Aplikasi Zuhud dalam Pendidikan Islam
D. Aplikasi Zuhud dalam Pendidikan Islam
Setelah berbicara panjang
lebar mengenai masalah zuhud, sekarang bagaimanakah cara menerapkan konsep
zuhud dalam pendidikan yang bernuansa Islam. Hal ini haruslah diketahui oleh
semua orang muslim supaya terlepas dari pendapat-pendapat ahli zuhud yang
keliru, seperti yang mengharuskan orang yang zuhud itu harus menyepi
ketempat-tempat sunyi, ataupun harus melepaskan pergaulannya dengan masyarakat
ramai.
Islam menyeru kepada
orang yang beriman untuk ikut aktif dan serius dalam berbagai kegiatan
kemasyarakatan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan
oleh Al-Quran dan Hadits yang terdapat dari aplikasi sikap zuhud akan menjamin
berlangsungnya aktivitas tersebut secara baik dan memiliki dampak terhadap
pendidikan subjek didik, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Realisasi dari
sikap zuhud yang sesuai dengan tuntunan agama Islam akan mendorong Islam kelak
akan menjadi pelopor kebaikan, perbaikan dan pembangunan. Fenomena ini akan
mampu meredam sikap anarkis, tak peduli terhadap nilai-nilai agama, egois
maupun pelit yang berlebihan.
Hidup zuhud merupakan
anjuran dalam Agama Islam, maka perlu ditanamkan kepada peserta didik sebagai
pengarah kehidupan. Hal ini di lakukan dengan cara memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a.
Menuntut ilmu
Menuntut ilmu merupakan
suatu kewajiban bagi setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Hal
ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله
صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة. (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abi Hurairah r.a.
berkata: Rasulullah SAW., bersabda: Menuntut Ilmu itu fardhu atas setiap muslim
laki-laki dan perempuan.
(H.R. Muslim)
Melihat hadits di atas
penulis dapat memahami bahwa menuntut ilmu sangatlah penting dalam kehidupan
manusia. Karena manusia akan berdosa jika ia tidak mencari ilmu. Ilmu juga merupakan
sebagai jalan bagi manusia untuk di terima amalannya oleh Allah. Hal ini sesuai
dengan hadits Nabi SAW:
عن عائشه رضى الله عنها قال: قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد. (رواه مسلم).
Artinya: Dari ‘Aisyah r.a berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mengerjakan suatu amalan yang bukan seperti yang kami
perintahkan, maka amalannya itu ditolak”. (H.R. Muslim).[1]
b.
Beriman dan
beramal shaleh dengan sebenarnya
Iman dan amal shaleh
merupakan dasar utama untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat kelak. Orang yang beriman dan beramal shaleh adalah termasuk orang yang
zuhud terhadap dunia. Ia akan mendapatkan tempat yang baik disisi Allah[2]. Hal ini
sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran:
ô`tB @ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @2s ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhsÛ (
óOßg¨YtÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$2 tbqè=yJ÷èt (أنحل: 97)
Artinya:
Siapa saja yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl: 97).[3]
Berdasarkan penjelasan di
atas, penulis dapat memahami bahwa untuk menanamkan sikap zuhud kepada setiap
orang Islam, haruslah terlebih dahulu memberikan Ilmu pengetahuan kepadanya.
Seseorang tidak akan menjalani hidup zuhud kalau tanpa didasari Ilmu
pengetahuan yang memadai. Dengan demikian sudah menjadi tugas seorang guru,
terutama garu pendidikan Agama Islam mendidik para siswanya untuk bersikap
zuhud dalam kehidupan dunia yang fana ini.
c.
Memilih teman yang ahli zuhud dalam setiap kali
mengadakan kegiatan
Manusia terpengaruh oleh
teman dan kawannya. Jika mereka shaleh dan ahli zuhud, maka ia akan terpengaruh
oleh keshalehan dan kezuhudan mereka dan berusaha untuk bisa seperti mereka.
Hal ini merupakan prinsip penting dalam pendidikan Islam yang diserukan kepada
seluruh orang Islam dalam kondisi apapun, baik dalam acara resmi, sekolah,
masyarakat, teman bergaul maupun yang lainnya. Teman dan sahabat yang baik
merupakan faktor yang amat berperan dalam meraih prestasi yang baik untuk
melakukan hal-hal yang baik dan saleh. Apabila orang muslim dan para pengemban
misi pendidikan meremehkan masalah ini, niscaya masyarakat menjadi sangat
berpotensi terjangkit beberapa penyakit perilaku. Kepribadian generasi muda
sangat berpeluang terjebak dalam arus pemikiran dan pandangan hidup yang
menyimpang. Oleh karena itu, landasan positif bagi setiap kegiatan dapat
diambil dari petunjuk Nabi Saw dalam memilih kawan yang saleh dan menghindari
unsur-unsur negatif yang ditimbulkan dalam kegiatan bersama (bermasyarakat)[4]. Abu
Musa al-Asy’ari ra meriwayatkan bahwasanya Nabi Saw telah bersabda:
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن ألنبي صلى
الله عليه وسلم،قال: إنما مثل الجلس الصالح وجليس السوء، كحامل المسك، ونافخ الكبر،
فحامل المسك، إما أن يحذيك، وإما أن تجد منه ريحا طيبة، ونافخ الكبر إما أن يحرق
ثيابك، وإما أن تجد منه ريحا منتنة. (رواه متفق علي
Artinya:
dari Abu Musa Al-Asy’Ari r.a. bahwasanya Nabi SAW., bersabda: ”Sesungguhnya
perumpamaan antara teman yang baik dengan teman yang buruk adalah laksana orang
yang membawa minyak wangi dengan peniup tungku pandai besi. Orang yang membawa
minyak wangi adakalanya ia memberimu, atau kamu membeli kepadanya atau kamu
mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan peniup tungku pandai besi besi adakalanya
ia akan membakar pakaianmu dan adakalanya pula engkau mendapatkan bau yang
busuk daripadanya”. (HR. Bukhari-Muslim)[5]
d. Menumbuhkan Perasaan Cinta Kepada
Kebaikan dan Saling Tolong Menolong Sesama Muslim
Di antara pendidikan
Islam yang terarah dan telah disyariatkan Islam adalah mempertebal rasa
solidaritas terhadap sesama muslim. Hal ini dilakukan, baik secara silaturrahmi
kepada saudara, kerabat, teman dan orang-orang yang tertimpa musibah. Membantu orang
yang lemah dan orang-orang yang menghadapi kesulitan, meringankan penderitaan
mereka. Seruan-seruan seperti ini dimaksudkan untuk mengikis nafsu amarah yang
senantiasa mendorong manusia bersikap bakhil, egois dan tak memiliki kepedulian
dan tanggung jawab sosial. Itulah kegiatan-kegiatan pendidikan sosial yang
hendaknya dijalani oleh setiap umat Islam. Sebagai implementasi atas seruan
Nabi Saw yang mengajak umatnya untuk memperhatikan persoalan-persoalan umat
Islam[6]. Dalam
hal ini Rasul bersabda:
عن أبى هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله
عليه وسلم: قال: قال رسول الله صلى الله وسلم: من عاد مريضا أوزار أخاله فى الله،
ناداه مناد بأن طبت، وطاب ممشاك وتبوأت من الجنة منزلا. (رواه: الترمذي)
Artinya:
“Siapa saja yang
menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka dia diseru oleh penyeru:
engkau baik, jalanmu baik dan engkau akan menempati satu tempat di surga” (HR.
Tarmidzi).[7]
Dalam riwayat yang lain
dari Ibnu Umar Nabi Muhammad SAW.,. Menyeru umatnya untuk memperkuat rasa cinta
kepada kebaikan, mengulurkan bantuan dan pertolongan kepada saudaranya. Dalam
hal ini Rasul bersabda:
عن ابن عمر رضي الله
عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: المسلم أخوالمسلم لايظلمه ولايسلمه. من كان فى حاجة أخيه كان الله في
حاجته، ومن فرّج عن مسلمٍ كربة فرّج الله عنه بها كربةً من كرب يوم القيامة، ومن
ستر مسلمًا ستره الله يوم القيامة (رواه: متفق عليه)
Artinya:
Dari Ibn Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW., bersabda: “Seorang muslim adalah
saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh menganiayanya dan tidak pula
menelantarkannya. Barang siapa (membantu memenuhi) keperluan saudaranya maka
Allah akan (memenuhi) keperluannya pula. Dan barang siapa berupaya melepaskan
satu kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan suatu kesulitan di
antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi (aib)
saudaranya yang muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) di hari kiamat”. (HR.
Bukhari-Muslim)[8]
e. Berpartisipasi aktif dalam
bermasyarakat dengan niat dan semangat yang positif serta bersungguh-sungguh
Ketika seorang muslim
hendak keluar rumah, misalnya dengan maksud mencari hiburan untuk mengisi waktu
luang, baik dijalan-jalan atau di tempat-tempat yang berhawa segar ataupun di
mana saja mereka berada. Ia harus bergaul bersama siapa saja yang ia jumpai
dengan semangat dan sikap yang positif, senang berbuat baik, bersikap sesuai
dengan akhlak yang Islami serta menghindari sikap yang berlebihan dan
menyakitkan orang lain.[9] Seperti
itulah yang dibimbing oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Said al-Khudriy r.a. bahwa Nabi Saw telah bersabda:
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله
عليه وسلم، قال: إيّا كم والجلوس فى الطرقات، فقالوا: يا رسول الله، مالنا من
مجالسنا بد ّنتحدث فيها. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: فإذا أبيتم إلا المجلس
فأعطو الطّريق حقّه،، فقالوا: وما حقّ الطريق يارسول لله؟ قال: غضّ البصر وكفّ
الأذى وردّالسلام والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر(رواه: متفق عليه)
Artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a,
dari Nabi SAW,. beliau bersabda: “Jauhilah
diri kalian duduk di pinggir-pinggir jalan. “Mereka berkata: “Ya Rasulullah, kami
pasti memerlukan majelis-majelis untuk mengobrol di sana. “Maka Rasulullah
SAW., bersabda: “Apabila kalian enggan kecuali majelis itu maka penuhilah oleh
kalian hak (orang yang melewati) jalan itu: mereka katakan: ”Apa saja hak orang
yang melewati jalan itu wahai Rasulullah? ”Rasul pun menjawab: memejamkan pandangan,
menahan gangguan (tidak mengganggu orang), menjawab salam, memerintahkan yang
makruf dan mencegah yang munkar”. (HR. Bukhari-Muslim).[10]
Berdasarkan penjelasan di
atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa cara mengaplikasikan hidup zuhud kepada
setiap pribadi muslim adalah: memberikan ilmu pengetahuan kepada setiap pribadi
muslim khususnya tentang zuhud, menanamkan keimanan kepada setiap pribadi
muslim, memilih teman yang ahli zuhud dalam setiap kali mengadakan kegiatan,
menumbuhkan perasaan cinta kepada kebaikan dan membantu orang lain, berpartisipasi
dalam masyarakat dengan niat yang positif dan semangat yang sungguh-sungguh.
[1]
Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al’Utsaimin, Panduan
Menuntut Ilmu, (Jakarta: Media Grafika, 2003), hal. 40.
[3]
Departemen Agama RI, Mushaf Al-Quran Terjemah..., hal. 293.
[4]
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa…, hal. 216.
[5] Syekh M. Nashiruddin
Al-Banni, Terjemahan Riyadhus Shalihin,
(Surabaya: Duta Ilmu, 2004), hal.
391.
[6]
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa…, hal. 217.
[8]
Ibid., hal. 293.
[9]
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan
Jiwa…, hal. 220.
[10] Syekh
M. Nashiruddin Al-Banni, Terjemahan
Riyadhus Shalihin…, hal. 246.

Post a Comment for "Aplikasi Zuhud dalam Pendidikan Islam"