم  الله  أجراً  حسنـا  و إن  تـتـولّـوا  كمـا  تولّـيتم  من  قبل  يـعذّبـكم  عذابـاً  أليـمـاً. (الفتح : ۱٦)

Artinya: “… Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepada mu pahala yang baik dan jika kamu telah berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Q.S. Al-Fath: 16)

Islam menggunakan seluruh teknik pendidikan. Tidak membiarkan satu jendela pun yang tidak dimasuki untuk sampai ke dalam jiwa. Islam menggunakan contoh teladan dan nasihat serta tarhib dan targhib, tetapi di samping itu juga  menempuh cara menakut-nakuti dan mengancam dengan berbagai tingkatannya, dari ancaman sampai pada  pelaksanaan ancaman itu.
Hukuman dikenal dengan azab yang disebutkan 373 kali dalam Al-Qur'an. Jumlah yang besar ini menunjukkan perhatian Al-Qur'an yang amat besar terhadap masalah hukuman ini, dan meminta perhatian manusia.  Sedangkan kata ganjaran (ajrun) sebanyak 105 kali, inipun termasuk jumlah besar. Berkenaan dengan hukuman ini dijumpai dalam ayat-ayat: "Bila kamu tidak patuh, seperti dulu kamu pernah tidak patuh, Dia akan menghukummu  dengan siksaan  yang  pedih." (Q.S.  48 : 16).  "Bila  mereka tidak patuh, maka Allah akan menghukum mereka dengan  hukuman  yang pedih  di dunia  dan akhirat." ( Q. S.  9: 74 ).
Mengenai dengan anjuran adalah: "Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang beriman". (Q. S.  3: 135).
Dengan demikian, keberadaan hukuman dan ganjaran diakui dalam Islam dan digunakan dalam rangka membina umat manusia melalui kegiatan pendidikan. Hukuman dan ganjaran ini diberlakukan kepada sasaran pembinaan yang lebih bersifat khusus. Hukuman untuk orang yang melanggar dan berbuat jahat, sedangkan pahala untuk orang yang patuh dan menunjukkan perbuatan  baik.    


6.     Metode Ceramah (Khutbah)
Ceramah atau khutbah termasuk cara yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti ajaran yang telah ditentukan.[10] Dalam Al-Qur'an kata-kata khutbah adalah:
وعباد الرحـمـن الذيـن يـمشـون على الأرض هونـا وإذا خاطبهم الجاهلـون قالـواسلمـا (الفرقان: ٦۳)

Artinya: "Dan hamba-hamba Tuhan yang penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung)  keselamatan (kata-kata yang baik)." (Q.S. 25: 63).

Khutbah disebut juga tabligh atau menyampaikan sesuatu ajaran, khususnya dengan lisan diakui keberadaannya, bahkan telah dipraktekkan oleh Rasulullah dalam mengajak umat manusia ke jalan Tuhan.[11]  Metode ini banyak digunakan termasuk dalam pengajaran, karena metode ini paling murah, mudah dan tidak banyak memerlukan peralatan.  Model ini juga dipergunakan seorang guru dalam mengajar murid-murid di lembaga sekolah.[12]

7.   Metode Diskusi
Al-Qur'an juga menggunakan metode ini dalam mendidik dan mengajarkan manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian, dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.[13] Perintah Allah dalam hal ini,  agar kita mengajak  ke jalan yang benar dengan hikmah dan mau'izhah yang baik dan membantah  mereka  dengan berdiskusi  yang baik.
ولا تجادلـوا أهل الكتاب الا بـالـتي هي أحسان...(العنكبوت: ٤٦)

Artinya: "Dan janganlah  kamu  berdebat dengan  ahli kitab, melainkan  dengan cara  yang paling baik…(Q.S. 29: 46).

Diskusi yang baik adalah tidak memonopoli pembicaraan, saling menghargai pendapat orang lain, kedewasaan pikiran, emosi, berpandangan luas dan lain-lain.  
Dari sejumlah metode di atas Al-Qur'an juga menggunakan metode perintah dan larangan, metode pemberian suasana, (situasional), metode  mendidik kelompok (mutual education), metode instrinsik, metode bimbingan dan penyuluhan, metode perumpamaan, metode taubat dan ampunan dan metode  penyajian.
Dalam menerapkan suatu metode dalam setiap situasi pengajaran haruslah mempertimbangkan dan memperhatikan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang dapat mempertinggi mutu dan efektifitas suatu metode tertentu. Kalau tidak, maka bukan saja akan berakibat proses pengajaran terhambat, akan tetapi akan berakibat lebih jauh, yaitu tidak tercapai tujuan pengajaran sebagaimana yang telah ditetapkannya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan metode adalah sebagai berikut:

a.      Tujuan yang Hendak Dicapai
Setiap mata pelajaran tentunya mempunyai tujuan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Misalnya pada tujuan pengajaran tafsir Al-Qur'an dan hadits berbeda dengan tujuan pelajaran akhlak. Dan pelajaran tauhid berbeda tujuannya dengan pelajaran fiqh, demikian juga sebaliknya pelajaran fiqh berbeda tujuannya dengan pelajaran tauhid.
Oleh karena itu tujuan umum maupun tujuan khusus dari masing-masing pelajaran memiliki perbedaan dan tekanannya masing-masing, maka implikasinya dalam pemilihan metode guru hendaklah mampu melihat perbedaan-perbedaan tersebut dan membawanya ke dalam situasi pemilihan riset metode yang dianggap paling tepat dan serasi untuk diterapkan.[14]
Berdasarkan keterangan di atas, menandakan bahwa penerapan metode pengajaran agama Islam harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan diberikan, karena hanya dengan cara demikian barulah tujuan yang dikehendaki akan tercapai.

b.      Kemampuan Guru
Efektif tidaknya suatu metode juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru yang memakainya, di samping kepribadian guru memang cukup dominan pengaruhnya, misalnya seorang guru agama oleh karena mahir dan cerdik dalam berbicara sehingga setiap pendengar menjadi terkesan dan terpukau dengan pembicaraannya, maka metode ceramah menjadi pilihan utama di samping metode lain sebagai pendukungnya. Akan tetapi metode ceramah tersebut akan menjadi tidak efektif bagi seorang guru yang pendiam dan tidak menguasai teknik-teknik metode ceramah yang baik.[15]
Berdasarkan gambaran di atas, maka dapat dipahami bahwa kemampuan guru sangat berperan untuk memilih metode yang sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan. Jika metode yang digunakan tidak sesuai, maka proses belajar mengajar tidak akan berhasil. Oleh karena itu, kemampuan guru memegang peranan penting dalam menciptakan keberhasilan belajar mengajar.

c.       Anak Didik
Hal yang perlu diperhatikan pula dalam penggunaan metode adalah anak didik, karena guru berhadapan dengan makhluk hidup yang bernama anak didik itu, atau siswa dengan potensi dan fitrah yang dimilikinya memberi kemungkinan sekaligus harapan untuk berkembang dengan baik ke arah pribadi yang sempurna.[16]
Pada fitrahnya memang setiap individu anak didik itu telah diberikan hidayah kebaikan (berupa ketauhidan dan keimanan) oleh Allah SWT. Akan tetapi iman dan tauhid itu dapat saja berubah ke arah kelunturan apabila tidak disiram dan dipupuk dengan pendidikan dan bimbingan ke jalan menuju ke arah keimanan dan Islam. Guru di samping itu juga berhadapan dengan anak didik yang masing-masing memiliki perbedaan kemampuan, kecerdasan, karakter, latar belakang sosial ekonomi dan perbedaan tingkat usia antara satu dengan yang lain dan selamanya siswa akan berbeda dalam kelas.
Dari pembahasan di atas maka diketahui, bahwa usaha untuk mensukseskan belajar mengajar harus ditempuh dengan cara mendidik anak didik sebijaksana mungkin. Hal ini merupakan usaha untuk meningkatkan keberhasilan proses belajar mengajar siswa.

d.      Situasi dan Kondisi di mana Pengajaran Berlangsung
Situasi dan kondisi di mana berlangsungnya pengajaran juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam penggunaan metode mengajar.
Situasi dan kondisi yang dimaksud, yaitu termasuk kondisi fisik gedung sekolah, apakah berada di pasar atau di samping bioskop dan sebagainya. Demikian juga keadaan guru dan murid saat mana waktu akan memberikan pelajaran di kelas apakah guru atau murid dalam keadaan lelah sehingga penerapan metode pada saat itu perlu dipertimbangkan dan diganti dengan metode lain yang dianggap lebih tepat seperti sosiodrama, tanya jawab, diskusi dan sebagainya. Ini berarti guru perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi dalam pemilihan metode jika pengajaran ingin berhasil secara optimal.[17]
Berdasarkan gambaran di atas, dapat dipahami bahwa situasi dan kondisi merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi proses belajar, karena keberhasilan belajar mengajar sangat bergantung pada situasi dan kondisi. Apabila situasi dan kondisi tidak dipengaruhi oleh kebisingan atau rasa lelah yang menimpa guru atau siswa, maka proses belajar mengajar akan berhasil dengan baik.

e.       Fasilitas yang Tersedia
Tersedianya sarana dan prasarana atau media pengajaran misalnya tersedia gedung sekolah tempat dan alat praktikum, buku-buku bacaan, alat-alat peraga serta fasilitas lainnya sangat tergantung terhadap efektif tidaknya penggunaan suatu metode.[18] Misalnya bagaimana kita ingin memakai metode demonstrasi dan eksperimen sementara peralatan untuk praktek pelajaran ibadah atau buku-buku bacaan yang berbobot untuk diteliti tidak ada. Hal ini jelaslah bahwa tersedia atau tidaknya fasilitas sekolah perlu diperhatikan dalam penentuan metode mengajar yang baik dan khusus.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fasilitas merupakan faktor terpenting untuk menyukseskan pendidikan agama, karena tidak mungkin berjalan proses pengajaran apabila sarana yang tersedia kurang memadai, apalagi tidak ada sama sekali.

f.       Waktu yang Tersedia
Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, masalah waktu yang tersedia juga perlu diperhatikan, apakah waktunya cukup jika guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen, sementara acara pengajaran hanya tersedia 40 menit saja, atau sebaliknya. Apakah tidak sebaiknya kita memakai metode demonstrasi dan eksperimen di samping metode lainnya, karena acara pengajaran cukup tersedia. Akan tetapi, biasanya waktu tersebut telah ditentukan dalam kurikulum, sehingga diperlukan keahlian guru untuk memilih metode yang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan itu.[19]
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa usaha untuk menyesuaikan metode dengan materi sangat bergantung waktu yang disediakan dalam kurikulum, sebab apabila waktu yang disediakan tidak mencukupi, maka metode yang digunakan tidak efektif. Namun untuk mencegah hal tersebut, maka seorang guru diwajibkan memilih metode yang sesuai dengan waktu yang telah disediakan dalam kurikulum.

g.      Sifat Materi
Sifat materi sangat penting diperhatikan oleh seorang guru, karena ditentukannya metode yang digunakan dalam pelaksanaan pendidikan sangat tergantung dari materi yang diajarkan kepada siswa.[20]
Keterangan di atas mengidentifikasikan bahwa dalam metode pengajaran tersedia banyak metode pengajaran, yang kesemuanya tentu cocok untuk diterapkan. Akan tetapi perlu juga diperhatikan, dari kesemua metode tersebut ada yang paling tepat dan cocok dengan materi yang diajarkan kepada siswa. Dan di sini juga membutuhkan kemahiran guru dalam menentukannya.

h.      Kelebihan dan Kekurangan Suatu Metode
Dari masing-masing metode yang banyak itu, sudah barang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, akan tetapi kekurangan suatu metode tertentu dapat dilengkapi oleh keunggulan dalam suatu metode yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan banyak metode dalam setiap pengajaran, bahkan guru harus menggunakan satu sampai empat metode secara bervariasi, dan oleh karena itu guru hendaklah mempertimbangkan sisi kelebihan dan sisi kekurangan suatu metode dalam mengkombinasikannya dalam satu kesatuan yang harmonis dan kompak.[21]
Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami, bahwa dalam setiap melaksanakan pembelajaran, seorang guru diwajibkan menggunakan metode secara bergantian, karena di antara metode-metode tersebut saling mendukung satu sama lainnya. Jika tidak digunakan metode secara bergantian menurut kebutuhan materi pendidikan, maka kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam suatu metode tidak dapat diatasi, sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana yang diinginkan tujuan pendidikan Islam.




[1]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdesipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 83.

[2]Imam Bernadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, 1990), hal.  85. 

[3] Hasan Langgulung, Beberapa  Pemikiran  Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma'arif, 1991), hal. 183.
[4]Muhammad Quthb, Sistem Pemikiran Islam, (Bandung: Al-Ma'arif, 1984), hal. 183.

[5]Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-ilmu Qur'an, terj. Mudzakir AS, (Jakarta: Lentera Antar Nusa, 2000), hal.  436
[6]Indrakusuma, dkk., Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hal. 121.
[7]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997),   hal. 100.
[8]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur'an, (Bandung:  Mizan, 1982), hal.  176. 

[9]Muhammad  Bukhari, Sistem dan Model Pendidikan  Klasik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hal. 54.
[10]Romli, AM, Dakwah  dan Siyasah, (Jakarta: Bina Rena Parawira, 2003), hal. 7.

[11]Hilmi Muhammadiyah, Dakwah dan Globalisasi, (Jakarta: ELSA, 2000), hal. 3.

[12]Zamaskuri Zarkashi, Pedoman Para Da'i, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 52

[13]Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Johar Bahri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hal. 26.
               [14]Tahyar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hal. 7.

[15]Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet. V, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hal. 33.
[16]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 39.
[17]Amir Yusuf Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 43
[18]Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 53

[19]Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Islam, hal. 10.
[20]M. Jafar, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hal. 133

[21]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), hal. 145

Post a Comment for "Metode Pendidikan dalam Al-Qur'an"