Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebebasan Berkarya


A.    Kebebasan Berkarya


   Kebebasan secara umum berarti ketiada paksaan. Ada kebebasan fisik yaitu secara fisik bebas bergerak ke mana saja. Kebebasan moral yaitu kebebasan dari paksaan moral, hukum dan kewajiban (termasuk di dalamnya kebebasan berbicara). Kebebasan psikologis yaitu memilih berniat atau tidak, sehingga kebebasan ini sering disebut sebagai kebebasan unutuk memilih. Manusia juga mempunyai kebebasan berpikir, berkreasi dan berinovasi. Kalau disimpulkan ada dua kebebasan yang dimiliki manusia yaitu kebebasan vertikal yang arahnya kepada Tuhan dan kebebasan horisontal yang arahnya kepada sesama makhluk.
Hampir menjadi semacam kesepakatan umum, bahwa peradaban masa depan adalah peradaban yang dalam banyak hal didominasi oleh ilmu (khususnya sains).[1] Kebebasan tentu ada batasnya. Kebebasan memiliki batasan-batasan tersendiri, tergantung persoalan yang dihadapi oleh “kaum tertindas” . Karena jika kebebasan tidak diiringi dengan batasan-batasan tertentu, justru akan berbenturan dengan hak-hak orang lain, yang pada ahirnya akan menimbulkan anarkhisme.
Oleh sebab itu, kesadaran kritis menjadi titik tolak pemikiran pembebasan Freire. Tanpa kesadaran kritis rakyat bahwa mereka sedang ditindas oleh kekuasaan, tak mungkin pembebasan itu dapat dilakukan. Karena itu, konsep pendidikan Freire ditujukan untuk membuka kesadaran kritis rakyat itu melalui pemberantasan buta huruf dan pendampingan langsung dikalangan rakyat tertindas. Upaya membuka kesadaran kritis rakyat itu, dimata kekuasaan rupanya lebih dipandang sebagai suatu "gerakan politik" ketimbang suatu gerakan yang mencerdaskan rakyat. Karena itu, pada tahun 1964 Freire diusir oleh pemerintah untuk meninggalkan Brazil. Pendidikan pembebasan, menurut Freire adalah pendidikan yang membawa masyarakat dari kondisi masyarakat tertutup (submerged society) kepada masyarakat terbuka (open society).
Islam memandang kebebasan berekspresi sebagai hal yang wajar, tetapi sesuai dengan koridor yang telah ditentukan. Dengan kata lain, harus ada batasan. Di masa Nabi Saw, kebebasan berpendapat sangat dihormati. Nabi malah melarang orang memerangi pendapat yang berbeda. Di kalangan para sahabat saja, terjadi perbedaan pendapat dalam memahami Sunnah Nabi. Semua itu, berdasarkan fakta sejarah, diapresiasi oleh Nabi dengan arif.
Allah mendorong manusia untuk berkarya seni dengan memberikan kebebasan seluas-luasnya guna menghasilkan karya yang bernilai tinggi. Karya seni bernilai tinggi tidak saja indah dinikmati oleh indra manusia melainkan juga menndorong manusia untuk menyadari eksistensinya sebagai makhluk sehingga dekat dengan Sang Khalik. Karena itu, kebebasan berkreasi seni mesti memenuhi kriteria tertentu dan yang utama adalah unsur yang menjadikan karya seni itu memberi manfaat, bukan sebaliknya mendatangkan madharat (kerugian). Pendek kata, Islam menghendaki kreasi seni yang membangun, mencerahkan batin (konstruktif) dari aspek moral spiritual, bukan merusak (destruktif) dari sisi mental kehidupan manusia.
Sejarah mencatat aneka ragam karya seni Islam yang mampu mencerahkan peradabannya yang unik dan khas dan mencapai masa kejayaannya pada abad pertengahan yakni abad VII hingga XII. Seni kaligrafi yang menghiasi rumah dan/ atau kitab suci al-Quran, sastra (syair), arsitektur khas Islam yang kini masih dapat terlihat di Arab, Persia dan Eropa (seperti di Arab Saudi, Irak, Iran (Persia), Mesir, Spanyol, dan Turki), ornamen dan ukiran yang banyak menghiasi masjid, keraton, pintu gedung, gagang pedang dari emas, dan lain-lain.
Sedemikian agung alam ciptaan Allah, tidak tertandingi oleh lukisan mahakarya seorang Maestro sekali pun sekaliber Pichasso, Van Gogh, Raden Saleh, Basuki Abdullah, bahkan Affandi. Bukankah Allah berfirman: “(Dia) yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya” (Q.S. as-Sajdah: 7), dan “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan (Dia) menyukai keindahan.” (H.R. Muslim). Melalui Alquran Allah juga memotivasi kita untuk mengamati berbagai peristiwa dan keindahan alam yang spesifik pada alam ini. Berbagai ayat yang “merangsang” perhatian kita untuk menjelajahi alam itu, agaknya Allah membangkitkan perasaan keindahan manusia untuk dapat merasakan keindahan ciptaan-Nya. Sayang sekali, kebanyakan manusia hanya mengagumi keindahan alam, tetapi tidak mau memperhatikan dan merenungkan rahasia di balik keindahan ciptaan Ilahi tersebut. 


               [1] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), hal. 11.

Post a Comment for " Kebebasan Berkarya"