Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Signifikan Pendidikan Dayah dalam Mengembangkan Pendidikan Agama Islam di Aceh


A.    Signifikan Pendidikan Dayah dalam Mengembangkan Pendidikan Agama Islam di Aceh        


Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang salah satu tujuannya adalah mempersiapkan generasi penerus yang mengetahui dan mengamalkan segala ajaran agama Islam secara baik. Sesuai dengan pengertian dayah itu sendiri, yaitu sudut atau pojok. Sebagai lembaga pendidikan, dayah memang berasal dari pengajian-pengajian yang diadakan di sudut-sudut mesjid yang merupakan lembaga pendidikan yang paling tua dalam Islam. Dalam bahasa Aceh perkataan zawiyah akhirnya berubah menjadi dayah karena dipengaruhi oleh bahasa Aceh yang pada dasarnya tidak memiliki huruf Z dan cenderung lebih memendekkan. Di samping istilah dayah berasal dari zawiyah itu, lembaga pendidikan tradisional di Aceh sekarang ini disebut juga dengan pasantren yang terdiri dari khazanah bahasa Sanskerta yang dipakai untuk lembaga pendidikan tradisional yang sama di Jawa.[1]
Semenjak dahulu masyarakat Aceh mengenal pasantren dengan nama dayah atau rangkang, sehingga dalam penulisan ini kata pesantren diidentikkan dengan kata dayah. Dayah atau rangkang ini dikenal oleh masyarakat Aceh semenjak masuknya Islam ke Aceh. Hal ini sesuai dengan pendapat A. Hasjmi sebagai berikut:
Para ahli sejarah muslim Indonesia telah sepakat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia melalui Negeri Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Kerajaan Peureulak diresmikan sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara pada tanggal 1 Muharram 225 H. sekitar tahun 854 M, dengan sultan Said Abdul Aziz Syah. Di negeri inilah pertama kali diresmikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Dayah Cot Kala yang dipimpim ulama besar Teuku Chik Muhammad Amin.[2]

Dayah merupakan lembaga pendidikan Islam yang banyak menciptakan ulama, juru dakwah, pendidik, dan pemimpin yang berwawasan luas, sehingga mampu memecahkan berbagai persoalan umat serta mampu berhadapan dengan cobaan-cobaan dan rintangan dalam usaha menyebarluaskan agama Islam ke seluruh penjuru tanah air. Ulama dan muballigh yang telah menamatkan studinya di suatu dayah kembali mendirikan dayah atau pesantren yang baru di daerah asalnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan A. Hasjmi sebagai berikut:
Dayah Cot Kala adalah pusat pendidikan yang banyak menghasilkan ulama, juru dakwah, dan pemimpin yang sangat berperan dalam pembangunan kerajaan Peureulak, Samudra Pase, Beunua (Tamiang), Lingga, Pidie, Daya dan Lamuri. Sebagai contoh Teungku Kawee Teupat, dan Teungku Chik lampeuneu’eun. Teungku Kawee Teupat adalah keluaran Dayah Cot Kala, pindah ke Aceh Tengah, dan membangun kerajaan Islam Lingga pada tahun 416 H. atau 1025 M. sedangkan teungku Chik Lampeuneu’eun yang orang tuanya berasal dari Kan’an Palestina, setelah menamatkan pendidikannya di Cot Kala, pindah ke Lamuri, Aceh Besar dan menjadi pendakwah yang pertama di Aceh Besar.[3]

Sejarah permulaan Dayah di Aceh berlangsung dalam keadaan sangat sederhana. Hal ini dapat dilihat dari keadaan tempat yang digunakan adalah hanya mesjid-mesjid dan diikuti oleh beberapa orang saja, seperti Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan yang didirikan oleh Syech Muhammad Wali al-Khalidy pada tahun 1931. Namun, sekarang Dayah Labuhan Haji semakin maju dan sangat berpengaruh dan memiliki 2000 santri dengan 300 orang guru.[4]
Sampai sekarang ini, pendidikan sistem dayah di Aceh mengalami berbagai fenomena baru yaitu munculnya berbagai pesantren atau dayah yang bersifat terpadu yang mengambil pola-pola perubahan yang telah dilakukan di Jawa. Di antara dayah terpadu yang sangat menonjol sekarang ini di Aceh adalah Madrasah Bustanul Ulum Langsa Aceh Timur, dan Dayah Jeumala Amal di Lueng Putu Kabupaten Pidie.
Dayah Bustanul Ulum Langsa didirikan pada tahun 1961 pada mulanya hanyalah sebuah dayah tradisional biasa seperti dayah-dayah tradisional lainnya, tetapi pada tahun 1985 Dayah ini dimodernisir dengan konsep terpadu yang memadukan  pendidikan  Dayah  dengan  pendidikan madrasah yang ada di bawah Departemen Agama. Dengan menggunakan administrasi dan pendidikan sistem sekolah, ternyata masyarakat menaruh minat yang luar biasa terhadap lembaga pendidikan dayah yang terpadu ini, sehingga sekarang mempunyai santri lebih seribu orang.[5]
Lahirnya pendidikan terpadu ini nampaknya tidak terlepas dari pembaharu-pembaharu yang dialami oleh pendidikan pesantren di Jawa. Salah satunya adalah pesantren modern Gontor di Jawa Timur. Pesantren ini menggunakan sistem pendidikan madrasah, dengan menerapkan disiplin belajar dan penerapan ibadah secara praktis dan sistematis. Sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren modern Gontor dalam komplek asrama. Santri digodok dalam satu lingkungan sosial keagamaan yang kuat dengan ilmu agama serta dengan ilmu pengetahuan umum.[6]
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa, sejarah dan perkembangan pesantren atau dayah diawali oleh perkembangan agama Islam di bumi Nusantara dan merupakan suatu langkah yang ditempuh untuk menarik umat dalam menyebarluaskan agama Islam, yaitu melalui pembukaan dan pembinaan pesantren dengan cara mengumpul atau memondokkan sejumlah santri untuk menerima pendidikan Islam di bawah bimbingan kyai atau ulama. Para santri yang telah lama belajar di pesantren atau dayah diharapkan mampu menguasai pengetahuan agama, sehingga dapat mewarisi ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.
Memperhatikan perkembangan pesantren, maka nampak jelas peranannya dalam usaha pembinaan pendidikan terhadap masyarakat, terutama dalam membina generasi muda. Dalam hal ini dayah telah banyak menampakkan hasil-hasil positif. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peminat untuk menempuh jalur pendidikan di Dayah-dayah. Dayah pada masa sekarang juga sangat berperan dalam menanggulangi tindakan dekadensi moral dan kriminal di kalangan generasi muda. Dengan demikian, secara langsung dayah dapat dikatakan sebagai lembaga yang dapat menyukseskan program-program pemerintah.
Pemerintah juga sangat besar memberikan perhatian terhadap perkembangan Dayah. Salah satu bentuk perhatian pemerintah dengan cara memberikan bantuan-bantuan kepada pesantren modern yang memadukan program pesantren dengan program-program pemerintah. Bentuk lain dari perhatian pemerintah adalah adanya pengadaan seminar-seminar tentang pendidikan dayah yang tujuannya untuk mengembangkan pendidikan dan pengajaran di dayah, terutama mengenai pengembangan kurikulum dayah.
Dalam perkembangan dayah masa sekarang ini dapat dilihat mulai mendirikan Madrasah dalam komplek dayah. Sebagian lagi ada juga yang mendirikan lembaga pendidikan umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bukan berarti sistem pendidikan agama yang berada di bawah Departemen Agama. Dengan kata lain, Dayah di samping mendirikan madrasah, juga mendirikan sekolah-sekolah umum dengan kurikulum yang diatur oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.[7]           



[1]Majelis Pendidikan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Perkembangan Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh, (Banda Aceh: Gua Hira’, 1995), hal. 61.

[2]A. Hasjmi, Pendidikan Islam di Aceh dalam Perjalanan Sejarah, (Banda Aceh: Yayasan Pembina, 1977), hal. 11.
[3]A. Hasjmi, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, (Jakarta: Beuna, 1993), hal. 226.

[4]Forum Keadilan, Potret Pesantren di Indonesia, (Jakarta: Forum Adil Mandiri, 2001), hal. 104.
[5]Majelis Pendidikan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Perkembangan Pendidikan…, hal. 87.

[6]H. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 241.
[7]Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesatren; Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 19.


Post a Comment for "Signifikan Pendidikan Dayah dalam Mengembangkan Pendidikan Agama Islam di Aceh "