Strategi dan Media Pembelajaran Bahasa Arab Yang Efektif
. Strategi dan Media Pembelajaran
Bahasa Arab Yang Efektif
Pada
hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi antara pihak
guru atau pendidik dengan peserta didik untuk mencapai suatu tujuan
pembelajaran. Proses komunikasi (proses penyampaian pesan) harus diciptakan
atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau
informasi oleh setiap guru dan peserta didik, pesan atau informasi dapat berupa
ide, fakta, arti dan data. Melalui proses komunikasi, pesan atau informasi
dapat diserap dan dihayati orang lain agar tidak terjadi kesesatan dalam proses
komunikasi. Untuk itu perlu digunakan sarana yang membantu proses komunikasi
yang disebut media. Dalam proses belajar mengajar media yang digunakan untuk
mempermudah komunikasi belajar mengajar disebut media pembelajaran.
Media
pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil
instruksional secara efektif dan efisien, serta tujuan instruksional dapat
dicapai dengan mudah.
Media
sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar merupakan suatu kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri. Kehadirannya mempunyai arti yang sangat penting, karena
pada dasarnya setiap materi pembelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang
bervariasi. Pada satu sisi ada materi pelajaran yang tidak memerlukan media,
namun di sisi lain ada materi pelajaran yang sangat memerlukan media. Materi
pelajaran bahasa Arab misalnya, menurut anggapan sebagian siswa memiliki
tingkat kesukaran lebih tinggi dibandingkan dengan pelajaran dan bahasa
lainnya. Dalam hal ini kehadiran media sangat dibutuhkan untuk mempermudah
pemahaman siswa terhadap materi tersebut. Kesulitan materi disampaikan oleh
guru kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Melalui media keabstrakan
bahan dapat dikonkretkan. Dengan demikian, siswa lebih mudah mencerna bahan
dengan adanya bantuan media. Media pengajaran mempunyai pengaruh yang sangat
besar bagi indera manusia dan lebih dapat menjamin pemahaman seseorang. Orang
yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dibandingkan dengan
mereka yang melihat, atau melihat sekaligus mendengarkan.
Secara
umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan
dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum
kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.[1]
Di
sekolah guru digalakkan untuk menggunakan berbagai strategi pengajaran dan
pembelajaran untuk mengoptimalkan pembelajaran. Strategi yang dicadangkan
berazaskan pada suatu komitmen dari
pemusatan guru dan pemusatan pelajar. Strategi
yang dipilih untuk pengajaran dan pembelajaran efektif mesti memenuhi keperluan
pelajar dan sesuai dengan iklim sekolah.
Adapun
jenis-jenis Strategi pembelajaran adalah sebagai berikut:
- Strategi direktif
Pelajar belajar melalui
penerangan tentang konsep/kemahiran oleh guru dan diikuti oleh ujian kepahaman
dan latihan dengan bimbingan guru.
- Strategi pemerhatian
Pelajar belajar dengan
memperhatikan perbuatan orang lain atau perlakuan suatu kemahiran.
- Strategi mediatif
Pelajar belajar melalui
interaksi yang dirancang oleh guru untuk menolong pelajar yang meliputi:
a. Belajar mengaplikasikan
pengetahuan untuk menyelesaikan masalah
b. Membuat
keputusan
c. Mengenal pasti
andaian
d. Menilai
kebenaran andaian, keputusan dan hipotesis.
- Strategi generative
Siswa digalakkan untuk
menyampaikan ide kritis dan kreatif. Strategi ini membantu siswa untuk
menyelesaikan masalah secara kreatif dengan menggunakan ide asli atau unik.
- Strategi kolaboratif
Siswa bekerja sama dalam
kumpulan untuk menyelesaikan masalah.
- Strategi outside
Siswa belajar melalui
aktiviti yang berfokus dan intensif dalam satu tempo masa.
- Strategi metakognitif
Siswa memikirkan tentang
proses pembelajaran, rancangan pembelajaran, pemantau dan penilaian mandiri.[2]
Dari
wacana pembelajaran yang telah dikemukakan tersebut dikembangkan ke dalam peran
dan fungsi strategi pembelajaran. Abin Syamsuddin makmun mengemukakan empat
peran penggunaan strategi pembelajaran, yaitu:
1.
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi hasil (out put) dan saran (target) yang harus dicapai, dengan
mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan
utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah
(steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur
(criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf
keberhasilan (achievement) usaha.[3]
Berdasarkan keempat
peran strategi pembelajaran tersebut, maka lahirkan beberapa fungsi strategi
pembelajaran sebagai berikut:
1.
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan
pembelajaran yakni perubahan propil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan
pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah
atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran
keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.[4]
Untuk
menghindari pemakaian bahasa ibu (bahasa daerah atau Indonesia ) dalam proses pengajaran
bahasa arab maka diperlukan alat peraga yang akan membantu guru dalam menerangkan arti setiap kalimat
baru yang belum diketahui oleh peserta didik.
Yang dimaksud dengan alat peraga (wasail idhah) dalam
pembahasan ini adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk membantunya
dalam memahamkan peserta didik akan hal-hal baru yang terkadang mereka
mengalami kesulitan dalam memahaminya, maka adakalanya guru mengambil alat
peraga ini dari sesuatu yang pernah dan sudah diketahui oleh peserta didik atau
yang berhubungan dengan panca indra dan mudah untuk dipahami.[5]
Oleh karenanya penggunaan alat peraga (wasail idhah) ini
merupakan implementasi dari prinsip-prinsip pokok pengajaran yaitu pengajaran
secara bertahap dari sesuatu yang diketahui menuju kepada yang belum diketahui,
dari pengamatan menuju kepad pemikiran dan seterusnya.
Dalam suatu proses belajar mengajar ada dua unsur yang amat penting yaitu metode pembelajaran
dan media pengajaran. Kedua unsur ini saling berkaitan. Pemilihan suatu metode
mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai.
Media pengajaran dalam proses pembelajaran dapat
membangkitkan keinginan dan minat yang baru, motivasi dan rangsangan pada tahap
orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian
pesan dan isi pembelajaran pada saat itu.[6]
Adapun manfaat
alat peraga (wasail idhah):
1. Alat peraga merupakan media sukses paling
penting dalam mengatasi berbagai kesulitan dan menjelaskan berbagai persoalan
pembelajaran, yang mana media ini mengatur dan membatasi pemikiran peserta
didik agar tidak berpikir tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan
akalnya, juga memberikan gambaran yang jelas tentang materi yang diajarkan.
- Media penolong guru dalam mempermudah proses pembelajaran dan
menjadikannya sebagai sesuatu yang hidup dan menarik di samping
keberadaannya juga membuat proses belajar lebih jelas, bermutu dan
terarah.
- Memberikan impuls kepada peserta didik untuk belajar dan menumbuhkan
instink cinta menelaah dan mempelajari berbagai hal, dengan demikian alat
peraga ini tidak hanya memperkuat konsentrasi peserta didik semata tetapi
lebih jauh lagi ia menjadi landasan utama terciptanya konsentrasi.
- Optimalisasi penggunaan alat peraga ini akan sangat membantu guru
dalam membentuk kebiasaan peserta didik untuk mengekspresikan pendapat,
pemikiran dan pengamatan.
- Memungkinkan guru untuk menjadikan alat peraga ini sebagai media
untuk menumbukan kekuatan perhatian, mempertahankan kepekaan dan
membiasakannya serta ketelitian dan ketanggapan.[7]
Jenis-jenis alat peraga
(wasail idhah) dan kelebihannya masing-masing:
- Indrawi (hissiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan akal dengan
menggunakan indra sebagai medianya dengan menampilkannya atau sesuatu yang
semisalnya atau gambar atau sejenisnya.
- Orally (lughawiyah): sesuatu yang mempengaruhi kekuatan akal dengan
menggunakan kata-kata (ungkapan) sebagai medianya dengan menyebutkan
contoh atau definisi atau penjelasannya.[8]
Dalam
penggunaannya dua jenis alat peraga (wasail idhah) tersebut memiliki kelebihan
satu atas lainnya, diantara kelebihan disini adalah:
1.
Kelebihan alat peraga indrawi (hissiyah)
a.
Memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indra untuk
memahami sesuatu objek, contoh: seorang peserta didik yang melakukan eksperimen
tentang sesuatu materi, maka ia akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam
daripada mempelajarinya dalam bentuk teori saja, atau seseorang yang
mengunjungi suatu daerah dimana ia menyaksikan pemandangan alam yang indah
dengan hamparan sawah yang menghijau, sungai yang mengalir jernih, disertai
dengan udara yang sejuk, kemudian ia berinteraksi dengan penduduknya maka
terciptalah komunikasi verbal antara mereka sehingga pengetahuan tentang adat
istiadat daerah tersebut dengan letak geografisnya lebih dalam dibandingkan
dengan hanya mendengar, begitu pula seseorang yang berkunjung ke situs-situs
bersejarah dia akan menemukan keterangan yang lebih lengkap dibandingkan dengan
orang yang hanya membaca buku sejarahnya, ataupun seseorang yang tahu arti kata
asad (singa), setelah ia menyaksikan bentuk aslinya dia akan mendapatkan
pengertian sempurna dari kata itu, sehingga dikatakan dalam sebuah ungkapan
"maka tidaklah sama (pengetahua) orang yang melihat langsung dengan orang
yang hanya mendengar".
b.
Merupakan media terbaik bagi seorang guru untuk
mengetahui tingkat pengetahuan peserta didik terhadap inti pelajaran, karena
seorang pelajar ketika ditanya tentang apa yang dia pahami dari apa yang dia
saksikan contohnya atau gambarnya dan menjawab dengan menggunakan ungkapannya
sendiri menunjukkan tingkat pemahamannya yang sempurna, tetapi manakala seorang
guru hanya menerangkan saja dengan bahasa lisan terkadang peserta didik
menghafal apa yang ia dengar, sehingga manakala ia ditanyai ia akan menjawab
dengan apa yang ia hafalkan tak ubahnya seekor boe yang berceloteh tanpa
mengetahui arti celotehannya itu, hal ini menyulitkan seorang guru untuk
mengukur kemampuan peserta didik.
2.
Kelebihan alat peraga orally (lughawiyah)
a.
Akselerasi tinggi, karena mengucapkan suatu kata
memerlukan waktu yang lebih singkatdaripada memberikan contoh dalam bentuk
gambar atau menirukan gambarnya, dan bercerita tentang sesuatu lebih cepat
dibandingkan dengan harus menyaksikannya secara langsung.
b.
Faktor kemudahan, penggunaan bahasa sebagai media
penerangan tidak memerlukan banyak usaha melainkan hanya dengan menggerakkan
lidah dan bibir.
c.
Menunjukkan pengertian secara universal, contoh: kata
asad (singa) menunjukkan arti setiap jenis dari kelompok hewan buas yang
diketahui. Berbeda dengan alat peraga (wasail idhah) hissiyah yang hanya
menunjukkan arti parsial, maka asad (singa) atau gambarnya atau tiruan
gambarnya yang ditunjukkan pada peserta didik hanya terfokus pada apa yang ada
di depan mata.
Adapun jenis
alat peraga (wasail idhah) lughawiyah adalah: contoh-contoh, perumpamaan,
perbandingan, penjelasan, deskripsi, dan cerita. Adapun strategi pengajaran
kaidah bahasa arab:
- Sebelum memulai pelajaran, guru mempersiapkan sejumlah contoh yang
berhubungan dengan materi yang hendak diajarkan.
- Guru menuliskan contoh-contoh itu di atas papan tulis dan peserta
didik memperhatikannya.
- Guru menulis contoh-contoh lain yang menjadi perbandingan dari
contoh pertama dan mendekati pada pengertian kaidah.
- Guru meminta peserta didik untuk menerangkan kata-kata di dalam contoh
yang tertulis, seandainya tidak memungkinkan guru membimbingnya dengan
pertanyaan.
- Guru menulis kaidah yang disimpulkan dari contoh-contoh itu di papan
tulis.
- Guru meminta peserta didik untuk memberikan contoh dari mereka
sendiri sesuai dengan kaidah yang telah didapatkan.
- Guru memberikan peserta didik kata-kata untuk diletakkan dalam
kalimat sempurna sesuai dengan kaidah.Guru memberikan kalimat-kalimat
sempurna dan meminta peserta didik untuk menerangkan kaidahnya sesuai
dengan yang telah dipelajari.
Memilih
strategi belajar mengajar sama pentingnya dengan memilih bahan yang dapat
memotivasi siswa. Media belajar tidak hanya dipahami sebagai sejumlah benda
mati, namun juga berupa makhluk hidup, termasuk manusia. karena itu, upaya
pengelompokan media belajar oleh guru BAHASA ARAB akan sangat membantu
dalam pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan belajar dari setiap pertemuan
jam pelajaran. Pengelompokan media belajar bidang studi BAHASA ARAB antara
lain dapat dilihat sebagai berikut ini.
- Lingkungan alam
Media belajar ini berupa
benda-benda alami yang ada di sekitar madrasah, seperti batu, tumbuhan, sawah,
sungai, dan sebagainya. Jenis media belajar ini dapat dimanfaatkan untuk mengasah semua jenis kecerdasan peserta
didik, misalnya linguistic, spasial, musical, kinestesis-jasmani,
interpersonal, dan natural.
- Perpustakaan
Media belajar jenis ini
berupa barang cetakan yang tersedia di perpustakaan, seperti buku, majalah,
jurnal, dan laporan-laporan penelitian.
- Media cetak
Media cetak yang
dimaksud di sini tidak dalam pengertian yang sudah tersedia di perpustakaan, namun media cetak yang ada
di luar, misalnya koran, majalah, dan buku.
- Karya peserta didik
Media belajar ini adalah
sejumlah media yang diciptakan oleh peserta didik, misalnya lukisan, peta, dan alat
peraga lain.
- Media elektronik
Media belajar ini berupa
alat elektronik, baik dibuat sendiri maupun yang sudah tersedia, misalnya
radio, televise, computer, internet, dan antena para bola.
Media
yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran ialah buku ajaran, buku acuan,
majalah, dan sebagainya. Kegagalan memakai media untuk memperbaiki mengajar
biasanya disebabkan oleh rancangan program yang belum tepat. Oleh sebab itu
seorang guru diharapkan dapat memilih metode yang sesuai dengan materi yang
akan diuraikan karena metode ini merupakan pangkalan utama dalam menentukan
media yang akan digunakan.
Penggunaan
media pengajaran oleh guru sangat berperan dalam proses pembelajaran. Hubungan
guru dan siswa tetap merupakan elemen penting dalam sistem pendidikan pada saat
ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan
media apa saja agar dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan
perorangan siswa. Beberapa manfaat praktis dari penggunaan media dalam proses
belajar mengajar, adalah sebagai berikut:
- Media pengajaran dapat
memperjelas penyediaan pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan
meningkatkan hasil belajar.
- Media pengajar dapat
meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan
motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan
lingkungan siswa untuk belajar sendirinya sesuai dengan kemampuan dan
minatnya.
- Media dapat mengatasi
keterbatasan indra luang dan waktu.
- Media pengajaran dapat
memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di
lingkungan mereka serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan
guru masyarakat dan lingkungan.[9]
Penggunaan
media pembelajaran adalah bertujuan untuk mengubah sikap atau ingin secara
langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa dan dapat mengarahkan,
mempengaruhi proses belajar melalui bimbingan dari waktu ke waktu yang terjadi
pada lingkungan sekolah, dalam hal ini guru sangatlah berperan aktif dalam
merangkai pesannya untuk satu kelompok khusus dan kebutuhan belajar kelompok
siswa sehingga dapat termotivasi dan tertarik untuk belajar yang memberikan
pengalaman belajar sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.
Dengan
uraian di atas sebaliknya siswa di ajak untuk menggunakan semua alat inderanya,
guru berupaya menampilkan rangsangan yang dapat diproses dengan berbagai
indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan semakin besar kemungkinan
informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan. Dengan demikian siswa
diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik, pesan-pesan dalam
masalah yang disajikan. Salah satu gambaran yang sering dijadikan acuan sebagai
landasan teori penggunaan media dalam proses belajar. Hasil belajar seseorang dapat
diperoleh mulai dari pengalaman langsung, kenyataan yang ada di lingkungan
kehidupan seseorang, kemudian melalui benda tiruan sampai kepada lambing verbal
(abstrak), semakin ke atas puncak kerucut semakin abstrak penyampaian pesan
disebut.
Dasar
pengembangan di atas bahwa pengalaman langsung akan memberikan kesan yang
paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung
dalam pengalaman itu. Oleh karena itu melibatkan indera penglihatan,
pendengaran, perasaan, dan peraba, yang semuanya memberikan dampak langsung
terhadap pemerolehan dan pertumbuhan
pengetahuan, ketrampilan dan sikap.[10]
Guna
memudahkan pemahaman mengenai media tersebut dapat kita lihat dari variasi
media yaitu media pandang. Penggunaan media pandang dapat di artikan sebagai
penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku,
majalah-majalah, globe, peta, film, tv, radio, gambar, grafik, novel, dan
lain-lain.
Dari kutipan di atas,
variasi media juga dapat membantu secara konkret konsep berpikir dan mengurangi
respon yang kurang bermanfaat, dapat menarik perhatian siswa dengan hasil
belajar yang lebih permanen dan juga dapat mengembangkan cara berpikir
berkesinambungan seperti halnya dalam film. Dengan demikian seorang guru
diharapkan dapat berperan aktif dalam menggunakan media yang disajikan, demi
menghasilkan pemahaman siswa sebagai mana tujuan yang diharapkan.
[2] W. Gulo, Strategi Belajar
Mengajar, (Jakarta: Grasindo, 2005), hal. 117.
[3] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan,
(Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003), hal. 229.
[5]Mahmud
Yunus, dan Muh. Kasim Bakar, Tarbiyah Wa At Ta'lim, (Surabaya:
Darussalam Press, 1999), hal. 41.
[6] Azhar Arsyad, media pembelajaran,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15.
[8]Ibid,
hal. 43-46.
[10] Azhar Arsyad, media pembelajaran,
hal. 10.

Post a Comment for "Strategi dan Media Pembelajaran Bahasa Arab Yang Efektif"