Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A.
Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya
menjadi orang yang berkepribadian baik, sikap mental yang sehat serta akhlak
yang terpuji. Orang tua sebagai pembentuk pribadi yang pertama dalam kehidupan
anak, dan harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Sebagaimana yang
dinyatakan oleh Zakiyah Daradjat, bahwa “Kepribadian
orang tua, sikap dan cara hidup
merupakan unsur-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk ke dalam
pribadi anak yang sedang tumbuh.[1] Dalam
mendidik anak, terdapat berbagai macam bentuk pola asuh yang bisa dipilih dan
digunakan oleh orang tua. Sebelum berlanjut kepada pembahasan berikutnya,
terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dari pola asuh itu sendiri.
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu “pola” dan “asuh”. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, “pola berarti corak, model,
sistem, cara kerja, bentuk
(struktur) yang tetap”.[2] Sedangkan
kata “asuh dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan
sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau
lembaga”.[3] Lebih jelasnya
kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan,
dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya
secara sehat.[4]
Menurut Dr. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. Yatim-Irwanto “Pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.[5]
Dalam mengasuh anak orang tua bukan hanya mampu
mengkomunikasikan fakta, gagasan, dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuhkembangkan
kepribadian anak[6].
Pendapat tersebut merujuk pada teori Humanistik yang menitikberatkan pendidikan
bertumpu pada peserta didik. Artinya anak perlu
mendapat perhatian dalam membangun sistem pendidikan. Apabila anak telah
menunjukkan gejala-gejala yang kurang baik, berarti mereka sudah tidak
menunjukkan niat belajar yang sesungguhnya. Kalau gejala ini dibiarkan terus
akan menjadi masalah di dalam mencapai keberhasilan belajarnya.
Menurut Clemes bahwa terjadinya penyimpangan
perilaku anak disebabkan kurangnya ketergantungan antara anak dengan orang tua.
Hal ini terjadi karena antara anak dan orang tua tidak pernah sama dalam segala
hal. Ketergantungan anak kepada orang tua ini dapat terlihat dari keinginan
anak untuk memperoleh perlindungan, dukungan, dan asuhan dari orang tua dalam
segala aspek kehidupan. Selain itu, anak yang menjadi “masalah” kemungkinan
terjadi akibat dari tidak berfungsinya sistem sosial di lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan kata lain perilaku anak merupakan reaksi atas perlakuan lingkungan
terhadap dirinya[7].
Penanganan terhadap perilaku anak yang menyimpang
merupakan pekerjaan yang memerlukan pengetahuan khusus tentang ilmu jiwa dan
pendidikan. Orang tua dapat saja menerapkan berbagai pola asuh yang dapat
diterapkan dalam kehidupan keluarga. Apabila pola-pola yang diterapkan orang
tua keliru, maka yang akan terjadi bukannya perilaku yang baik, bahkan akan
mempertambah buruk perilaku anak.
Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang
tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal
dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku di lingkungannya. Ini disebabkan oleh orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan
pribadi anak.
Bentuk-bentuk pola asuh orang tua sangat erat
hubungannya dengan kepribadian anak setelah ia menjadi dewasa. Hal ini
dikarenakan ciri-ciri dan unsur-unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya
sudah diletakkan benih-benihnya ke dalam jiwa seorang individu sejak sangat
awal, yaitu pada masa ia masih kanak-kanak. Watak juga ditentukan oleh
cara-cara ia waktu kecil diajar makan, diajar kebersihan, disiplin, diajar main
dan bergaul dengan anak lain dan sebagainya. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat dominan dalam membentuk
kepribadian anak sejak dari kecil sampai anak menjadi dewasa.
Di dalam mengasuh anak terkandung pula pendidikan,
sopan santun, membentuk latihan-latihan tanggung jawab dan sebagainya. Di sini
peranan orang tua sangat penting, karena secara langsung ataupun tidak orang
tua melalui tindakannya akan membentuk watak anak dan menentukan sikap anak
serta tindakannya di kemudian hari[8]. Masing-masing orang
tua tentu saja memiliki pola asuh tersendiri dalam mengarahkan perilaku anak.
Hal ini sangat dipengaruh oleh latar belakang pendidikan orang tua, mata
pencaharian hidup, keadaan sosial ekonomi, adat istiadat, dan sebagainya.
Dengan kata lain, pola asuh orang tua petani tidak sama dengan pedagang.
Demikian pula pola asuh orang tua berpendidikan rendah berbeda dengan pola asuh
orang tua yang berpendidikan tinggi. Ada yang menerapkan dengan pola yang
keras/kejam, kasar, dan tidak berperasaan. Namun, ada pula yang memakai pola
lemah lembut, dan kasih sayang. Ada pula yang memakai sistem militer, yang
apabila anaknya bersalah akan langsung diberi hukuman dan tindakan tegas (pola
otoriter). Bermacam-macam pola asuh yang diterapkan orang tua ini sangat
bergantung pada bentuk-bentuk penyimpangan perilaku anak.
Orang tua dapat memilih pola asuh yang tepat dan
ideal bagi anaknya. Orang tua yang salah menerapkan pola asuh akan membawa
akibat buruk bagi perkembangan jiwa anak. Tentu saja penerapan orang tua
diharapkan dapat menerapkan pola asuh yang bijaksana atau menerapkan pola asuh
yang setidak-tidaknya tidak membawa kehancuran atau merusak jiwa dan watak
seorang anak.
Jadi pola asuh orang tua adalah suatu
keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud
menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta
nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri,
tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.
[3] TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1988), hal. 692.
[4]
Elaine Donelson, Asih, Asah, Asuh Keutamaan Wanita, Cet. I, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 5.
[5]
Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, Cet. Ke-1, (Jakarta: Arcan, 1991), hal. 94.
[6]
Riyanto, Theo. Pembelajaran Sebagi Proses Bimbingan Pribadi, (Jakarta: Gramediaa Widiasarana Indonesia, 2002), hal. 39.

Post a Comment for "Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga"