Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembelajaran IPA


BAB II

LANDASAN TEORITIS


A.    Pembelajaran IPA
1.     Pengertian IPA
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).
IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian, pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah.                                         
2.     Fungsi Pembelajaran IPA     
Untuk mengenal apa IPA itu, kita juga dapat menjelaskan melalui segi fungsinya. Dari berbagai pustaka dapat dirangkum bahwa fungsi IPA itu ada lima, yaitu untuk:
1)     Membangun pola berpikir
Dapat kita simak dari fakta sejarah, bagaimana IPA terbagun dari pola berpikir manusia yang berkembang dari zaman ke zaman. Di sisi lain, IPA itu sendiri juga dapat membangun pola berpikir manusia dengan ciri-ciri khusus. 
2)     Menjelaskan adanya hubungan antara berbagai gejala alam
Dalam menjelaskan sesuatu, IPA mempunyai ciri-ciri yang khusus, yaitu:
a)     Analitis, artinya lengkap mendeskripsikan semua bagian dari objek penelitiannya, serta hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
b)     Logis, artinya dapat diterima oleh akal.
c)     Sistematis, artinya disusun secara logis dan sistematis sehingga tampak jelas tata urutan serta hubungan satu dengan yang lain dan jelas pula bahwa tidak ada kebenaran ilmu pengetahuan yang bertumpang tindih dalam arti berlawanan satu dengan yang lain.
d)     Kausatif, maksudnya IPA menjelaskan mengapa segala gejala alam itu terjadi.
e)     Kuantitatif, yang meliputi tiga arti:
f)      Kesimpulan yang diuji kebenarannya melalui statistika,
g)     Penjelasannya disertai dengan angka-angka dengan besaran hasil pengukuran atau dengan rumusan-rumusan matematika,
h)     Kuantitatif dalam artiannya yang tak langsung menyatakan kecermatan pengukuran.
     Menurut Carl Hempel ada dua tujuan IPA dalam menjelaskan berbagai gejala alam ini, yaitu:Untuk hal yang bersifat praktis, maksudnya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia, dan untuk memenuhi hasrat ingin tahu.
3)     Meramalkan
Peramalan dari IPA ini adalah peramalan yang didasarkan atas adanya konsistensi atau keteraturan dari gejala-gejala alam. Kunci pokok dari sesuatu yang dapat digunakan untuk meramalkan itu adalah adanya keteraturan yang konsisten.
4)     Menguasai atau mengontrol alam guna kesejahteraan manusia
Dengan IPA orang bisa mengolah sumber daya alam. Orang juga dapat mendirikan industri-industri untuk menghasilkan barang-barang bagi kesejahteraan manusia. Dengan IPA orang dapat mempermudah hubungan komunikasi maupun transportasi. Dengan IPA orang dapat mencegah atau menghindari malapetaka akibat gejala alam.
5)     Melestarikan berbagai gejala alam
Suatu gejala alam mungkin sekali tak terulang kejadiannya sehingga IPA dalam hal ini selaku kumpulan pengetahuan yang logis dan sistematis secara tak langsung merekam gejala-gejala alam, misalnya kehadiran komet, pergeseran benua, perubahan flora dan fauna. 
3.     Tujuan Pembelajaran IPA    
Melalui pembelajaran terpadu, beberapa konsep yang relevan untuk dijadikan tema tidak perlu dibahas berulang kali dalam mata pelajaran yang berbeda (Fisika, Kimia, Biologi), sehingga penggunaan waktu untuk pembahasannya lebih efisien dan pencapaian tujuan pembelajaran juga diharapkan akan lebih efektif. Adapun tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut:
1.     Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup disiplin ilmu fisika, kimia, dan biologi. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA yang disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia 7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Lagi pula, anak melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu, pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-pisah dalam fisika, biologi, kimia, dan bumi-alam semesta memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih efisien dan efektif.
Keterpaduan mata pelajaran dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain. Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau kesamaan materi maupun metodologi.
2.     Meningkatkan minat dan motivasi
Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan.
Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema tersebut. Dengan model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya.
3.     Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.    
           
B.    Pembelajaran Kooperative
1.     Pengertian Pembelajaran Kooperative        
Cooperative learning adalah sebuah grup kecil yang bekerja bersama sebagai sebuah tim untuk memecahkan masalah (solve a problem), melengkapi latihan (complete a taks), atau untuk mencapai tujuan tertentu (accomplish a common goal)”.[1]
Posamentier dalam Rachmadi menyebutkan bahwa cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa peserta didik dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas.[2] Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan /tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).[3] Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut.[4]
Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para peserta didik pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi.[5]
Falsafah yang mendasari model pembelajaran gotong-royong dalam pendidikan adalah falsafah Homo Homini Socius. Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah.[6]
2.     Unsur – unsur  Pembelajaran Cooperative
Lima unsur pembelajaran kooperatif
a)     Saling ketergantungan yang positif (positive interdependence) Setiap siswa yakin bahwa kesuksesannya bergantung kepada kesuksesan anggota timnya. (setiap anggota tim sukses jika semua anggota tim sukses juga).
b)     Interaksi kelompok (face – to – face Promotive Interaction) Siswa berdiskusi cara menyelesaikan suatu masalah, konsep-konsep dan strategi-strategi yang dipelajari. Menjelaskan pengetahuan tentang suatu materi kepada teman dan menghubungkan apa yang dipelajari sekarang dengan sebelumnya. interaksi siswa bersifat promotif karena antar siswa saling membantu, mendukung, dan memotivasi.
c)     Akuntabilitas Individual (Individual Accountability) Guru menilai prestasi setiap siswa dan di umumkan kepada tim dan siswa tersebut, sehingga dapatdiketahui siapa yang perlu dibantu dalam penyelesaian tugas oleh anggota lainnya.
d)     Ketrampilan Sosial (Social Skills) Ketrampilan sosial seperti : ketrampilan komunikasi, membina kepercayaan, memimpin, membuat keputusan, mengelola konflik dll.
e)     Proses dalam grup (Group Process) guru harus memperhatikan proses yang terjadi :bagaimana cara siswa meningkatkan kerjasama, melibatkan semua anggota tim.[7]                    
3.     Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning          
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan gabungan teknik instruksional dan filsafat mengajar yang mengembangkan kerjasama antar peserta didik untuk memaksimalkan pembelajaran peserta didik sendiri dan belajar dari temannya.
Cooperative learning mempunyai tujuan pembelajaran yang penting yang man dapat di resume yaitu:[8]
a)   Mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik yakni meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan normal yang berhubungan dengan hasil belajar
b)   Dapat menerima secara luas dari orang yang berbeda berdasarkan ras budaya, kelas social, kemampuan dan ketidak mampuannya.
c)   Mengajarkan kepada siswa ketrampilan bekerja sama dan kolaborasi.

4.     Langkah – langkah  Pembelajaran  Kooperatif                   
Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai. Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. Guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individu maupun kelompok.  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempersentasekan hasil kerjanya. Keempat langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif di atas diuraikan sebagai berikut:
1)        Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran. Guru juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan oleh guru selama berlangsungnya proses pembelajaran. Selain itu, guru juga mengorganisir materi tugas-tugas yang dikerjakan bersama-sama dalam dimensi kerja kelompok oleh siswa melalui keaktifan semua anggota kelompok.
2)        Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam penyampaian materi pelajaran, pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan siswa ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan konsepsi guru terhadap siswa secara individual sangat menentukan kebersamaan dari kelompok yang dibentuk oleh guru dalam proses pembelajaran.
3)        Dalam melakukan kegiatan observasi terhadap siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa, baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran.
4)        Langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempersentasekan hasil kerjanya. Guru juga memberikan penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku sosial yang dikembangkan dan dilatih oleh para siswa dalam kelas.[9]
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yang terdiri atas 6 langkah, yaitu:
1)     Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
2)     Menyajikan informasi
3)     Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4)     Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
5)     Evaluasi
6)     Memberikan penghargaan[10]
Langkah-langkah di atas menunjukkan bahwa pelajaran dimulai yaitu guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Langkah terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu agar siswa dapat termotivasi dalam mengikuti model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok. Jadi pembelajaran kooperatif sangat positif dalam menumbuhkan kebersamaan dalam belajar pada setiap siswa sekaligus menuntut kesadaran dari siswa untuk aktif dalam kelompok, karena jika ada siswa yang pasif dalam kelompok maka hal itu dapat mempengaruhi kualitas pelaksanaan pembelajaran kooperatif khususnya berkaitan dengan rendahnya kerjasama dalam kelompok.





5.     Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif
a.     Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Heads Together).
Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen. Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan tipe NHT:[11]
a)     Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b)     Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
c)     Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
d)     Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
e)     Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
f)      Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
g)     Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual.
h)     Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
b.     Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang digunakan untuk mendukung dan memotivasi siswa mempelajari materi secara berkelompok. Tipe STAD dikembangkan oleh Slavin (1995) dan merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pada proses pembelajaran kooperatif tipe STAD, melalui lima tahapan, lebih jelasnya tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran tersebut adalah:[12]
a)     Tahapan penyajian materi, yang mana guru memulai dengan menyampaikan indikator yang harus dicapai dan memotivasi rasa ingin tahu siswa tetang materi yang akan dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi dengan tujuan mengingatkan siswa terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari, agar siswa dapat menghubungkan materi yang akan disajikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Lamanya penyajian materi bergantung dengan kekomplekan materi yang akan di bahas. Dalam pengembangan materi pembelajaran perlu ditekankan hal-hal sebagai berikut (a) mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang dipelajari siswa dalam kelompok, (b) menekankan bahwa belajar adalah memahami makna, dan bukan hapalan, (c) memberikan umpan balik sesering mungkin untuk mengontrol pemahaman siswa, (d) memberikan penjelasan mengapa jawaban itu benar atau salah.
b)     Tahap kerja kelompok, pada tahap ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yang harus dipelajari. Dalam kerja kelompok siswa saling berbagi tugas, saling membantu memberikan penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.
c)     Tahap tes individu, yaitu untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan tes secara individual, mengenai materi yang telah dibahas. Skor perolehan individu ini didata dan diarsipkan, yang akan digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok dan tes dilaksanakan secara tertulis melalui tatap muka di kelas.
d)     Tahap perhitungan skor perkembangan individu, dihitung berdasarkan pada skor tes awal. Berdasarkan skor tes awal setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperolehnya. Penghitungan perkembangan skor individu dimaksud agar siswa terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuanya.
Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a)     Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
c)     Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender.
d)     Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi.
e)     Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f)      Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
g)     Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
c.      Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction).
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut:[13]
a)     Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
b)     Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
c)     Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender.
d)     Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
e)     Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f)      Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
g)     Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
d.     Model Pembelajaran Kooperatif: Think-Pair-Share
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share “merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan”[14]. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Dari cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan, dan saling tergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
Langkah-langkah pelaksanaan antara lain:
a)     Guru menyampaikan inti materi atau komptensi yang ingin dicapai.
b)     Siswa diminta untuk berfikir tentang materi atau permasalahan yang disampaikan guru.
c)     Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok dua orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
d)     Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
e)     Berawal dari kegiatan tersebut, guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkap siswa.
f)      Guru memberikan kesimpulan.
g)     Penutup.
e.     Model Pembelajaran Kooperatif : Picture and Picture.
Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Langkah-langkah pelaksanaannya:
a)     Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b)     Menyajikan materi sebagai pengantar.
c)     Guru menunjukkan atau memperlihatkan gamabar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi.
d)     Guru menunjuk atau memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar menjadi urutan yang logis.
e)     Guru menanyakan alasan/ dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
f)      Dari alasan/ urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
g)     Kesimpulan.
f.      Tipe Pembelajaran Jigsaw 
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong peserta didik aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam model belajar ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas Jhon Hopkins. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi pembelajaran dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Biasanya, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok lain.[15]
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, peserta didik saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk peserta didik yang beranggotakan peserta didik dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam, kelompok ini disebut juga home teams. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli atau kelompok pakar (expert group), yaitu kelompok peserta didik yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.[16]
Proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe jigsaw bertujuan untuk merangsang dan menggugah potensi peserta didik secara optimal dalam suasana belajar pada kelompok-kelompok kecil yang bervariasi kemampuan dan jenis kelaminnya. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik pada saat belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan atau hubungan pribadi yang saling membutuhkan, serta demokrasi antara pendidik dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik sehingga lebih memungkinkan peningkatan prestasi belajar, pengembangan nilai, sikap, moral dan ketrampilan sosial.   


Gambar 2.1.  Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBKaXl7MyJEgqlUk5OX4RJ_5mmHNz3fxlBQPkzgc7lIYMiEBat5NwV5k5w_ChICXkbbh-6jSsLn33-hZGT2K_MZN_FET1-hnDhX_CWeGjH1papho1igCmZVhXm2BZpO4WOB1yJxT2v4O0v/s320/gambar+jigsaw.bmp 
skema pembelajaran jigsaw
Keterangan :
Baris I dan III  :  Kelompok Asal
Baris II             :  Kelompok Ahli

C.    Hasil Belajar IPA
Menurut Sardiman A. R. Dalam buku Interaksi dan Motivasi Belajar bahwa “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.”[17] Sedangkan M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan mendefinisikan “Belajar sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah pada tingkah laku yang lebih baik. Tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.”[18]
Penjelasan kedua definisi tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan berupa tindakan sehingga diperoleh pengetahuan yang baru untuk mencapai perubahan tingkah laku. Sebagai salah satu bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, yang awalnya tidak faham dengan belajar seseorang menjadi faham. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.[19]
Hasil belajar pada hakikatnya merupakan kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Berdasarkan pendapat diatas, yang dimaksud hasil belajar IPA adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk simbol,  angka, huruf maupun kalimat dalam rangka mengaktualisasikan dan mempotensikan diri lewat belajar IPA.

D.    Materi Makhluk Hidup                                                  
Adapun materi makhluk hidup yang penulis maksudkan adalah Ikan hidup di air jika ikan di pindahkan ke tanah ikan akan mati. Ada yang hidup di air asin atau laut yaitu kepiting,udang dan gurita dan pada air tawar ada ikan mujair dan beragam macamnya. Selain di air ada yang di darat dan beragam jenisnya seperti,domba. Selain di darat ada juga yang di tanah yaitu cacing tanah akan membuat tanah menjadi gembur. Ada juga hewan yang bisa hidup di darat dan di air yaitu katak.






               [1] Mutadi, Pendekatan Efektif Dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: PUSDIKLAT
Tenaga Teknis Keagamaan-DEPAG, 2007), hal. 14.
               [2] Rachmadi Widdiharto, Model-model Pembelajaran Matematika SMP, (Yogyakarta:
PPPG, 2004), hal. 13.
               [3] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Cet. 3, (Jakarta: Kencana, 2007), hal. 122.
               [4] Ibid., hal. 244.
               [5] Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, terj. Nurulita Yusron
(Bandung: Nusa Media, 2008), hal. 33.
               [6] Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruangruang
Kelas, (Jakarta: Gramedia, 2004), hal. 28.
               [7] Anita Lie,. Cooperative Learning, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana. 2002), hal.
30.
               [8] Agus. Suprioso,.Cooperative Learnig Teori dan Aplikasi PAIKEM,  (Jogyakarta: Pustaka Pelajaran, 2009), hal. 65.
               [9] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Cet. 1,
hal. 40.
               [10] Rachmadi Widdiharto, Model-model Pembelajaran Matematika SMP, (Yogyakarta:
PPPG, 2004), hal. 13.
               [11] Triyanto, Mendesain model pembelajaran inovatif progresif, (Surabaya: Kencana Prenada Media Grup,  2009), hal. 19.
               [12] Wena Made, Strategi Pembelajaran Inivatif Kontenporer, (Jakarta: timur Bumi Aksara, 2011), hal. 31.
               [13] Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal. 27.
               [14] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2005), hal. 39.
               [15] Novi Emildadiany, “Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik
Jigsaw dalam Pembelajaran”, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/31/ cooperativelearning-teknik-jigsaw/, hlm. 6 (diakses tanggal 10 Oktober 2009).
               [16] Muslimin Ibrahim, et.al., Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya, 2000), hal. 6.
               [17] Sardiman AM, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: CV. Rajawali, 1992), hal. 20.
               [18] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal. 84-85.
               [19] Asep Jihad, Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multipresindo, 2008), hal. 14.

Post a Comment for "Pembelajaran IPA"