Uswatun Hasanah Sebagai Metode Pendidikan Islam
A.
Uswatun Hasanah Sebagai Metode Pendidikan Islam
Dalam konteks pendidikan Islam, metode pendidikan tentu memiliki karakteristik
yang berbeda dengan sistem pendidikan lainnya. Maka pengembangan metode
pendidikan yang diinginkan dalam sistem pendidikan Islam harus sesuai dengan
karakteristik pendidikan islam itu sendiri.[1]
Pengembangan metode pendidikan itu harus dilakukan, khususnya para pelaksana
pendidikan Islam. Jika metode pendidikan yang digunakan meminjam istilah
Mastuhu masih bersifat klasik, statis dan cenderung membosankan peserta didik,
maka akan berdampak terhadap kualitas kehidupan umat Islam itu sendiri yang
akan terus terbelakang. Memang ada kecenderungan selama ini bahwa dinamika
pendidikan Islam dalam tataran pelaksanaanya kurang mampu bersaing dengan
lembaga-lembaga pendidikan lain. Hal itu tentu dipengaruhi oleh banyak faktor,
salah satu di antaranya adalah lemahnya pengembangan metode pendidikan itu
sendiri.
Setiap orang tertentu saja menginginkan anaknya menjadi orang yang baik dan
berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Oranh tua yang baik adalah orang tua yang
mampu mengarahkan anaknya kepada tujuan yang diinginkannya. Tujuan tersebut
akan tercapai bila ia menerima semua yang baik-baik dari orang tuanya, mulai
dari makanan yang ia makan, pendidikan yang ia terima sampai sikap kedua orang
tua yang dijadikan sebagai panutan dalam menghadapi kehidupan di masa depan.
Di sini penulis sengaja meletak “contoh teladan” sebagai metode pertama
yang harus dilaksanakan oleh orang tua dalam membina akhlak anak. Hal ini
sengaja penulis angkat berdasarkan fakta dan realita yang terjadi dalam
masyarakat kita. Seorang anak akan cendrung bersikap seperti apa yang ia lihat
sekitarnya, sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya
Ulumuddin:
Metode untuk melatih anak adalah salah
satu dari hal-hal yang amat penting. Anak adalah yang terpercayakan kepada
orang tuanya. Hatinya masih murni laksanakan permata yang sangat berharga,
sederhana dan bersih dari ukiran yang digoreskan kepadanya dan ia akan
cenderung ke arah manapun dengan sifat-sifat yang baik pada dirinya dan akan
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat[2].
Dari uraian di atas dapat kita ketahui
dengan jelas bahwasanya pribadi yang baik maupun yang buruk yang terdapat pada
si anak memang merupakan kodrat pada manusia pada umumnya. Oleh sebab itu,
betapa bahayanya bila tidak baik, padahal orang lain menirunya, terlebih lagi
jika anak meniru perbuatan buruk orang tuanya.
Sehubungan dengan itu, Zakiah Drarajat
menyatakan:
Tidak mungkin kita mengharap anak kita
menjadi orang yang taat bersama, seorang anak juga tidak akan mempunyai moral
yang baik, jika orang tuanya tidak memberi contoh yang baik, karena anak-anak
lebih mudah terpengaruh oleh tindakan-tindakan orang dewasa dari pada
nasehat-nasehat atau petunjuk-petunjuk.[3]
Dari ungkapan di atas dapat diketahui
dengan jelas bahwa sanya sudah seharusnya kita memberikan contoh yang baik
kepada anak-anak kita, jika kita menginginkan mereka tumbuh menjadi orang yang
baik.
Hendaknya sebagai orang tua kita
mencontoh bagaimana Luqman memberi pelajaran kepada anaknya, hal tersebut dapat
kita lihat dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ) لقمان: ١٨(
Artinya: Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ( Qs. Luqman: 18)
Dengan membaca surat Luqman trsebut
hendaknya menjadi suatu pelajaran bagi kita bagaimana sebenarnya cara yang
terbaik dalam memberikan pendidikan kepada anak. Berilah contoh teladan
terlebih dahulu sebelum ia disuruh dengan ajakan atau perintah, terlebih lagi
dalam hal perintah mengerjakan ibadah kepada Allah. Jika orang tua tidak
melakukan shalat, puasa, akan sulit menyuruh anak untuk mengerjakannya. Akan
tetapi, jika si anak sudah terlebih dahulu melihat contoh yang baik dari orang
tuanya, akan mudah bagi kita untuk membimbing dan mengarahkan anak tersebut.
Sebagaimana Rasulullah SAW, telah
memberikan contoh teladan yang baik bagi ummatnya, mulai dari budi pekerti yang
mulia sampai pada cara-cara beribadah dan bersikap sabar dalam menghadapi
segala cobaan. Dengan mengikuti contoh-contoh yang diberikan Rasulullah SAW.
Insya Allah apa yang menjadi harapan bagi kita akan tercipta kebahagiaan di
dunia yang akan dirasakan oleh si anak dan orang tuanya sendiri. Andai kata
saja banyak orang tua yang mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya
pastilah masyarakat tidak mengalami keresahan kenakalan remaja.

Post a Comment for "Uswatun Hasanah Sebagai Metode Pendidikan Islam"